Diskusi ini terjadi di salah satu forum diskusi di FB. Saya sengaja mengarsipkan diskusi ini untuk tujuan pembelajaran. Kadang-kadang, dalam diskusi para partisipan tidak terlalu memperhatikan komentar lawan diskusi sehingga memberikan respons yang menyimpang atau tidak relevan dengan gagasan komentar lawan diskusi.  Saya pun tidak satu dua kali melakukan itu. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Salah satunya adalah ketidaktenangan dan terburu-buru dalam membaca komentar lawan diskusi. Meski begitu, semakin saya terlibat dalam diskusi, saya belajar untuk semakin untuk tenang dan fokus pada gagasan (bukan orangnya) dari lawan diskusi untuk memberikan komentar balasan yang relevan dan tepat.Pada tanggal 10 April 2012, JG, seorang penganut Arianisme memosting klaim berikut:

==========================

KONSEP Tritunggal (Trinitas) itu terjebak kepada ke-berapa-an ALLAH. Padahal sebenarnya ajaran Alkitab bukan ke-berapa-an ALLAH, tetapi ke-bagaimana-an ALLAH. Maka dpt sy katakan bhw adalah lebih mudah memahami Yesus sebagai Anak ALLAH dan Anak Manusia ketimbang memahami-Nya sebagai ALLAH. Ke-Monotheis-me an dalam konteks waktu dan tempat pd masa Yesus tak pernah membayangkan Tritunggal! Maka yg benar adalah Yesus keluar dr ALLAH, bukan dicipta. Yesus sudah ada di dalam diri ALLAH sblm eksistensi dunia, ttpi Yesus tetap berbeda dari ALLAH!

==========================

Klaim di atas, kemudian direspons dan terjadilah diskusi yang komentar-komentarnya saya arsipkan di bawah ini. Sebagai catatan, saya tidak meredaksi komentar-komentar ini sedikitpun, kecuali nama-nama partisipan. Saya sengaja “menyamarkan” nama-nama partisipan karena ada keberatan dari pihak pengelola grup yang mengkhawatirkan adanya ekses negatif bila nama-nama partisipannya tercantum secara jelas. Secara pribadi, saya tidak melihat alasan ini masuk akal. JG pasti telah mempertimbangkan secara matang ketika mengumbar klaim di atas pada salah satu forum terhormat yang membersnya adalah para akademisi teologi dari berbagai denominasi Gereja. Lagi pula, diskusi ini terjadi dalam tataran ide, bukan tataran personal. Meski begitu, demi rasa hormat dan penghargaan saya terhadap pengasuh grup, saya  menyamarkan nama-nama para partisipan diskusi ini.

Pembaca dipersilakan untuk “meredaksi” sendiri soal ketepatan tata bahasa, singkatan-singkatan dan sebagainya dalam isi setiap komentar para partisipan. Selamat membaca!

==========================

WM: Yesus memang berbeda dari Allah (yg disebut Bapa, 1 Korintus 8:6), tapi Yesus tidak bisa dipisahkan dari Allah (yg disebut Bapa, Yohanes 10:30). Saya rasa, bapak hanya (maaf) bingung dengan ajarannya, tapi karena bapak bingung, bukan berarti ajarannya yg salah. Karena dari sejak zaman Yesus, orang Yahudi dalam Targum-nya sudah percaya bahwa Davar/Firman YHWH (yg dalam Septuaginta diterjemahkan sebagai Logos) sudah dipercaya sebagai agen Allah dalam karya-karya-Nya.

BL: Baca saja sejarah lahirnya rumusan Trinitas pasti semua bisa mengerti, apa itu.

WM: sejarahnya sendiri tidak berpihak pada Pak JG yg setahu saya condong ke Arianisme (CMIIW ya Pak), karena rasul Yohanes menerjemahkan konsep Davar YHWH di Targum dan tradisi rabinik Yahudi ke dalam ‘Logos’ Yunani. Rasul Yohanes dengan gamblang berkata bahwa Logos itu ‘bersama-sama’ dengan Allah Bapa (Yohanes 1:1b), tetapi serentak dengan itu ‘ada di pangkuan’ Allah Bapa, yakni satu Dzat dengan Bapa. Jadi dari sini Tritunggal memperoleh dasarnya. Dan apa yg rasul Yohanes tekankan ini, diteruskan kembali oleh muridnya yg bernama Ignatius dari Antiokhia yang berkata bahwa Firman itu kekal asali dan bukan ciptaan, tanpa harus mencederai keesaan Allah. Dan diteruskan lagi oleh Polikarpus, dst dst dst… hingga pada awal abad ke-4, ada orang yg nyeleneh mengajarkan yg lain, yakni Arius yg menolak Tritunggal dan mengatakan bahwa Firman Allah itu ciptaan, dan Logos adalah ilah yang lebih kecil dari Allah Bapa. Ajaran Arius ini barulah politheisme, karena mengatakan ada lebih dari satu dzat keilahian.. Jadi bukan penganut Tritunggal, tapi posisi mereka yg melawan ajaran Tritunggal-lah yang terjebak pada ke-berapa-an Allah. Kalo kita sih asyik-asyik saja dengan keesaan Allah Bapa yang bersama dengan-Nya memiliki Firman/Logos dan Roh-Nya itu🙂

JG: ‎@WM, saya sama sekali tidak bigung. Sy sangat setuju justru dg pernyataan bapak bahwa logos adalah agen ALLAH bukan Elohim, juga sangat setuju dg Yesus dan ALLAH tak terpisahkan. Pengakuan Petrus itu sudah benar, “Engkaulah Mesias (utusan yang diurapi), Anak ALLAH yang hidup.” bukan, “Engkaulah Mesias, ALLAH yang hidup.”

JG: ‎@BL, saya bukan hy belajar sejarah rumusan trinitas, sudah amat sangat belajar ttg itu. 20 tahun belajar sejarah gereja dan sejarah dogma, hehehe…..

JG: ‎@WM, siapa bilang sejarah tdk berpihak ke saya? tergantung dr perspektif mana kita bicara to? makanya history dikatakan (his) story. Sejarah sendiri dibuat oleh penguasa, penguasa yang menafsir data untuk melayani tujuan penguasa. Bukan tdk mungkin waktu mengumpulkan data, malah yg penting tak dimasukkan, krn tak melayani tujuan penguasa. INGAT SEJARAH dogma penuh dengan “berdarah-darah.” ADA YANG BILANG ARIUS itu sesat dan bidat, nah itu tergantung siapa yang mengatakan to?

WM: nah, mungkin Pak JG bisa mencari tau jawaban dari pertanyaan sederhana ini: jika Allah adalah esa, dan Ia pernah berkata bahwa Ia ‘seorang diri membentangkan langit tanpa pendamping’ (bdk. Yesaya 44:24), maka apakah ada ruang bagi Arius dan Pak JG untuk berkata bahwa Logos itu adalah pencipta yang lain di luar diri Bapa YHWH? Jangan buru2 karena saya tidak pernah menyesat2kan orang Pak, saya lebih suka nyebut ‘nyeleneh’ saja kok.. dan kita tau ‘nyeleneh’ atau tidaknya ya dari pertanyaan tersebut🙂

JG: Logos dikatakan bersumber dari ALLAH (Bapa). Ia memang bersama2 dg ALLAH. Makanya rumusan yang berkata Yesus 100% Manusia; 100% ALLAH saya kurang setuju. Yang benar Yesus 100% Manusia dan 100% Anak ALLAH.

