Saya sudah menulis dua artikel tentang kesalahan eksegesis (exegetical fallacy) yang berkait dengan studi kata (lexiology). Dua artikel yang saya maksudkan, adalah: Reduksi Arti Kata yang Tak Sah dan Transfer Total Arti yang Tak Sah. Oleh karena artikel singkat ini masih berhubungan dengan studi kata dalam eksegesis, maka saya perlu mengutip kembali prinsip studi kata yang pernah saya cantumkan dalam artikel: Transfer Total Arti Kata yang Tak Sah, sebagai berikut:

…prinsip penting dalam studi kata (lexiology) adalah bahwa arti atau makna sebuah kata di tentukan oleh konteks penggunaannya pada teks tersebut. Mengapa prinsip ini disebut prinsip penting? Karena setiap kata di dalam bahasa Ibrani maupun Yunani (bahasa asli PL dan PB) memiliki lebih dari satu arti. Itulah sebabnya, ketika kita melakukan studi kata, misalnya memeriksa arti sebuah kata dalam sebuah Lexicon Ibrani atau Yunani, kita harus sadar bahwa fungsi Lexicon tersebut semata-mata memberitahukan kepada kitaapa dan berapa banyak pilihan arti yang kita hadapi untuk menerjemahkan atau menafsirkan makna penggunaan sebuah kata di dalam teks tertentu. Makna penggunaan sebuah kata di dalam sebuah teks TIDAK ditentukan oleh Lexicon, …tetapi oleh konteks penggunaannya.

Prinsip studi kata yang saya kutip di atas kali ini akan saya hubungkan dengan dua kecenderungan lain yang sering saya temukan “di lapangan”. Dalam beberapa diskusi, saya mengamati bahwa tidak jarang orang menjelaskan arti sebuah kata atau frasa di dalam teks dan atau konteks tertentu berdasarkan survainya terhadap penggunaan kata atau frasa yang sama di dalam teks dan atau konteks yang lain.  Selain itu, tidak jarang juga arti literal sebuah kata dalam leksikon dipaksakan sebagai “arti yang dimaksudkan” dalam konteks penggunaannya.

Berikut ini saya akan mencantumkan sebuah contoh konkret dari sebuah diskusi yang dapat menggambarkan kecenderungan-kecendrungan yang saya maksudkan di atas. Contoh di bawah ini adalah ulasan seorang yang menggunakan akun FB bernama  J.P. Jones terhadap kata “plesion” dalam Matius 22:39,[1]

[[[Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”…?]]]
Berdasarkan yang tercatat dalam bible Jesus tidak penah mengucapkan kalimat itu, bacalah sendiri dalam greek, artinya kasihilah tetanggamu.
δευτερα ομοια αυτη αγαπησεις τον πλησιον σου ως σεαυτον
deutera omoia aute agapeseis ton plesion sou os seauton
KJV: And the second is like unto it, Thou shalt love thy neighbour as thyself.
πλησιον definite article – accusative singular masculine
plesion : (adverbially) close by; as noun, a neighbor, i.e. fellow (as man, countryman, Christian or friend) — near, neighbour.
Qura 28:77 Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

‎[[[Translit. interlinear, deutera {yang kedua} de {lalu} homoia {yang sama} autê {dengannya} agapêseis {kasihilah} ton plêsion {sesama} sou {mu} hôs {seperti} seauton {dirimu sendiri}]]]

πλησίον – plesion disebutkan 17 kali dalam PB,
Matt 5:43, τὸν πλησίον σου
Matt 19:19, τὸν πλησίον σου
Matt 22:39, τὸν πλησίον σου
Mark 12:31, τὸν πλησίον σου
Mark 12:33, τὸν πλησίον
Luke 10:27, τὸν πλησίον σου
Luke 10:29, μου πλησίον
Luke 10:36, πλησίον
John 4:5, πλησίον
Acts 7:27, πλησίον
Rom 13:9, τὸν πλησίον σου
Rom 13:10, τῷ πλησίον
Rom 15:2, τῷ πλησίον
Gal 5:14, τὸν πλησίον σου
Eph 4:25, τοῦ πλησίον αὐτοῦ
Heb 8:11, τὸν πλησίον αὐτοῦ
Jam 2:8 τὸν πλησίον σου
Jam 4:12 τὸν πλησίον
Dalam KJV semuanya diterjemahkan NEIGHBOR = tetangga, kecuali John 4:5 diterjemahkan near= ‘dekat’. Bandingkan dengan terjemahan LAI kecuali John 4:5 dekat, dan Acts 7:27 : temannya, semuanya diterjemahkan “sesama”
Tetangga/ orang dekat tidak sama artinya dengan sesama (manusia), so, terjemahan manakah yang benar?
Kamus Greek-English.
nearby (adj), toward (prep)
Check vulgate: Matt 22:19 secundum autem simile est huic diliges PROXIMUM tuum sicut te ipsum
proximum = the nearest, next = terdekat, disebelah.
Tidak ada terjemahan yang berarti “sesamanya”
Coba anda check dalam bahasa lainnya πλησίον – plesion diterjemahkan menjadi apa,

