Arthur W. Pink, lahir di Inggris pada tahun 1886, bermigrasi ke Amerika Serikat untuk berstudi di Moody Bible Institute. Dia menggembalakan jemaat di Colorado, California, Kentucky, dan South Carolina sebelum menjadi penginjil keliling pada tahun 1919. Dua belas tahun sebelum meninggal, Pink kembali ke Inggris pada tahun 1934 dan menetap di Pulau Lewis, Skotlandia. Dari tangannya, kita mendapati buku-buku yang sangat ketat menyerukan kepada Gereja untuk kembali kepada pengajaran yang sehat.

Berikut ini, saya akan mengutip sebuah keprihatinan sekaligus peringatan Pink terhadap sikap meremehkan pengajaran (doktrin), yang bahkan sampai hari ini telah menjadi sebuah “kredo” yang terus didengungkan oleh para pendeta yang malas belajar. Mereka selalu berkata: “Ah..saya ini orang praktis…gak usah doktrin-doktrinlah…nanti bikin berkelahi.”

Mari kita simak tulisan Arthur W. Pink di bawah ini:

Doktrin berarti “pengajaran”, dan melalui doktrin atau pengajaran inilah realitas mengenai Allah serta hubungan-Nya dengan kita – yang berkaitan dengan Kristus, Roh Kudus, keselamatan, anugerah, dan kemuliaan – dinyatakan bagi kita. Oleh doktrinlah (melalui kuasa Roh Kudus), iman orang percaya memperoleh makanan rohani dan dikuatkan, dan ketika doktrin diabaikan, pertumbuhan dalam anugerah serta kesaksian yang efektif bagi Kristus akan berhenti. Menyedihkan sekali mendengar berbagai komentar yang menyebut doktrin sebagai “tidak praktis”, padahal sebenarnya doktrin justru menjadi prinsip yang paling mendasar dari suatu kehidupan praktis. Terdapat suatu hubungan yang tidak terpisahkan antara iman dan praktik hidup. Terdapat suatu hubungan sebab akibat antara kebenaran ilahi dan karakter Kristen. Kebenaran membebaskan kita dari kebodohan, prasangka, kekeliruan, kelicikan Iblis, kuasa kejahatan; dan jika kebenararan itu tidak diketahui maka kebebasan tersebut juga tidak mungkin dinikmati…. Bacalah Surat Roma dan perhatikan betapa di dalam lima pasal pertama dari surat tersebut tak terdapat satu pun kalimat nasihat. Dalam Surat Efesus, setelah melewati pasal keempat, barulah terlihat adanya kalimat nasihat. Urutan pertama adalah eksposisi doctrinal, dan selanjutnya barulah muncul teguran atau nasihat bagi kehidupan sehari-hari.

Penggantian eksposisi doktrinal dengan hal-hal yang disebut khotbah “praktis” merupakan akar penyebab dari berbagai bencana yang sekarang melanda Gereja Allah. Alasan terjadinya kedangkalan pemikiran, sedikitnya hikmat, kurangnya pemahaman akan prinsip-prinsip kebenaran Kristen adalah karena begitu sedikit orang percaya yang berakar di dalam iman melalui mendengar doktrin-doktrin anugerah dan studi pribadi mereka tentang doktrin-doktrin itu. Ketika seseorang tidak berakar di dalam doktrin Inspirasi Alkitab, maka ia tidak akan memiliki dasar yang kokoh sebagai sandaran imannya. Ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan akan doktrin Pembenaran Oleh Iman, maka takkan ada pula keyakinan yang nyata dan berdasar mengenai penerimaan atas dirinya oleh DIA yang terkasih. Ketika seseorang tidak memahami pengajaran firman Tuhan mengenai Pengudusan, maka ia memiliki kecenderungan untuk terjebak dalam paham Perfeksionisme ataupun ajaran sesat lainnya. Dengan demikian, kita hendaknya mempelajari doktrin Kekristenan secara menyeluruh.

Pengabaian terhadap doktrinlah yang paling bertanggung jawab atas jatuhnya orang-orang yang mengaku Kristen ke dalam “isme” zaman ini. Jika Gereja “tidak dapat lagi meneremi ajaran sehat” (2Tim. 4:3), maka mereka menjadi sedemikian mudah terjebak ke dalam berbagai ajaran sesat.

Doktrin jangan disalahpahami sebagai urusan intelektual semata. Doktrin yang diterima dengan benar, dipahami dengan hati yang dilatih, akan senantiasa membawa pada suatu pemahaman yang mendalam akan Allah dan kemuliaan Kristus yang tidak terukur.

[Disadur dari: Arthur W. Pink, The Sovereignty of God, 181-183)