WM: jadi saya pikir di sini ada kesalah-pahaman dalam hal bahasa dan definisi… memang yg Bapak permasalahkan dari kemarin2 adalah bahwa ‘Anak Allah =/= Allah’.. Pak JG, selama berpuluh2 tahun mempelajari sejarah gereja dan dogma, harusnya Pak JG bisa membedakan antara ‘ousia’ dan ‘hypostasis’. Firman Allah itu secara kias dibilang ‘dilahirkan’ dari Bapa, karena Firman/Logos ini ‘keluar’ dari Bapa. Maka rasul Yohanes pun secara kias menyebut Logos ini sebagai ‘Anak Tunggal Allah’ (Yoh. 1:18). Firman Allah ini memang BUKAN Bapa. Firman Allah ini memang BERBEDA dari Bapa. Namun Firman Allah ini TIDAK BISA DIPISAHKAN dari Bapa, karena jika bisa dipisahkan, maka Bapa jadi tidak punya Firman dong.. kan aneh jadinya Pak? jadi secara nalar awam saja, Firman Allah ini BERBEDA tapi TIDAK BISA DIPISAHKAN dengan Bapa. Keadaan inilah yang disebut bahwa Logos (Sang Anak) itu memiliki ‘hypostasis’-nya sendiri, memiliki ‘personae’-nya sendiri.. jadi pengertian hypostasis/pribadi-nya itu bukan seperti pengertian psikologi Pak.. nah, Logos ini pun ternyata bapak setujui juga bersifat kekal dan bukan ciptaan, padahal hanya Allah sajalah yang tidak diciptakan. Maka itulah Logos dikatakan memiliki ‘ousia’ yang SAMA / homoousion dengan Bapa. Kan simple to?

JG: Justru pak di situ yg perlu saya tegaskan. Sy tahu koq soal ‘ousia’ dan ‘hypostasis’ itu. itu bukan barang baru diskusi itu. Bapak mengatakan Firman ALLAH tidak bisa dipisahkan dari Bapa, justru di kata tsb pengertiannya kt tak sama. Kalau saya memahaminya, itu soal relasi yang amat dekat, bukan sebagai suatu sekedar berbeda pribadi, satu hakekat. Bagi saya, apa yg saya pahami dr Alkitab adalah Yesus (Anak) dan Bapa (ALLAH) adalah dua pribadi dan dua hakekat yang berbeda. Maka, karena Yesus bukanlah ALLAH, maka ALLAH tetap satu (Esa). Hubungan yg amat dekat itu yg di antropoformis-kan sebagai hubungan Bapak dan Anak. TETAPI YANG SAYA TOLAK ADALAH AJARAN TRITUNGGAL YANG BERKATA, bahwa ALLAH itu SENDIRI MENJELMA MENJADI YESUS.

JG: Jelas2 Yesus setelah kenaikan-Nya tdk melebur kembali menjadi ALLAH to? Ia duduk di sebelah kanan ALLAH. Dari sana nanti Ia akan diutus Bapa kembali untuk datang kedua kalinya.

WM: CMIIW Pak, tapi semestinya kita berhati2 dalam menggunakan berbagai istilah… yang menjelma jadi manusia itu bukan Allah (yg disebut Bapa, 1 Korintus 8:6), melainkan Firman Allah yang SEHAKIKAT dengan Allah Bapa itu sendiri. Nah, ini dulu harap dibedakan. Kenapa harus SEHAKIKAT? Karena sama-sama kekalnya Pak JG, dan sama2 Pencipta-nya, jadi sama-sama punya sifat yang sama, jadi punya Dzat yang sama. Lalu dari manakah Pak JG berkata bahwa Bapa dan Logos BERBEDA ousia? padahal YHWH sendiri jelas berkata di banyak bagian Alkitab: “Siapakah yang seperti AKU?”. Maka jelas TIDAK MUNGKIN ada entitas lain di luar ousia Bapa yang memiliki sifat dan kodrat Pencipta yang kekal dan bukan ciptaan. Iya tidak? Suka-tidak-suka, Alkitab membawa kita ke ajaran Tritunggal lho Pak… dan mengenai Yesus duduk di sebelah kanan Bapa itu saya pikir tidak bisa diterjemahkan secara hurufiah sebagaimana mengartikan Lontong ada di sebelah kanan Lemper, maka Lontong BUKAN Lemper🙂

JG: WM, pertama, justru org2 yg pegang paham Tritunggal sering berkata ‘ALLAH menjelma menjadi manusia (Yesus).” Kedua, Yesus kekal dalam pengertian pra-eksistensinya ada bersama2 dg Bapa. Maka saya tdk percaya Yesus Pencipta. Bapak mengatakan bagaimana mungkin? saya tdk tahu bgm hal itu bisa mungkin di alam ALLAH sana, tapi itu adalah fakta. Saya terbatas mengetahui bagaimana. Yang saya tahu ALLAH berkuasa untuk mengadakan Yesus. DAN TIDAK MASUK ILUSTRASI BAPAK mengenai Lontong dan Lemper untuk analogi ini.

JG: ‎@WM, justru misteri Yesus itulah yang seharusnya kita tak “memaksa” merumuskan tritunggal. Kalau hubungan yang amat khusus yang dimaksudkan saya setuju. Kalau Yesus adlah Anak ALLAH, pastilah sifat2 dan kodrat ALLAH ada di dalam diri-Nya. Sama seperti saya adalah Anak bapak saya, saya mewarisi DNA bapak saya. Tapi bukan bapak saya menjelma menjadi saya. Saya dan Bapak saya bukan hanya dua pribadi yang berbeda, tetapi dua hakekat yang berbeda jg. Tapi dapat saya katakan saya dan bapak saya satu. KADANG KALAU orang lihat saya, lihat bapak saya. Mereka suka bilang Gultom kecil. hehee

JG: atau seperti ini: nama bapak saya kan SG, dulu waktu kecil saya suka dibilang ‘SAIDI datang..” maksudnya saya datang

WM: mohon maaf jika ilustrasi lontong dan lemper-nya salah Pak soalnya sy sedang lapar🙂 jadi saya pikir Pak JG menganggap ‘Yesus duduk di sebelah kanan Bapa’ itu artinya ya benar2 Bapa duduk di kiri dan Yesus duduk di kanan. Jadi yg bapak maksud bukan kiasan kan? Maka saya pikir keberatan Bapak terhadap Tritunggal dengan ‘Yesus di sebelah kanan Bapa’ itu menjadi tidak relevan lagi lhoo.. anyway, jika Pak JG terus maju dengan mengatakan bahwa Yesus bukan Pencipta, maka kita berdua bisa setuju dan serentak dengan itu bisa tidak setuju pula.. kita bisa setuju bahwa Yesus bukan Pencipta, karena Yesus adalah manusia hasil inkarnasi Logos. Manusia Yesus adalah ciptaan. Namun kita juga bisa tidak setuju, karena Yesus dalam pra-ada-Nya adalah Firman Allah, dan melalui Firman Allah-lah dunia ini diciptakan. Anyway, jika anda membaca surat Arius kepada Eusebius dari Nicomadea, maka anda akan mendapati bahwa Arius percaya bahwa Yesus itu pencipta lho Pak… Arius percaya bahwa Bapa menciptakan Firman Allah, dan kemudian Firman Allah ini menciptakan ciptaan yang lain, which contraditcs Yesaya 44:24 yg sy kutip sebelumnya🙂

WM: anyway, jika Yesus adalah Anak yang mewarisi sifat Bapa-Nya seperti model pewarisan DNA, maka mengapa Yesaya 43:10 berkata: “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi”? dan mengapa pula dikatakan di berbagai tempat lain di Alkitab bahwa TIDAK ADA yang sama dengan YHWH?

