Pendahuluan
Akhir-akhir ini perhatian Gereja terhadap pelayanan anak semakin intens. Ini tentu harus disambut baik. Cakupan pelayanan memang harus holistik: mencakup semua usia! Bukan hanya holistik, melainkan juga: kreatif, inovatif, dan edukatif. Ini patut diingat supaya jangan sampai ada tendensi bahwa pelayanan anak itu hanya semacam “pengalihan perhatian”. Seolah-olah, kita berpikir “daripada anak menghabiskan waktu bermain dsb., ya lebih baik diisi dengan kegiatan-kegiatan rohani.” Pelayanan anak juga bukan “candu psikologis”: membuat anak gembira, loncat-loncat, nyanyi-nyanyi, dsb. Hal-hal ini tentu baik, namun bukan tujuan utamanya. Tujuan utamanya adalah anak mengenal Tuhan dengan benar dan menikmati Tuhan, serta terdorong untuk hidup bagi Tuhan dalam kapasitas usianya. Intinya, anak-anak perlu dan harus “digembalakan” secara khusus [catatan: saya tidak terlibat secara langsung dalam pelayanan anak di Gereja. Itu bukan karunia saya. Tapi Tuhan menganugerahkan bagi saya dua orang permata dan saya tahu persis mengenai hal ini”].Mengenai anak-anak perlu digembalakan, seperti biasa, kita memerlukan dasar alkitabiah untuk menyerukan urgensi ini supaya semua orang Kristen melihat ini penting. Dan berbicara mengenai dasar alkitabiah untuk pelayanan ini, salah satunya, orang merujuk kepada Yohanes 15:21, “Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Dalam bahasa Yunaninya, kata “domba-domba” di sini digunakan kata arnia (bentuk akusatif jamak dari kata arnion), yang berarti “domba-domba”. Perlu kita ketahui, bahwa bahasa Yunani memiliki tiga kata yang berarti “domba”, yaitu kata “probaton”, “arnion”, dan amnos (1Pet. 1:19; Yoh. 1:29, 36). Meski begitu, biasanya diasumsikan bahwa kata probaton digunakan dalam arti “domba yang sudah dewasa” dan kata arnion digunakan dalam arti “domba yang masih kecil”. Lalu “domba-domba yang masih kecil” ini diparalelkan dengan “anak-anak sekolah minggu”.

Kata “arnion” dalam Neraca Asumsi Tafsir
Sebelum mengomentari hal ini, perlu saya menandaskan dan memperjelas satu hal. Bahwa pelayanan anak itu sesuatu yang urgen, itu bersifat aksiomatis. Tidak perlu diperbantahkan. Umat Tuhan, semua usia, patut mendapat pelayanan yang intens. Dan ini adalah satu hal. Meski begitu, apakah kata arnia dalam Yohanes 15:21 dapat dipakai sebagai penunjang pentingnya pelayanan anak, ini adalah hal lain. Ini perlu diperhatikan supaya Anda tidak menganggap bahwa note ini bertendensi menyerang pentingnya pelayanan anak. Tidak ada tujuan penyerangan seperti ini di sini. Tujuan saya adalah kita perlu memperjelas data yang kita gunakan dalam mendasari sebuah aktivitas pelayanan supaya tidak bias.

Berdasarkan asumsi terhadap perbedaan arti probaton dan arnion di atas, orang menggunakan Yohanes 15:21 untuk “menunjang” panggilan untuk melihat pelayanan anak sebagai sesuatu yang urgen. Dalam tendensi ini, kata arnia dimengerti sebagai metafora dari “pengikut Kristus yang masih anak-anak”. Arnia yang [dianggap] berarti “domba-domba kecil” diparalelkan dengan “anak-anak kecil” atau lebih spesifik lagi “anak-anak usia sekolah minggu”. Orang telah menimbang kata arnion dalam Yohanes 21:15 di atas neraca dan hasil timbangannya adalah arnia = “anak-anak” [anak sekolah minggu]. Jadi, timpalan Yesus terhadap jawaban Petrus, “boske ta arnia” dimengerti sebagai “gembalakanlah domba-domba [kecil] itu”.

Hal yang penting untuk dicermati di sini adalah: Pertama, apakah konteks ayat ini “mengizinkan” kita membuat paralel di atas?; kedua, apakah memang arti kata probaton dan arnion dapat dibedakan secara tegas, di mana probaton adalah kata yang khusus berarti “domba dewasa” dan kata arnion adalah kata yang khusus berarti “domba kecil”?

