Di kota X, terdapat sepasang suami istri yang sangat rajin menghafal ayat-ayat Alkitab. Saking “dikuasai” oleh ayat-ayat Alkitab, dalam percakapan pun acap terjadi “perang ayat”. 

Berikut ini adalah salah satu percakapan yang “berlumuran” ayat-ayat Alkitab. Percakapan ini terjadi pada suatu senja, dimana sang istri yang baru saja selesai mencuci, beristirahat sambil menyantap sepiring ubi goreng yang masih hangat. Sang suami mendekati istrinya, dan terdengarlah percakapan berikut: 

Suami: “Ma, bagi dong ubi gorengnya” (sambil tersenyum) 
Istri: “Hukum ke-10, Jangan engkau mengingini milik orang lain.” 
Suami: “Lukas 11:9: Mintalah maka akan diberikan kepadamu!” 
Istri: “hmm..1Tesalonika 3:10: Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” 
Suami: “Memang saya tidak ikut memasak, tapi Matius 22:39 berbunyi: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 
Istri: “☺º°˚¨˚°º☺… :O Amsal 6:6: Hai pemalas, pergilah kepada semut, dan perhatikanlah dan contohilah lakunya.” 
Suami: “Ok, Roma 12:20 berbunyi: Jika seterumu lapar, berilah ia makan.” 
Istri: “Ya..ya, rasul Paulus juga menulis dalam roma 14:17: Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman.” 
Suami: “Tetapi Yesus pernah mengatakan, Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” 
Karena merasa terpojok, sang istri dengan wajah masam memberikan sepotong ubi goreng sambil berkata: “Nih, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Itu juga kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 8:11.”

Percakapan di atas hanya sebuah imajinasi belaka. Tidak pernah terjadi. Namun bukankah dalam banyak kesempatan kita juga “rajin” mencomot-comot ayat-ayat Alkitab sesuka hati kita untuk memenuhi “kebutuhan” kita? Saya ingat, ada seorang rekan yang berkata: “Kalau ada ayatnya, belum tentu Alkitabiah”. Ya, tepat sekali. Ayat-ayat Alkitab harus dimengerti dalam konteksnya. Alkitab bukan puzzle yang ayat-ayatnya dapat kita copot-copot untuk mendukung apa yang cocok dengan kita dan yang ingin kita bela. Hati-hatilah terhadap semangat “ayatiah”. Inga-inga!