Pendahuluan
Waktu saya masih semester 3 di SETIA Jakarta (sekitar tahun 1999), saya pernah menyampaikan khobah tentang cium kudus dalam ibadah pagi di aula SETIA. Saya ingat persis, setelah ibadah tersebut berakhir, dalam perbincangan dengan cukup banyak mahasiswa, saya menyimpulkan bahwa tidak banyak yang mengetahui secara jelas tentang praktik cium kudus di kalangan gereja mula-mula. Kini, hampir 13 tahun setelah khotbah saya itu, istilah “cium kudus” menjadi popular di kalangan admins CLDC. Dan saya masih cukup yakin bahwa kesimpulan saya sekitar 13 tahun yang lalu belum perlu “direvisi” lagi. Itulah sebabnya, cium Kudus, frasa yang digunakan untuk “menghangatkan” keakraban ini (kecuali Ma Lobo..hehehe), ada baiknya dijabarkan. Dijabarkan supaya kita mengetahui apa dan bagaimana praktik cium kudus dilakukan di kalangan gereja mula-mula.
Sebelum mengulas tentang latar belakang praktik cium kudus, saya perlu menyebutkan bahwa dalam PB, frasa ini muncul sebanyak 5 kali, yaitu dalam: Roma 16:16; 1 Korintus 16:20; 2 Korintus 13:12; 1 Tesalonika 5:12; dan 1 Petrus 5:14. Berdasarkan data tekstual ini, kita mendapatkan kesan awal bahwa pemberian salam dengan cium kudus dilakukan bukan hanya di gereja-gereja yang didirikan Paulus (Korintus dan Tesalonika), melainkan juga gereja-gereja non-Pauline. Suatu praktik yang kelihatannya sangat familiar di kalangan kekristenan mula-mula.

Jika demikian, apa dan bagaimana latar belakang praktik ini? Lalu, apa signifikansi khusus praktik ini di kalangan gereja mula-mula? Saya akan menjabarkan terlebih dahulu latar belakang praktik ciuman dalam berbagai konteks. Selanjutnya, saya akan mengemukakan makna “cium kudus” dalam PB dan perkembangannya pada era Bapak-bapak Gereja.

Latar Belakang
Pemberian salam dengan ciuman sampai pada masa PB dan juga Bapak-bapak gereja, rupanya sudah memiliki akar sejarah yang cukup panjang.[1]

Pertama, ciuman antar kerabat atau famili. Pemberian salam dengan sebuah ciuman merupakan suatu praktik yang umum dilakukan. Praktik ini terindikasi dalam PL yang dilakukan sebagai tanda kasih sayang antar-anggota keluarga (mis. Kej. 29:11; 33:4); sebuah ekspresi cinta (Kid. 1:2; dan juga sebagai simbol rasa hormat (1Sam. 10:1). Dalam tulisan-tulisan Yudaisme klasik, ciuman juga dianggap sebagai sebuah praktik yang alamiah antar sesama anggota keluarga (Jub. 31:21; Song Rab. 5:16 §3; Jub. 22:10–11; 26:21). Ciuman tersebut dilakukan sebagai pemberian salam yang menandai kedekatan hubungan kekeluargaan (Num. Rab. 9:9; Jos. and As. 8:4/3). Biasanya seorang kerabat yang datang berkunjung dari tempat yang jauh disambut dengan memberikan ciuman kepadanya sebagai tanda sukacita atas kedatangannya (Tob. 7:6–7). Demikian pula ciuman diberikan kepada seorang kerabat yang baru ditemui setelah sekian lama tidak bersua (bnd. Kel. 4:27; 18:7). Seorang saudari dapat bergantung dileher saudaranya dan meluapkan perasaannya dengan sebuah ciuman (Song Rab. 8:1 §1).

Kita juga dapat menelusuri praktik ini dalam tulisan-tulisan ekstra biblikal dari kebudayaan Greco-Roman (Yunani-Romawi). Diodorus Siculus menulis bahwa ciuman adalah sebuah praktik untuk mengekspresikan kasih sayang. Itulah sebabnya, ia menggunakan istilah “ciuman” dan “kasih” itu secara bergantian dalam maksud yang sama (Bib. Hist. 9.37.1). Longus menyatakan bahwa ciuman adalah sebuah pemberian salam kekeluargaan yang standar dalam kebudayaan Greco-Roman (Daphn. Chl. 4.22–23). Sebagai contoh, seorang wanita Romawi dapat mencium seorang lelaki yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya (Plutarch, Quaest. Rom. 6, Mor. 265B). Seorang anak diharapkan untuk memberikan ciuman kepada ibunya (Ovid Met. 10.525) dan ayahnya (Euripides Androm. 416). Demikian juga sebaliknya, para ayah dan ibu mencium anak-anak mereka (Virgil Geor. 2.523). Ciuman juga dilakukan seorang paman kepada keponakan yang memberikan salam kepadanya (Achilles Tatius Leuc. 1.7.3).