PS: Sepertinya pak JG dan pak WM tetap pada pendirian dan arugumen masing masing dengan bukti bukti yang sahih dari Firman Allah dan penjelasan yang rasional. Mari bapak bapak, siapa tahu kita kita yang menyimak ini “bertobat” dari paham selama ini yang sudah ber-urat akar dengan doktrin gereja yang banyak rohaniawan-teolog tetap bersikukuh dengan warisan konsili Nicea yang sudah lebih dari seribu tahun. Yang pasti, dua kubu (Yesus adalah Allah versus Yesus bukan Allah) sama sama ada dasar biblisnya. Untuk saya peribadi selagi argumen dua duanya biblikal dan bermuara ke ranah/dimensi iman , maka semua benar! Atau barangkali kedua kubu sedang “membedah” the infinite dengan “pisau” finite. Semangat kawan kawan!

WM: Yang jelas Pak PS, saya percaya bahwa Allah tidak bercabang lidah, maka tidak mungkin Alkitab berkata bahwa Logos itu beda ousia dan sama ousia dengan Bapa. Alkitab harus ada di salah satu pihak, atau tidak ada di antara kedua pihak sama sekali. Maka diadakan diskusi, dan diskusi ini hanya mengulang kembali diskusi yang sama di Nicea 325 Masehi.. Peserta konsili sebenarnya hanya menggunakan logika yg sederhana, yakni: (1) Alkitab harus dimengerti dengan pengertian PENULIS (bukan PEMBACA) Alkitab yang diwariskan turun-temurun melalui garis suksesi kerasulan di DALAM GEREJA, dan (2) Logika sederhana: Allah itu esa, maka jika Logos adalah agen penciptaan, maka Logos harus ada di DALAM DIRI / Ousia Allah (Bapa). Lain dari itu, maka konsekuensinya akan berbahaya bagi keesaan Allah, seperti: menyebut bahwa Yesus punya Dzat yg sama dengan Bapa, tapi keduanya terpisah total misalnya, akan berujung kepada bi-theisme🙂

PS: Salam kenal pak WM. Senang membaca komen komen bapak. Menurut hemat saya thread bapak JG diatas tentang TRITUNGGAL akan menjadi diskusi abadi, karena topik itu sangat debatable bahkan dimasa lalu ada yang mengalami korban fisik dari pihak gereja (penguasa gereja) hanya karna tidak setuju dengan Tritunggal, dan nyatanya pemerhati, pembela dan kontra Tritunggal sampai hari ini masih banyak dan beruntungnya, kalau tidak dikatakan celakanya, mereka mereka yang jadi pembela dan kontra Tritunggal adalah educated person. Semangat pak WM.

 

DHYN: Kalau Yohanes mendukung ide Pak JG, seharusnya konstruksi frasa Yohanes 1:1c berbunyi: “kai ho logos en theos”…faktanya, frasa yang tercantum adalah “kai theos en ho logos”. Firman (Yesus) adalah Allah.

Bila Firman (Yesus) adalah Allah, kemudian Yohanes menyatakan bahwa Firman itu telah menjadi daging (manusia), bukankah sah untuk berkata bahwa Allah menjadi manusia? Lalu salahnya di mana sehingga bapak tidak setuju pernyataan ini?

Yohanes bukan hanya mengawali Injilnya dengan deklarasi mengenai identitas Yesus adalah Allah tapi juga mendekati akhir Injilnya, Yohanes menyertakan catatan mengenai pengakuan Tomas, “ho kyrios mou kai ho theos mou” (Yoh. 20:28).

Bukan hanya ini, beberapa perikop dalam Injil Yohanes mencatat tentang kontroversi Yesus dengan para pemuka Yahudi di mana Yesus dituduh menghujat Allah dengan menyamakan diri-Nya dengan Allah. Apakah bapak akan berdiri di pihak para pemuka Yahudi itu dan hendak “melontari Yesus dengan batu” juga karena menganggap di penghujat?
Paulus dalam Roma 9:5 juga menegaskan bahwa Kristus adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.

Pak JG punya penjelasan untuk teks2 di atas yang mendukung ide bapak tentang Yesus bukan Allah (dalam arti hakikat-Nya)? Silakan kemukakan dan kita akan lihat bersama apakah penjelasan bapak memadai atau tidak.

Pak PS, boleh jadi ini akan jadi diskusi abadi. Tetapi tidak berarti bahwa Yesus adalah Allah dan Yesus bukan Allah sama-sama benar bukan?. Salam kenal pak.

 

DHYN: Dalam Matius 9:6 dan paralelnya, dikemukakan bahwa Yesus berkuasa mengampuni dosa. Siapa yang berhak mengampuni dosa? Ciptaan? Makhluk yang bukan Allah? Tidak! Hanyaa ALlah yang berhak mengampuni dosa. Bila Yesus menyatakan Dia berkuasa mengampuni dosa dan faktanya hanya Allah yang berhak mengampuni dosa, maka bukan hanya sah tetapi juga benar untuk berkesimpulan bahwa YEsus adalah Allah.

DHYN: Dalam surat Efesus, terdapat pola-pola Triadik di mana baik Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebutkan secara bersama-sama dalam hubungan dengan karya penebusan yang dimulai dengan pemilihan sejak kekekalan. Bila Yesus dan Roh Kudus bukan Allah (setara dengan Bapa), Paulus pasti melakukan penghujatan di sini. Apakah Paulus menyekutukan Bapa dengan menyertakan Anak dan Roh Kudus dalam karya rencana penebusan-Nya? Pasti tidak!

DHYN: Dan satu hal, saya sama sekali merasa aneh bila forum ini sepertinya membiarkan komentar2 “kekerasan iman” yang pernah dilakukan oleh gereja dalam sejarah, lalu berkesimpulan bahwa ajarannya adalah hasil politik gereja. Pak JG pernah mengemukakan ini. Ini jelas kesalahan. Kesalahan gereja dalam mempertahankan ajaran tertentu, tidak serta merta berarti ajaran tersebut salah bukan?

MS: Slmt siang semua, maaf lama tidak muncul. Rupanya bung JG bikin thread baru lagi setelah bbrp pertanyaan saya pada threadnya yang menyangkali Yesus sebagai Allah sama sekali tidak digubrisnya. Apa sih yang mau dicari sdrku JG ini? Smg tidak sekadar mencari sensasi! Jk JG masih ingin benar2 berargumentasi, saya tunggu jawabannya.

MS: Hi bro. DHYN, saya mengutip kalimatnya di atas: “kai ho logos en theos”…faktanya, frasa yang tercantum adalah “kai theos en ho logos”. Firman (Yesus) adalah Allah. Apa bedanya keduanya? Tlng dijelaskan. Soalnya, jk diterjemahkan literal, and the word was God. Yg kedua, and Theos was the WORD. Keduanya sama2 menegaskan bahwa the Word adl God. Dlm bhs Yunani, tidak jadi soal apakah dia ditulis di belakang atau di depan. Artikel “the” akan menjelaskan. Memang, Yohanes menulis spt di dalam teks itu, karena itu adl sebuah puisi. Jadi demi keindahan bunyi, kata terakhir menjadi permulaan pada kalimat selanjutnya, maka ditulis spt itu: en arkhe en ho LOGOS, kai ho logos en pros ton THEON, kai THEOS en ho logos.

MS: Pemahaman yg ditulis di dalam thread di atas, jelas ngawur! Orang orang hebat spt Charles Hodge yang menulis buku dogmatika tiga volume setebal bantal itu, tidak pernah mengatakan “ke-berapa-an ALLAH” (saya kutip kalimat anda). Demikian juga dengan Prof. Louis Berkhof, Millard J. Erickson. Maknya ditulis tunggal. Di dalam terjemahan bhs Inggris, Mat 28 (ttg baptisan itu) tertulis begini: Baptislah mereka in the name, bukan names. Saya harap anda mengerti. Lalu, setelah itu, dilanjutkan dengan in the name of the Father, the Son and the Spirit. Smg mengerti juga hal itu. Selanjutnya, saya mau mengingatkan anda. Ketika bro. Joas menyinggung pandangan Arius, secara eksplisit anda mengatakan setuju bhw itulah pandanganmu. Nampaknya anda tidak tahu bahwa Arius dengan Arianismenya ADALAH BIDAT, AJARAN SESAT! Hehehehe…Jk demikian, ‘Arius’ masa kini muncul lagi di forum ini dalam diri JG.

