Hari ini, orang mengidentikkan misi dengan “pergi”. Misi artinya pergi ke daerah-daerah yang belum mendengarkan Injil Kristus. Mereka menyebutnya “misi garis depan”. Tidak ada masalah sebenarnya dengan seruan agar pekabaran Injil dilakukan di daerah-daerah yang belum mendengar Injil Kristus. Orang-orang yang belum mendengarkan Injil memang sudah seharusnya kepada mereka Injil diberitakan.

Yang menjadi masalah adalah kecenderungan yang menguat dari orang-orang yang menekankan misi dalam pengertian ini. Mereka memberi kesan bahwa orang lain yang tidak terlibat dalam misi seperti yang mereka mengerti adalah orang-orang yang tidak bermisi. Mereka telah mereduksi pengertian dan tugas misi Kristen dan mengurungnya dalam sangkar pemahaman di atas. Merekalah yang bermisi. Orang-orang Kristen yang lain tidak bermisi. Tidak bermisi karena tidak terlibat dalam “misi garis depan”. Luar biasa!

Ada banyak poin bantahan yang bisa dikemukakan terhadap pemahaman yang salah kaprah di atas. Namun, melalui note singkat ini, saya akan menunjukkan bahwa bagian terpenting mengenai misi Kristen, yakni Matius 28:19-20 pun tidak mendukung ide reduktif di atas.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia (ITB), kita mendapat kesan bahwa Matius 28:19-20 mengandung empat kata perintah (imperative), yaitu: pergilah, jadikan murid, baptislah, dan ajarlah! Sebenarnya tidak begitu. Mari kita perhatikan kandungan tata bahasa keempat kata tersebut:

  • Kata “pergilah” diterjemahkan dari kata Yunani: poreuthentes (partisip aorist deponent, nominatif maskulin, orang kedua jamak) dari kata poreuomai.
  • Kata “jadikan murid” diterjemahkan dari kata Yunani: matheteusate (imperatif aorist aktif, orang kedua jamak) dari kata matheteuo.
  • Kata “baptislah” diterjemahkan dari kata Yunani: baptizontes (partisip present aktif nominatif maskulin, orang kedua jamak) dari kata: baptizo.
  • Kata “ajarlah” diterjemahkan dari kata Yunani: didaskontes (partisip present aktif nominatif maskulin, orang kedua jamak) dari kata: didasko.

Perhatikan bahwa Matius 28:19-20 HANYA mengandung SATU KATA PERINTAH (imperative), yaitu: Jadikan murid (matheteusate). Lalu apa fungsi dari tiga kata berbentuk partisip itu? 

Singkat saja. Dalam tata bahasa Yunani, bentuk partisip berfungsi sebagai verbal adjectives. Itulah sebabnya, partisip mengandung unsur-unsur: tense, voice, gender, dan jumlah. Unsur-unsur ini merupakan gabungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah kata kerja dan kata benda/kata sifat dalam bahasa Yunani. Dalam fungsi sebagai adverbial, sebuah kata berbentuk partisip “bertugas” untuk menjelaskan tentang kata kerja utama di dalam sebuah kalimat. Dalam fungsi sebagai adjective, sebuah kata berbentuk partisip “bertugas” menjelaskan tentang kata benda utama di dalam sebuah kalimat.

Tiga kata berbentuk partisip di dalam Matius 28:19-20, yaitu: poreuthentes, baptizontes, dan didaskontes, jelas berfungsi sebagai adverbial participles. Karena ketiga kata ini “bertugas” menjelaskan tentang kata kerja utama di dalam Matius 28:19-20, yaitu kata matheteusate (“jadikan murid”).

Bila fungsi-fungsi tata bahasa dan relasi sintaksis di atas “diterjemahkan” dalam bentuk sebuah struktur, maka gambaran alur pikirnya akan terlihat seperti bagan di bawah ini:

Dengan demikian, perintah Yesus yang biasanya juga dikenal dengan Amanat Agung (Great Commission) di atas dapat dimengerti dalam parafrase berikut: “Dalam rangka menjadikan segala bangsa murid Yesus, para pengikutnya mesti: pergi, membaptis, dan mengajar!” Pergi, membaptis, dan mengajar, merupakan tindakan-tindakan yang tercakup dalam rangka menjadikan segala bangsa murid Yesus. Craig L. Blomberg dengan tepat menyimpulkan:

This makes it clear that Jesus’ commission is not primarily about initial evangelism but about the life-long process of bringing people to faith and nurturing them in the will of God (Jesus and the Gospels, 356).