Secara umum, ada tiga sikap orang Kristen terhadap perubahan:

  1. Anti perubahan – alergi terhadap segala sesuatu yang tampaknya baru;
  2. Menerima perubahan tanpa evaluasi – larut dan mengadopsi semua hal yang baru; dan
  3. Bersikap selektif – menerima sisi positif dan menolak sisi negatif dari perubahan.

Menurut saya, sikap yang ketigalah yang bijaksana. Kecenderungan yang menyedihkan dalam Gereja adalah “memutlakkan yang relatif dan merelatifkan yang mutlak.” Atas dasar Alkitab, kita harus bersikap evaluatif dan bisa membedakan mana hal-hal yang mutlak dan mana hal-hal yang dapat berubah (atau: diubah) sesuai dengan konteks zaman.

Untuk bersikap selektif dalam menyikapi perubahan, kita perlu memperhatikan komentar Jen Samuels, berikut ini:

We tend to get into a habit of doing things. Then we begin to believe these things we are doing are right, which we then, consciously or subconsciously feel that others are probably wrong; then since what we are doing is right, it must be biblical. Once we believe it is biblical, then we would rather fight than switch or accept that some of our church practices may be cultural with no biblical support.

Terjemahan saya:

Kita cenderung membentuk kebiasaan dengan melakukan apa yang kita lakukan. Lalu kita mulai percaya bahwa yang biasa kita lakukan adalah benar, kemudian sadar atau tidak kita merasa bahwa orang lain barangkali salah. Karena apa yang kita lakukan benar, itu pasti alkitabiah. Begitu kita memercayainya sebagai alkitabiah, maka kita lebih memilih melawan ketimbang mengubah atau menerima bahwa sebagian praktik yang ada di Gereja kita bersifat budaya tanpa dukungan Alkitab.

Dikutip dari: Jen Samuels,  “The ‘Right’ Way to Praise God: Is Our Style Biblical, or Is It Simply Cultural?,” in Building Unity in the Church of the New Millenium, ed. Dwight Perry (Chicago: Moody Press, 2002), 74)