PENDAHULUAN

Baru-baru ini saya berdebat dengan seorang facebooker dengan nama akun: Maria Angelia. Perdebatan itu berkenaan dengan postingan Maria Angelia di CLDC bahwa Yesus hanya diutus secara khusus bagi Israel. Dengan mengemukakan sejumlah dalil dari Alkitab mengenai partikularitas misi Yesus, Maria merasa mendapat dukungan bagi klaimnya. Sebagai tanggapan, saya mengemukakan bahwa secara metodologis, penyajian bukti-bukti tersebut cacat. Cacat karena Maria bersikap selektif terhadap data Alkitab mengenai misi Yesus. Ada banyak bagian yang berbicara mengenai universalitas misi Yesus di samping bagian-bagian yang berbicara mengenai partikularitas misi-Nya. Bila Maria menerima bagian-bagian yang berbicara mengenai partikularitas misi Yesus sebagai dalil untuk klaimnya, maka adalah tidak masuk akal bila Maria menolak bagian-bagian lain yang tertera dalam Alkitab mengenai universalitas misi Yesus. Bila Maria menolak bagian-bagian yang bernada universal, maka penolakan tersebut merupakan manifestasi dari sebuah standar ganda. Bila Maria terpaksa menerima bagian-bagian yang bernada universal demi “kesehatan” argumennya, maka otomatis klaim dan perjuangannya gugur sama sekali. Singkatnya, Maria melakukan kesalahan eksegetis yang dikenal dengan sebutan: “penanganan bukti yang selektif dan berasumsi”. Demi asumsinya, Maria menutup mata terhadap bukti-bukti lain yang tidak sejalan dengan asumsi yang terlontar dalam bentuk klaim bahwa misi Yesus hanya khusus bagi Israel.[1]

Meski begitu, dengan menelanjangi kecacatan klaim dan argumen di atas, belum menyelesaikan persoalan. Karena kekristenan tentu masih memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara bagian-bagian yang partikular dengan bagian-bagian yang universal berkenaan dengan misi Yesus. Bagaimana “mengharmoniskan” gagasan partikular dan universal dalam hubungan dengan misi Yesus?

Dalam artikel singkat ini, saya akan meninjau data mengenai partikularitas dan universalitas misi Yesus dalam Kitab-kitab Injil, khususnya Injil Sinoptik. Gagasan utama yang akan diperlihatkan dalam artikel ini adalah bahwa lontaran-lontaran mengenai partikularitas dan universalitas misi Yesus mestinya dipahami sebagai sebuah progres. Progres yang dimulai dari Israel lalu diperluas kepada bangsa-bangsa non Israel.

MISI YESUS MENURUT INJIL-INJIL SINOPTIK 

Tinjauan ini akan dimulai dari Injil Markus,[2] lalu Injil Matius, dan diakhiri dengan pengisahan Lukas dalam Injil Lukas-Kisah Para Rasul. Pengamatan ini mencakup juga Kisah Para Rasul karena kedua kitab ini sebenarnya mesti dilihat sebagai “satu karya dalam dua volume”. Jadi unitas kedua kitab ini mengharuskan pengamatan yang melibatkan isi dari kedua kitab ini.

Ada bukti-bukti yang cukup kuat dalam Kitab-kitab Injil bahwa Yesus mengkhususkan perhatian pelayanan-Nya bagi Israel. Meski begitu, dalam pelayanan-Nya, berulang kali Yesus memberikan lontaran-lontaran bernada janji bahwa di masa depan, misi tersebut pun akan mencakup bangsa-bangsa non Yahudi. Dalam Kitab-kitab Injil dikisahkan bahwa Yesus berkeliling di sekitar daerah Yahudi dan membatasi pelayanannya bagi orang-orang Yahudi. Meski begitu, ada beberapa kekecualian, misalnya, Yesus melayani seorang perempuan Samaria (Yoh. 4:1-42), Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira non Yahudi (Mat. 8:5-13), Yesus membebaskan anak si perempuan Siro-Fenesia dari roh-roh jahat (Mrk. 7:24-30), dan menyembuhkan seorang Samaria dari sakit kusta (Luk. 17:17).

Sekali lagi, bagaimana kita dapat menjelaskan bagian-bagian di atas yang di satu sisi terlihat adanya pembatasan misi Yesus hanya bagi Israel, namun di sisi lain Yesus pun terbuka untuk melayani mereka yang berlatar belakang non Yahudi?

