Dalam note ini saya akan memberikan ulasan ringkas disertai contohnya mengenai kesalahan eksegetis yang tertera pada judul di atas. Sebenarnya, kesalahan eksegetis ini telah saya singgung dalam artikel saya yang berjudul: Misi Yesus: Progres ‘Israel-to-the Nations’”. Dengan membaca bagian pendahuluan dari artikel tersebut, anda sudah bisa mendapat gambaran tentang kesalahan eksegetis ini.

Meski begitu, saya memutuskan untuk menulis sebuah note tersendiri mengenai kesalahan eksegetis ini. Pertimbangan utama saya berhubungan dengan aspek kegunaan atau pemanfaatannya. Saya sering terlibat diskusi atau perdebatan. Dan bila berhadapan dengan lawan diskusi atau lawan debat yang melakukan kesalahan eksegetis ini, saya dapat menyajikannya sebagai referensi.

Singkat saja. Seseorang dikatakan melakukan kesalahan eksegetis ini bila ia membuat kesimpulan mengenai suatu topik tertentu tanpa memperhatikan seluruh data yang relevan dengan topik tersebut. Data tersebut diabaikan, biasanya bukan karena tidak diketahui atau tidak terjangkau, melainkan karena data yang diabaikan itu berseberangan dengan asumsi orang tersebut.

Dalam diskusi saya sering menemukan beberapa contoh yang dapat diikutsertakan di sini. Beberapa rekan Muslim sering melontarkan klaim bahwa misi Yesus hanya khusus bagi Israel saja. Guna mendukung klaim ini, mereka menyajikan bukti-bukti dari Alkitab mengenai partikularitas misi Yesus. Lalu, mereka berpikir bahwa mereka sudah membuktikan klaimnya dengan gemilang. Cara pembuktian seperti ini jelas cacat karena bagian-bagian yang berbicara tentang universalitas misi Yesus jelas disingkirkan dari arena pembuktian. Disingkirkan karena berseberangan dengan klaim dan asumsi mereka. Contoh lainnya, tidak jarang rekan-rekan Muslim memperjuangkan akidah mereka bahwa Yesus hanyalah seorang utusan, bukan Tuhan. Lalu mereka menyajikan bukti-bukti dari Alkitab yang [kelihatannya] mendukung klaim mereka. Ini pun jelas merupakan penyajian bukti yang selektif. Karena  mereka mengabaikan banyak bagian dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah (baik secara eksplisit maupun secara implisit). Contoh yang mirip dengan contoh terakhir tadi adalah masalah kemanusiaan dan ketuhanan Yesus. Sering kali, untuk membuktikan asumsi mereka bahwa Yesus hanya manusia biasa, bukan Tuhan, mereka menyajikan bagian-bagian tentang kemanusiaan Yesus dan menutup mata terhadap bagian-bagian yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia. Dan masih banyak contoh lainnya yang dapat didaftarkan di sini.

Mereka yang telah disetir oleh asumsi atau presuposisinya berusaha menyajikan bukti-bukti yang telah mereka seleksi sesuai dengan asumsi mereka dan menyajikannya sebagai pembuktian. Mereka berpikir bahwa penyajian bukti yang selektif adalah sebuah pembuktian! Padahal dengan melakukan hal ini, mereka telah menipu diri mereka sendiri bahwa pada tataran metodologis saja, klaim yang lahir dari asumsi mereka itu tidak dapat bertahan sama sekali karena mereka telah bersikap tidak adil terhadap bukti-bukti lain yang melawan asumsi dan klaim mereka. Inilah yang disebut “penyajian bukti yang selektif dan berprasangka”!