Tentang Potret Diri Manusia, Kegagalan, Keselamatan, dan Panggilan Pemberitaan Injil[1]

Fenomena Facebook: Siapakah Manusia Itu?
Akhir-akhir ini Facebook (FB) sangat digandrungi. Pendeta, Ustad, politikus, pengajar, penyair, pelajar, karyawan, dsb. Singkatnya, jika anda ingin “berjumpa” dengan semua profesi yang pernah digeluti di dunia ini, maka FB-lah tempatnya. Dengan berkumpulnya semua kalangan ini, otomatis postingan-postingannya pun beragam, sesuai latar belakang setiap orang. Anda akan menemukan puisi-puisi nan sejuk dari Nur Jehan, Emmy Sahertian, dan Bagas Dwi Bawono. Demikian pula renungan-renungan devosional dan teologis dari Johan Balukh, James Lola, dan sebagainya. Tidak ketinggalan undangan untuk menghadiri KKR dari Mangapul Sagala, ditambah lagi refleksi sosio-politis dari Yoyarib Mau. Ada yang mengeluh, ada yang mengungkapkan keriangannya, ada yang menghibur, ada yang mengkritik. Bermacam warna dan nada. Itulah FB.

Saya mencermati fenomena tersebut dan mencoba memikirkan pertanyaan ini. Siapakah manusia itu, sehingga ia, yang walaupun bentuk fisiknya kelihatan sama, tetapi memendam potensi yang tidak terkatakan? Siapakah manusia itu, sehingga tatkala burung hanya bisa berkicau dan bunga bakung hanya bisa bergoyang sembari “tersipu malu” karena hembusan angin, manusia dapat melakukan “segala-galanya”. Ia dapat menulis; ia dapat menangis; ia dapat tertawa; ia dapat berbicara (dari pelan hingga berteriak); ia dapat terlihat menyenangkan, tetapi ia juga dapat terlihat lebih kejam dari harimau yang kelaparan. Ia dapat membangun gedung yang bahkan lebih besar dari tubuhnya 1000 kali lipat. Dan sesudah itu, ia masuk ke dalamnya dan menepuk dada. Gedung yang besar nan menjulang tetapi yang menikmati dan yang merasa bangga adalah makhluk yang bernama manusia. Bagaimana mungkin makhluk yang kecil ini (baca: manusia) dapat eksis dalam berbagai warna dan potensi?

Blaise Pascal pernah merenungkan paradoks ini dan menyatakan,

Manusia hanya seperti buluh, benda terlemah di dunia, ia juga merupakan buluh bambu yang dapat berpikir. Seluruh alam semesta tidak memerlukan alat apa-apa untuk menaklukkan dia, uap dan tetesan air cukup mampu membunuh dia. Tapi meskipun alam semesta mampu menaklukkan dia, manusia akan tetap menjadi makhluk yang terhormat dibandingkan alat yang digunakan untuk membunuh dia, karena ia tahu ia pun nantinya akan mati, keuntungan yang dimiliki alam semesta ada di tangannya; dan alam semesta tidak tahu apa-apa tentang hal itu.[2]

Siapakah manusia itu?

Potret Diri Manusia: Mulia Sekaligus Hina
Kita membaca di dalam Kejadian 1:26-27 bahwa Allah memutuskan untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya.[3]  Gambar dan rupa Allah inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Manusia adalah mahkota dari segala yang diciptakan Allah (bnd. Mzm. 8:3-6).[4] Manusia tidak dapat lagi disebut sebagai manusia, jika gambar dan rupa Allah itu raib darinya. Di sisi lain, hal yang sering luput dari pengamatan kita ketika membaca Kejadian 1:26-27 adalah melihat kaitannya dengan Kejadian 2:7, di mana Allah menciptakan kita dari debu tanah. Saya memberikan penekanan kepada kedua kata tersebut untuk mengingatkan kita bahwa bahkan sejak diciptakan – ketika dosa belum menguasai manusia – manusia wajib melihat dirinya sebagai ciptaaan. Manusia bukanlah Pencipta, manusia diciptakan. Bukan hanya itu, dalam tuturan ayat tersebut, manusia diajak untuk menyadari bahwa ia adalah ciptaan yang dibentuk dari debu tanah.

