28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci :”Aku haus!”  29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.  30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 19:28-30).

Pendahuluan
Menurut seorang sejarahwan Yahudi bernama Yosephus, perihal seorang kriminal yang mengatakan sesuatu atau mengumumkan sesuatu pada saat menjalani penyaliban merupakan sesuatu yang lumrah pada waktu itu. Yosephus mencatat bahwa biasanya seorang yang sedang disalibkan itu, sebelum meninggal, terlebih dahulu mengumumkan pembagian tanahnya kepada sanak famili yang menghadiri momen penyaliban tersebut. Artinya, jika seseorang dihukum sebagai seorang kriminal: disalibkan, misalnya, lalu ditengah-tengah pelaksanaan hukuman tersebut ia mengatakan sesuatu, maka sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada seorang pun yang akan merasa tertarik untuk membuat sebuah tulisan tentang perkataan tersebut atau bahkan menggunakan satu momen khusus untuk mengkhotbahkannya. Apalagai kita tahu bahwa hukuman dengan salib baik dalam kebudayaan romawi maupun dalam tradisi Yahudi merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Kalaupun itu dilakukan, siapakah yang tertarik untuk menghabiskan waktunya membaca atau mendengarkan sebuah orasi atau khotbah mengenai perkataan si terhukum di atas kayu salib, symbol ketiadaan martabat itu? Tidak ada!

Akan tetapi, persoalannya menjadi berbeda ketika kita berbicara mengenai perkataan-perkataan Yesus di atas kayu salib. Perkataan-perkataan yang dikenal dengan 7 perkataan di atas salib itu (The  sevent saying of Jesus on the cross), bukan hanya dikhotbahkan tetapi juga telah banyak buku yang ditulis untuk mengulas ke-7 perkataan tersebut. Beberapa di antaranya: Arthur W. Pink, seorang teolog Reformed, menulis sebuah buku yang berjudul: Saying of the Savior on the Cross; Mattison Judith, Seven Last Words of Christ; Christopher R. Seitz, Seven Lasting Words; dsb. Buku-buku ini mengulas ke-7 perkataan Yesus baik secara devosional maupun secara akademis dan kritis. Bukan hanya itu, seorang teolog Hindu yang berasal dari India, bernama Anand Kumar Raju, juga merasa tertarik terhadap ke-7 perkataan Yesus di atas salib kemudian menuangkan hasil refleksinya mengenai ke-7 perkataan tersebut dalam sebuah artikel berjudul: Seven Words on the Cross. Begitu berlimpahnya tulisan-tulisan maupun cataan-catatan khotbah mengenai ke-7 perkataan tersebut menunjukkan betapa signifikannya perkataan tersebut bagi kekristenan. Bukan hanya signifikan tetapi juga menarik perhatian. Bukan hanya perhatian orang-orang Kristen melainkan juga cendekiawan-cendekiawan non Kristen.

Renungan ini tidak akan mencakup ke-7 perkataan Yesus di kayu salib, tetapi akan dikhususkan untuk membahas tentang perkataan yang ke-5 “Aku Haus”.

“Aku Haus”: Arti Figuratif dan Harafiah
Perihal Yesus diberi minum anggur asam dicatat dalam kitab-kitab Injil, kecuali Injil Lukas. Bahkan di dalam Injil Matius, terdapat catatan bahwa dua kali Yesus diberi minum: pertama, Mat. 27:34 menunjukkan penolakkan Yesus ketika diberi minum; lalu, ayat 48 Yesus diberi minum dan kali ini tidak dicatat bahwa Ia menolak.   Meskipun demikian, menarik untuk diperhatikan bahwa hanya Injil Yohanes yang mencatat teriakan Yesus, “Aku haus” dan juga “Sudah selesai” (ay. 28 & 30). Maka pertanyaannya adalah: mengapa Yohanes, penulis Injil ini, merasa bahwa perkataan-perkataan ini penting untuk disertakan dalam Injilnya, sementara Injil-injil Sinoptis mengabaikannya? Lebih khusus lagi, apakah kaitan teriakan Yesus, “Aku haus” dengan keseluruhan pemberitaan Injil Yohanes mengenai perkataan-perkataan dan perbuatan Yesus?

