Sampai sekarang, sudah terlalu sering saya mendengar orang berbicara dan bersikap meremehkan kalau Anda mengutip pendapat para ahli. Mereka berbicara demikian, “Ada orang yang terlalu sering mengutip pendapat para ahli ketimbang berbicara tentang Kristus.” Kata-kata yang rohani kan? Dalam pengalaman saya, saat mengajar dan mengulas pendapat para ahli mengenai suatu topik, saya langsung melihat “wajah-wajah yang tidak bersemangat”.

Well, sebagai seorang scholar saya akan memberikan tanggapan saya sebagai berikut.

Untuk merespons kata-kata di atas, saya akan mengemukakan terlebih dahulu pesan implisitnya.

Pertama, kata-kata di atas tentu dapat bernilai positif jika ingin mengajak kita untuk tidak semata-mata bergantung atas pendapat para ahli ketimbang Alkitab. Dan ini adalah sebuah ajakan yang baik. Baik, karena memang Alkitab adalah norma normans (norma pengukur) sedangkan pendapat para ahli (atau siapa dan apa pun selain Alkitab) adalah norma normata (norma yang diukur).

Kedua, kata-kata di atas menyiratkan sebuah “kerinduan” untuk mendengar kebenaran Kristus ketimbang “sekadar pendapat seorang ahli”.

Persoalannya, kata-kata di atas atau yang senada dengannya saat didengar oleh jemaat, kata-kata itu memberi kesan yang jauh melampau kedua maksud di atas. Kesan yang ditangkap adalah setiap kali Anda mengutip pendapat seseorang, Anda sedang “tidak berpusat pada Kristus” atau Anda sedang “tidak berpusat pada Alkitab”. Tidak heran, pengalaman yang saya ungkapkan di atas segera terlihat saat mereka mendengar kutipan-kutipan atau ulasan mengenai pendapat para ahli. Mereka langsung bersikap antipati, tidak bersemangat, dan sebagainya. Seolah-olah mereka hanya ingin mendengarkan pengajaran Alkitab tanpa kutipan (menyebut nama seorang ahli dan pendapatnya). Mereka menjadi alergi terhadap kutipan dan dengan demikian tindakan mengutip itu pun dijauhi.

Kesan dan sikap inilah yang sebenarnya “menghancurkan” kedua maksud positif di atas ketimbang “memeliharanya”. Mengapa demikian?

Pertama, tidak ada seorang pun yang dapat berbicara, mengajar, berkhotbah atau apa pun tanpa kutipan sama sekali. Bukankah sebagian besar isi pembicaraan kita, minimal pernah kita dengar dari “seseorang” atau membacanya dari sebuah buku? Bukan hanya itu, sebenarnya wawasan dunia kita mengenai Alkitab dan teologi itu “dibentuk” oleh seseorang atau “terbentuk” oleh pengajaran tertentu, yang sudah ada kemudian diajarkan kepada kita maka kita menganutnya. Jadi kalau kita sendiri “diajar” atau “dibentuk” oleh seseorang atau bacaan kita, lalu kita meremehkan kutipan dari “orang lain” sementara untuk mengatakan itu, kita sendiri sebenarnya sedang menggunakan wawasan dunia yang tidak semuanya milik orisinil kita sendiri, maka kita sedang “mengutip” untuk mengajak orang “jangan terlalu banyak mengutip”.  Minimal orang yang “melarang” Anda jangan “terlalu banyak” mengutip ini mesti mengutip tindakan mengutip Anda untuk mengajak Anda dan orang lain supaya tidak banyak mengutip. Standar ganda!

Kedua, tindakan mengutip sebenarnya merupakan tindakan belajar. Mengutip berarti kita belajar dari seseorang. Belajar di sini bukan berarti kita “menelan mentah-mentah” pendapatnya, tetapi kita mengutipnya untuk dievaluasi. Bila pendapatnya itu baik dan benar dan ada aspek-aspek positif yang dapat dikembangkan dari pendapat tersebut, mengapa alergi terhadap pendapat itu? Bahkan ketika pendapat itu “salah” atau “keliru” atau kita ingin sebut apa pun yang negatif teradapnya, kita masih bisa belajar supaya tidak menganut atau menelorkan pendapat semacam itu.

