Walau saya sudah menulis sebuah artikel mengenai misi Yesus dalam Injil Sinoptik (baca di sini) yang melibatkan pengamatan terhadap Markus 7:24-30, namun saya rasa bagian ini perlu dijelaskan secara tersendiri. Hal ini menurut saya penting karena tidak jarang bagian ini digunakan sebagai dalil untuk memaksakan ide bahwa misi Yesus hanya bagi Israel. Seolah-olah bagian ini merupakan penolakan Yesus yang permanen terhadap orang-orang non Yahudi.

Setelah membaca tafsiran Profesor Jacob van Bruggen, menurut saya, tafsiran beliau cukup representatif untuk dikemukakan. Itulah sebabnya, di bawah ini saya akan mencantumkan kutipan tafsiran beliau mengenai Markus 7:24-30. Tafsiran ini dikutip dari: Jacob van Bruggen, Markus. Injil menurut Petrus, terj. Th. van den End, dkk., (Jakarta: BPK Gunung Mulia [kerja sama dengan LITINDO], 2006), 253-258). Sebagai catatan, untuk bagian-bagian yang saya beri @, menunjukkan bahwa bagian tersebut memiliki lebih dari satu kemungkinan arti.

Yesus bangkit berdiri dan berangkat dari situ (7:24). Apa arti @situ@? Rumah di kota Kapernaum yang telah Yesus masuki menurut ayat 17 (Wohlenberg)? Atau daerah yang menjadi lapangan kerja-Nya selama beberapa waktu (sejak saat mendarat di Genesaret, 6:53) dan yang sekarang ditinggalkan-Nya? Kalau kita menerima alternatif kedua, tambahan @bangkit@ tidak punya arti tersendiri, dan dapat dipandang sebagai semitisme yang membuat rumusnya berwarna agak resmi (Gould). Bagaimanapun, Yesus meninggalkan Galilea dengan maksud mengundurkan diri ke luar negeri.Beberapa naskah menyebut wilayah di luar negeri itu @daerah Tirus@, sedangkan sejumlah naskah lain memakai nama lebih luas: @daerah Tyrus dan Sidon@. Nama ganda ini sering dipakai (Kis. 12:20) dan dapat mengacu ke seluruh wilayah di sepanjang pantai Laut Tengah di sebelah utara Galilea, dengan kedua kota yang sudah masyhur sejak zaman dahulu kala, yaitu Tirus dan Sidon. Artinya sama dengan arti nama singkat @daerah Tirus@.Dalam mayoritas naskah tidak tertulis @daerah Tirus dan Sidon@, tetapi @daerah perbatasan Tirus dan Sidon@ (methoria sebagai ganti horia). [167] Atas dasar itu Meyer berpendapat, Yesus tidak pergi ke luar negeri, tetapi hanya ke daerah Galilea yang berbatasan dengan daerah Tirus (ia mengikuti versi singkat dan mencoret @Sidon@). Tetapi dalam hal itu Markus seharusnya menulis, @(Yesus) pergi ke daerah perbatasan Galilea@. Sebaliknya, bunyi ayat ini dan semua naskah tidak dapat tidak membawa kita ke kesimpulan bahwa Yesus melintasi perbatasan dan tinggal di tanah perbatasan @Tirus dan Sidon@.

Perjalanan itu merupakan gerak mundur. Sifat itu tampak dalam istilah @daerah‑daerah perbatasan@. Olehnya dijelaskan bahwa Yesus menyeberangi perbatasan Israel, tetapi tidak lebih jauh memasuki @Tirus dan Sidon@, untuk menjadikannya sebagai lapangan kerja baru. Matius memakai kata kerja @menyingkir@ (Mat. 15:21). Sikap Yesus sesuai dengan kenyataan itu. Dia @masuk ke sebuah rumah@, tetapi Dia @tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya@. Sang Mesias tinggal di sini inkognito; Dia tidak datang dengan maksud melakukan kegiatan di daerah itu. Di daerah luar negeri ini pandangan‑Nya tetap tertuju kepada Israel; Dia bersembunyi dari penduduk daerah perbatasan Tirus dan Sidon.

Sudah tentu gerak mundur ini berhubungan dengan keadaan di Galilea. Yesus semakin terkenal, sekaligus semakin terancam, baik dari pihak Herodes maupun dari pihak Yerusalem. Yesus tidak melarikan diri dari manusia, tetapi Dia tidak mau ditangkap sebelum waktunya, atau ditahan atau dibunuh dengan diam‑diam. Pekerjaan‑Nya di Israel belum selesai. Demi pekerjaan itu Dia berlindung dengan bersembunyi sejenak di luar negeri, sehingga suasana di Galilea dapat mereda.

