John Piper, menulis sebuah buku yang ia tujukan bagi para hamba Tuhan. Buku yang berisi perenungan-perenungan yang sungguh mendalam mengenai hakikat pelayanan (ministry) ini, ia beri judul: Brothers, We Are Not Professionals. Dalam salah satu babnya, Piper membahas tentang apa yang harus dilakukan seorang pelayan, ketika tuntutan kegiatan pelayanan makin membludak. Piper mengulas mengenai hal ini dengan mengambil sebuah contoh dari Gereja mula-mula, sebagaimana yang tercatat dalam Kisah 6:1-7. Atas dasar teks ini, Piper memberi judul babnya, Brother, Beware of Sacred Substitutes. Apa yang dimaksudkan Piper dengan judul ini dalam hubungan dengan Kisah 6:1-7?

Kisah Rasul 6:1-7 mengisahkan tentang perkembangan yang intens dalam gerakan kekristenan mula-mula. Jumlah petobat baru dari kalangan non Yahudi semakin banyak. Otomatis, tuntutan pelayanan pun makin bertambah. Para rasul yang merupakan para pemimpin pada waktu itu, merasakan bahwa mereka didesak untuk menangani semua kebutuhan pelayanan tersebut. Perhatikan dalam Kisah 6:1, kebutuhan pelayanan itu rupanya terbengkalai sehingga timbullah sungut-sungut dalam jemaat. Para rasul tahu bahwa kebutuhan pelayanan yang terbengkalai itu sangat penting untuk ditangani. Hal ini terlihat dari orang-orang yang diusulkan untuk menanganinya. Mereka haruslah orang-orang yang memiliki kualifikasi rohani yang sungguh baik.

Akan tetapi ada hal menarik yang digarisbawahi oleh Piper ketika pelayanan yang penting dan rohani itu disodorkan kepada para rasul. Kita berharap bahwa untuk membuktikan kerohanian dan tanggung jawab mereka sebagai pemimpin-pemimpin rohani, para rasul akan menerima tanggung jawab itu. Rupanya bukan itu yang terjadi. Kita membaca dalam teks tersebut bahwa para rasul menolak untuk terlibat langsung dalam pelayanan itu. Mengapa para rasul menolak? Apakah pelayanan itu tidak penting? Apakah para rasul egois? Apakah para rasul, karena penolakan itu, lalu boleh dicap “tidak rohani” atau “tidak bertanggung jawab” atau “tidak punya hati melayani”?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita mesti membaca Kisah 6:2. Para rasul berkata, “Kami merasa tidak puas, karena kami harus melayani meja” [huruf miring dari saya]. Dalam Kisah 6:4, para rasul menjelaskan alasannya yaitu: “…supaya kami memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman” [huruf miring dari saya]. Piper mengomentari penolakan dan alasan para rasul terhadap tuntutan pelayanan tersebut dengan mengatakan bahwa para rasul tahu fokus mereka dan mereka tidak mau fokus itu digantikan oleh apa puntermasuk oleh hal-hal yang rohani, baik, dan mulia sekalipunItulah maksud Piper memberi judul, Beware of Sacred Substitutes.

Melalui penolakan tersebut, seolah para rasul berkata bahwa “kami tidak mau digeser dari fokus utama panggilan kami, yaitu doa dan pelayanan firman.” Para rasul tahu sadar betul bahwa ketika mereka membuka diri untuk menerima pelayanan itu, fokus utama panggilan mereka akan terbengkalai. Para rasul sadar bahwa kepuasan dalam pelayanan bukan sekadar karena banyak terlibat dalam banyak kegiatan pelayanan. Itu mungkin memuaskan secara psikologis karena membuat diri merasa dipakai luar biasa oleh Tuhan. Tetapi itu bukanlah kepuasan yang sejati. Kepuasan yang sejati dari seorang pelayan adalah ketika ia mengetahui fokus panggilannya apa dan tidak membiarkan apa pun menggesernya dari fokus tersebut. Hal-hal yang dapat menggeser perhatiannya dari fokus tersebut bisa jadi hal-hal yang tidak salah alias rohani, alkitabiah, dan sebagainya. Namun saat saat mereka membuka diri terhadap semua kebutuhan pelayanan, saat itu mereka sudah menjadi seperti “petinju yang sembarang bertinju” dan “pelari yang sembarang berlari”. Asal bertinju dan asal berlari. Para rasul tidak mau itu terjadi.

