(1)Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. (2)Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (3)Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4)Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5)Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu (Matius 7:1-5)

Pendahuluan
Diakui atau tidak, ayat-ayat ini, khususnya frasa “jangan menghakimi” merupakan frasa favoritnya orang Kristen. Frasa ini kerap kali digunakan sebagai tameng untuk “meloloskan” diri dari sebuah tuduhan, khususnya ketika kita diperhadapkan dengan kesalahan kita. Oleh karena ketika kita membaca bagian ini secara selintas, kita mendapat kesan bahwa kita dilarang untuk menghakimi orang lain sama sekali. Itulah sebabnya, ketika seseorang mengungkapkan sesuatu yang terkesan menyalahkan pihak lain, maka kemungkinan besar akan ada rekasi: jangan menghakimi. Misalnya, ketika muncul berbagai reaksi negatif terhadap isi pidato presiden SBY berkenaan dengan peledakkan bom di JW Marriot dan Ritz Carltson (17 Juli 2009), saya mendengar di sebuah siaran radio bahwa reaksi-reaksi negatif tersebut merupakan “sikap menghakimi” yang seharusnya tidak boleh dilakukan (catatan: tulisan ini dibuat pada bulan Juli 2009). Dan tentu masih banyak contoh yang lain.

Pertanyaannya, apakah perikop ini memang sama sekali melarang kita untuk menunjukkan reaksi negatif terhadap seseorang atau sesuatu hal? Apakah yang dimaksud dengan “jangan menghakimi” di sini berarti kita tidak boleh membuat penilaian negatif terhadap apa pun? Apakah kita tidak boleh menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang telah berada di “jalur” yang salah? Jika demikian, mengapa justru kita membaca di dalam Alkitab begitu banyak contoh yang sebaliknya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita akan meneliti apa yang sebenarnya dikatakan oleh teks ini.

Pengertian “menghakimi”
Kata “menghakimi” dalam ayat ini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani krinete, dari kata krino, yang berarti “menilai, menganggap, menyatakan, menetapkan atau memutuskan sesuatu atau seseorang sebagai pihak yang salah”. Jadi, “menghakimi” dalam ayat ini berhubungan dengan penilaian negatif (bahwa seseorang atau suatu hal itu salah). Dan itu berarti me krinete (jangan menghakimi) di sini merupakan larangan untuk membuat penilaian, anggapan, memutuskan bahwa seseorang atau sesuatu hal itu salah atau keliru.

Sekali lagi, apakah larangan ini bersifat mutlak, dalam perngertian: sama sekali jangan menyatakan bahwa seseorang atau suatu hal itu salah? Ataukah larangan ini berkait dengan latar belakang pemahaman tertentu, yang olehnya menjadikan larangan ini bersifat kontekstual?

Konteks Historis: Ukuran Menghakimi
Craig S. Keener, dalam The IVP Bible Background Commentary: New Testament, mengungkapkan bahwa kata-kata Yesus dalam bagian ini memiliki hubungan erat dengan apa yang disebut dengan “ukuran menghakimi” pada masa itu. Di pasar-pasar orang biasanya menukarkan barangnya dengan barang yang lain yang dianggap memiliki nilai yang sebanding. Idenya adalah apa yang diberi harus sebanding dengan apa yang diterima. Ide ini kemudian diterapkan dalam bagaimana seseorang harus menerima konsekuensi dari tindakannya, yang biasanya dikenal dengan sebutan “retribusi” (Ams. 19:17; Mat. 5:7; 6:14-15; bnd. prinsp PL bahwa para saksi palsu akan menerima hukuman terhadap dusta mereka [Ul. 19:18–21]; dan para hakim yang diangkat harus menghakimi dengan adil dan sebagaimana mestinya [Kel. 23:6–8; Ul. 16:18–20]). Itulah sebabnya, pada waktu itu ada semacam semboyan retributif (bnd. Ul. 28) yang berhubungan dengan bagaimana mengadakan penilaian terhadap sesamanya, berbunyi demikian, “As a man measures it will be measured back to him”.

Dalam konteks ini, “jangan menghakimi” bukanlah larangan mutlak untuk menghakimi atau menyatakan sesuatu atau seseorang sebagai pihak yang salah, sesat, dsb. KarenaYang ditekankan dalam perikop ini adalah penilaian atau penghakiman itu harus dilakukan dalam proporsi, alasan, dan dasar yang tepat. Artinya jika seseorang memang salah, sesat, atau telah menyeleweng dari kebenaran maka ia harus dinyatakan demikian. Sebaliknya, jika seseorang benar ia juga harus dinyatakan benar. Atau dengan kata lain, penilaian atau anggapan itu harus dilakukan sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Jadi yang dilarang di sini adalah sikap atau penilaian yang tidak proporsional atau yang tidak sesuai dengan faktanya.