JG: Pak MS, tidak digubris pak. Waktu itu sudah saya jawab. Thread baru ini saya buka supaya khusus membahas itu. Pak, tenang saja, kita mau saling belajar, ngak usah terlalu dibesar-besarkan. Bertahun tahun bapak2 gereja jg bertengkar soal rumusan ini. Bapak py hak untuk mengutarakan pendapat bapak. Ngak usah emosi dan pusing….

MS: Ah, mana jawabannya? Tidak ada. Yg ada adl baca lagi tulisan2 saya perlahan-lahan, silakan pahami itu. Kalimat itulah bolak balik anda katakan kpd rekan2 lain juga. Payah…

WM: bapak-bapak yang terhormat, kita ngobrol-nya santai2 saja yah.. sambil pisang goreng dan es teh dingin.. seperti Church History-nya Eusebius dari Kaisaria tuh yg bilang: “..di warung2 makan pun mereka semua memperdebatkan tentang apakah Logos itu dicipta atau tidak dicipta..”😀

JG: Pak MS, anda kan seorang teolog dan intelektual. Koq cara anda berdiskusi seperti ini? Pak seharusnya tidak berkata, « ngawur », « sesat » dst….. SAYA SUDAH TERANGKAN DI ATAS, entah itu paham Arius atau paham siapa, dan pak mengatakan sesat, itu urusan bapak. SAYA SUDAH TAHU BAHWA ARIUS DIANGGAP sesat oleh bapak2 gereja. MAKANYA SAYA KATAKAN, itu kan menurut orang2 itu. SEKARANG say pun dapat mengatakan hal yang sama, YANG BAPAK YAKINI SEKARANG JUSTRU SESAT !!

Sebagai seorang ilmuawan, sekalian sama sekali berbeda pendapat, tak akan gampang bilang, « ngawur, sesat, » dst. INGAT, perspektif sejarah pun berbeda, tergantung siapa yang bilang ? 

KEMUDIAN, LAGI2 BAPAK MENYEBUT ahli ini dan itu… Cuma bapak percaya diri saja dengan apa yang bapak pahami dari Alkitab. Mereka2 bukan kebenaran !

MS: Sengaja saya pakai istilah itu, agar anda menjelaskan bahwa anda tidak ngawur. Dalam thread yl itu, tiga posting saya tidak ada jwban terhadap pertanyaan itu. Jk sudah, silakan dikopi dan dikirim ke sini. Soal berhak atau tidak, tentu semua berhak mengatakan pendapatnya, termasuk bidat spt Arius. Tapi Alkitab jelas menghukum orang yang mengajarkan sesuatu yg menyimpang. Masa sih anda menulis entah paham itu Arius atau paham siapa? Waw, hati2 asal bunyi dong. Kita santai juga nih pak Welly, di samping saya ada kopi panas. hehehehe… memang bro. JG suka menuduh orang dengan kata emosi…hehehe..

DHYN: Amang MS, hehehe.maaf nih kalo terkesan menggurui..saya mengacu kepada Daniel B. Wallace dalam Greek Grammar Beyond the Basic, 266-269 yang menjelaskan bahwa perbedaan antara “kai theos en ho logos” dan “kai ho logos en theos” terletak pada aspek emphaticnya. Predikatif nominatif dalam frasa ini, yaitu “theos” ditempatkan pertama (sebagaimana dalam Yoh. 1:1c) untuk menekankan tentang essence or quality. Dan ketiadaaan definite article pada kata “theos” mencegah kita untuk mengidentikkan Logos dengan Bapa.Wallace mengemukakan tiga kemungkinan konstruksi frasa ini:

1. kai ho logos en ho theos (Sabelianisme)
2. kai ho logos en theos (Arianisme)
3. kai theos en ho logos (Ortodoksi)

Luther juga pernah berkata: “The lack of an article is against Sabelianism; the word order is against Arianism”

Demikian pak..kalo kurang nambahin ya..ehehhehhe

JG: Ini saya kutip lagi tanggapan saya waktu itu. KALAU BELUM MENJAWAB, tolong dimananya: Ketika Yesus naik ke Sorga, karena Ia adalah ALLAH, kira2 apakah Yesus melebur kembali menjadi ALLAH lagi ? Tidak kan ? Lalu, disebutkan satu waktu Ia akan datang kembali ke bumi. Kira2 pada waktu akhir zaman, ALLAH kembali berubah wujud menjadi Yesus yang dipermuliakan yang datang lagi ke bumi ? JELAS2 Yesus bilang, « Berdoalah kamu kepada Bapa dalam nama-Ku.. » „Aku tak dapat berbuat dari diri-Ku sendiri kecuali dikaruniakan Bapa.“

Masak utusan disembah? Yesus menurut saya adalah „yang diadakan“ oleh ALLAH. Saya sungkan untuk mengatakan dicipta, walaupun ada di surat Paulus yang mengatakan bhw Ia adalah yang sulung dari semua ciptaan.”
TAPI SEBELUM kita membahas banyak ayat2. Sampai di sini saya mau berkesimpulan sederhana saja. Yesus bukan ALLAH, bukan Manusia dan bukan Malaikat. Ia adalah Anak ALLAH. “Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini, sehingga IA mengaruniakan ANAK-NYA yang tunggal dst.”

SAYA memang tak mempunyai semua jawaban untuk semua pertanyaan mengenai ini, sama seperti bapak tdk mempunyai jawaban untuk semua ayat2 yang terkait penegasan bedanya ALLAH dengan Yesus.

Tapi coba bayangkan gereja mula2 apakah sudah memahami ke-tritunggal-an ALLAH? Saya kira, kitalah yang telh membuat rumusan yang komplikasi ini. Kalau bapak baca kotbah2 stefanus, petrus, paulus di kisah para rasul di hadapan orang2 Yahudi, mereka cuma concern pada pekerjaan yang meyakinkan orang2 Yahudi bahwa Yesus yang mereka bunuh itu adalah Mesias, bukan meyakinkan mereka bahwa Yesus adalah ALLAH yang menjelma.

DHYN: Penjelasan Wallace di atas juga dikutip dalam bentuk sebuah artikel singkat yang membahas khusus tentang frasa di atas dalam: william D. Mounce, Basic of Biblical Greek Grammar, pp. 27-28

JG: Pak DHYN, nah anda mengatakan bhw bukti Yesus adalah ALLAH maka Dia tidak py kuasa mengampuni dosa. NAH INI YANG BAPAK TIDAK MENGERTI. Yang benar di dalam PB, ALLAH telah memberi kuasa dan otoritas kepada Anak-Nya untuk memberlakukan pengampunan dosa, pastilah Ia memberlakukan pengampunan dosa tsb. Apa susahnya? Sebab Dia datang dari Sorga. Ia bukan ciptaan tetapi Ia bersumber dari ALLAH!

MS: Bro. DHYN, jika dikatakan demi penekanan, benar dong. Tapi secara makna, sama saja. Memang jelas, penyebutan Theos di depan memberi kesan penekanan. No.1 Sabbelianisme, benar, krn the Word dan the Theos jadi identik. Sedangkan nomor 2, perlu dilihat lagi. Apa ada salah tulis? Bagi yang memahami Yunani tentu akan tahu bahwa nomor 2 dan 3 sama saja, kecuali dalam hal penekanan. Arianisme tidak setuju bahwa Yesus setara dengan Allah. Barangkali, maksudnya begini. Dengan tidak adanya artikel “the” di depan Theos, ada penafsir yang memahami itu sebagai the lesser God. Jadi, Yesus lebih rendah atau subordinat dari Allah (Arius). Tapi, itu salah.Absennya artikel “the” di depan theos, justru ingin menegaskan bhw Yesus itu adalah Allah juga (jabatannya), tapi tidak identik.