Kedua, ciuman sebagai tanda penghormatan. Sebuah ciuman biasanya dilakukan juga sebagai tanda penghormatan terhadap status seseorang yang dianggap lebih tinggi (Arrian Alex. 4.11.3; bnd. Luk. 7:38, 45). Pemberian salam ini biasanya dilakukan pada: leher, tangan, mata, dan atau bagian-bagian tubuh yang lain(bnd. Epictetus Disc. 1.19.24). Dalam sebuah legenda Yahudi, dikatakan bahwa Abraham memberikan ciuman pada pergelangan tangan seseorang yang telah meninggal sebagai tanda penghormatan (T. Abr. 20, A). Ciuman juga diberikan kepada orang-orang yang baru saja disunat sebagai tanda ucapan selamat (Ex. Rab. 19:5). Seorang murid dapat memberikan ciuman kepada gurunya yang telah mengajarnya dengan bijaksana (1Ezr. 4:47; bnd. ciuman Yudas kepada Yesus dalam Mat. 26:48). Demikian pula seorang rabbi dapat memberikan ciuman kepada muridnya yang cerdas (t. H\ag. 2:1; ARN 6 A; ARN 13 §32 B; b. H\ag. 14b; y. H\ag. 2:1 §4; R. Gamaliel II, y. Ros] Has]. 2:9 §2; R. Simeon ben Yohai, Pesiq. Rab Kah. 1:3; dan R. Abba bar Kahana, y. Hor. 3:5 §3; Koh. Rab. 6:2 §1).

Ketiga, ciuman dalam konteks keagamaan.  Dalam konteks agama-agama misteri, pemberian ciuman memiliki signfikansi kultis, yakni sebagai simbol penghormatan terhadap para dewa. Dalam PL, nuansa religius di balik sebuah ciuman terindikasi dalam sejumlah bagian (Ayb. 31:27; 1Raj. 19:18; Hos. 13:2). Di sinagoge-sinagoge, pemberian salam dilakukan antar sesama jenis kelamin. Pemberian salam itu dilakukan dengan sebuah kecupan.

Keempat, ciuman sebagai ekspresi birahi. Kita membaca dalam Amsal 7:13 bahwa ciuman dilakukan juga ekspresi luapan birahi. Dalam tulisan para rabbi, terdapat lontaran ketidaksukaan terhadap beberapa cara mencium yang dianggap “kotor”, misalnya ciuman di bibir (bnd. Chariton Chaer. 2.7.7; cf. Jos. and As. 8:3–7). Itulah sebabnya, rabbi Akiba menganjurkan ciuman itu dilakukan di pergelangan tangan (b. Ber. 8b). Hal ini dapat dimengerti karena dalam kebudayaan Yahudi dan Romawi, ciuman sebagai ekspresi seksual seharusnya dilakukan di tempat privat bukan di tempat umum. Orang-orang Yahudi bahkan menganjurkan agar seorang suami jangan mencium istrinya di depan publik.

“Ciuman” dalam PB dan Masa Bapak-bapak Gereja
Berakar pada latar belakang di atas, dalam Kitab-kitab Injil, terdapat catatan-catatan yang mengindikasikan bahwa praktik ciuman dilakukan sebagai salam yang bernuansa penghormatan (Luk. 7:45; 22:47; Kis. 20:37). Ada penafsir yang percaya bahwa ketika jemaat-jemaat Kristen mulai tersebar di mana-mana pada era para rasul, tampaknya pemberian ciuman bukan hanya digunakan sebagai tanda salam kasih, melainkan juga sebagai bagian dari liturgi ibadah. Artinya, pemberian ciuman kepada sesama anggota jemaat merupakan salah satu unsur liturgis dalam ibadah jemaat Kristen perdana. Hal ini terindikasi dari penggunaan kata sifat “kudus” (Yun. hagios) yang dirangkaikan dengan “cium” (Yun. filema).  Mengenai hal ini, Anthony C. Thiselton menulis:

The qualifying adjective holy might indicate either (i) its solemnity, or (ii) its specific use as a sign of affection and respect between fellow Christians, or (iii) a liturgical context.[2]

Secara historis, pendapat di atas sulit ditelusuri kebenarannya. Tidak ada catatan awal, sebelum Yustinus Martir, yang menyatakan bahwa praktik cium kudus merupakan bagian dari liturgi ibadah. Tapi yang pasti bahwa praktik ini digunakan sebagai tanda persaudaraan di antara jemaat-jemaat pada masa para rasul.