Injil Markus

Menurut pengisahan Markus, secara umum Yesus menghindari tampil secara terbuka di daerah kekuasaan Herodes Antipas (penguasa Galilea) sesudah Ia memberi makan 5.000 orang. Hanya Markuslah yang mengisahkan bahwa Yesus melakukan perjalanan yang ekstensif di dalam wilayah Tirus dan Sidon. Markus mengisahkan tentang percakapan Yesus dengan seorang perempuan Siro-Fenesia (Mrk. 7:24-30; di mana Matius kemudian menggunakan kisah ini dengan beberapa perubahan signifikan, lih. Mat. 15:21-28, lihat uraiannya di bawah). Dalam percakapan ini, Yesus menyatakan, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mrk. 7:27; huruf miring ditambahkan).

Perhatikan kata “dahulu” atau “pertama” (dari kata Yunani: protos; Ing. first) yang saya miringkan di atas. Kata pertama-tama atau first dalam ayat ini mengimplikasikan bahwa roti bagi anak-anak (Israel) akan – pada waktunya nanti – dinikmati juga oleh orang-orang non Yahudi.[3] Bagian ini menyajikan kepada kita gagasan bahwa:

  • Terdapat dua tahap penjangkauan dalam pelaksanaan misi Yesus: Israel lebih dahulu lalu bangsa-bangsa non Israel.
  • Meski begitu, masa itu adalah masa di mana Israel sedang mendapat “giliran”

Jadi kesan “penolakan” yang kita dapati dalam pengisahan ini sebenarnya bukanlah sebuah penolakan yang akan berlangsung selamanya. Yang ditekankan adalah bahwa tahap tersebut adalah tahap di mana Israel sedang mendapat perhatian utama. Akan tiba giliran bagi bangsa-bangsa non Yahudi, namun bukan saat itu.

Selanjutnya, Markus mengisahkan bahwa Yesus berangkat ke Yerusalem. Dan dalam pengisahan ini, kita mendapati sebuah perubahan orientasi yang cukup dramatis. Yesus mulai mendeklarasikan gagasan bahwa berita mengenai Dia akan diproklamasikan atau diberitakan di “segala bangsa”. Perhatikan dua bagian yang akan saya kutip di bawah ini.

“Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa (Mrk. 13:10).

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mrk. 14:9).

Kedua bagian di atas mengandung daya penekanan yang sangat kuat melalui kemunculannya di dalam sebuah kitab yang tidak mengandung “great commission” seperti halnya Injil Matius dan Lukas (bnd. Mat. 28:18-20; Luk. 24:44-49).

Bila kita memperhatikan penekanan dalam Markus 7:27, 13:10, 14:9, maka gagasan mengenai misi Yesus yang bersifat progresif jelas terlihat. Misi Yesus berlangsung dalam dua tahap, yaitu diawali dari Israel dan akan diakhiri dengan penjangkauan terhadap segala bangsa.

Jadi soal misi Yesus yang mencakup dua tahap pencapaian, sudah jelas berdasarkan teks-teks di atas. Tetapi bagaimana realisasi dari dua tahap pencapaian itu? Markus tidak secara jelas memberikan kepada kita rujukan untuk menjawabnya. Kita akan menemukan jawaban untuk pertanyaan terakhir ini di dalam Injil Matius dan Injil Lukas-KPR.

Injil Matius

Menurut Matius, sebelum Yesus mengutus dua belas murid-Nya untuk bermisi di sekitar daerah Galilea, Yesus mengingatkan mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,  melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:5-6). Bukan hanya itu, Yesus sendiri tampaknya menempatkan diri-Nya dalam cakupan ini juga. Yesus berkata, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 15:24). Bahkan dalam pengisahannya ketika menggunakan kisah tentang perempuan Siro-Fenesia dalam narasi Injil Markus, Matius tidak mengikut sertakan kata-kata Yesus bahwa Israel akan dilayani “terlebih dahulu”. Matius sangat memberikan penekanan yang kuat mengenai karakter pelayanan Yesus bagi orang-orang Israel. Singkatnya, bila kita memperhatikan Matius 10:5-6 dan 15:24, kita berhadapan dengan gagasan bahwa Yesus memang membatasi pelayanan-Nya hanya bagi “domba-domba yang hilang dari Israel”.

Akan tetapi, bagaimana pun juga, dalam Matius 8:10-12, Matius mencatat:

“Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.  11Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Mat. 8:10-12; huruf miring ditambahkan).  

Perhatikan bahwa dalam bagian di atas, Yesus mengkontraskan antara “orang-orang dari Barat dan Timur” (mis. perwira dari Kapernaum) dengan “anak-anak kerajaan” (umat Israel). Yesus melontarkan kata-kata prediktif (nubuat) bahwa akan datang masanya di mana orang-orang gentiles akan duduk bersama para bapak leluhur dalam perjamuan Mesianik, sementara “anak-anak kerajaan” justru tereliminasi. Jadi Yesus secara jelas memberikan nubuat mengenai termasuknya orang-orang gentiles dalam kerajaan-Nya, tetapi Ia sendiri belum memberikan lontaran secara jelas bagaimana itu akan terjadi.