JG: Di tempat lain saya sudah menegaskan memang ada byk misteri dan ayat2 yang “masih” perlu kita perdebatkan, tetapi mohon dipahami konsep monotheisme kala itu di komunitas Yahudi sangat kuat dan Yesus tak pernah merobah itu. Ia justru mempertegasnya. Jadi hal ini akan memberikan kepada kita segudang pertanyaan mengenai eksistensinya yang unik dan hubungan khususnya dengan ALLAH! Kata logos di sanapun tidak serta merta sebagai yang sama dengan ELOHIM, bukan? KARENA ANAK itu sangat melekat dengan ALLAH maka, Ia hampir dapat dikatakan seperti kalimat Yohanes tadi bahwa Ia adalah Firman. Saya kira ada latarbelakang akan sanggahan yohanes uyang mau mengatakan bahwa Yesus bukanlah spermatikos (benih) ALLAH, namun bukan berarti serta merta ALLAH sendiri yang menjelma menjadi Yesus

WM: oke, jadi keberatan lainnya adalah ‘masa utusan disembah’? Pak JG, harusnya anda tau bahwa perbedaan antara ‘yang mengutus’ dan ‘yang diutus’ adalah dalam hal ‘posisi’ saja dan bukan melulu perbedaan dalam hal ‘kodrat’. Misalkan saya mengutus anda untuk ngirim surat, apakah saya (kodrat manusia) selalu harus memiliki kodrat yg berbeda dengan anda? apakah kodrat anda jadi lebih rendah dari kodrat saya? apakah anda jadi tidak punya kodrat manusia hanya karena anda diutus oleh saya? Michael Servetus pernah nulis pernyataan yg sama lho Pak JG, dan Calvin cuma menyebutnya argumentasi ‘kekanak-kanakan’🙂

JG: Pak DHYN, anda keliru kalau saya berkata bahwa Yesus tidak ada dalam hubngan dalam program penyelamatan. Yesus adlah Juruselamat, Perantara, Mesias, maka sudah pasti Ia diberi otoritas dan kuasa untuk melakukan pekerjaan penyelamatan. TETAPI IA bukan penjelmaan ALLAH. Ia adalah Anak ALLAH!

WM: Pak JG berbicara mengenai ‘konsep monotheisme kala itu di komunitas Yahudi’ –> apakah Pak JG sudah memeriksa konsep Davar YHWH dalam Targum dan tradisi Rabinik yg kemudian dipakai oleh rasul Yohanes dengan istilah Logos yang menjadi dasar ajaran Tritunggal itu?

DHYN: Dua buku itu ada ditangan saya sekarang, amang. Saya yakin tidak salah ketik. Ya amang, itulah yang dikatakan bahwa word ordernya memberikan empasis yang berbeda pada no 2 dan 3. Oke, saya off dl, mau nyangkul..ƗƗϱ•ƗƗϱ•ƗƗϱ ˚ت°

JG: SATU PERMOHONAN SAYA, forum ini adalah forum ilmiah. Jadi, mohon kalau ada ide2 radikal, berbeda dst, hindarilah berkata SESAT, NGAWUR, TIDAK BENAR!!! Emangnya siapa yang py otoritas untuk menjudge si anu sesat, si anu benar. Jangan dikira kita juga tidak kutip dan bahas Alkitab! JANGAN DIKIRA ORANG2 YANG PY PAHAM ANTI AJARAN TRITUNGGAL JUGA TIDAK JAGO ALKITAB, jago bahasa2 asli dan sejarah! JADI, sebaiknya anda utarakan saja perspektif anda! MUNGKIN KALAU DI KANTOR ANDA ADALAH BOS, jadi suka main perintah, main hardik, dst,… TETAPI DI forum ini perbedaan itu sesuatu yang wajar. SAYA SUDAH BERUSAHA MENJELASKAN PERSPEKTIF SAYA. KALAU ANDA KHUSUSNYA P MS MELIHAT terlalu naif, dangkal dan tak benar, HAL YANG SAMA SAYA juga dapat mengatakan itu!

MS: Bro.JG, saya kira percuma saya menghabiskan waktu dengan anda. Maaf, ada urusan lain yg lebih penting. Pandangan yg anda kutip di atas, bermasalah dengan anda, bukan pd pembaca anda. Misal, saya mengutip kalimat anda: “stelah Yesus kembali ke sorga, apakah Yesus melebur lagi?” Pertanyaan apa itu? Itu tema lain lagi. Lalu, perhatikan kutipan kalimat anda ini: “TAPI SEBELUM kita membahas banyak ayat2. Sampai di sini saya mau berkesimpulan sederhana saja. Yesus bukan ALLAH, bukan Manusia dan bukan Malaikat. Ia adalah Anak ALLAH”. Ngawur, bukan? Bagaimana anda menjelaskan Yoh.1:1 dan 14? Satu lagi, anda menulis: “Masak utusan disembah? Yesus menurut saya adalah „yang diadakan“ oleh ALLAH. Saya sungkan untuk mengatakan dicipta, walaupun ada di surat Paulus yang mengatakan bhw Ia adalah yang sulung dari semua ciptaan.” Nah, bagaimana anda menjelaskan bhw Alkitab menuls bhw Yesus disembah? Ngawur, bukan? Akhirnya, anda mengatakan sungkan mengatakan Yesus dicipta. Lho, itulah Arius! Anda sudah mengakui sebelumnya. Apa itu tidak ngawur? Yang mana yang dpt kita percaya? Dan anda menunjukan betapa anda tidak mengerti ayat, asal main comot saja. Ayat yg ditulis oleh Paulus kpd Kolose itu tidak bicara soal penciptaan Yesus. Jk anda mau belajar, perhatikan alur pemikiran Paulus. Intinya, dia mau menegaskan kemuliaan Yesus. Dibandingkan dengan Allah, dia adalah eikon, dibandingkan dengan Gereja, Dia adalah KEPALA, dibandingkan dengan ciptaan, dia adal yang pertama, atau terutama (prototokos). Smg anda paham, jangan asal kutip ayat spt aliran SJ. Ok, sekian dulu ya, capek. Jika anda mau kembali dari ketersesatan anda, belajar baik-baik. Jgn terus menerus bikin thread yg bombastis. Kecuali anda memang mau cari sensasi. Maaf, menulis spt ini.

JG: Pak MS, anda berkata, “Bro.JG, saya kira percuma saya menghabiskan waktu dengan anda.” LOH, YANG UNDANG anda datang ke thread ini siapa? Kalau begitupun saya dapat berkata, “percuma energi saya menghabiskan waktu dg orang yang katanya doktor tapi bisanya main tuduh!” Saya kuatir dalam isu2 lain ketika anda seminar, bila ada orang yang radikal menolak pandangan anda dengan perspektifnya, JANGAN2 INI KEBIASAAN ANDA UNTUK bilang, “sesat, ngawur, dst…”

MS: Bro. DHYN, hati2 mengutip kalimat para ahli. Jgn sampai kesalahpahaman kita terhadap buku dan pandangan mrk kita anggap kesalahan mrk. Tidak mungkin Wallace berpendapat spt itu. Tp spt saya tulis di atas, kemungkinannya adlah, tidak adanya artikel the di depan kata Theos (misal ho theos) disimpulkan oleh aliran tertentu seolah mau mengatakan Jesus is the lesser God, Allah rangking kedua. Itulah pendapat Arianisme. Ok? Baik, baca lagi deh ya.