Dengan menjawab kedua pertanyaan di atas, paling tidak, kita mendapatkan afirmasi (penegasan) apakah kita dapat menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk pelayanan anak atau sebenarnya kita sedang membaca bagian ini secara bias. Ini harus dipastikan, karena dalam banyak kesempatan, kita sering membaca Alkitab dengan “kaca mata kita”. Kita membawa asumsi dan pengalaman kita kepada Alkitab kita lalu menafsirkan Alkitab seolah-olah Alkitab harus bertugas mendukung asumsi dan pengalaman-pengalaman kita (eisegesis!).

Lagi pula, asumsi di atas kelihatannya hanya diletakkan di atas basis pemahaman leksikal (studi kata). Dan ingat, banyak asumsi tafsir yang “keseleo” karena semata-mata melakukan studi kata. Memang sebuah kata tidak dapat berarti apa saja. Sebuah kata mempunyai arti tertentu. Meski begitu, kita harus ingat bahwa mayoritas kata-kata bahasa Yunani mempunyai lebih dari satu arti. Dan untuk menentukan arti yang mana yang harus digunakan, banyak pertimbangan harus dilakukan (lih. D.A. Carson, Exegetical Fallacies, khususnya Bab 1 mengenai kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam studi kata).

Saya akan akan memulainya dengan mengadakan survai ringkas guna menjawab pertanyaan kedua terlebih dahulu.

Arti Leksikal “Arnion”
Saya akan memulai ulasan ringkas ini dengan menelusuri penggunaan kata arnion sebelum dan di dalam PB.

Dalam tulisan para penulis kuno, kata arnion memang digunakan dalam arti “a little lamb”. Tetapi, ada juga penulis-penulis lain yang menggunakannya secara umum: “a lamb” [Friberg Lexicon]. Bahkan dalam BDAG Lexicon, berdasarkan survai terhadap penggunaan kata ini, disebutkan bahwa kata ini sering digunakan dalam arti “a sheep of any age”. Jadi kata ini memang digunakan dalam arti “domba kecil” tetapi tidak secara khusus atau secara ketat digunakan dalam arti ini. Kata ini bisa juga digunakan untuk “domba” secara umum. Dalam arti metaforiknya, kata arnion sering digunakan sebagai “a type of weakness” [BDAG Lexicon].

Di dalam PB, kata arnion mayoritas digunakan dalam Kitab Wahyu sebagai metafora dari Kristus yang mati tanpa dosa untuk menebus dosa (expiate) umat-Nya (lih. 5:6, 8, 12f; 6:1, 16; 7:9f, 14, 17; 12:11; 13:8;  14:1, 4, 10; 15:3; 17:14; 19:7, 9; 21:9, 14, 22f, 27; 22:1, 3).

Dalam Yohanes 21:15, kata ini digunakan sebagai metafora dari “umat Tuhan”. Namun, seperti yang sudah dijelaskan di atas, rupanya orang melangkah lebih jauh dengan membatasi arti kata ini hanya pada “umat Tuhan yang usianya masih kecil”. Asumsi ini langsung kelihatan bias karena survai terhadap frekuensi penggunaan yang berlimpah dengan rujukan arti metaforiknya kepada Kristus, jelas menjadi “lampu merah” untuk mengasumsikan bahwa kata arnion secara khusus digunakan dalam arti “domba yang kecil”. Asumsi bahwa arnion secara khusus digunakan dalam arti “domba kecil” sebenarnya ingin menekankan tentang “tingkat usia” dari domba itu untuk diparalelkan dengan “anak-anak”. Padahal, penekanan pada “tingkat usia” domba ketika para penulis PB menggunakan kata arnion sama sekali tidak terlihat, setidaknya berdasarkan survai leksikal di atas.

Meski begitu, asumsi tafsir yang menekankan “tingkat usia” dari arti kata arnion masih memiliki sedikit peluang. Sebab meskipun kata ini tidak khusus digunakan dalam penekanan terhadap “tingkat usia”, kita masih bisa berharap pada konteks Yohanes 21:15. Apakah konteks ayat ini “mengizinkan” kita untuk menganut asumsi tafsir di atas?

Konteks
Apakah konteks Yohanes 21:15 memberikan isyarat bahwa kata arnion di sini dapat diartikan sebagai “domba kecil” yang kemudian dapat dilihat sebagai metafora dari “anak-anak”? Saya akan mengulas mengenai hal ini secara ringkas di bawah ini.