Pernyataan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, mungkin tidak terlalu terasa gemanya, karena selain kita kabur akan pengertiannya, juga kita tidak familiar akan situasi historis di belakang pernyataan ini. Namun apa yang dikemukakan oleh penulis Kitab Kejadian ini sebenarnya memiliki signifikansi yang yang besar dalam konteks zamannya. Kitab ini ditulis dalam konteks di mana manusia diklasifikasi dalam dua kelompok. Para raja (misalnya Firaun) dan bangsawan dianggap sebagai “gambar dan rupa Allah”. Mereka dianggap keturunan para dewa, bahkan mengambil bagian dalam natur para dewa. Rakyat jelata, di sisi lain, dianggap sebagai “debu dan tanah.” Para bangsawan dapat memperlakukan rakyat jelata sesuka hati mereka karena hanya merekalah yang memiliki hak prerogatif untuk itu. Rakyat jelata tidak berhak menikmati kenyamanan apa pun karena status mereka sebagai “debu dan tanah”. Itulah sebabnya tidak heran para raja memperlihatkan superioritas dan otoritas mereka dengan membuat patung-patung diri mereka di seluruh negeri untuk mengingatkan rakyat jelata kepada siapa mereka harus taat, sekaligus pada saat yang sama mengingatkan rakyat jelata akan status mereka sebagai yang terendah.[5]

Jelas bahwa kepada orang-orang Israel, penulis Kitab Kejadian menandaskan bahwa SEMUA MANUSIA[6] adalah gambar dan rupa Allah. Kita dapat membayangkan betapa kalimat ini memiliki daya dobrak yang luar biasa. Dalam situasi di mana orang-orang Israel baru saja menjalani perbudakkan yang sedemikian kejam selama 300 tahun karena mereka dikategorikan sebagai “debu dan tanah”, penulis Kitab Kejadian memproklamasikan kepada mereka bahwa mereka adalah gambar dan rupa Allah. Penulis kitab ini (Musa?) mengajak mereka untuk memahami bahwa mereka memiliki harkat dan martabat yang setara dengan Firaun di Mesir. Bukan hanya Firaun yang berhak menikmati status itu. Semua orang berstatus istimewa.

Situasi ini mirip dengan apa yang terjadi pada zaman Yesus. Ketika kaum papah dan marginal di Palestina begitu putus asa akan situasi penjajahan Romawi, hadirlah Yesus dan menyatakan bahwa kepada mereka IA memberitakan tahun rahmat TUHAN telah tiba dan pembebasan bagi orang-orang miskin. Pada kesempatan lain, mereka berusaha menjadikan YESUS raja karena baru saja memberi mereka makan. Contoh lainnya, ketika arus diskriminasi dan ketidakadilan terhadap orang-orang kulit hitam di Amerika, Marthin Luther Jr. King naik ke atas podium dan mengumandangkan pidatonya yang dikenal sepanjang sejarah: I Have a Dream. Bangsa berkulit hitam yang begitu mendapat perlakuan diskriminatif, dan kepada mereka Marthin Luther Jr. King mengungkapkan bahwa ia bermimpi suatu saat situasi itu akan berbalik seratus delapan puluh derajat. Anda dan saya bisa membayangkan betapa kalimat itu terdengar seperti siraman air sejuk di tengah-tengah padang pasir yang menyengat.

Dengan kata lain, ketika penulis Kitab Kejadian mendeklarasikan sebuah pernyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kalimat ini boleh kita sebut sebagai injil (baca: kabar baik; kabar sukacita) bagi para pembacanya.

Akan tetapi, deklarasi di atas belum mengungkapkan seluruhnya tentang potret diri manusia yang seutuhnya. Para raja dan bangsawan pada waktu itu bertindak sewenang-wenang dan berfoya-foya karena mereka menganggap diri mereka sebagai gambar dan rupa Allah. Apakah tidak mungkin mereka yang membaca deklarasi ini lalu menjadi lupa diri dan mempraktikan kesombongan para raja dan bangsawan tersebut? Bisa jadi!

Beberapa waktu lalu seorang teman pernah bercerita tentang sebuah keluarga di suatu tempat. Keluarga ini sudah sejak lama hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Jangankan untuk menyekolahkan anak, untuk kebutuhan pokok sehari-hari saja sangat sulit sekali. Bertahun-tahun kondisi itu berlangsung dan sepertinya sampai mati mereka akan tetap hidup dalam kemelaratan. Meskipun begitu, mereka dikenal oleh orang-orang sekampung mereka sebagai keluarga yang harmonis dan suka menolong. Namun hal itu berubah sama sekali ketika salah seorang anak perempuannya dinikahi oleh putra dari salah seorang terkaya di kabupaten mereka. Otomatis kondisi ekonomi mereka berubah drastis. Dari tidak punya apa-apa, sekarang mereka memiliki segalanya. Rumah yang bagus, perabotan yang mahal, mobil mewah, dsb. Lalu suatu ketika, datanglah seorang tetangga mereka dulu dan meminta bantuan karena anaknya sedang sakit. Bukannya membantu, malah dengan kasar keluarga itu menolak permohonan bantuan tersebut.