WM: Sori nyempil, Pak JG, es teh-nya diminum dulu biar adem dan tidak ber-ad nauseam dengan menampilkan berulang2 pernyataan ‘Anak Allah =/= Allah’ yg sudah saya jawab sebelumnya🙂

JG: ‎@Pak MS, coba anda belajar cara elegan berdebat di metrotv atau di TVone, mereka masing2 mengutarakan perspektifnya untuk satu isu, bukan kayak anda yang jika berbeda, anda gampang bilang sesat, ngawur, kacau, capek. Saya setuju dg bro Eka, admin dari forum ini. Forum ini bukan untuk ajang bantah membantah, tetapi tukar menukar pemikiran. SAYA BUKAN satu2nya orang yang tidak setuju dengan paham Tritunggal, ada begitu byk ahli, tidak perlu saya kutip di sini. AHLI2 ITU bahkan jauuuhhh lebih pintar dari saya dan terpelajar Alkitab. Cuma memang saya lebih suka mengutarakan gagasan saya, ketimbang kutip ahli ini, ahli itu!

MS: Hahahahaha…payah deh bro. JG ini. Saya katakan percuma karena anda hanya berputar-putar dalam kalimatnya. Baiklah…sekali lagi saya akhiri dengan berat hati saya memaksa diri mengatakan, pandangan2 anda memang banyak ngawur. Saya kuatir apakah ada yang mendalami Biblika di groups ini mengatakan bahwa pandangan anda sesuai Alkitab. Saya sudah kasih contoh di atas. Soal pernyataan Yesus adl Allah dan manusia, yg keduanya anda tolak. Soal Yesus disembah oleh umat di PB. Anda juga menolaknya. Nah, dengan begitu, apa dong? Pandangan bagus, atau ngawur?

JG: ‎@Pak MS, saya juga mau katakan justru anda yang ngawur ketika meng-ngawur-kan orang. PUN kalau pandangan anda byk pendukungnya, anda tidak boleh dalam posisi untuk mengatakan ngawur! SAYA SENDIRI tidak berharap setiap orang setuju, tapi saya tidak pernah serta merta begitu. KAN MAU KASIH SEMINAR Tritunggal kan? Nanti bila ada peserta kontra dengan pandangan anda, dan anda melihat kurang komprehensif penuturannya, please JANGAN gampang bilang sesat dan ngawur!

DHYN: Apa yg amang ketik di atas kayaknya saya jg sudah ngomong di atas. Hanya kelihatannya pada penjelasan pertama saya belum menyatakan bahwa konstruksi ke-2 dan 3 berbeda bukan dalam hal terjemahannya tpi emphasisnya. Juga disebutkan bahwa ada yang menyimpulkan bahwa ketiadaan definite article pada “theos” membuat mereka menganggap Yesus lesser God. Tp ini tidak benar berdasarkan word ordernya. Saya kira parafrase saya terhadap pandangan Wallace tidak berbeda dg yang amang jelaskan. Dan mengenai 3 konstruksi itu memang ada dalam artikel Wallace yg dicantumkan Mounce dalam Basic of Biblical Greek Grammar. Amang bs cek lagi nanti:)

MS: Hahahaha…tks JG atas kengototannya, spt kata teman, minum kopinya lagi deh. Saya juga mau minum nih. Soal nanti di seminar, jika ada yang salah, tentu akan saya dengar dan koreksi. Tapi jika dia mengatakan bhw Yesus bukan Allah, Alkitab tdk mengajarkan Tritunggal, dan itu adl ajaran Alkitab, saya akan jelas katakan itu ngawur. Itu beda dengan jika dia mengatakan, saya tidak menerima pernyataan Alkitab.

JG: ‎@Nah, justru itu bukan ajaran Alkitab menurut saya. Trima kasih!

MS: Nah, itu dia bro. DHYN, jika ayat itu dikaitkan dengan Arianisme, pasti dlm kaitannya dengan absennya artikel itu. Dalam buku saya (edisi populer thesis M.Th) saya yg berjudul FIRMAN MENJADI DAGING, sudah saya bahas adanya kesalahan memahami ketiadaan artikel itu sebagai the lesser God. Ya, tentunya bisa diambil contoh Arianisme. Tapi, apakah Theos ditulis di depan atau di belakang, sama saja sejauh tetap tdk ada artikel.

DHYN ‎(y) 
😀,/ 
<♥ siiip..siiip!!!
_/\_ amang. Btw, perlu ngopi bareng Pak JG nih..tp sblom ngopi yg panas, minum es teh dl ya..ƗƗϱ•ƗƗϱ•ƗƗϱ ˚ت°

MS: Kita ke Korea dong. Jk begitu, minum kopi jinseng aja. Lebih sehat.

DHYN: Lebe mahal ongkos dari kopinya..Hehehe

PS: Bapak bapak yang terhormat. Saya simak debat – diskusi (atau apalah namanya) sangat sehat! “Melihat” yang infinite dengan “kaca mata” yang finite, jadi mustahil untuk ketemu, kecuali jika yang Infinite dan yang finite sudah sama sama jadi meta. Besi menajamkan besi, Kita bertumbuh karena orang lain, makin kita tahu banyak makin kita tahu kedalaman atau sebaliknya kedangkalan ilmu kita, dan semua scholars pasti berangkat dari latar belakang edukasi dan pengayakan-analisa logis-pribadi atas obyek yang didiskusikan!

DBS: Pak JG, salam kenal dan, dalam tarombo orang batak bapak ini tulang saya🙂 karena ibu dari ibu saya itu boru gultom. Menurut saya, dikalangan biblika Monotheism of Early Judaism merupakan studi yang sangat berkembang akhir2 ini. Dari trend yang ada justru ditemukan early judaism terbuka terhadap ‘mutation’ or ‘development’ yang kemudian menjadi benih2 tritunggal. Thesis Bousset bahwa the divinity of Jesus itu later development dan berasal dari helenistic influences, sekarang sudah pudar, digantikan dengan berbagi hipotesa ttg inner explosion of either binitarian or trinitarian in the new testament texts. Bagaimana pandangan bapak ttg kritik terhadap thesis Bousset ini?

HA: rupanya pak JG ini anggota pembuat rekor karena sangat produktif memancing diskusi.hehehehe.

saya sih gak terlalu tertarik untuk memperdebatkan masalah ini, soalnya gak bisa. anggap aja ini numpang lewat:). saya percaya Yesus itu Allah, cuma belum mampu menjelaskan…kata Agustinus, faith seeking understanding.hehe. dan saya kuatir kalau menjelaskan “Misteri” itu dengan terlalu gamblang, nanti jatuh pada idolatri konseptual manusia, padahal dalam Trinitas aspek apopatis jauh lebih kuat menurut saya. 

Soal keberapaan, saya pikir betul pak JG, bahwa bukan itu isunya. tapi tak serta merta Yesus bukan satu esensi dengan Bapa. Bapa-bapa gereja menunjukkan satu Allah adalah dasar, tapi bagaimana bisa dikenal dalam 3 Persons itu yang dieksplorasi. Pendekatan yang lebih kontemporer, Wlliam Placher dan Leonardo Boff mengelaborasi Trinitas dari dua titik yang berbeda, Placher bilang Trinitas berangkat dari oneness of God dan itu yang perlu di preserve, sedangkan Boff berangkat dari ketigaan Pribadi dalam perfect Community. Boff lebih dekat dengan Trinitas Timur seperti Zizioulas menurut saya. Jadi, sementara saya belum bisa jawab, ya saya pegang ajaran mama papa saya aja:D (bahasa teknisnya: postliberal)

JG: Pak DBS, saya malah memegang paham Binitarian bahwa ALLAH dan Roh Kudus (Roh ALLAH) itu adalah satu hakekat. Tapi Yesus tidak! Dari diskusi ini saya melihat ada dua pendekatan yang dicoba untuk ‘menghajar’ saya. Pertama dari sudut pendekatan biblis (termasuk dg “bukti” bahasa aslinya-walaupun ini bukan tanpa perdebatan misalnya apa yg di eksplore diky berbeda dg p Mangapul terkait Yoh.1:1) dan yang kedua dengan cara menghadirkan penelitian2 ahli terkait itu seperti yang disuguhkan p Saragih dan p Hans misalnya.