Ketiga, saya sangat prihatin dengan orang-orang yang suka menggembar-gemborkan kata-kata di atas. Sebenarnya mereka sedang memamerkan ketidakjujuran mereka. Untuk berkhotbah dan mengajar mereka membaca, melakukan riset, singkatnya persiapan. Namun, saat mengajar dan berkhotbah mereka tidak mau “menyinggung” soal sumber-sumber yang mereka gunakan dan memberi kesan bahwa semua yang mereka katakan dan ajarkan berasal dari ide orisinil mereka. Suatu ketidakjujuran yang tidak saleh! Tentu ini tidak berarti setiap kali kita harus menyebut nama atau sumber-sumber tertentu. Maksud saya, jangan sampai kita membentuk opini yang salah dengan kata-kata di atas sementara kita sendiri untuk berdiri dan mengatakannya kita “berhutang” kepada sumber-sumber tertentu. Dan celakanya, dengan kata-kata itu mereka telah menaburkan benih antipati terhadap tindakan mengutip itu sendiri.

Keempat, sebenarnya tindakan mengutip itu sendiri merupakan teladan yang diwariskan oleh para penulis Alkitab. Bacalah PB dan lihatlah berapa banyak kutipan di sana. Berlimpah ruah. Kutipan-kutipan dari PL, dari tradisi oral maupun tulisan-tulisan pada periode Intertestamental, bahkan kutipan dari para filsuf kafir juga beberapa kali dirujuk Paulus dalam surat-suratnya untuk dievaluasi. Jadi kalau kita mengatakan “jangan terlalu banyak mengutip” berarti kita sedang mempertontonkan ketidaktahuan atau kenaifan kita sendiri mengenai Alkitab. Bahkan Yesus pun, menurut Kitab-kitab Injil, sering mengutip dari PL!

Kelima, tindakan mengutip itu sendiri tidak bertentangan dengan dua ajakan positif di awal note di atas. Saat kita mengutip, tindakan mengutip itu sendiri tidak serta merta membuat kita melawan Alkitab dan Yesus. Saat kita mengutip, tidakan mengutip itu sendiri tidak serta merta membuat kita menomorduakan Alkitab atau merendahkan Alkitab. Tidak ada rumus logika yang menghasilkan kesimpulan bahwa saat Anda mengutip Anda langsung menjadi bidat.

Alkitab tidak melarang kita untuk mengutip. Para penulisnya melakukan itu. Dan kutipan-kutipan mereka banyak sekali. Yesus pun melakukannya. Dan ingat, Yesus tidak pernah merasa disudutkan gara-gara Anda mengutip. Alkitab, jika kita mempersonifikasikannya, pun tidak menjadi minder gara-gara kutipan. Jadi Anda tidak perlu repot-repot membela reputasi Yesus dan Alkitab dengan meremehkan tindakan mengutip. Saya justru menduga, sekali lagi ini hanya dugaan, Anda alergi terhadap kutipan karena Anda sendirilah yang sedang disudutkan oleh kutipan-kutipan itu. Reputasi Andalah yang terancam dan Anda memakai Yesus dan Alkitab sebagai tameng dari keterancaman Anda.

Yang perlu diwaspadai adalah mengutip tanpa mengerti maksud yang sebenarnya dari kutipan yang Anda kutip. Yang perlu dijauhi adalah mengutip sebuah pendapat yang salah dan menjadikannya kebenaran. Yang diwaspadai adalah mengutip tanpa melakukan analisis dan evaluasi terhadapnya. Itulah sebabnya, untuk menulis note ini saya “mengutip” kata-kata di atas untuk dianalisis dan dievaluasi. Ini yang harus dilakukan. Jangan seperti anak burung yang menelan mentah-mentah suapan induk buruk. Waspadalah terhadap kata-kata di atas dari pengkhotbah mana pun.

Mengutiplah, sejauh Anda menganalisis dan mengevaluasinya. Mengutiplah, karena tindakan mengutip itu pada dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang berdosa. Yang menjadikannya berdosa adalah Anda yang mengutip atau isi dari kutipan itu sendiri. Mengutiplah, dan setiap kali mengutip bersikap jujurlah terhadap sumber-sumber Anda. Mengutiplah karena saat Anda mengutip, Anda dan juga orang-orang tahu bahwa Anda sedang belajar. Mengutiplah, karena itu akan melatih Anda rendah hati untuk belajar dari orang lain: entah itu belajar dari kesalahannya maupun belajar dari apa yang benar yang ada padanya. Ingat, tindakan mengutip itu sendiri adalah tindakan yang Alkitabiah!