Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” ITB-Kej. 1:26

Sejarah Eksegesis dan Evaluasinya
Sepanjang sejarah, para ekseget telah menelorkan beragam kesimpulan mengenai “kita” dalam Kejadian 1:26. Berikut ini saya akan mencantumkan kesimpulan-kesimpulan tersebut disertai inti argumennya. Pada setiap kesimpulan tersebut, saya akan memberikan catatan evaluatif.

Pertama, “kita” dalam Kejadian 1:26 berasal dari mitos ancient Near East (ANE) yang merujuk kepada dewa-dewa dalam konteks ANE. Pandangan ini mengasumsikan bahwa penulis Kitab Kejadian mengasimilasikan mitos-mitos ANE ke dalam tulisannya namun kurang cermat dalam “membersihkan” pengaruh Politeisme dalam mitos-mitos tersebut.

Evaluasi singkat: Kosmologi Kejadian 1 memang mengindikasikan adanya interaksi dengan mitos-mitos ANE. Namun, interaksi tersebut lebih bersifat polemik ketimbang “peminjaman”. Dalam polemik tersebut, tidak masuk akal untuk menerima bahwa penulis Kitab Kejadian meninggalkan gagasan politeistik yang justru dilawannya melalui gagasan kosmologisnya dalam Kitab ini.

Kedua, “kita” di sini merujuk kepada ciptaan-ciptaan terdahulu (mis. matahari, bulan, bintang, dsb).

Evaluasi singkat: Pandangan ini tidak dapat diterima karena secara implisit “gives life and personal reality” kepada elemen-elemen penciptaan. Selain itu, pandangan ini pun dipengaruhi oleh mitos-mitos ANE yang memandang elemen-elemen alam semesta memiliki “hidup” bahkan “kuasa” dan mereka menyembahnya. Misalnya penyembahan terhadap elemen-elemen alam semesta, misalnya: bulan, matahari, dsb. Keberatan pada pandangan pertama di atas dapat diterapkan untuk pandangan ini juga.

Ketiga, “kita” dalam Kejadian 1:26 adalah sebuah honoric plural” atau plural majestic sebagaimana kata ‘elohim.

Evaluasi Singkat: Pandangan ini bermasalah karena honoric plural dalam PL digunakan hanya pada kata benda (nouns), bukan pada pronominal atau kata ganti benda (pronouns).[1]

Keempat, “kita” di sini merujuk kepada plural of self-deliberation (percakapan di dalam Diri Allah sendiri). Ini adalah salah satu elemen tata bahasa Ibrani yang terdapat dalam Gesenius’ Hebrew Grammar.  Genesius menerapkannya pada “kita” dalam Kejadian 1:26.

Evaluasi Singkat: Identifikasi Genesius mengenai plural of self-deliberation tidak disertai contoh-contoh lain, selain Kejadian 1:26. Siapa yang tidak akan mencurigai Genesius bahwa identifikasi ini hanyalah “karangan” Genesius belaka?

Kelima, pandangan yang umumnya dianut kekristenan tradisional adalah bahwa “kita” di sini mengandung benih doktrin Trinitas. Beberapa argumen yang digunakan untuk mendukung kesimpulan ini, antara lain:

  • Pandangan ini cocok dengan canonical context di mana, dalam PB, Trinitas disingkapkan secara jelas sebagai: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi ini dinyatakan sebagai Pencipta (Creator). Bila dalam PB, Ketiga Pribadi tersebut dinyatakan sebagai Pencipta, maka “kita” dalam Kejadian 1:26 mestinya dipandang mengungkapkan gagasan plurality in Godhead.
  • Pandangan ini juga kelihatannya didukung oleh penyebutan ruah ‘elohim yang diterjemahkan dalam mayoritas versi Alkitab: “Roh Allah” (the Spirit of God) dalam Kejadian 1:2. Penyebutan “Roh Allah” ini cocok dengan canonical context di mana PB menyebutkan mengenai Roh Allah atau Roh Kudus. Kata “melayang-layang” dalam Kej. 1:2 dalam gambaran metaforiknya, cocok dengan Roh Kudus yang turun dalam rupa burung merpati ke atas Yesus saat pembatisan-Nya (bnd. Mat. 3:16; Mrk. 1:10; Luk. 3:22).
  • Kata ‘adam dalam Kejadian 1:26 adalah sebuah kata benda tunggal-kolektif (collective singular) yang merujuk kepada laki-laki dan perempuan sekaligus. Ini mengindikasikan bahwa Allah pun demikian: lebih dari satu Pribadi.

Evaluasi Singkat: Beberapa argumen di atas sebenarnya invalid. Mengapa?

