Mayoritas khotbah dipersiapakan atas tendesi semata-mata menjawab pertanyaan ini: “Apa makna teks ini bagi jemaat; bagi kebutuhan mereka?” Mengajukan pertanyaan ini tentu penting dan tidak salah. Tetapi sangat tidak benar, bila persiapan sebuah khotbah atau renungan semata-mata berpusat pada pertanyaan ini. Tidak heran, bila persiapan khotbah lebih banyak dilakukan dengan merenungkan saja. Tidak perlu riset; yang terpenting adalah merenungkan pesan yang hendak disampaikan dalam khotbah bagi jemaat. Maaf, bila cara ini adalah cara Anda mempersiapkan khotbah, saya harus mengatakan bahwa Anda sedang mempersiapkan khayalan Anda untuk didengar jemaat yang Anda bungkus dengan frasa “firman Tuhan”.

Arti teks [what it meant; eksegesis ] menentukan signifikansinya [what it means; eksposisi]. Dari what it meant barulah kita mendapatkan what it means. Dari eksegesis baru ke eksposisi. Sayang sekali, para pengkhotbah yang tidak mau susah-susah, atau yang telah dikejar-kejar padatnya jadwal pelayanan, sering terjebak untuk semata-mata memikirkan what it meansnya tanpa lagi mempersoalkan what it meantnya. Kadang-kadang mereka berkedok dengan kata-kata ini: “Yang penting aplikatif; menjawab kebutuhan; tidak perlu yang susah-susah; dsb”. Ironis!

Pertanyaan pertama yang seharusnya ditanyakan adalah “Apakah maksud penulis kepada para pembaca mula-mula saat itu?” Pertanyaan selanjutnya yang menyusul setelah seorang penafsir atau pengkhotbah menjawab pertanyaan pertama ini, adalah “Apakah makna atau signifikansi dari teks ini bagi saya (devosi) dan [atau] bagi jemaat [khotbah atau renungan]?”

Seorang pakar hermeneutik bernama Grant R. Osborne menulis mengenai hal ini demikian:

The hermeneutical enterprise has three levels. I will discuss them from the standpoint of the personal pronoun that defines the thrust. We begin with a third-person approach, asking “what it meant” (exegesis), then passing to a first-person approach, queryng “what it means for me” (devotional), and finally taking a second-person approach, seeking “how to share with you what it means to me” (sermonic). When we try only one and ignore the others, we end up with a false message…. We must study Scripture with all three in the order presented, always seeking the passage’s meaning then applying it first to ourselves and then sharing it with others.

Selamat mempersiapkan “makanan rohani” bagi jemaat. Ingat, mulailah dari “Dia – Saya – lalu keKalian”. Sajian (bukan “sesajen”) Anda pasti sehat walau mungkin tidak enak bagi sebagian orang. Itu lebih baik daripada enak didengar tetapi tidak sehat karena Anda menyajikan sesajen rohani dan bukan sajian rohani.

(Kutipan di atas diambil dari: Grant Osborne, Hermeneutical Spiral: A Comprehensive Introduction to Biblical Interpretation [Revised and Expanded Edition; Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2006], 22).