Dalam tafsirannya terhadap 1 Korintus 7:3-7 yang ia beri judul: “Kemitraan dalam Perkawinan,”Dr. William Barclay menyisipkan informasi mengenai dua alasan yang menurutnya cukup meyakinkan untuk percaya bahwa Paulus pernah menikah. Kedua alasan yang dikemukakan Barclay berhubungan dengan latar belakang keyahudian Paulus, yakni Paulus sebagai [ex] rabbi dan [ex] anggota sanherdin.

Pertama, sebagai rabbi Yahudi, Paulus tentu telah memenuhi segala kualifikasi yang dituntut darinya. Barclay menyinggung soal keyakinan Yahudi Ortodoks masa kini yang menetapkan kewajiban mengenai perkawinan. Mereka percaya bahwa seorang laki-laki yang tidak menikah adalah seorang yang telah “membunuh keturunannya,” dan “mengurangi gambar dan rupa Allah.” Diyakini juga bahwa ada tujuh hal yang dikucilkan dari sorga. Dan hal pertama dari daftar tersebut berkenaan dengan “seorang laki-laki Yahudi yang tidak menikah, atau menikah tetapi tidak mempunyai anak.” Allah berfirman, “Berkembang biaklah dan bertambah banyaklah,” dan itu ditafsirkan jika tidak menikah dan tidak mempunyai anak maka seseorang sedang melanggar perintah Allah yang positif. Usia yang dianggap pantas untuk menikah adalah minimal 18 tahun. Dan Barclay berkesimpulan, “sangat tidak mungkin seorang yang begitu ortodoks dan taat seperti Paulus tidak pernah menikah.”

Kedua, Barclay yakin bahwa sebelum menjadi pengikut Kristus, Paulus juga adalah seorang anggota sanherdin. Dalam Kisah 26:10, dikatakan bahwa Paulus ikut memberikan suara menentang orang-orang Kristen. Jika Paulus adalah seorang anggota sanherdin sebelum menjadi pengikut Kristus, maka dapat dipastikan – demikian menurut Barclay – ia pernah menikah. Karena ada peraturan bahwa yang boleh menjadi anggota sanherdin adalah orang yang sudah menikah. Peraturan ini didasarkan atas kepercayaan bahwa para lelaki yang telah menikah lebih diberkati.

Itulah dua alasan Dr. Barclay yang menopang keyakinannya bahwa Paulus pernah menikah. Pertanyaannya, mengapa Barclay berulang kali mengatakan bahwa Paulus “pernah” menikah? Rupanya, Barclay mempertimbangkan dua kemungkinan di balik kata “pernah” menikah. Kemungkinan yang pertama adalah istri Paulus telah meninggal dunia. Namun kemungkinan ini tidak begitu diterima oleh Barclay. Alasannya tidak dikemukakan. Beliau langsung melanjutkan, “lebih mungkin ia [istri Paulus] meninggalkan Paulus dan menghancurkan rumah tangganya ketika Paulus menjadi seorang Kristen.”

 

(Disadur dari: William Barclay, Surat 1 & 2 Korintus; Pemahaman Alkitab Setiap Hari, terj.Pipi Agus Dhali & Yusak Tridarmanto [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009], 112-113).