Alkisah, pada suatu hari Minggu, berangkatlah Pdt. David ke sebuah Gereja kecil di pinggiran kota Jakarta untuk berkhotbah. Pdt. David yang baru saja menyelesaikan Ph.D-nya dari salah satu seminari ternama di Amerika Serikat, akhirnya tiba  di Gereja itu dan mengambil waktu sejenak untuk membaca kembali catatan khotbanya yang sudah ia persiapkan dengan matang.

Di samping Pdt. David, duduk salah seorang penatua Gereja yang terkenal ceplas-ceplos. Rupanya, penatua ini pun tidak kuasa menahan diri melirik naskah khotbah Pdt. David yang sejak tadi dibolak-balik. Matanya terpaku pada salah satu kata di sub judul naskah khotbah tersebut. Kata itu adalahEksegesis. Penatua yang tidak pernah mengecap pendidikan teologi itu pun berguman lirih, “Maaf bapak pendeta, kami tidak butuh eksegesis. Jemaat haus akan firman Tuhan, bukan eksegesis.”

Lanjutan cerita ini akan saya cantumkan di akhir renungan ini. Karena saya sudah tidak sabar untuk menulis bahwa kalimat sang penatua di atas adalah cerminan mentalitas jemaat dan banyak hamba Tuhan masa kini. Apa maksudnya? Akan saya jawab setelah saya menjelaskan hal penting di bawah ini.

Anda pernah mendengar istilah eksegesis? Jika belum, istilah ini berarti proses menafsirkan teks Alkitab untuk menemukan maksud penulis kepada pembaca mula-mula. Eksegesis merupakan upaya untuk mencari tahu what it meant. Karena jarak waktu, budaya, bahasa, filosofi hidup, dan sebagainya antara penafsir dengan teks Alkitab, tidak heran studi eksegesis sering terkesan rumit dan wah di mata jemaat awam.

Serumit apa pun tuntutannya, eksegesis tetap merupakan langkah primer dalam menemukan arti dan makna firman Tuhan. Untuk menemukan pesannya bagi kita (khotbah) dan bagi saya (saat teduh pribadi) atau yang sering diistilahkan dengan what it means, pertama-tama kita perlu memastikan pesan teks tersebut bagi mereka yang pertama kali membacanya: what it meant. Atas dasar maksud penulis bagi mereka, kita menarik aplikasinya atau implikasinya atau relevansinya bagi kita yang hidup saat ini. Jalan pintas yang di dalamnya tidak ada eksegesis, pastilah jalan menuju mata air yang salah. Jembatan satu-satunya menuju mata air firman Tuhan untuk memuaskan dahaga kita adalah eksegesis.

Dan saya sering mendengar langsung mau pun tidak langsung bahwa atas alasan rumit, wah, dan “tidak mendarat”nya khotbah-khotbah eksegetis, jemaat lebih menginginkan khotbah yang gampang dan praktis. Tidak jarang, ceplosan sang penatua di atas sering muncul dalam bentuk keluhan dari banyak jemaat.

Para hamba Tuhan juga begitu. Mereka sudah terbiasa hanya merenungkan Alkitab. Seperti dukun yang hanya perlu bersemedi di kamar sepi atau di gua nan kelam, demikianlah banyak pengkhotbah masa kini. Hanya perlu merenungkan saja. Tidak perlu membaca tafsiran, studi tata bahasa, studi kata, studi latar belakang budaya, dan serangkaian langkah eksegesis lainnya. Mereka pikir, sama seperti sang penatua itu, eksegesis tidak dibutuhkan. Yang dibutuhkan adalah khotbah praktis. Dan khotbah praktis yang mereka maksudkan adalah khotbah yang dihasilkan dari mengunci diri di kamar dan mengkhayal [istilah yang lebih lembut: merenungkan) tentang apa yang hendak dikatakan di atas mimbar, sambil satu dua kali menyinggung soal pengalaman hidup dan ilustrasi. Selesai. Itulah khotbah praktis. Itulah khotbah yang berhasil. Menurut mereka, tentunya! Khotbah praktis seperti inilah yang dijadikan makanan wajib bagi jemaat setiap minggu.

Alhasil, bukan hanya penatua itu, mungkin juga seluruh jemaat akan berkata demikian: “Maaf, kami tidak butuh khotbah eksegetis. Kami dahaga, tetapi jembatan ke mata air itu bukanlah eksegesis.”

Saya tidak mengatakan bahwa khotbah praktis pasti salah. Tidak. Itu bukan maksud saya. Yang saya katakan, adalah salah kalau Anda berpikir bahwa khotbah praktis dapat disusun tanpa harus melakukan eksegesis. Menolak melakukan eksegesis karena alasan-alasan di atas lalu menggantikannya dengan khotbah praktis di atas, sama seperti orang yang takut akan bahaya pisau yang tajam lalu menukarnya dengan pisau yang bukan hanya tumpul tetapi juga berkarat.

Kembali ke cerita di awal renungan ini. Pdt. David yang mendengar ceplosan sang penatua itu, berusaha menenangkan diri. Beberapa saat kemudian, ia pun berpaling lemah dan dengan penuh arti berbisik lembut ke telinga sang penatua, “Anda baru saja mengatakan anda tidak membutuhkan satu-satunya jembatan terpercaya menuju mata air yang akan memuaskan dahagamu.”