Penulis Kitab Kejadian tidak membiarkan para pembaca kitab ini jatuh ke dalam perangkap itu. Dalam Kejadian 2:6-7, penulis kitab ini mengemukakan sisi yang lain dari potret diri manusia. Dia menulis bahwa manusia yang adalah gambar dan rupa Allah itu juga diciptakan dari debu dan tanah. Sebagaimana yang kita telah bahas di atas, konsep “diciptakan dari debu dan tanah” sangat dimengerti dengan baik oleh orang-orang Israel. Mereka pernah berada dalam perlakuan yang hina di Mesir dan itu, sedikit banyak, berhubungan dengan pandangan bahwa mereka adalah debu dan tanah.

Dengan mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari debu dan tanah, tampaknya penulis Kitab Kejadian ingin agar mereka yang membaca kitabnya tidak terperangkap oleh kepongahan diri karena merasa bahwa mereka adalah gambar dan rupa Allah. Seolah-olah mereka memiliki martabat dan otoritas yang tanpa batas sebagaimana yang mereka lihat di sekeliling mereka. Mereka juga harus mengingat dengan jelas bahwa mereka adalah makhluk yang rapuh dan terbatas. Richard L. Pratt kemudian melihat bahwa konsep di ataslah yang melatarbelakang pentingnya memperlakukan orang lain. Mudah sekali seorang yang teraniaya menjadi penganiaya karena hatinya pahit akan pengalaman itu. Itulah sebabnya, kepada Israel diingatkan supaya melindungi para janda, yatim piatu dan orang-orang asing (Ul. 14:29; 24:19-21). Para hakim tidak boleh berpihak (Kel. 23:6-9; Ul. 1:16-17). Alasannya bukan hanya karena Israel pernah mengalami pengalaman itu maka mereka tidak boleh mengingatnya. Alasan yang terpenting adalah bahwa semua orang adalah gambar Allah sehina, serendah, semiskin apa pun dia.[7] Meskipun begitu, kita harus selalu mengingatkan diri kita, sebagaimana yang dikemukakan Pratt, “Manusia pertama bukanlah gambar dan rupa Allah yang bertabur berlian yang indah dan mewah; ia tidak dibentuk dari logam berharga. Ia hanyalah satu sosok dari tanah liat.”[8]

Itulah Pardoksitas potret diri manusia: mulia sekaligus hina!

Kegagalan dan Jalan Keluar
Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Telah dikemukakan di atas bahwa pada waktu itu para raja cenderung membangun patung-patung di seluruh negeri kekuasaan mereka untuk mengingatkan rakyat akan siapa yang berotoritas dan mengontrol hidup mereka sesehari. Artinya, patung raja itu adalah gambar yang kelihatan dari sang raja. Patung itu sendiri bukanlah raja tetapi dia mewakili kehadiran, otoritas, dan wewenang raja. Dalam latar belakang seperti ini, penulis Kitab Kejadian mengemukakan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah. Dan itu berarti bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang mewakili, merefleksikan, dan memancarkan Penciptanya.[9] Gerhard von Rad menandaskan, “Sebagaimana raja-raja duniawi yang perkasa mendirikan patung-patung mereka di provinsi-provinsi kerajaan untuk menunjukkan kedaulatan mereka di wilayah-wilayah di mana mereka biasanya tidak pernah muncul, demikian pula manusia ditempatkan di atas bumi dalam gambar dan rupa Allah sebagai lambang kedaulatan Allah.”[10] Manusia tidak ada secara kebetulan atau karena suatu proses evolusi. Manusia diciptakan sebagai mahkota dari segala yang telah diciptakan dengan menyandang suatu tanggung jawab dari Penciptanya.

Pertanyaannya adalah apakah TUHAN memerlukan manusia untuk mewakili, merefleksikan, dan memancarkan Diri-Nya? Pertanyaan ini mungkin akan ditanyakan bahkan oleh para pembaca pertama kitab ini. Mereka sudah terbiasa mendengar mitologi Babilonia yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh para dewa. Para dewa ingin bermalas-malasan, maka mereka menciptakan manusia agar menggantikan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Anda juga mungkin ingin tahu jawaban dari pertanyaan ini. Untuk itu, ada baiknya kita menyimak pendapat dari Wayne Grudem yang pernah mengulas secara ringkas pertanyaan ini. Grudem menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan kita karena dia kesepian atau pun karena IA membutuhkan kita. Allah menciptakan kita karena IA menetapkan supaya kita yang diciptakan-Nya memancarkan kemuliaan-Nya kapan dan di mana saja.[11]