DAD, coba anda check ayat Tanakh/ PL yang diquote Jesus menurut catatan para pengarang Gospel:
Leviticus 19:18, לא תקם ולא תטר את בני עמך ואהבת לרעך כמוך אני יהוה
lo` tiqqom wa lo` tittor et banei ‘ammeka wa ahabata le RE’Aka kamowka aniy yahweh.
Septuagint Lev 19:18: και ουκ εκδικαται σου η χειρ και ου μηνιεις τοις υιοις του λαου σου και αγαπησεις τον πλησιον σου ως σεαυτον εγω ειμι κυριος
kai ouk ekdikatai sou e cheir kai ou menieis tois uiois tou laou sou kai agapeseis ton PLESION sou os seauton ego eimi kurios
Thou shalt not avenge, nor bear any grudge against the children of thy people, but thou shalt love thy NEIGHBOR as thyself: I am the LORD. KJV
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. TB
רֵ֫עַ – re’a = πλησιον – plesion, KJV = neighbor (tetangga/ yang dekat) vs TB = sesamamu.
Coba anda check
Exodus 11:2
דבר נא באזני העם וישאלו איש מאת רעהו ואשה מאת רעותה כלי כסף וכלי זהב
daber na` be azanei ha ‘am wa yise`aluw iysh me`et RE’Ehu wa issah me`et re’utah kalei keshef wa kalei zahab
λαλησον ουν κρυφη εις τα ωτα του λαου και αιτησατω εκαστος παρα του πλησιον και γυνη παρα της πλησιον σκευη αργυρα και χρυσα και ιματισμον
laleson oun kruphe eis ta ota tou laou kai aitesato ekastos para tou PLESION kai gune para tes PLESION skeue argura kai chrusa kai imatismon
Speak now in the ears of the people, and let every man borrow of his NEIGHBOR, and every woman of her NEIGHBOR, jewels of silver and jewels of gold.KJV
Baiklah katakan kepada bangsa itu, supaya setiap laki-laki meminta barang-barang emas dan perak kepada tetangganya dan setiap perempuan kepada tetangganya pula. TB
So, jelas bukan arti πλησιον – plesion adalah: TETANGGA atau orang dekat/ yang dekat bukan berarti SESAMA MANUSIA?

Melalui ulasan di atas, Jones ingin memperjuangkan asumsinya bahwa “Yesus hanya bagi orang-orang Israel saja”. Yesus bukan untuk “segala bangsa”. Dan ulasan di atas adalah salah satu upaya Jones menunjukkan limit jangkauan misi Yesus. Jones ingin menunjukkan bahwa bahkan Hukum Kasih yang kedua yang diajarkan Yesus pun TIDAK ditujukan kepada “sesama manusia” (universal) tetapi ditujukan HANYA bagi “tetangga” (orang-orang dekat, dalam maksud Jones: hanya sesama orang Israel saja!).

Ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dari ulasan leksikal di atas:

Pertama, penyebutan QS 28:77 sama sekali tidak relevan dengan ulasan mengenai kata “plesion” dalam Matius 22:39.

Kedua, jumlah penggunaan kata “plesion” dalam PB yang ditunjukkan Jones pun sebenarnya tidak memberikan poin penting apa pun untuk menjelaskan arti “plesion” dalam Matius 22:39. Bahkan upaya ini menunjukkan bahwa Jones akan berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama cacat secara eksegetis. Mengapa? Karena untuk menunjukkan relevansi jumlah kemunculan kata “plesion” dalam PB dengan pemakaiannya dalam Matius 22:39, Jones harus mengasumsikan kesamaan konteks dari setiap pemakaian kata ini dengan konteks pemakaiannya dalam Matius 22:39. Jika Jones mengasumsikan KESAMAAN konteks dari setiap pemakaian kata ini dalam PB, maka Jones sedang memakai asumsi yang reduktif. Reduktif karena 17 kali kata ini muncul dalam PB dalam konteks yang berbeda. Jika Jones mengakui perbedaan konteks kemunculan dari 17 kali pemakaian kata “plesion” dalam PB dan tetap memakainya untuk mendukung asumsinya mengenai limitasi arti kata “plesion” dalam Matius 22:39, maka Jones melakukan kesalahan eksegesis yang saya sebutkan dalam judul artikel ini: transfer arti kata dari konteks “asing”.