Sampai di sini, ada sebuah ide yang makin jelas. Dalam Injil Markus ada gagasan tersirat bahwa misi Yesus adalah: pertama-tama Israel kemudian orang-orang non Yahudi. Markus belum secara eksplisit menyatakan gagasan ini. Namun, dalam Injil Matius, kita melihat bahwa gagasan Markus dipertegas dalam bentuk sebuah nubuat yang jelas mengenai termasuknya orang-orang gentiles dalam perjamuan eskatologis.

Tetapi, bagaimana nubuat itu terealisasi? Apakah Yesus sendiri yang akan merealisasikannya pada masa pelayanan-Nya? Ataukah murid-murid Yesuslah yang ditugaskan untuk itu? Berikut ini, kita akan melihat beberapa bagian dalam Injil Matius untuk menjawab pertanyaan ini.

Jawaban Matius untuk pertanyaan di atas terdapat dalam Matius 28:18-20, yang dikenal dengan Amanat Agung (Great Commission). Bagian ini merupakan special materialnya Matius. Dalam bagian ini, menjadi jelas bahwa Yesus memandatkan pemenuhan nubuat-Nya mengenai bangsa-bangsa non Yahudi kepada para murid-Nya. Para pengikut-Nya ditugaskan untuk memberitakan Injil guna menjadikan segala bangsa murid-Nya.[4]

Mengenai lontaran-lontaran Matius di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebelum kebangkitan-Nya, fokus pelayanan Yesus adalah umat Israel. Matius memberikan penekanan kuat mengenai partikularitas misi Yesus, yakni tahap pertama penjangkauan-Nya. Namun pada tahap ini juga, Yesus sudah memberikan prediksi profetik bahwa akan datang masanya di mana bangsa-bangsa non Yahudi pun akan menikmati perjamuan eskatologis, yakni berkumpul dalam kerajaan-Nya. Dan untuk itu, pasca kebangkitan-Nya, Yesus memandatkan perealisasian nubuat tersebut kepada murid-murid-Nya.

Injil Lukas-Kisah Para Rasul

Lukas mengisahkan awal-awal pelayanan Yesus dimulai di daerah Galilea pasca pembaptisan-nya. Lukas memberikan penekanan bahwa Yerusalem adalah tempat di mana pelayanan Yesus akan mencapai puncaknya. Peristiwa-peristiwa penting berkenaan dengan Yesus akan mencapai puncaknya di Yerusalem. Dan ini terlihat dalam struktur berbentuk khiastik dari isi Injil Lukas-Kisah Para Rasul.

Perlu dijelaskan bahwa pada struktur khiastik di atas, kelihatannya B-B tidak paralel. Sebenarnya tidak begitu. Pada masa Yesus, Galilea dianggap sebagai daerah gentiles. Dan perhatikan juga bahwa dalam struktur di atas, Yerusalem merupakan vocal point dari misi Yesus. Yerusalem menjadi puncak pelayanan Yesus, sekaligus menjadi starting point penyebarluasan Injil Yesus Kristus bagi segala bangsa.

Dalam fokus ini, Lukas tidak mengikutsertakan narasi-narasi dalam Injil Markus tentang perjalanan Yesus ke bagian Timur dan Barat di sekitar daerah-daerah gentiles. Itulah sebabnya, Lukas tidak mengikutsertakan kisah tentang percakapan Yesus dengan perempuan Siro-Fenesia yang terdapat dalam Markus dan Matius.

Berbeda dengan Matius yang memberi penekanan kuat akan tahap pertama pelayanan Yesus (bagi Israel), Lukas memberikan penekanan kuat terhadap universalitas misi Yesus. Tampaknya, Lukas ingin langsung mengarahkan perhatian pembacanya kepada misi para rasul dalam menjangkau bangsa-bangsa, secara khusus misi Paulus bagi bangsa-bangsa non Yahudi (dalam Kisah Para Rasul).

Terhadap strategi pengisahan Lukas di atas, kita dapat memperhatikan paling tidak tiga kulaifikasi berikut. Pertama, Lukas memberikan signal mengenai misi bagi segala bangsa secara intens dalam pasal-pasal pertama Injilnya. Simeon mengidentifikasi bayi Yesus sebagai “terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain” (Luk. 2:32); “semua orang akan melihat keselamatan dari Tuhan” (Luk. 3:6; bagian ini adalah kutipan dari Yesaya 40:5); dalam penyajian silsilah Yesus, Lukas menarik garis keturunan biologis Yesus sampai kepada Adam (Luk. 3:38); ketika Yesus ditolak di Nazaret, Ia memberikan rujukan bahwa di masa depan, orang-orang non Yahudi akan diterima dalam kerajaan Allah (Luk. 4:16-30).