Saya pikir p DBS, p HA dan p WM adalah real scholars. Cara anda2 membantah saya sangat simpati dan membuat saya terus merenungkannya dan bersedia terus mengikutinya. ANDA tidak datang seperti model p MS yang marah2 (walaupun dia menyangkal tidak emosi). Saya terheran2 mengapa seorang doktor begitu caranya menghadapi pandangan kontra yang barangkali radikal seperti apa yang saya ajukan.

Meskipun p MS juga berusaha untuk “membuktikan” argumentasinya tentang Tritunggal, tetapi sesekali dibumbui oleh kata2 yang tak menggambarkan kematangan emosionalnya dalam berdebat, seperti kata “sesat, ngawur, capek saya, belajar dulu yang baik2, asal comot ayat katanya saya.” SAYA menduga barangkali dalam hiduppun ketika ada yang menentang pandangannya, ia bersikap hal yang sama.

SAYA SANGAT SETUJU Thesis Bousset yang p DBS katakan bahwa the divinity of Jesus itu later development dan berasal dari helenistic influences. Itu yang saya pikir yang terjadi. Saya sendiri setuju dg bu Hans bahwa misteri ini tak dapat terpahamkan sepenuhnya, namun kalau p Hans memilih untuk “menenangkan” batinnya dgn berpegang kepada iman papa mamanya, saya memilih untuk melakukan revisi mutlak paham saya yg selalu ini berpegang kepada Tritunggal, walaupun saya sendiri tidak mengklaim telah mengetahui dg sempurna. TETAPI SAYA MEYAKINI bahwa paham monotheisme Isreal itu tak berubah hingga sekarang. DAN YESUS DATANG bukan mau memperkenalkan ALLAH di dalam Yesus yang adalah penjelmaan-Nya, namun Ia datang kepada Israel yang telah gagal mempergunakan privilege yang Tuhan berikan untuk melalui mereka, bangsa-bangsa boleh mengenal Yahweh.

DHYN: Alkitab jelas menyatakan bahwa Yesus (logos) menjadi manusia koq. Mengapa Pak Jg katakan “hampir” bs disebut begitu (lihat komentar bapak di atas)? Bapak juga tidak (belum) menjawab soal pengakuan Tomas. Bila Monotheisme Yahudi menjadi pertimbangan bapak, menurut bpak mengapa justru penulis Injil Yohanes menandaskan dengan lugas bahwa Firman itu adalah Allah dan juga mencatat tentang pengakuan Tomas yang sangat tegas: Tuhanku dan Allahku?

Mengenai pola triadik dalam surat Efesus yang saya lontarkan di atas, ternyata bapak secara strawman membalas komentar saya seolah-olah saya menuduh bapak tidak melibatkan Yesus dalam rencana penebusan. Padahal bukan itu poin saya. Poin saya adalah ketiga pribadi tersebut disebut secara bersama dalam rencana penebusan yang dimulai sejak kekekalan (Ef. 1:3-14, 17-18; 3:14-17a;dsb). Lalu tentang roma 9:5 pun bapak tidak gubris juga tentang Matius 28:19 yang sudah dikemukanan Pak Mangapul juga pak tidak bahas.

Tambahan komentar mengenai Yoh 1:1, memang ada pembahasan dari Caird, Language and Imagery, bahwa kopula (verb penghubung) dalam frasa tersebut bukan bermakna identitas tetapi atributif dengan alasan bahwa dalam fungsi sebagai identitas, frasa tersebut harus resiprokal. firman adalah Allah tidak sama dengan Allah adalah firman, padahal fungsi identitas mengharuskan kesamaan ini. Itu menurut Caird. Tetapi tidak harus begitu. Anjing adalah binatang (identitas) tidak harus resiprokal: binatang adalah anjing. Jadi keberatan Caird tidak tepat. Fungsi kopula “en” sebagai identitas tetap stands.

Mengenai Matius 9:6 dan paralelnya, klaim bahwa kuasa mengampuni dosa itu bukan inheren melainkan pemberian, merupakan klaim belaka. tidak ada contoh dalam Alkitab bahwa makhluk yang bukan Tuhan diberi kuasa mengampuni dosa. Dosa dilakukan kepada dan terhadap Tuhan, maka pengampunan itu pun harus dari Tuhan sendiri. Bila saya menampar bapak, kemudian ada seseorang yang datang dan berkata bahwa dia mengampuni saya karena bapak memberinya mandat untuk mengampuni saya, bukankah ini aneh? wong saya gak bersalah terhadap orang itu koq. Bapaklah yang harus mengampuni saya, bukan utusan bapak. Jadi premis mayor saya bahwa Hanya Tuhan yang berhak mengampuni dosa, dan dengan demikian ketika Yesus memproklamirkan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa, itu harus disimpulkan bahwa Yesus adalah Allah. Premis mayor ini tetap stands.

Di atas bapak menyebut tentang “bagian-bagian yang merupakan misteri”. Sejauh teks yang saya ajukan, gagasannya jelas bahwa Yesus adalah Allah. Apakah karena gagasan ini tidak cocok dengan asumsi bapak lalu bapak kategorikan sebagai “misteri”? hmmm.

JG: Salah satu kesalahan besar kebanyakan orang ketika saya menyebut Yesus bukan ALLAH, mereka lalu berpikir bahwa saya percaya bahwa Yesus hanyalah manusia sehingga seolah2 saya tidak meyakini lagi korban Kristus di atas salib, saya tdk mengakui lagi Dia mempunyai nama di atas nama, dan saya tidak mengakui lagi Dia bisa membangkitkan orang mati.

Tapi, yang lagi2 dilupakan adalah saya hanya berkata Yesus bukan ALLAH dalam hakekat-Nya. Dia pribadi yang tersendiri yang berbeda dengan ALLAH, tetapi hubungan-Nya dg Bapa amat sangat khusus. Jadi, justru sangkin khususnya, Yesus disebut Anak ALLAH, sebagai Utusan yang amat khusus,yang mendamaikan kita yang tadinya seteru dengan ALLAH. 

Otoritas itu diberikan ALLAH kepada Yesus, dan segala kuasa ALLAH serta keberadaan serta kebenaran dinyatakan ALLAH melalui Yesus Kristus. Bukan sekedar guru moral tingkat tinggi.
Saya mengatakan Ia Mesias, Anak ALLAH yang hidup. Dan dengan kuasa Bapa, Ia membangkitkan Yesus dan kembali ke pangkuan Bapa. LIHAT, ITU ARTINYA, Yesus sangat special hubungannya dengan Bapa, sampai Ia memberi tempat di dalam singgah sananya.

Ia memberi kuasa untuk menyatakan pengampunan dosa bagi manusia dan mampu membangkitkan orang mati. Tetapi itu bukan berarti Ia ALLAH. Itu cuma otoritas yang diberikan Bapa kepada-Nya. MAKANYA YESUS MENEGASKAN, bahwa Anak tak dapat melakukan apa2 kalau tidak dikaruniakan oleh Bapa. Dan Ia berkata bahwa Ia mengerjakan apa yang Pengutus (Bapa) suruh lakukan.