Ketiga, bahkan sebenarnya istilah “tetangga’ dalam Keluaran 11:2, dari segi konteks penggunaannya, BERLAWANAN dengan agenda Jones di atas. Jones mengasumsikan bahwa Yesus HANYA bagi Israel dan ingin membuktikan itu dengan menunjukkan bahwa kata “tetangga” dalam Matius 22:39 ikut mendukung agenda ini. Tetapi perhatikan bahwa kata “tetangga” dalam Keluaran 11:2 JELAS merujuk kepada orang-orang Mesir yang hidup di sekitar Israel. Konteks ayat ini adalah Israel sedang bersiap untuk keluar dari Mesir. Tuhan di dalam kemahakuasaan-Nya yang berdaulat, akan menggerakkan hati orang-orang Mesir untuk membekali Israel dengan harta benda. Dan Israel diperintahkan untuk meminta barang-barang berharga tersebut dari “tetangga” mereka, yaitu ORANG-ORANG MESIR! Jadi dari segi konteksnya, kata “tetangga” di sini bukan hanya berarti “sesama Israel” sebagaimana yang diagendakan Jones dalam asumsinya mengenai limitasi misi Yesus. Memang kata “plesion” bisa juga merujuk kepada orang-orang tinggal di dekat (nearby), tetapi jelas dalam konteks Keluaran 11:2 yang merujuk kepada ORANG-ORANG MESIR (non Israel) langsung menghantam tepat di jantung asumsi Jones!

Keempat, Hukum Kasih yang kedua (Mat. 22:39): “ἀγαπήσεις τὸν πλησίον σου ὡς σεαυτόν” dilontarkan Yesus dalam sebuah polemik yang dirancang oleh orang-orang Farisi. Dan dalam konteks ini kita tidak terlalu jelas apakah kata “plesion” di sini memiliki cakupan yang universal (sesama manusia) atau sekadar partikular (tetangga atau orang-orang dekat). Meski begitu, perhatikan bahwa dalam kesempatan lain,  yaitu dalam Lukas 10:25-37,  Yesus kembali melontarkan hukum yang kedua ini, yakni dalam rangka menjawab “Siapakah sesamaku”? Dan dalam konteks ini jelas yang dimaksudkan Yesus dengan “τὸν πλησίον σου” bernuansa universal, yakni melampau batas-batas etnis yang dibangun oleh Israel. Dari segi konteks dekatnya (Mat 22) tidak jelas, tetapi menjadi jelas ketika kita memperhatikan penggunaannya dalam bagian paralelnya (konteks jauhnya).

Kelima, tipuan halus yang digunakan Jones adalah menonjolkan “arti literal” (literal meaning) sebagai “arti yang dimaksudkan” (intended meaning). Memang arti literal kata “πλησίον” di dalam Lexicon adalah “tetangga” (neighbor). Tetapi intended meaningnya bisa mencakup “sesama manusia” (cakupan yang universal).  Arti kata tidak ditentukan oleh Leksikon melainkan konteks penggunaannya di dalam kalimat (lihat kutipan dari artikel saya sebelumnya yang saya cantumkan di atas). Kontekslah yang memberikan arti yang dimaksudkan (intended meaning), sedangkan Leksikon hanya memberikan pilihan-pilihan literal meaning dari sebuah kata. Contoh lain untuk poin ini bisa dilihat dalam penggunaan frasa “andra ou ginosko” yang secara literal berarti “belum mengenal seorang laki-laki” (Luk. 1:34). Tetapi dari konteksnya, kita mengetahui bahwa frasa ini seharusnya berarti “belum bersuami” (intended meaning).

Nasihat sederhana tetapi penting dalam hubungan dengan inti artikel ini: Jangan paksakan arti literal sebuah kata dalam leksikon sebagai arti yang dimaksudkan ketika kata tersebut digunakan dalam konteks tertentu. Dan jangan menentukan arti kata berdasarkan konkteks “asing” (konteks yang tidak relevan).


[1] Saya sudah menjelaskan tentang cacat eksegesis yang dilakukan J.P. Jones dalam menjelaskan kata “plesion” via inbox kepada seorang teman yang menanyakan hal ini. Meski begitu, saya pikir ada baiknya saya tuliskan dalam bentuk artikel untuk dipublikasikan di sini, sehingga bisa menjadi bahan pembelajaran bagi rekan-rekan yang lain. Diskusi lengkap mereka, termasuk ulasan dari J.P. Jones dapat anda baca di sini: https://www.facebook.com/avelina.wu.yan/posts/180068195434879