Kedua, lontaran-lontaran mengenai universalitas misi Yesus dalam buku Lukas yang pertama (Injil Lukas) mesti dilihat sebagai sebuah pengantar penting untuk bukunya yang kedua (Kisah Para Rasul), di mana progress misi “Yerusalem, Yudea, Samaria, dan ujung bumi” (Kis. 1:8) dinyatakan secara jelas. Dan missionary programmatic ini terlihat dalam penyajian kisah mengenai pelayanan Filipus kepada orang-orang Samaria dan Etiopia; pelayanan Petrus kepada seorang pejabat Romawi bernama Kornelius; dan pelayanan Paulus dalam menjangkau daerah-daerah gentiles  dalam kekaisaran Romawi. Misi bagi segala bangsa ini sudah dikemukakan oleh Yesus pasca kebangkitan-Nya, yakni dalam Lukas 24:44-49:

Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”  Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (huruf miring ditambahkan).

Ketiga, kalimat awal pada kitab yang kedua (KPR) menyatakan bahwa kitab tersebut akan mengisahkan tentang “all that Jesus will continue to do and to  teach” (Kis. 1:2; huruf miring ditambahkan). Itu berarti, KPR berisi catatan tentang karya dan pengajaran Yesus yang diberitakan oleh “para pelayan firman” (Kis. 1:2).

Berdasarkan observasi di atas, kita dapat melihat bahwa penekanan Lukas lebih besar condong kepada misi bagi bangsa-bangsa non Yahudi, ketimbang yang ditekankan dalam Injil Markus dan Injil Matius.

PENUTUP

Injil-injil Sinoptik memberikan lontaran mengenai misi Yesus yang mencakup dua tahap, yaitu dimulai dari Israel kepada bangsa-bangsa lain. Pada masa pelayanan Yesus, penekanannya adalah penjangkauan pada tahap pertama, yaitu pelayanan bagi bangsa Israel. Tidak heran kita mendapati sejumlah catatan yang sangat ketat bersifat partikular. Meski begitu, para penulis ini juga menyertakan bagian-bagian yang berisi janji atau prediksi profetik bahwa penjangkauan terhadap bangsa-bangsa non Yahudi tidak terabaikan. Dan untuk memenuhi prediksi profetis tersebut, para murid Yesus ditugaskan untuk memberitakan Injil kepada segala suku bangsa di seluruh dunia.

Dengan kata lain, pada masa pelayanan Yesus, tahap penjangkauan terhadap Israel-lah yang mendapat penekanan aktual. Dan penjangkauan terhadap bangsa-banga non Yahudi masih bersifat janji. Janji inilah yang digenapi melalui mandat yang dimaklumatkan Yesus kepada para pengikut-Nya.

Akhirnya, perlu ditandaskan juga bahwa gagasan misi Yesus yang mencakup dua tahap di atas, juga sebenarnya terlihat dalam program misi Paulus. Dan mengenai hal ini, saya telah menulis sebuah artikel tersendiri, yang berjudul: “Apakah Paulus Menyimpang dari Misi dan Ajaran Yesus?” Jawaban untuk pertanyaan dalam artikel tersebut adalah tidak! Paulus tidak menyimpang dari program misi Yesus. Justru Paulus menggenapi prediksi profetik yang dilontarkan Yesus mengenai bangsa-bangsa non Yahudi semasa pelayanan-Nya.


[1] Anda dapat membaca komentar-komentar saya dan Maria Angelia secara lengkap di sini.

[2] Saya mengawali pengamatan ini dari Injil Markus karena saya menerima hipotesis Markan Priority, yakni Markus sebagai Injl tertua dan yang digunakan oleh Matius dan Lukas sebagai salah satu sumber bersama mereka.

[3] Kata “anjing” di sini digunakan secara metaforik untuk bangsa-bangsa non Yahudi di mana gagasan utamanya adalah bahwa bangsa-bangsa ini terkategori sebagai bangsa-bangsa yang unholy (bnd. Mat. 7:6). Dalam Misnah, “anjing” adalah binatang yang tidak tahir (unclean) sehingga digunakan sebagai ungkapan metaforik bagi orang-orang non Yahudi yang mereka anggap sebagai kaum yang tidak kudus (m. Sotah 9:15; m. Baca Qamma 7:7; m. Nedarim 4:3; m. Teharot 8:6; m. Temurah 5:5).

[4] Mengenai signifikansi tata bahasa, struktur, dan relasi sintaksi Matius 28:19-20, lihat artikel saya di sini. Perlu dikemukakan juga bahwa Matius 28:19-20 tidak mengandung masalah tekstual. Dalam beberapa perdebatan, pihak Muslim selalu mengklaim bahwa bagian ini tidak dapat digunakan karena mengandung masalah tekstual. Klaim ini tidak benar sama sekali!