Akan tetapi, Kejadian 3 merupakan anti klimaks dari tujuan tersebut. Anti klimaks itu adalah ketika manusia menyangkali kemanusiaannya (sebagai gambar dan rupa Allah yang harus taat dan memuliakan Allah) dan ingin menjadi seperti Allah. Sejak itulah segala kemalangan, duka, dan nestapa menjumpai manusia tanpa manusia berkuasa menampiknya. Manusia, sejak itu mati di dalam dosa dan kuasa dosa. Namun jangan salah paham. Tragedi dan kemalangan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup manusia bukanlah perasaan keterasingan, peperangan, kebencian, penyakit, gempa bumi, banjir, tsunami, bahkan kematian sekalipun. Itu semua juga adalah kemalangan dan tragedi. Sesungguhnya, tragedi terbesar itu adalah ketika Adam dan Hawa memilih untuk menaati Iblis, yang olehnya membawa seluruh ciptaan ke dalam bahaya yang sedemikian besar: dosa! Dosa adalah kemalangan terbesar manusia yang darinya memancar segala bentuk tindakan kejahatan dan penderitaan.

Saya pernah memikirkan apakah Adam dan Hawa tidak mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka itu sebelum mereka melakukannya? Saya yakin mereka mempertimbangkannya tetapi perhatikan bahwa Alkitab menyatakan mengenai daya tarik dari pohon ujian itu (Kej. 3:6). Ternyata daya tarik dosa itu begitu besar sehingga memikirkan tentang konsekuensinya saja tidak cukup untuk menghentikan seseorang dari dosa. Apakah para perampok tidak mempertimbangkan bahwa konsekuensi dari tindakan mereka adalah kematian atau paling tidak penjara? Apakah para koruptor tidak mempertimbangkan bahwa satu kali kelak perbuatan hina itu akan terkuak lalu membuahkan penjara atau paling tidak hinaan dari sesama mereka? Saya yakin mereka mempertimbangkannya. Lalu apa yang mendorong mereka untuk tetap melakukannya? Jawabannya hanya satu: daya tariknya! Daya tarik itulah membuat kita berpikir bahwa konsekuensi yang akan kita tanggung itu tidak sebanding dengan kenikmatan atau kesuksesan dan sebagainya yang ditawarkan olehnya.

Sebuah kalimat yang sangat terkenal dari John Stott, yang juga sering dikutip oleh para penulis Kristen, berbunyi demikian: “[Dosa] bukan merupakan temuan para pendeta supaya mereka tetap memiliki pekerjaan; dosa adalah fakta pengalaman manusia.”[12] Dosa yang dilakukan itu bersifat memperbudak kita bahkan mendatangkan konsekuensi kekal (Rm. 3:23; 6:23a; dsb).[13]  Semua manusia HARUS dan PASTI dibinasakan. Allah adalah Allah yang suci dan kudus maka IA tidak mungkin menoleransi dosa.

Saya percaya bahwa cara pandang (perspektif) di atas benar! Tragedi inilah yang mengawali segala kemalangan manusia di bawah matahari. Akan tetapi, bukan hanya itu yang perlu diketahui manusia. Manusia juga harus tahu bahwa “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). J. Gresham Machen menulis, “Alkitab memberitahu kita bukan hanya tentang dosa manusia; Alkitab juga menyatakan kepada kita sesuatu yang lebih besar; Alkitab memberitahu kita tentang kasih karunia dari Allah yang kepada-Nya kita telah bersalah”.[14] Untuk itu, kepada mereka yang belum percaya, wajib diberitakan tentang kabar sukacita ini: kabar bahwa kini Allah telah menetapkan satu-satunya jalan keselamatan, yaitu di dalam Kristus Yesus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12; Rm. 10:14). Tidak ada jalan lain lagi!

