Salah satu hal penting dalam memahami tata bahasa Yunani, khususnya dalam hal mengelaborasi kata kerja (verbs) adalah theological passive. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Max Zerwick. Zerwick mengusulkan istilah ini untuk kecenderungan para penulis PB ketika berbicara tentang tindakan-tindakan Allah bagi kita dan keselamatan kita. Dalam membicarakan tindakan-tindakan ini, para penulis PB tidak menyebut nama Tuhan secara langsung, tetapi menggunakan voice pasif pada kata kerja (verbs) yang digunakan. Para penulis PB membicarakan tentang kedaulatan anugerah Allah dengan cara “menyembunyikannya” di balik ekspresi gramatikal (ketatabahasaan).

Tidak sulit untuk memahami alasan munculnya kecenderungan di atas. Kita tahu bahwa sikap hormat orang-orang Yahudi terhadap Allah membuat mereka cenderung meminimalisasi penyebutan nama Allah secara langsung. Dan salah satu cara mereka untuk “menyiasati” hal ini adalah dengan menggunakan konstruksi kata kerja bermodus indikatif dan bernada pasif.

Misalnya, kita membaca dalam Matius 5 tentang Beatitudes (Ucapan Bahagia). Dalam bagian ini, Yesus memaklumatkan tentang “Berbahagialah” atau “Diberkatilah” (Inggris: Blessed). Perhatikan empat contoh di bawah ini:

  • “…mereka akan dihibur” (Yun. paraklethesontai – future indikatif pasif dari kata parakaleo; ay. 4);
  • “…merek akan dipuaskan” (Yun. khortasthesontai – future inidkatif pasif dari kata khortajo; ay. 6);
  • “…mereka akan diberi kemurahan” (terjemahan saya; Yun. eleethesontai – future indikatif pasif dari kata eleeo; ay. 7)
  • “…mereka akan disebut anak-anak Allah” (Yun. klethesontai – future indikatif pasif dari kata kaleo; ay. 9).

Makna penggunaan konstruksi future indikatif pasif di atas adalah bahwa Allah akan: menghibur; memuaskan; memberi kemurahan; dan menyebut mereka anak-anak-Nya. Satu contoh lain dapat ditambahkan di sini adalah kata-kata Yesus dalam Lukas 11:9. Yesus berkata: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; …ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Jelas bahwa Allah-lah yang akan memberikan dan membuka pintu bagi mereka yang meminta dan mengetok.

Selanjutnya, bentuk aorist pasif memang kurang sering digunakan dalam nuansa kecenderungan di atas. Meski begitu, kita dapat melihat kecenderungan tersebut dalam 1 Petrus 1:12. Petrus berkata bahwa kepada para nabi pernah dinyatakan (terjemahan saya terhadap kata Yunani: apekalyfthe – aorist indikatif pasif dari kata apokalupto) bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, dst. Melalui kata kerja berbentuk aorist indikatif pasif ini, jelas bahwa “God is the unexpressed Giver.”

Saya akan mengakhiri note singkat ini dengan mencantumkan kata-kata J. Ramsey Michaels:

In English the passive voice is often considered a sign of weak style, but in Greek it can be a clear signal that God is at work.