  • Argumen berdasarkan canonical context dari doktrin Trinitas sebagai Pencipta dalam PB kelihatannya solid, namun merupakan sebuah eisegesis (memasukan presuposisi teologis ke dalam teks spesifik). Elemen ironis dari argumen ini adalah bahwa argumen ini dilontarkan oleh kaum Injili dan atau Reformed yang menganut prinsip eksegesis: Gramatikal Historis. Padahal dengan menerapkan argumen ini, mereka sedang “menaruh prinsip Gramatikal Historis di dalam kantong doktrin” ketimbang menerapkannya secara bertanggung jawab pada teks Kejadian 1:26. Argumen ini lebih mewakili presuposisi teologis yang “dibawa masuk ke dalam teks”, ketimbang sebuah argumen “dari dalam teks” itu sendiri!
  • Argumen tentang ruah ‘elohim berdasarkan canonical contextnya pun sebenarnya cacat metodologis. Perihal Roh Allah dalam PB adalah salah satu Pribadi Allah Tritunggal, tidak mengharuskan bahwa ruah ‘elohim dalam Kejadian 1:2 merujuk kepada Roh Kudus dalam PB. Bahkan frasa ruah ‘elohim dalam Kejadian 1:2 dapat diterjemahkan “wind from/of God”(NRSV) atau “mighty wind”.[2]
  • Mengenai kata ‘adam yang kolektif-tunggal pun tidak mengharuskan “kita” mengikuti nuansa gramatikalnya. Ingat bahwa ‘adam adalah kata benda, sedangkan “kita” adalah pronomina. Dan keberatan terhadap pandangan ketiga di atas dapat diterapkan di sini juga.

Keenam, pandangan lain yang juga mayoritas di anut adalah bahwa “kita” dalam Kejadian 1:26 merupakan rujukan kepada para penghuni surga yang melayani takhta Allah. Pandangan ini mengandung dukungan secara linguistik dan kontekstual.

  • Secara lingusitik, kata ‘elohim dalam Kejadian 1:2 dapat dapat dimaknai sebagai heavenly beings (Mzm. 8:5 – NIV; bnd. Ibr. 2:7) atau divine beings (1Sam. 28:13). Poin utama dari argumen ini adalah bahwa ‘elohim Kejadian 1:2 tidak bernuansa politeistik.
  • Secara kontekstual, kata “kita” merujuk kepada angelic realm yang terungkap di dalam Kejadian 3:22 dan 11:27. Pertama, kata elohim dalam Kejadian 3:22 lebih cocok diterjemahkan devine beings (grammatical plural) ketimbang God (honoric plural), karena modifiernya: “mengetahui tentang” (Ibr. yodea` yang secara literal berarti knowers of) berbentuk jamak. Artinya “kita” dalam Kejadian 3:22 merujuk kepada angelic realm, di mana sebagaimana para malaikat – termasuk Setan -, manusia telah mengetahui tentang yang baik dan yang jahat. Hal ini berbeda dengan dengan kata elohim  dalam Kejadian 3:5 yang mesti diidentifikasi sebagai honoric plural karena modifiernya, yaitu kata “mengetahui” berbentuk tunggal. Kedua, dalam Kejadian 11:7 Allah meresponsi peristiwa Menara Babel sebagai bentuk pemberontakan terhadap Allah.  Kata “kita” dalam ayat ini kemungkinan besar juga merujuk kepada angelic realm. Dukungan untuk kesimpulan ini terindikasi dalam Ulangan 32:8 dan Daniel 10:3, dinyatakan bahwa para malaikat ditugaskan untuk “mengurus” (superintend) manusia. Bahkan mengiringi Allah ketika menghakimi Manusia (Kej. 19:1-29; Mat. 25:31; 2Tes. 1:7).  Ketiga, kata “kita” dalam Yesaya 6:8 (‘Whom shal I send? And who wil go for us?’) dari segi konteksnya merujuk kepada Allah bersama para malaikat yang melayani Dia (heavenly court).[3]
  • Perhatikan bahwa meskipun dalam keempat teks yang mengandung “kita” tersebut melibatkan para malaikat, namun Tuhan tetaplah Sang Commandernya.

Evaluasi Singkat: Pandangan ini mendapat keberatan dari para penganut pandangan kelima di atas. Menurut mereka pandangan ini mengimplikasikan bahwa:

  • Tuhan mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan manusia. Hal ini tidak mungkin! Sebab tidak pernah dikatakan dalam Alkitab bahwa Allah bekerja sama dengan para malaikat dalam penciptaan manusia dan juga tidak pernah dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa para malaikat!