Pada umumnya para penafsir memahami teriakan Yesus, “Aku haus,” dalam dua pengertian: Pertama, sebagian penafsir memahami bahwa teriakan Yesus “Aku haus,” sebenarnya bermakna figuratif. Artinya Yesus tidak benar-benar bermaksud menyatakan bahwa Ia kini sedang dahaga dan membutuhkan air untuk diminum. Mereka menunjukkan bahwa jika kita meneliti Injil Yohanes secara detail, maka kita akan menemukan catatan-catatan yang semakin membuat kita merasa diyakinkan untuk menganut pandangan ini. Memang teriakan Yesus “Aku haus”, secara implisit menyatakan bahwa ia membutuhkan air atau minuman untuk diminum, namun kita mendapati bahwa hanya di dalam Injil Yohanes terdapat catatan-catatan yang sangat penting berkenaan dengan air dalam arti khusus. Dalam Yohanes 4, ketika bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria di tepi sebuah sumur, Yesus berkata, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup…Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:10, 13-14). Jelas bahwa air yang dibicarakan Yesus di sini bukanlah air dalam pengertian harafiah melainkan dalam pengertian figuratif. Itulah sebabnya dalam pasal 7:37-39, ketika Yesus berbicara lagi tentang air hidup itu, Yohanes memperjelas maksud Yesus bagi kita, dengan menulis, “yang dimaksud-Nya adalah Roh yang diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang karena Yesus belum dimuliakan” Itulah sebabnya, Gary M. Burge dalam NIVAC, menyatakan bahwa teriakan Yesus, “Aku haus,” sebenarnya menunjukkan bahwa Ia sedang “ditinggalkan” oleh Roh itu. Pendapat ini mendapat dukungan dalam ayat 30, ketika dikatakan bahwa Yesus menyerahkan Roh-Nya (paredoken to pneuma). Kata paredoken berasal dari kata paradidomi yang berarti “mengalihkan”. Arti ini jelas berbeda dengan penekanan Lukas yang menyatakan bahwa Yesus menyerahkan Roh-Nya kepada Bapa. Yohanes tidak menunjuk siapa yang menerima Roh yang diserahkan Yesus. Yohanes hanya menyatakan: paredoken to penuma! Istilah paradidomi yang digunakan di sini menunjukkan bahwa kini Yesus “mengalihkan” atau “melimpahkan” tanggung jawab kepada seorang pengganti. Yohanes ingin menekankan tentang tanggung jawab yang harus dilimpahkan kepada “Pengganti-Nya” dan yang membuat-Nya merasakan kekosongan itu adalah bahwa Roh itu bahkan harus meninggalkan Diri-Nya untuk sementara waktu. Itulah sebabnya, Ia berteriak, “Aku haus”. Sebuah teriakan yang menunjukkan betapa Yesus bukan hanya harus menanggung sengsara badani: siksaan, hinaan, cercaan, dan lain sebagainya. Yesus juga harus rela agar Roh yang secara kekal berada di dalam diri-Nya, kini harus Ia biarkan meninggalkan diri-Nya. Jadi secara figuratif, teriakan “Aku haus” menunjukkan sebuah pergumulan atau ratapan akan kekosongan yang terjadi dalam diri Yesus karena Ia harus rela ditinggalkan oleh Roh yang berada secara kekal di dalam diri-Nya.

Pandangan figuratif di atas memang menarik, tetapi persoalannya adalah jika teriakan Yesus itu berarti Ia sedang meratapi “kepergian” Roh yang secara kekal berada di dalam diri-Nya, bukankah itu berarti bahwa ada satu masa di mana hubungan intra-trinitarian itu terputus? Itulah sebabnya, kita perlu melihat arti yang kedua.

Kedua, sebagian ahli memahami teriakan “Aku haus,” dalam pengertian harafiah. Menurut mereka teriakan itu merupakan teriakan yang menandai puncak dari kesengsaraan badaniah Yesus setelah mengalami siksaan yang hebat. Ia mengalami dehidrasi dan merasakan suatu dahaga yang sangat, itulah sebabnya Ia berteriak, “Aku haus”. Para penganut pengertian ini, melanjutkan bahwa teriakan “Aku haus” ini dicatat oleh Yohanes untuk menunjukkan bahwa benar-benar Yesus menderita sebagai seorang manusia sejati. Seorang manusia yang dapat merasakan dahaga setelah kehilangan begitu banyak cairan tubuh-Nya selama masa penyiksaan hingga penyaliban-Nya. Aspek ini penting bagi Yohanes sebagai sebuah penolakkan langsung terhadap pandangan Doketisme yang mengajarkan bahwa Yesus hanya tampak seperti manusia, tetapi bukan benar-benar manusia.