Namun, alamat Yesus diketahui juga, karena akal panjang seorang wanita (7:25). Wanita itu mendengar kabar tentang Yesus. Yang dimaksud bukan: ia mendapat keterangan tentang tempat tinggal Yesus, melainkan: ia mendengar berita-berita mengenai kuasa Yesus atas roh-roh jahat. Kabar mengenai keagungan‑Nya mendahului kedatangan‑Nya ke daerah itu. Seorang wanita yang putrinya dirasuki roh jahat mengenal perbuatan Yesus di Galilea, di seberang perbatasan dengan tanah suci. Karena itu, wanita itu datang kepada‑Nya. Ia @datang dan tersungkur di depan kaki-Nya@. Adegan ini berlangsung dalam rumah yang sebetulnya menjadi tempat bersembunyi (bnd. Mat. 15:22‑25). Kedatangan wanita itu sendiri tidak menggagalkan upaya Yesus untuk tetap bersembunyi. Yang menyebabkan nama Yesus terkenal secara umum ialah iman ibu itu. Karena iman itu, nanti Yesus akan melakukan sebuah mukjizat yang mengungkapkan kehadiran dan tindakan‑Nya. Karena iman wanita itu, batallah niat Yesus menyamar selama berada di tempat itu. Demikianlah isi kisah selanjutnya.

Sebab, wanita itu minta supaya Yesus mengusir roh jahat dari putrinya (7:26). Ia bukan wanita Yahudi, melainkan warga Yunani (nama @Yunani@ mencakup semua orang non Yahudi, yang hidup di dunia helenistis Yunani). Ia berasal dari daerah ini, dari Siro‑Fenisia (daerah Fenisia yang letaknya di pantai timur Laut Tengah, di sebelah utara Palestina, sedangkan Libo‑Fenisia terletak di pantai utara Afrika, di sekitar Kartago). Markus menyebut asal‑usulnya dengan maksud memberitahukan bahwa ia seorang kafir tulen. Pada hemat kami sebutan itu tidak mengacu ke perilaku kehidupan yang meragukan, sebagaimana dinyatakan Russell. Sebaliknya, kata @Yunani@ itu menimbulkan dugaan [168] bahwa ia termasuk golongan berbahasa Yunani, yang merupakan tingkat atas masyarakat, pengemban budaya helenis. Dugaan itu diperkuat oleh pemakaian kata klinê dalam 7:30, tempat tidur berkaki empat, berbeda dengan krabattos, kasur (Theissen).

Yesus menjawab pertanyaan wanita itu dengan memakai kiasan keluarga yang makan bersama (7:27). Bukan tidak mungkin wanita itu berlutut di hadapan Yesus ketika Dia sedang makan bersama dengan para murid‑Nya di rumah tinggal-Nya. Kalau dugaan ini tepat, gambaran yang dipilih Yesus sesuai dengan keadaan pada saat pertemuan. Anugerah yang diminta (pengusiran setan) disamakan dengan pembagian roti. Yesus telah membagi‑bagikan banyak anugerah di Israel (wanita itu telah mendengar kabarnya). Sekarang saat bangsa Israel kenyang harus ditunggu dulu; roti tidak boleh diambil dari meja mereka untuk dilemparkan kepada anjing. Perkataan Yesus ini menyinggung keadaan‑Nya sendiri. Dia telah menyusun hidangan seperlunya bagi Israel; kini Dia menunggu dari kejauhan sampai bangsa itu cukup menikmati hidangan itu. Israel sudah dibuat duduk di meja, hidangan diatur; Pada saat ini Dia janganlah diminta memperhatikan makanan bagi anjing-anjing (maksudnya: yang bukan anak‑anak, bukan orang Israel). Yesus bukan mengatakan: anjing tidak layak menerima makanan. Dia menjelaskan bahwa masing-masing harus diberi makanan pada waktu masing-masing. Anak‑anak harus dikenyangkan @lebih dulu@. Artinya, orang Israel harus menerima Injil yang dihidangkan di depan mereka, mereka harus belajar mengasihi perbuatan dan perkataan Yesus. Perhatian Yesus tertuju pada titik kekenyangan Israel. Tetapi perkataan‑Nya membuat orang menduga bahwa mungkin saja akan tiba waktunya Dia mulai mengenyangkan anjing. Hanya, Dia tidak mau melakukannya pada waktu anak‑anak makan. Dia tidak mau memberikan apa yang dibagi‑bagikan-Nya sekarang, karena pemberian-Nya sekarang itu seluruhnya diperuntukkan bagi keselamatan dan iman dan makanan sejati bangsa Israel.