Orang-orang Post-Modern, termasuk kaum pluralis sering kali komplain (keberatan) dengan cara pandang ini. Menurut mereka kalau keselamatan itu hanya di dalam Kristus maka itu berarti membatasi kasih Allah. Menurut mereka, eksklusivisme ini bersifat imperialistik dan triumphalistik. Ini adalah pandangan yang angkuh. Kira-kira demikian paraphrase dari keberatan mereka. Mereka bertanya, “Mengapa hanya ada satu jalan ke sorga? Bukankah ke banyak jalan ke Roma?” Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang SALAH TOTAL. Pertanyaan yang seharusnya adalah: “Mengapa masih ada satu jalan?” Bukankah Alkitab berkata bahwa manusia yang berdosa harus mati? Adakah orang yang dapat berkata bahwa dia tidak berdosa sama sekali? Jika semua manusia telah berdosa dan upah dosa adalah maut, maka keinginan untuk menemukan “banyak jalan” bukan merupakan kerendahhatian [karena mengakui keabsahan klaim agama-agama dunia]. Bukan pula keterbukaan [karena olehnya klaim-klaim agama-agama dunia mendapat tempat yang setara].[15] Ini adalah keangkuhan. Ini pula adalah penyangkalan terhadap keadilan Allah, sekaligus pelecehan terhadap kasih Allah yang berdaulat. Jika Allah adalah adil [karena IA mahasuci], maka IA tidak berlebihan jika IA menetapkan bahwa dosa mesti berbuah maut. Jika Allah mahakasih, dan kasih-Nya adalah kasih yang berdaulat, maka bukan merupakan imperialisme dan triumphalisme, jika IA menetapkan jalan satu-satu-Nya di dalam Kristus. Jadi adalah sikap yang sombong dan tidak tahu berterima kasih kalau jalan satu-satunya bagi keselamatan kita yaitu melalui Yesus Kristus ditolak karena kita merasa bahwa tersedia banyak jalan ke sorga. Seharusnya kita mengaku bersama Paulus sambil bersyukur karena “…oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).

Panggilan Pemberitaan Injil; Panggilan Pemulihan Gambar Allah
Sebenarnya pada bagian terakhir poin di atas, kita telah menyinggung soal panggilan dan urgensi (pentingnya) pemberitaan Injil, yaitu karena hanya ada satu jalan keselamatan: Kristus Yesus! Meskipun begitu, pada bagian ini saya akan memusatkan perhatian pada beberapa isu yang sering kali diabaikan dalam pembahasan tentang panggilan pemberitaan Injil.

Dari abad ke abad, Amanat Agung Yesus Kristus (Mat. 28:19-20) mayoritas dikaitkan secara spesifik dengan dosa.[16] Janji tentang “keturunan perempuan” (the seed of the women) dalam Kejadian 3:15, dilihat sebagai proto evangelium (janji Injil yang pertama). Dan kita tahu bahwa janji itu dicetuskan TUHAN pasca kejatuhan manusia. Manusia dianggap telah berada di bawah kuasa maut karena telah mengingkari perintah TUHAN dengan menuruti bujukan Iblis (Rm. 3:23; 6:23a; bdn. Kej. 2:16-17; dsb). Cara pandang ini menempatkan proto evangelium tersebut sebagai jalan keluar yang dijanjikan oleh Allah sendiri, yang nantinya digenapi di dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya, ketika Kristus telah menggenapi tugas kemesiasan-Nya di bumi (berinkarnasi, melayani, menderita, mati, dan bangkit), IA memberikan perintah supaya segala bangsa dijadikan murid-Nya.[17] Dan memang demikianlah seharusnya kita melihat pokok ini.

Seperti yang sudah Anda baca, pokok penekanan di atas juga mewarnai isi artikel ini. Meskipun demikian, saya percaya bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar masalah dosa lalu pemberitaan Injil itu menjadi penting. Sebagaimana telah dijelaskan di awal artikel ini bahwa sebelum manusia berdosa, mereka adalah gambar dan rupa Allah. Dan juga menjadi semacam kesepakatan bersama oleh mayoritas sarjana Reformed bahwa gambar dan rupa Allah itu tidak hilang, melainkan rusak total saat manusia berdosa. Dan saya juga menganut pandangan ini. Maksud saya, jika perspektif ini benar maka kita harus mengaku bahwa manusia yang telah diperbudak oleh dosa itu pun masih merupakan gambar Allah (tentu gambar Allah yang sudah rusak total tapi toh masih tetap gambar Allah). Artinya sebagai gambar Allah, walaupun dalam kondisi berdosa, mereka tetaplah makhluk yang harus dipahami, didekati, diperlakukan sebagai makhluk yang berharkat dan bermartabat, siapa dan apa pun status sosialnya dalam masyarakat.

Mengenai pentingnya konsep ini ditekankan akan saya jelaskan dalam bentuk analogi sebagai berikut. Tatkala anda melihat seorang nenek tua renta, berpakaian compang-camping, anda tahu bahwa di bukan orang Kristen. Anda berniat memberitakan Injil kepada dia. Pertanyaan saya, apakah yang ada dalam benak saudara mengenai perempuan tua tersebut? Pasti perasaan iba, tetapi bukan itu saja. Saudara kemungkinan besar berpikir – tentunya sebagai seorang Injili – bahwa orang ini adalah orang berdosa yang sedang berada di jalan kebinasaan. Dia harus adalah yang dilaknat Allah karena hidup di luar Kristus. Namun sayang sekali, perempuan itu menolak mentah-mentah maksud baik anda.