Jika demikian, apakah teriakan itu menunjukkan bahwa Yesus tidak sanggup lagi menahan penderitaan tersebut, sehingga Ia berteriak, “Aku haus”? Mereka menjawab, “Tidak!” Teriakan itu bukan menunjukkan ketidakmampuan Yesus dalam menanggung derita. Dalam awal ayat 28, dikatakan, meta touto eidos ho Iesous hoti ede panta tetelestai (Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai), berkatalah Ia supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci :”Aku haus!” . Artinya, bagi Yesus kini tidak ada lagi yang perlu Ia tanggung karena segala sesuatunya sudah genap/selesai/ tercapai tujuannya. Dengan kata lain, teriakan itu bukanlah sebuah teriakan tanda menyerah. Teriakan itu merupakan sebuah teriakan pertanda bahwa bendera kemenangan sudah boleh dikibarkan dan genderang sukacita boleh ditabuh karena kini “kepala si ular telah diremukkan” (bnd. Kej. 3:15).

Selanjutnya, apakah teriakan itu semata-mata ingin menunjukkan bahwa tidak ada lagi yang perlu Yesus tanggung? Tidak! Karena dalam ayat 28 juga dikatakan bahwa Yesus berteriak “Aku haus” supaya genaplah apa yang dikatakan kitab suci. Teriakan “Aku haus” merupakan kutipan dari Mazmur 69:22 dan merupakan alusi (hunjukkan tidak langsung) kepada Mazmur 22:16. Jika kita memperhatikan konteks Mazmur 69 dan 22, kita menemukan bahwa kedua Mazmur tersebut berisi ratapan dan pergumulan seorang yang hak, kebebasan, dan kenyamanannya te-renggut bukan karena kesalahannya sendiri melainkan karena rancangan yang jahat dari orang lain. Pemazmur meratap, berteriak, dan berharap Tuhan bersegera menyatakan pertolongan dan membela perkaranya. Artinya ratapan sang pemazmur bukanlah ratapan yang menunjukkan si pemazmur percaya Allah sedang meninggalkan dia. Sebaliknya teriakan pemazmur menunjukkan kepercayaannya kepada otoritas pertologan Allah. Dan teriakan itu menggemakan apa yang tercatat dalam bagian Mazmur yang lain, “Dari manakah datangnya pertolonganku? Pertologanku ialah dari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.”

Jika demikian apakah hubungan antara kutipan tersebut dalam konteks Yohanes maupun dalam konteks Mazmur? Tampaknya Yohanes ingin menekankan bahwa penderitaan Yesus merupakan penderitaan yang sesuai dengan maksud Allah. Itulah sebabnya Yohanes menulis bahwa teriakan itu dimaksudkan agar menggenapi apa yang tertulis dalam kitab suci. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kedua Mazmur tersebut adalah nubuat mengenai Kristus. Jelas kedua Mazmur tersebut tidak memiliki fitur-fitur nubuat. Kedua Mazmur tersebut berbicara mengenai realitas yang pahit yang benar-benar sedang dihadapi oleh Pemazmur. Tetapi, situasi pemazmur yang tercatat dalam kedua Mazmur tersebut, dimaksudkan Allah agar satu kali kelak dihubungkan dengan penderitaan sang Mesias. Dalam hermeneutik, konsep ini biasanya dikenal dengan istilah sensus plenior. Sebagaimana pemazmur adalah seorang benar dan saleh yang menderita bukan karena kesalahannya, demikian pula Yesus menderita bukan karena ulah-Nya sendiri. Sebagaimana pemazmur benar-benar bergumul dengan kesulitan dan kesukaran yang diperhadapkan kepadanya, demikian pula Yesus benar-benar bergumul dan bergelut dengan begitu beratnya aniaya dan cercaan yang ditanggungkan kepada-Nya. Sebagaimana pemazmur percaya bahwa hanya Allahlah yang mengendalikan situasi tersebut sehingga ia meratap kepada Tuhan, demikian pula Yesus, dari awal hingga akhir hidupnya semasa berinkarnasi hanya takluk kepada kehendak Bapa.

“Aku Haus”: Beberapa Pertimbangan Konklusif
Sekalipun saya percaya bahwa teriakan “Aku haus” itu semestinya dipahami secara literal, namun berdasarkan uraian terhadap kedua arti di atas, kita dapat menarik berapa pertimbangan konklusif, yaitu:

  1. Kedua pandangan tersebut sama-sama mengakui bahwa teriakan Yesus, “Aku haus” mengandung unsur sakrafical (pengorbanan). Bahwa teriakan tersebut mengindikasikan bahwa Yesus sedang menanggung sesuatu yang tidak sepatutnya Ia tanggung. Apa yang menjadi milik-Nya: kemuliaan, kesenangan, ketiadaan penderitaan, hubungan yang tidak terputuskan antar-Pribadi Allah Tritunggal, dsbnya dengan rela Ia biarkan meninggalkan diri-Nya. Yesus benar-benar bergumul serius dengan penderitaan tersebut, padahal Ia tidak patut menanggung itu. Inilah yang Ia katakan di awal pelayanan-Nya bahwa Ia datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45).
  2. Penderitaan yang dialami-Nya bukan karena semata-mata Ia ingin menderita, tetapi karena kehendak Allah yang telah menetapkan penderitaan itu sebagai tujuan kedatangan-Nya. Dengan kata lain, penderitaan tersebut bukan merupakan sebuah penderitaan yang sengaja direkayasa untuk menarik simpati orang. Kita tentu mengenal bahkan mungkin kita sendiri pernah melakukan itu. Kita menampilkan diri kita sebagai orang-orang yang menderita supaya simpati terhadap kita semakin besar. Penderitaan yang direkayasa merupakan kelicikan yang tidak terlihat dalam situasi Yesus. Yesus benar-benar menderita karena Ia tahu bahwa itulah kehendak Bapa. Dan itu terjadi demi keselamatan kita (bnd. ay. 29 penggunaan “hisop” untuk memberi minum Yesus, dilihat oleh para ahli sebagai alusi kepada Kel. 12:22 di mana bangsa Israel diperintahkan untuk mengoles darah anak domba di ambang pintu rumah mereka). Artinya penderitaan Kristus merupakan penderitaan yang bertujuan. Dan tujuan itu adalah kelepasan kita dari dosa. Seorang penafsir berkata bahwa dari teriakan Yesus ini, kita dapat belajar bahwa penderitaan selalu memiliki tujuan. Tujuan itu mungkin belum secepatnya terlihat dan dapat dimengerti pada awalnya, tetapi pada akhirnya tujuan itu akan terpampang sebagaimana fajar terbit di pagi hari. Tidak ada lagi yang dapat menghalanginya. Demikianlah penderitaan Kristus, awalnya para murid tidak dapat memahami hal ini. Mungkinkah seorang Mesias menderita bahkan mati secara tersalib? Kini mereka melihat bahwa pengorbanan Yesus memiliki tujuan yang menyelamatkan, itulah sebabnya mereka pergi ke seluruh dunia untuk mengabarkan kabar sukacita tersebut. Itulah inti Injil (bnd. 1Kor. 15:3-5).

Oleh karena kedua prinsip di atas, kita dapat berkata bahwa setiap kali kita diperhadapkan dengan situasi yang buruk dalam hidup ini, kita percaya bahwa Tuhan memiliki maksud baik di balik itu semua. Dia bukan hanya memiliki Tujuan, melainkan juga bahwa Dia benar-benar ada bersama-sama dengan kita. Dia beserta kita; Dialah Imanuel. Dia sungguh memahami apa yang kita namakan sebagai penderitaan dan kesulitan. Karena Dia sendiri pernah melewati itu semua, bahkan Dia pernah berteriak “Aku haus”. Jika kita merasa bahwa tidak ada jalan keluar karena begitu beratnya beban kehidupan ini, ingatlah bahwa Yesus juga pernah meratap di kayu salib. Jika kita merasa telah kehilangan apa yang paling kita anggap penting dalam hidup ini, ingatlah bahwa Yesus juga pernah demikian (bnd. Flp. 2:5-9).

Dari situasi Yesus juga kita mendapatkan pelajaran penting lain bahwa sering kali untuk mendapatkan sesuatu yang penting, kita harus melewati tantangan yang tidak sedikit. Semua orang setuju bahwa sebuah kesuksesan besar tidak pernah didapatkan dengan mudah dan gampang. Kita harus berjuang, mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan dana bahkan segala yang ada pada kita. Tuhan bisa saja dengan mudah menyelamatkan kita, tetapi Ia memilih jalan salib sebagai cara-Nya. Jangan sekali-kali menyukai jalan pintas. Mendapatkan gelar tanpa belajar, mendapatkan penghasilan besar tanpa harus bekerja keras, menghalalkan segala cara yang penting tujuan kita tercapai, dsb. Semua itu sering kali disodorkan kepada kita. Ingatlah bahwa yang manis jangan cepat ditelan, sebab mungkin yang manis itu akan membunuh kita. Sebaliknya yang pahit jangan lekas-lekas dibuang, sebab obat yang baik sering kali memang pahit rasanya.

Yesus berteriak, “Aku haus”, maka sekarang saya ingin mengucapkan sesuatu yang mungkin kita anggap aneh, tetapi jika dipikirkan baik maka saudara akan menemukan hikmat kehidupan di dalamnya: “Selamat Menderita!”