Jawaban terhadap Keberatan di atas:

  • Pandangan keenam di atas tidak mengasumsikan bahwa karena kata “kita” merujuk kepada angelic realm maka Allah bekerja sama dengan para malaikat dalam penciptaan. Dalam Yesaya 6:8 kata “kita” jelas merujuk kepada heavenly court, tetapi gagasannya jelas bahwa Yesaya diutus demi Tuhan saja, bukan demi heavenly court. Lagi pula “gambar dan rupa kita” dalam Kejadian 1:26 – bila “kita” merujuk kepada angelic realm – tidak salah karena para malaikat pun diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan. Para malaikat adalah makhluk yang berpribadi, bermoral, dan rasional. Hanya saja, tidak seperti manusia yang memiliki bentuk atau wujud fisik atau material. “Gambar dan rupa Allah” membedakan manusia dari ciptaan-ciptaan lain yang berwujud material, bukan dari para malaikat.[4]

Ketujuh, pandangan yang terakhir ini adalah sintesis dari pandangan kelima dan keenam di atas. Pandangan keenam memenuhi syarat gramatikal-historisnya. Meski begitu, pandangan keenam tidak serta merta mengeliminasi pandangan kelima. Karena dari aspek sensus plenior, pandangan kelima masih bisa dipertahankan. Gordon J. Wenham menulis demikian:

If the writer of Genesis saw in the plural only an allusion to the angels, this is not to exclude interpretation (b) entirely as the sensus plenior of the passage. Certainly the NT sees Christ as active in creation with the Father, and this provided the foundation for the early Church to develop a trinitarian interpretation. But such insights were certainly beyond the horizon of the editor of Genesis (cf. W. S. LaSor, “Prophecy, Inspiration and Sensus Plenior,” TB 29 [1978] 49–60).[5]

Sebagai catatan: ‘interpretation b’ yang dimaksud Wenham adalah pandangan kelima yang saya cantumkan di atas.

Penutup
Identifikasi makna “kita” dalam Kejadian 1:26 memang tidak dapat dipastikan secara mutlak. Namun adalah keliru bila kita langsung menarik relativisme sebagai “sahabat”. Ada argumen-argumen pendukung yang baik yang dapat dilihat dalam uraian ringkas di atas. Pada hemat saya, pandangan ketujuh cukup akomodatif untuk dianut. Cukup akomodatif karena menutupi kekurangan yang terdapat dalam pandagan keenam. Pandangan keenam solid secara eksegetis, tetapi mengabaikan klimaks dari revelasi (wahyu) yang progresif itu, yakni rujukan dalam PB bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Pencipta.

Dari segi historical contextnya, “kita” dalam Kejadian 1:26 merujuk kepada angelic realm, namun dari sensus pleniornya, rujukan ini dimaksudkan juga oleh Allah untuk nanti disingkapkan secara jelas dalam PB mengenai Trinitas. Bagian lain yang dapat digunakan sebagai contoh di sini adalah: Hosea 11:1 dan Matius 2:15. Dalam konteksnya, Hosea 11 “memandang ke belakang”, yakni merujuk kepada peristiwa exodus. Namun dari segi Sensus Pleniornya, dimaksudkan juga bagi Yesus yang dibawa pulang dari Mesir.


[1] Lih. P.P. Joun, A Grammar of Biblical Hebrew, trans. and rev. T. Muraoka (Rome: Pontifical Biblical Institute, 1993), 309.

[2] Frasa ruah ‘elohim secara gramatikal dapat diterjemahkan dalam tiga opsi: Pertama, spirit of Godgenitive of inalienable possession [IBHS, 145]; b) wind from/of Godgenitive of outhorship [IBHS, 145]; c) mighty wind – attributive genitive used as a superlative [IBHS, 148-149]. Menurut Bruce K. Waltke dan Charles Yu, ruah ‘elohim dalam Kejadian 1:2 secara konteks lebih cocok diterjemahkan wind from/of God. Alasan Walke dan Yu adalah bahwa “The Juxtaposition of the ‘spirit of God’ (a nonphysical entity) sweeping/hovering over the waters (a physical reality) seems incongruent, and ruah in the homological (i.e., similarly structured) narrative of the re-creation after the Flood clearly means ‘wind’ (Gen. 8”:1)” (An Old Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach [Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2007], 182)

[3] Pandangan dan argumen-argumen ini berasal dari: Waltke dan Yu, An Old Testament Introduction, 213-215; bnd. Friedrich Keil dan Franz Delitzsch, Commentary on the Old Testament, Vol. 1: The Pentateuch, trans. James Martin (Edinburgh: Edinburgh Press, 1874), 62.

[4] Jawaban di atas disadur dari: John H. Walton, Genesis (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2001), 128-130.

[5] Gordon J. Wenham, Genesis 1-15, (Software version of WBC Vol. 1; Dallas, Texas: Word Books Publisher, 1998).