Sekarang saya mengajak anda untuk membandingkan contoh di atas dengan contoh berikut. Anda melihat perempuan yang sama dan anda mengingat bahwa semua manusia adalah gambar dan rupa Allah. Semua manusia bermartabat dan berharkat karena status tersebut. Anda juga sadar betul bahwa gambar dan rupa Allah itu telah rusak oleh dosa. Anda mendekati dia bukan hanya sebagai orang berdosa tetapi gambar dan rupa Allah yang sudah rusak (baca: berdosa). Anda memberitakan Injil namun sayang ia tidak dapat menerima maksud baik anda.

Dua contoh di atas sangat mirip tetapi berbeda dalam cara pandang kita terhadap mereka yang kita injili. Yang pertama cenderung menekankan tentang ketidaklayakan mereka yang diinjili. Yang kedua menghormati dan menghargai mereka sebagaimana seharusnya (karena mereka adalah gambar Allah). Tentu ada sebagian orang yang telah terkondisi dengan tataran sikap sopan santun yang dapat menunjukkan sikap itu terhadap siapa pun. Namun penekanan saya di sini bukan sekadar pada bagaimana kita memperlakukan mereka, melainkan juga pada bagaimana kita memandang mereka.

Itulah sebabnya, menurut saya – dan tentunya jika analisis di atas benar – kita dapat menyebut tugas pemberitaan Injil sebagai tugas pemulihan gambar Allah. Tentu bukan kita yang memulihkan gambar Allah itu. Itu adalah karya dan anugerah Tuhan semata. Ini berbicara mengenai tujuan pekabaran Injil itu sendiri. Injil diberitakan kepada seseorang bukan sekadar karena di manusia berdosa yang harus diampuni dosanya, melainkan juga karena dia adalah gambar Allah yang rusak total dan mesti dipulihkan di dalam Kristus. Itulah panggilan pemulihan gambar Allah.

Selain itu, kita dapat menarik implikasi dari pembahasaan ini bagi para pemberita Injil sendiri. Para pemberita Injil adalah mereka yang dipanggil untuk menunaikan tugas khusus, yaitu mengabarkan berita keselamatan hanya di dalam Kristus secara penuh waktu. Kita dapat berkata bersama Paulus bahwa kita adalah orang-orang yang hina karena dulu tertawan oleh dosa dan kini melayani setelah dibebaskan oleh Kristus, Sang Juruselamat itu (1Kor. 15:9dst). Bahkan berulang kali Paulus menyebut dirinya doulos (budak) Yesus Kristus. Konsep ini sering kali dikarikaturkan (disalahmengerti) seolah-olah sebagai budak (baca: seorang pemberita Injil) tidak memiliki hak sama sekali.[18] Kalau kita membaca 1 Korintus 9, Paulus berbicara mengenai hak-haknya sebagai pemberita Injil. Dan kita dapat memastikan bahwa hak-hak itu tidak cocok dibicarakan jika dia memahami dirinya sebagai budak dalam pengertian yang sesungguhnya.[19] Jika mereka yang masih hidup di dalam dosa saja masih tetap gambar Allah yang bermartabat dan berharkat, bukankah aneh kalau seorang yang sudah dipulihkan justru diperlakukan seperti budak?[20]

Panggilan Kita: Dari Eden ke Tanah Timor
Di Eden, manusia diciptakan dengan harkat dan martabat yang luar biasa supaya mereka hidup mewakili dan memuliakan Allah. Harkat dan martabat itu masih berlaku sekarang. Karena tidak satu kali pun harkat dan martabat itu dapat ditiadakan lalu manusia masih tetap menjadi manusia. Ingatlah kita pun adalah orang-orang yang menyandang harkat dan martabat dari Allah, maka jangan rendahkan itu dengan tindakan-tindakan yang sebaliknya. Sebagaimana manusia pertama diciptakan untuk mewakili, merepresentasikan, dan memancarkan kemuliaan Allah, demikian pula kita yang hidup di Tanah Timor saat ini. Panggilan dan tujuan itu tidak pernah dibatalkan. Di Eden, di sebuah kebun nan indah, panggilan itu pernah dicetuskan. Sekarang, di Tanah Timor (tanah yang berbatu-batu, yang diplesetkan: batu bertanah-tanah) pun  panggilan itu perlu kembali diperdengarkan.