Pada masa Bapak-bapak gereja, praktik pemberian ciuman ini dikenal dengan kiss of peace yang lebih dihubungkan dengan Perjamuan Malam sebagai settingnya. Kiss of peace ini dilakukan sebagai bagian dari tata ibadah Perjamuan Malam. Catatan terawal mengenai hal ini terdapat dalam tulisan Yustinus Martir yang menyatakan bahwa kiss of peace dilakukan sebelum melakukan perjamuan. Hal ini juga ditegaskan oleh Ambrosius yang juga menulis mengenai kiss of peace sebagai bagian dari liturgi ibadah perjamuan.

Sampai di sini, kita dapat membedakan antara holy kiss dan kiss of peace berdasarkan settingnya. Yang pertama bukan bagian dari liturgi ibadah, sedangkan yang kedua merupakan bagian dari liturgi ibadah, khususnya ibadah perjamuan malam.

Menurut Klassen, cium kudus dalam lingkungan gereja mula-mula dilakukan sebagai

a physical sign in the public domain of respect, affection, and reconciliation within the Christian community, and that its distinctive use among fellow believers underlined and nurtured the mutuality, reciprocity, and oneness of status and identity which all Christians share across divisions of race, class, and gender.[3]

Jadi ada sejumlah makna teologis yang dimaksudkan di balik praktik ini. Dan hal penting yang perlu ditegaskan adalah bahwa praktik cium kudus dalam gereja mula-mula, tidak pernah dimaksudkan sebagai tindakan erotis. Meski begitu, tampaknya di kemudian hari praktik ini menimbulkan penyimpangan dalam jemaat. Hal ini terindikasi dari kecaman Bapak-bapak Gereja terhadap penyalahgunaan cium kudus dalam ibadah sebagai kesempatan untuk meluapkan birahi. Clement dari Aleksandria mengecam penyalahgunaan ini sebagai tindakan yang “shameless”.[4] Athenagoras juga mengingatkan jemaat mengenai “evil thought” yang memimpin seseorang menginginkan ciuman itu karena terasa menyenangkan.[5] Praktik yang kebablasan ini juga terlihat dalam praktik yang dilakukan oleh para penganut Children of God.

Data sejarah di atas juga sekaligus menuntun kita untuk menduga bahwa kemungkinan praktik cium kudus dalam lingkungan jemaat mula-mula dilakukan bukan hanya antar sesama jenis melainkan juga antar lawan jenis. Itulah sebabnya terjadi penyimpangan dalam praktiknya. Sekali lagi, ini hanya dugaan. Karena penyimpangan itu juga bisa terjadi meski hanya dilakukan antar sesama jenis.

Penutup
Berdasarkan telusuran historis di atas, kita mendapati bahwa praktik ciuman digunakan dalam berbagai konteks dalam maksud yang berbeda. Ciuman dapat berarti: ekspresi kasih persaudaraan, ekspresi sukacita karena berjumpa dengan kerabat yang baru datang dari tempat jauh atau yang sudah lama tidak berjumpa; ekspresi rasa hormat terhadap seorang yang lebih tinggi statusnya; ekspresi kultis; dan termasuk juga ekspresi luapan birahi.

Meski begitu, ciuman dalam lingkungan kekristenan mula-mula lebih bernuansa teologis ketimbang sosial dan erotis. Distinktivitas ciuman dalam lingkungan jemaat Kristen perdana ditandai dengan kata sifat “hagios”, yang menunjukkan sejumlah makna teologis di baliknya. Ada makna kesatuan, penerimaan, kesetaraan, dan kasih persaudaraan di antara sesama anggota jemaat.


[1] Uraian tentang latar belakang praktik ciuman, disadur dari beberapa sumber, khususnya: “Kiss”, dalam New Bible Commentary; “Kissing”, dalam Dictionary of the New Testament Background; bnd. juga: F. Dupont, Daily Life in Ancient Rome (Oxford: Blackwell, 1992); J. Ellington, “Kissing in the Bible: Form and Meaning,” BT 41 (1990): 409–16.

[2] Anthony C. Thiselton, The First Epistles to Corinthians (NIGTC; Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2000), 1345.

[3] Klassen, “The Sacred Kiss in the NT,” 125.

[4] Lih. Thiselton, The First Epistles to Corinthians, 1346.

[5] Athenagoras, Supplicatio 32.