Dalam jawabannya (7:28), wanita itu tidak menawar‑nawar perkataan Yesus. Ia hanya mengiyakannya. @Benar, Tuhan@.

Ada satu dua naskah yang menghilangkan kata nai, @benar@ (begitu pula UBS; dalam P45 naskah kurang jelas, sehingga tidak mungkin menentukan ada tidaknya nai). Kata kurie (Tuhan!) di sini bukan sekadar @tuan@, tapi bukan juga sebutan penuh iman @Tuhan@; di dalamnya terungkap rasa hormat bagi Dia yang lebih besar, yang kepada-Nya ia bersujud. Berhadapan dengan Yesus ia bersikap tunduk, sebagai hamba.

Perkataannya selanjutnya menguatkan jawaban @Benar, Tuhan@. Katanya, @Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah‑remah yang dijatuhkan anak‑anak@. Kalau ada remah yang jatuh sehingga dapat dimakan anjing, remah itu pun tetap termasuk roti yang diberikan kepada anak‑anak. Dengan tanda setuju yang melampaui batas itu (remah‑remah pun diperuntukkan bagi anak‑anak), wanita itu menggabungkan dua unsur: ia menerima jadwal Yesus, sekaligus tetap minta tolong bagi putrinya dengan penuh tekad dan keberanian. Dia juga menyesuaikan reaksinya dengan keadaan Yesus. Yesus terpaksa mundur. Anak‑anak makan dengan agak sembrono: mereka menjatuhkan banyak remah‑remah. Israel berbuat seenaknya saja dengan makanannya, yaitu dengan Kristus. Karena itu untuk beberapa waktu Dia menghilang dari panggung dan bersembunyi di luar negeri. Meskipun begitu, masa tinggal di luar negeri itu pun termasuk penyelenggaraan tugas di Israel. Maka kalau wanita itu dapat menarik manfaat dari kesembronoan Israel terhadap segala anugerah sang Mesias, hal itu tidak mengganggu upaya mengenyangkan Israel. [169] Yesus berkata: ini saatnya anak‑anak boleh makan. Wanita itu berkata: anak‑anak itu kurang menghargai makanannya (kalau mereka menghargainya, Tuan tidak ada di sini!). Maka apa gunanya kalau makanan itu terbuang, tidak terpakai dan tetap terletak di bawah meja? Mengapa @anjing@ di daerah perbatasan ini tidak boleh meraih kesempatan?

Yesus menerima baik ucapan itu (7:29): Dia menilainya sangat tinggi. Mengapa? Dengan maksud menyadarkan para murid‑Nya. Di sini akan terjadi pengusiran setan yang dapat saja terjadi, malah seharusnya terjadi, di Israel. Di sini orang memungut apa yang (misalnya) oleh penduduk Nazaret dibiarkan tergeletak di tanah (6:5‑6). Mukjizat di daerah Tirus dan Sidon itu hanya sekali terjadi. Olehnya ditegaskan bahwa Yesus hanya sebentar menyingkir ke sana. Daerah ini bukan lapangan kerja‑Nya. Lebih tegas: daerah ini belum merupakan lapangan kerja-Nya. Akan tetapi, mukjizat ini juga menggambarkan kenyataan lain: Israel sedang membuang‑buang rotinya sendiri. Dengan demikian mukjizat ini menjadi alamat buruk bagi bangsa yang tidak mau sungguh‑sungguh mengenyangkan diri dengan ajaran Yesus. Isi percakapan Yesus dengan wanita ini mencegah kita memandang mukjizat ini sebagai pertanda pekabaran Injil dalam lingkungan bangsa-bangsa non Yahudi (kafir). Bila sudah tiba waktunya memberi makan bangsa kafir, yang akan mereka terima bukan remah‑remah, melainkan kepenuhan Roh. Pada waktu itu, mereka juga tidak akan diperlakukan sebagai @anjing-anjing@, tetapi sebagai anggota keluarga Allah (Ef. 2:19). Sesungguhnya, putri wanita Siro‑Fenisia yang sembuh itu merupakan pertanda (pertanda buruk) bagi Israel.

Ketika wanita tadi pulang (7:30) didapatinya putrinya sudah ditinggalkan setan, @terlempar (beblêmenon) di tempat tidur@. Anak itu berbaring tanpa daya bagaikan sebongkah kayu di pantai: kelihatannya pengusiran setan itu disertai pertempuran berat dan perlawanan sengit (bnd. 1:26; 9:26). Padahal, Yesus memperoleh kemenangan itu dari jarak jauh, tanpa menginjak daerah di sekitar rumah itu. Bekas‑bekas pertempuran menunjuk keagungan Tuhan!