Mengenai konteksnya, Yohanes 21:15 merupakan pertanyaan dan timpalan pertama dari tiga kali pertanyaan dan timpalan antara Yesus dan Petrus. Peristiwa ini berlangsung sesudah mukjizat penangkapan ikan dalam jumlah besar (21:1-14).

Dalam percakapan antara Yesus dan Petrus ini, kita melihat ada hal-hal yang menarik:

Pertanyaan Yesus

Jawaban Petrus

Mandat

Objek Mandat

Agapao

Phileo

Basko

Arnion

Agapao

Phileo

Poimaino

Probaton

Phileo

Phileo

Basko

Probaton

Berdasarkan “perbedaan-perbedaan” leksikal di atas, umumnya perdebatan terjadi dalam hubungan dengan apakah agapao dan phileo digunakan dalam arti yang berbeda atau sinonim (ada juga beberapa isu lain yang diperdebatkan berdasarkan teks ini). Ini merupakan perdebatan yang sudah cukup tua. Meski begitu, sekarang mayoritas penafsir berpendapat bahwa kata agape dan phileo dalam konteks ini tidak digunakan dalam arti yang berbeda. Keduanya digunakan secara sinonim. Fokus percakapan ini adalah mandat Yesus bagi Petrus untuk memelihara iman umat Kristus.

Dalam hubungan dengan topik note ini, yakni asumsi tafsir bahwa arnion berarti “domba kecil” dan olehnya dapat diparalelkan dengan “anak-anak”, kita perlu bertanya: apakah ide ini ada di sini? Sayang sekali, ide ini tidak terlihat secara spesifik di sini. Yang terlihat adalah kata arnion dan kata probaton digunakan secara bergantian dalam arti yang sinonim, yaitu sebagai metafora dari “para pengikut Kristus”. Lagi pula, kalau kita memaksakan ide bahwa arnion harus merupakan metafora dari “anak-anak”, mengapa kita tidak memperhatikan pula soal jumlah penggunaannya dalam percakapan ini, di mana arnion hanya muncul satu kali dan probaton dua kali? Apakah kita harus berkesimpulan bahwa karena arnion hanya muncul satu kali dan probaton dua kali maka penggembalaan terhadap anak-anak harus lebih sedikit mendapat perhatian dibanding orang-orang dewasa? Menggelikan!

Memang, berbicara mengenai para pengikut Kristus, tentu kita tidak dapat mengeliminasi “anak-anak”. Tetapi ini adalah pemahaman yang bersifat kategorial (berdasarkan tingkat usia), sementara konteks dan penekanan ayat ini lebih bersifat umum, yaitu “seluruh umat Tuhan”. Tidak ada maksud spesifik bahwa Petrus harus menggembalakan “anak-anak sekolah minggu”. Kita tidak mendapati bahwa ketika Yesus dan Petrus bercakap, ada anak-anak kecil yang berlari-lari sambil ketawa-ketawa mengitari Petrus dan Yesus. Yang ada, justru ikan-ikan dalam jumlah banyak! Tentu saya tidak bermaksud menyatakan bahwa Petrus diminta menggembalakan ikan-ikan. Tidak! Yang saya katakan adalah gagasan spesifik mengenai arnion dalam arti “domba kecil” supaya dikaitkan dengan “anak-anak” merupakan gagasan yang tidak terlintas di sini.

Penutup
Mengakhiri note ini, saya ingin mengisahkan sesuatu. Di daerah Kupang, tepatnya: Tablolong, kami tinggal di pantai. Dan mata pencarian mayoritas orang di situ adalah nelayan. Di pantai itu, jika Anda berkunjung ke sana, Anda akan melihat jejeran perahu-perahu nelayan. Perahu-perahu itu dilabuhkan di situ sesudah digunakan melaut dan keesokan harinya Anda masih akan tetap melihat perahu itu ada di situ. Mengapa? Karena jangkarnya menancap di tempat yang “tepat” untuk menahan perahu itu supaya tidak hanyut dibawa ombak.  Kadang-kadang, ada perahu yang hanyut karena jangkarnya menancap di tempat yang lembek atau berlumpur sehingga perahunya mudah terseret ombak. Maksud saya, kalau orang berbicara mengenai pentingnya pelayanan terhadap anak-anak, lalu mengambil – salah satu – dasar dari teks ini, saya harus mengatakan bahwa mereka sedang “menancapkan jangkar di lokasi berlumpur”. Tidak kuat. Kapalnya pasti hanyut. Karena memang ayat ini tidak dimaksudkan untuk dijadikan tempat menancapkan sauh (jangkar) bagi urgensi pelayanan anak!