SIAPA BAPA? Perlu diperhatikan bahwa sebutan “Bapa” adalah sebuah metafora yang sudah biasa dipakai oleh PL (mis. Ul 32:6; Yes. 63:16; 64:8; Yer 3:19; 31:9; Mal 1:6; 2:10; 2 Sam 7:4, dll). Itu sapaan yang kemudian dipakai dalam hubungan Yesus dengan Allah dan kemudian kita memakainya juga waktu menggambarkan kedekatan dengan Allah.

Dalam Injil Yoh sendiri terdapat 137 kali kata “Bapa” yang semuanya menegaskan hubungan yang khusus dan kesatuan antara Bapa dan Anak. Ingat kesatuan loh, bukan SATU MEREKA.
Kemudian dalam Yoh 1:18 jelas terlihat bahwa sangkin khususnya dan luarbiasanya hubungan mereka (Bapa dan Anak), Anak (Yesus) diberi otoritas untuk menyatakan ALLAH itu kepada kita.

JADI INI BERBICARA RELASI YANG KHAS, LUARBIASA DAN KHUSUS. Jadi ketika saya berkata Yesus bukan ALLAH, sebenarnya bukan mau melikuidasi Yesus seperti teolog Liberal atau seperti Islam yang mengangap-Nya sebagai nabi biasa. TETAPI HUBUNGAN Bapa dan Anak menegaskan Yesus bukan ALLAH, tetapi sungguh2 Mesias dan sungguh2 Anak-Nya. Dan dikatakan, “Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini, sehingga IA memberikan ANAK-Nya yang tunggal dst.”

Yoh. 5 kemudian berkata, “Sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalah Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya (Ayat 19-22). RELASI khusus itu diistilahkan Ia sebagai UTUSAN. Dutabesar itu adalah UTUSAN berkuasa penuh, tetapi Ia bukan Negara, Ia bukan President, tetapi diberi otoritas penuh bertindak oleh dan atas nama Negara.

“TENTANG SETARA DENGAN ALLAH” 
Filipi 2:6-7 dalam bahasa asli Yunani kata “walaupun” tidak ada dalam teks Yunani. “Kesetaraan dengan ALLAH” dalam bahasa asli Yun. Kata ini dipakai cuma sekali dalam PB, dan sebenarnya bermakna “sesuatu yang masih dikejar.” Seperti biasa kita menyebut, supaya orang Kristen serupa dengan Kristus, suatu cita2. Jadi salah kalau dikatakan SUDAH dimiliki Yesus kesetaraan itu. LAI menurut saya dan penafsir yang lain telah membuat kesalahan utk kata ini. DAN KESETARAAN YANG DIKEJAR ITUPUN, ingat kalimat lanjutannya, “Dalam rupa (morphe) ALLAH.” INI sejalan dengan 2 Kor. 4:4 bahwa Yesus adalah “Gambaran ALLAH.”

Yesus juga menegaskan perbedaan-Nya dengan Anak seperti lagi2 Ia berkata, “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 7:16)!

Oh ya, mengenai Yoh. 1:1 itu. Penjelasannya: Dua kali disebutkan bahwa Firman “bersama-sama dengan ALLAH”; jadi tidak kata “sama” tetapi “bersama-sama.” Namun, diantaranya dikatakan “Firman itu adalah ALLAH.” Kiranya hal ini hanya dapat dimengerti, kalau Firman memang diartikan sebagai “Firman ALLAH.” 

Dari satu pihak ALLAH tidak sama dengan Firman-Nya, dari pihak lain ALLAH sungguh2 ber-Firman, sehingga dengan mendengar Firman, didengar ALLAH sendiri. Firman adalah ALLAH yang berfirman. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” artinya di dalam Kristus berfirmanlah ALLAH. Dan baca kemudian secara konsisten ayat 14 disebutkan “Kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal dari Bapa penuh kasih karunia dan kebenaran.”

MS: Sdr JG, makin kelihatan anda banyak bolong2nya, ketika menafsirkan Alkitab. Ambil contoh Fil.2 itu, anda bicara bhs Yunani, lalu mengaitkannya dengan kata “Mengejar”. Kata apa itu? Apakah bro. JG memang benar2 belajr Yunani, tidak hanya membaca buku tafsiran? Soalnya ada satu kata penting di sana yang oleh kelompok tertentu dipahami sbg mengejar, bukan mempertahankan. Kata apakah itu?

MS: Lalu soal Yoh.1:1, ya memang di sana bicara soal bersama, bukan sama. Hehehehehe…ada2 saja anda ini. Lalu, anda menulis lagi sesuatu yang fatal. Baik saya kutip, “…dikatakan “Firman itu adalah ALLAH.” Kiranya hal ini hanya dapat dimengerti, kalau Firman memang diartikan sebagai “Firman ALLAH.” TANGGAPAN SAYA: Firman adalah Allah, jelas beda dengan Firman Allah. Firman ADALAH Allah, bhs Inggrisnya (tidak usah pakai Yunani, yg gampang2 aja) “the Word WAS God”. Kalimat tsb adalah indikatif mood, sebuah penegasan bahwa Firman ADALAH Allah. Sedangkan Firman Allah, bahasa Inggrisnya “the Word OF God”, besifat kepunyaan, Allah memiliki Firman. Beda sekali, bukan? Jika pada hal mendasar saja, tidak bisa dibedakan, bagaimana dengan yg agak sulit? Jadi, jangan paksakan pemahaman anda, hanya karena tidak siap menerima arti sesungguhnya dari kalimat itu.

DHYN: Pak MS benar. Pak JG tidak mengerti apa yang sedang Pak JG bela. Bapak ini suka bikin klaim heboh tapi sama sekali keteteran construct arguments. Bapak bukannya menunjukkan sebaliknya dari teks-teks yang saya dan Pak MS ajukan, malam meloncat ke teks lain. Seharusnya Pak JG ingat, bahwa dalam diskusi logis, bapak terindikasi mengajukan irrelevant thesis fallacy. Kenapa? Karena seandainya (saya yakin tidak) bapak bisa membuktikan ide bapak berdasarkan teks lain yang bapak ajukan sendiri, tetapi tidak bisa membuktikan sebaliknya dari teks yang saya dan pak Mangapul ajukan, maka klaim bapak masih tetap berjudul KLAIM saja.

Saya ingatkan Pak JG. Dalam Alkitab “Bapa” bukan semata2 metafora. Dalam PB, “Bapa” digunakan juga sebagai nomen properium (lihat, Letham, The Holy Trinity: In Scripture, History, Thelogy, and Worship). 

“isa theo” dalam Flp 2:6 sama dengan “seseuatu yang di kejar”? Maaf Pak JG, ini salah. “isa theo” itu bicara tentang equality.[1]

Btw, silakan kembali ke teks-teks yang saya dan Pak MS ajukan untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Bila bapak tidak bisa membuktikan sebaliknya dari teks tersebut, maka klaim bapak hanya tetap sebuah klaim belaka.

================

NB: Diskusi masih berlangsung dan komentar-komentar selanjutnya akan saya arsipkan dalam bagian lanjutan note ini.


[1] Bukan “isa theo” yang dimaksudkan oleh JG. Saya salah mengidentifikasi maksud JG ketika saya memberikan komentar balasan di atas.  Kata yang dimaksudkan JG adalah “harpagmos”. Orang-orang yang tidak mengakui keallahan Yesus mengartikan kata ini sebagai sesuatu yang dikejar. Ini salah, karena konteks penggunaan kata ini justru sebaliknya. Yesus yang dalam rupa Allah justru mengosongkan diri-Nya. Dia tidak “mengejar” kesetaraan dengan Allah di sini. Dia justru merendahkan diri-Nya.  Terima kasih untuk Pak MS yang mengingatkan saya via inbox fb.