Jangan Menghakimi kalau tidak Qualified
Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat memahami mengapa Yesus merasa perlu mengingatkan para pendengar-Nya: “…ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat. 7:2). Artinya, sebelum seseorang menghakimi atau menilai sesuatu atau seseorang, ia harus terlebih dahulu memastikan dengan jelas alasan dan dasar penilaian atau penghakiman tersebut. Bukan hanya itu, tetapi seorang yang memberikan penilaian juga harus terlebih dahulu memeriksa dirinya sendiri apakah dia luput dari apa yang mau dikoreksi atau dievaluasinya.

Dalam ayat-ayat selanjutnya kita melihat hal ini terungkap dengan jelas. Ayat 3 menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang hanya mampu mengevaluasi orang lain tanpa terlebih dahulu melihat apakah diri mereka sendiri luput dari hal tersebut. Mereka menggunakan standar ganda dalam memberikan penilaian atau penghakiman. Terhadap orang lain mereka teliti melihat kesalahannya tetapi terhadap diri sendiri mereka melonggarkan tuntutan itu. Oleh karena mereka tidak mengevaluasi diri terlebih dahulu, maka ayat 4 menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang tepat (qualified) untuk memberikan evaluasi atau koreksian tersebut. Itulah sebabnya, ayat 5 menyatakan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang sebelum ia mengevaluasi orang lain, yaitu: mengadakan evaluasi diri terlebih dahulu.

Pola menghakimi yang ditentang Yesus di atas tampaknya merupakan kritikan terhadap cara orang-orang Farisi yang menghakimi orang lain “dengan kekerasan, penghinaan, dan kesombongan” (demikian pendapat professor F. Buchsel). Meskipun begitu,

Kata-kata Yesus ini pasti mempunyai maksud umum juga; manusia secara umum suka menghakimi sesamanya; itu memberi semacam kepuasan’, dan dengan jalan menghakimi orang lain kita dapat memperlihatkan diri kita sebagai “orang yang baik dan bermoral.

Dengan kata lain, larangan “jangan menghakimi” dalam ayat 1 harus dimengerti dalam hubungan dengan orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan untuk menghakimi karena mereka menggunakan standar ganda dalam menilai dan menghakimi orang lain. Larangan “jangan menghakimi” tidak dimaksudkan untuk diterapkan secara umum atau tanpa batas. Karena dalam Matius 7:15dst, Yesus juga berharap agar para murid dapat menilai (menghakimi) apakah pengajaran seseorang itu benar atau salah berdasarkan “buahnya”.[1]  Jika anda sendiri (sedang) melakukan hal yang sama, tidak memiliki pertimbangan yang baik untuk memberikan evaluasi ditambah keinginan untuk membalas dendam, maka Yesus berkata, “Jangan engkau menghakimi….”

Singkatnya, pesan dari perikop ini dapat diparafrasekan sebagai berikut: Jangan menghakimi seseorang kalau anda sendiri melakukan hal yang sama atau karena menggunakan standar ganda.

Menghakimi dalam Konteks Jemaat: Bagaimana Caranya?
Di dalam Matius 7:15dst, Yesus menyatakan bahwa kita dapat menilai seseorang atau sesuatu itu salah berdasarkan “buahnya”. Apakah yang dimaksud dengan “buahnya”? Bisa jadi “buah” di sini menunjuk kepada pengaruh buruk yang timbul dari sebuah ajaran. Misalnya ajaran tersebut menjauhkan seseorang dari kehidupan dan keyakinan akan iman yang sejati terhadap Allah (bnd. Ul. 13).

Selanjutnya, tampaknya perikop ini berbicara mengenai bagaimana relasi evaluatif itu dilakukan di dalam jemaat (sesama komunitas Kristen). Karena dalam ayat 3-5 digunakan kata adelfos (saudara) yang merujuk kepada dua pihak yang memiliki hubungan tertentu. Jika seorang adelfos ini telah melakukan kesalahan, maka yang harus dilakukan adalah memberikan nasihat-nasihat yang seperlunya sesuai dengan tingkatan kesalahan yang telah dia lakukan (mis. Mat. 18:15dst). Demikian pula, kepada Timotius, Paulus menasihatkan agar jika salah satu dari anggota jemaatnya harus dinyatakan bersalah, maka ia dapat melakukannya dengan menegor mereka seperti “bapa”, “ibu” dan “saudaranya”.

Penilaian atau penghakiman terhadap sesama saudara seiman harus dilakukan dalam kerangka kasih kristiani dan bukan termotivasi oleh semangat balas dendam. Dan tujuannya adalah membawa adelfos tersebut kembali kepada kebenaran lalu hidup memuliakan Tuhan.

Penutup

Bolehkah kita menghakimi, menilai, dan menyatakan sesuatu atau seseorang sebagai pihak yang salah atau keliru atau sesat dan harus kembali kepada kebenaran? Boleh! Tetapi ingat, kita harus berawas diri untuk tidak menggunakan standar ganda. Kita mesti menata kehidupan kita sedemikian rupa sehingga kita berdiri dan memberikan evaluasi (mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita), kita tidak terhalang oleh “balok” di hadapan kita sendiri.


[1] Baca artikel saya tentang Matius 7:15-23.