Meskipun begitu, perlu juga kita mengingat hal lain yang tidak kalah pentingnya. Di Eden, manusia pertama berdosa dan menjadikan seluruh umat manusia menjadi berdosa dan diperbudak oleh dosa. Alkitab katakan bahwa adapun manusia, segala kecenderungan hatinya hanya membuahkan dosa semata (Kej. 6:5). Sekarang di Tanah Timor, hendaknya kita bukan hanya mengenang dan menyadari status dosa manusia (kita). Sampai hari ini Tanah Timor telah disebut Tanah Injil, karena Allah telah memenangkan hati dan hidup kita, lalu menaklukkannya kepada Kristus. Itulah sebabnya, di sini – jika di Eden Adam dan Hawa mengkhianati kepercayaan Allah – kita kembali berikrar bahwa “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Ikrar itu bukan semata-mata demi diri kita, bahwa kita adalah orang beriman; ikrar itu juga mendorong kita untuk menyerahkan diri dan berkata, “Ini aku, utuslah aku” (Yes. 6:9-10; bnd. Flp. 1:22). Janganlah sampai kita menjual warisan alkitabiah ini demi satu mangkuk pluralisme yang kacau itu.

Dolly Parton seorang penyanyi lagu-lagu country yang sangat terkenal dengan lekak-lekuk suaranya yang merdu, pernah menyanyikan sebuah lagu berjudul: Wild Flowers. Penggalan syair dalam lagu tersebut berbunyi demikian: “…wild flowers don’t care where they grow” (bunga-bunga liar tidak peduli di mana mereka tumbuh). Tentu kita yang hidup di Tanah Timor bukanlah wild flowers (bunga-bunga liar) itu. Kita ada di sini karena ada maksud yang mulia. Kita sekalian ditempatkan di Tanah Timor sekarang karena ada rencana yang indah, di mana kita sekalian sedang memenuhi panggilan untuk menjadi seorang pemberita Injil (dalam kata dan perbuatan), yang adalah duta Kristus. Seorang duta yang berbicara dan melakukan segalanya atas nama Kristus. Betapa mulianya panggilan ini. Dan berbahagialah kita sekalian yang dipanggil untuk terlibat dalam proyek maha penting ini.

Ingat, kita sekalian adalah gambar Allah yang berharkat dan bermartabat, maka hiduplah secara berharkat dan bermartabat. Bukan hanya itu, kita sekalian juga dipanggil sebagai duta Kristus, maka bertekunlah dan giatlah menunaikan tugas itu. Bukankah seorang duta wajib dan harus mengupayakan yang terbaik sebagaimana yang ditugaskan kepadanya? Ketika kita sekalian berdiri dan memberitakan Injil, hendaknya kita mengingat pula dengan jelas bahwa mereka yang mendengarkan itu adalah gambar Allah yang rusak total. Mereka membutuhkan pemulihan; pemulihan sebagai gambar Allah yang harus dituntun untuk membawa seluruh hidup mereka kepada Tuhan.

Meskipun begitu, Alkitab berkata, “segala sesuatu ada waktunya.” Waktu sekarang adalah waktu di mana kita sekalian harus dipersiapkan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, sehingga pada waktu kita berdiri atas nama Kristus, mereka yang mendengarkannya tidak mengolok-olok kita lalu Kristus dipermalukan karena mereka menganggap kita tidak cukup qualified untuk menjadi duta Kristus. Perjalanan sudah, sedang, dan terus dimulai dan akan banyak rintangan, tetapi tetaplah setia dan jangan tawar hati. Jika Tuhan yang memanggil kita, maka DIA pulalah yang akan membimbing, menyertai, menguatkan, dan menghibur kita sampai tiba waktunya kita dipanggil pulang ke rumah bapa atau pada waktu Kristus datang kembali. Sekali lagi, jangan pernah ragukan itu. Allah Di Eden dahulu kala, dan Allah yang kita agungkan di seantero Tanah Timor adalah Allah yang sama. Dia tidak berubah bahkan tidak pernah berubah. Dia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Maka kalau Dia berkata, “Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20), Dia pasti menepatinya!


[1] Artikel ini pernah dipublish di website Pemuda GMIT dengan judul: Dari Eden Ke Tanah Timor, Tentang Potret Diri Manusia, Kegagalan, Keselamatan, dan Panggilan Pemberitaan Injil. Di sini, saya memostingnya persis sama isinya dengan yang diposting di website Pemuda GMIT pada waktu itu.

[2] Blaise Pascal, Selections from the Thoughts, terj. Arthur H. Beattie (New York: Appleton-Century-Crofts, 1965), 68.

