Sebelum mengisahkan tentang siapa dan apa yang telah dilakukan Fanny J. Crosby, saya harus mengisahkan sesuatu kepada Anda sekalian. Malam ini, saya membuka file-file di laptop saya dan saya menemukan kisah ini di sana. Kisah ini bukan tulisan saya pribadi. Saya tidak ingat kapan dan di mana saya pernah menemukan kemudian menyimpan kisah ini di laptop saya. Yang jelas, saya menemukan kisah ini di internet. Mohon maaf kepada penulis kisah inspiratif ini bila suatu ketika menemukan buah karyanya saya cantumkan di weblog saya. Saya tidak berniat melakukan plagiat. Saya membaca kembali kisah ini dan menurut saya akan lebih banyak orang yang terinspirasi oleh tulisan penulis kisah ini, bila saya ikut memasangnya di weblog saya. Terima kasih kepada penulis kisah ini yang telah menyajikan sebuah kisah dari seorang yang pernah menikmati karya luar biasa dari Tuhan di dalam hidupnya. Oh ya, saya mengedit beberapa bagian dan juga menambahkan sejumlah kalimat pendek pada tulisan aslinya.

Fanny J. Crosby adalah seorang penulis lagu himne yang sangat produktif. Selama hidupnya, ia telah menulis lebih dari 8500 lagu rohani. Banyak di antara buah karyanya yang masih sangat populer hingga sekarang. –  misalnya Blessed Assurance (‘Ku Berbahagia, KJ 392), Safe in the Arms of Jesus (Selamat Di Tangan Yesus, KJ 388), Pass Me Not, O Gentle Saviour (Mampirlah, dengar doaku, KJ 26), Jesus, Keep Me Near the Cross (Pada Kaki SalibMu, KJ 368).

Putri dari pasangan John dan Mercy Crosby ini dilahirkan pada tanggal 24 Maret 1820. Dua bulan setelah lahir, tepatnya bulan Mei 1820, ia menderita demam, dan matanya agak terganggu. Karena dokternya di Putnam County, New York, sedang keluar kota, orangtuanya terpaksa meminta bantuan seorang yang mengaku sebagai dokter. Naasnya, orang ini salah memberikan pengobatan, sehingga penglihatan Fanny menjadi rusak dan tak bisa melihat lagi hingga akhir hidupnya.

Peristiwa naas itu tidak melahirkan dendam sedikitpun dalam dirinya terhadap dokter gadungan itu. Ia menulis: “Tak pernah sesaat pun selama hidup saya yang lebih dari delapan puluh tahun terkilas kebencian padanya, karena saya percaya…bahwa Tuhan yang Mahabaik… dengan cara itu memberkati saya untuk pekerjaan yang masih boleh saya lakukan.”

Rupanya sikap di atas terbentuk atas didikan orangtuanya. Sebagai orang Kristen yang taat, orangtuanya membesarkan Fanny menjadi anak yang berbahagia dan percaya diri. Ia terlatih mengenakan pakaiannya sendiri, membereskan rambutnya sendiri, dan berlaku tertib tanpa cela. Fanny banyak menghabiskan waktunya dengan memanjat pohon, berkuda, dan menceritakan humor pada teman-temannya.

Selain kedua orangtuanya, orang yang mempunyai pengaruh kuat pada masa kanak-kanak Fanny adalah neneknya. Neneknya adalah wanita yang cerdas dan sabar, ia sering mengajak Fanny berjalan-jalan di alam terbuka, menceritakan setiap kuntum bunga dan daun-daun secara sangat rinci dan Fanny mempelajarinya dengan sentuhan-sentuhan jarinya. Ia memperkenalkan kepada Fanny karya-karya sastra dan puisi. Dan yang terpenting, ia membacakan cerita-cerita Alkitab setiap hari.

Walaupun mendapat pendidikan dengan penuh perhatian, kehausan Fanny akan pengetahuan tak pernah terpuaskan; ingatannya sangat luar biasa. Pada umur sepuluh tahun ia dapat mengingat sebagian besar Perjanjian Baru dan lima kitab Perjanjian Lama. Sayangnya, karena sekolah pada masa itu belum dilengkapi dengan perangkat untuk mengajar orang buta, ia tidak dapat memperoleh pendidikan umum.

Fanny berlutut bersama neneknya dan berdoa: “Tuhan yang Mahabaik, tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat belajar seperti anak-anak lain.” Tak lama kemudian ibunya menyampaikan berita menggembirakan tentang kesempatan untuk masuk ke Institut Bagi Orang Buta di New York.

Dalam tahun itu juga, ia menjadi siswi terbaik dan setelah lulus ia menjadi guru di situ. Minat utamanya pada puisi, pada waktu senggang ia menuliskan puisi. Ketika Fanny berumur duapuluh tahun, ia terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi.

Walaupun popular, ia merasakan ada sesuatu yang kurang pada hidupnya. Wabah kolera yang hebat pada tahun 1849 menunjukkan padanya apa yang kurang itu. Lebih dari separuh  siswa-siswi di Institut mati, salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat mereka yang sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu dan ia mengungsi ke luar kota.

Kematian teman-teman dekatnya sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap untuk mati. Pada 20 November 1850 ia berlutut di depan mimbar gereja dan memberikan hatinya kepada Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan kata-katanya: “Untuk pertama kali saya menyadari bahwa saya telah mencoba memegang dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain.” Akhirnya, Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya. Ia mengambil keputusan pribadi untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus.

Puisi-pusinya mencerminkan perubahan rohani di hatinya, dan lagu-lagu pujian menggantikan puisi-puisinya. Ketika ia bertemu dengan komponis Kristen William Bradbury pada tahun 1864, mereka segera bersahabat. Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair-syair Fanny; walaupun ia bekerja dengan banyak komponis, kerjasama mereka yang paling erat.

Fanny biasanya mengarang puluhan lagu di kepalanya sebelum ia mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi bagaimana pun ia mencipta, ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan caranya: “Mungkin cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa, saya tak pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber inspirasi saya.”

Ia menerima banyak undangan untuk berbicara hingga ia kewalahan, dan orang terkenal seperti Presiden Polk sering memanggilnya. Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa kesepian. Pada tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang istimewa dalam kehidupannya, yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. Mereka menikah selama 44 tahun dan mempunyai seorang anak yang meninggal pada waktu bayi.

Sampai pada akhir masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, tetapi bukan hanya soal menulis lagu. Ia juga menaruh perhatian pada mereka yang kurang beruntung. Ia bekerja secara sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada seseorang yang datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia selalu menemuinya secara pribadi dan membagikan padanya terang Firman Allah.

Fanny wafat dengan tenang di rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 12 Februari 1915. Kerumunan pada saat pemakamannya merupakan bukti pengaruhnya yang luas yang dimilikinya bagi Tuhan. Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang menyatakan hal yang paling diharapkannya: “And I shall see Him face to face and tell the story – saved by grace. (Dan aku akan bertemu muka dengan-Nya dan menuturkan kisah – diselamatkan oleh anugerah.)”