Para rasul menolak pelayanan. Lalu apakah Tuhan murka karena mereka menolak pelayanan tersebut? Ternyata tidak! Tuhan justru memberkati penolakan itu. Kisah 6:7 mengatakan, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”

Terhadap perenungan Piper di atas, saya menarik beberapa pelajaran penting.Seorang pelayan dipakai luar biasa atau tidak, bukan diukur dari jumlah kegiatan pelayanan yang digelutinya. Pelayanan yang memuaskan dan olehnya kita dapat berkata seorang pelayan telah menunaikan tugasnya dengan baik adalah kalau pelayan itu tahu persis hal khusus apa yang menjadi fokusnya, dan tidak membiarkan apa pun menggesernya dari fokus terhadap panggilan khusus itu.

Saya sangat khawatir melihat para pelayan yang cenderung mengidentifikasi predikat sebagai hamba Tuhan yang dipakai luar biasa berdasarkan jumlah kegiatan pelayanan dan juga berdasarkan jumlah jabatan yang dipangku. Semakin banyak jabatan, semakin merasa diri dipakai Tuhan. Saya sangat khawatir juga dengan kecenderungan untuk tidak bisa berkata tidak terhadap sodoran pelayanan yang kita tahu persis akan mengganggu fokus kita, hanya karena kita tidak ingin dicap “tidak rohani” atau “tidak punya hati melayani” dan sebagainya. Saya justru sangat khawatir terhadap orang-orang Kristen yang lugu yang menghabiskan banyak waktu di Gereja ketimbang mengurus rumah dan keluarganya. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah para hamba Tuhan seolah membiarkan dan menikmati hal itu. Para hama Tuhan mulai membangun doktrin bahwa makin sibuk seorang jemaat terlibat dalam pelayanan dan hanya sedikit waktu bagi rumah tangganya, maka jemaat tersebut adalah jemaat yang bertumbuh.  

Saya tidak berkata bahwa kalau demikian, seorang harus pasif saja. Justru hal ini juga harus dihindari. Keterlibatan dalam pelayanan, hendaknya jangan dimotivasi karena kebutuhan pelayanan, melainkan karena panggilan. Dan Panggilan pelayanan itu tidak pernah diberikan Tuhan dengan menugaskan kita untuk terjun dalam segala bidang lalu menjadi seperti “pedagang keliling”. Melayani karena kebutuhan akan membuat kita senantiasa sibuk memang. Karena kebutuhan selalu ada. Melayani karena panggilan juga membuat kita sibuk. Tetapi yang membedakan kesibukan karena kebutuhan dan kesibukan karena panggilan adalah sasaran, tujuan, dan kepuasannya. Sibuk karena kebutuhan bisa jadi memang memuaskan. Tapi itu adalah kepuasan yang egosentris. Diri sendiri puas karena konsep pelayanan yang salah dan keliru. Kepuasan yang sejati dalam pelayanan adalah panggilan khusus yang Tuhan percayakan itu terlaksana dan maksud Tuhan tergenapi. Hati-hati terhadap jadwal-jadwal yang padat, apalagi menganggap jadwal-jadwal itu sebagai sumber kebanggaan lalu mengidentifikasinya sebagai konfirmasi bahwa kita adalah pelayan yang dipakai Tuhan luar biasa.

Para rasul menolak pelayanan karena mereka tahu fokus mereka apa. Dan Tuhan memberkati penolak itu. Sekarang, siapakah yang boleh berkata: “Mereka tidak rohani” atau “tidak punya hati melayani” atau “tidak bertanggung jawab”?