[3] bĕşalmēnû kidmûtēnû (MT); kat’ eikona hēmetern kai kath’ homoiōsin (LXX); ad imaginem et similitudinem nostrum (Vulg). Informasi ini kemudian memicu bukan hanya diskusi, melainkan polemik berkepanjangan di kalangan teolog-teolog Kristen. Dalam sejarah, sejumlah pendapat telah dicetuskan mengenai makna gambar dan rupa Allah. Ada yang memahaminya sebagai kapasitas moral dan rasional manusia. Ada yang menitikberatkan pada aspek komunitasnya (manusia diciptakan sebagai pria dan wanita). Ada yang menekankan tentang aspek fungsional, yaitu dalam hal penguasaan (dominion). Ada yang mengedepankan aspek spiritualitasnya. Ada pula yang menonjolkan aspek representatifnya (bersifat mewakili Allah), dsb. Meskipun begitu, tampak pendapat yang representatif adalah yang pernah dicetuskan oleh Herman Bavinck bahwa gambar dan rupa Allah itu mencakup keseluruhan manusia itu. Manusia adalah  gambar Allah dan bukan sekadar menyandang gambar Allah. Lihat pembahasan mengenai hal ini, misalnya dalam: Herman Bavinck, Reformed Dogmatics: God and Creation, Volume Two, ed. John Bolt, trans. John Vriend (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2004), 533-562; Robert A. Pyne, Humanity and Sin,” dalam Understanding Christian Theology, eds. Charles R. Swindoll & Roy B. Zuck (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson Publishers, 2003), 673-678; Anthony A. Hoekema mendaftarkan pendapat dari tokoh-tokoh penting dalam teologi Kristen mengenai makna gambar dan rupa Allah, seperti: Ireneus, Aquinas, Calvin, Barth, Brunner dan Berkouwer (Manusia: Ciptaan menurut Gambar dan Rupa Allah, terj. Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2003], 43-84. Karl Barth, Church Dogmatics, III/1 (Edinburgh: T. & T. Clark, 1958), 184

[4] Para teolog sering menyebut Mazmur 8:3-6 sebagai “komentar devosional tentang Kejadian 1” (lih. Pyne, “Humanity and Sin,” 677-678).

[5] John H. Walton, Genesis (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2001), 27-36; Bruce K. Waltke, Genesis, A Commentary (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2001), 65-66.

[6] Istilah “Semua Manusia sebagai gambar Allah” memang tidak terdapat dalam Kejadian 1 dan 2, namun gagasan mengenai hal ini dapat dideduksi dari teks tersebut.

[7] Richard L. Pratt Jr., Dirancang bagi Kemuliaan, terj. Yvonne Ptoalangi (Surabaya: Momentum, 2002), 18.

[8] Ibid., 11.

[9] Lihat penjelasan mengenai arti rupa dan gambar dalam: Walton, Genesis, 130-131; Waltke, Genesis, 65-66.

[10] Dikutip oleh: John Stott, Isu-isu Global, Menantang Kepemimpinan Kristiani, terj. G. M. A. Nainggolan (Jakarta: YKBK, 1996), 151-152.

[11]  Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Nottingham: InterVarsity Press, 1994), 440-441.

[12] John R. W. Sott, Basic Christianity (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1967), 61.

[13] Ibid., 75-76.

[14] J. Gresham Machen, The Christian View of Man, (Reprinted Edition; Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1995), 72.

[15] Topik mengenai klaim kemutlakkan dalam agama-agama dunia, memang topik yang sulit dan hangat didiskusikan. Kekristenan (yang eksklusive) memiliki jawaban untuk topik ini. Namun demikian, penulis mencadangkannya untuk pembahasan pada kesempatan lain.

[16] Robert J. Priest menyatakan, “…konsep manusia berdosa merupakan titik pusat dari usaha penginjilan para misionaris. Baik teologi Injili maupun panggilan misi dan penginjilan, semua menekankan bahwa arti salib dan kebutuhan akan penginjilan dan misi, tidak dapat dilepaskan dari dosa manusia” (“Antropologi Kebudayaan: Dosa dan Misionari,” dalam Allah dan Kebudayaan, eds. D. A. Carson & John D. Woodbridge, terj. Helda Siahaan & Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2002], 106)

[17] Dalam LAI, Matius 28:19-20 memberi kesan seolah-olah terdapat empat perintah (pergi, jadikan murid, membaptis, dan mengajar). Sebenarnya nats ini hanya mengandung satu kata perintah (imperative), yaitu matheteusate (jadikan murid). Kata-kata lainnya (pergi, membaptis, dan mengajar) ditulis dalam bentuk partisip. Dalam bahasa Yunani, bentuk partisip digunakan untuk menjelaskan tentang kata kerja utamanya. Jadi, dalam rangka menjadikan murid, kita harus pergi, membaptis, dan mengajar mereka untuk mengenal dan melakukan segala kehendak Tuhan.

[18] Dalam konteks zaman itu, seorang budak boleh dikatakan manusia yang layak untuk tidak dimanusiakan orang lain. Karena status itu mengungkapkan bahwa ia boleh diapakan saja oleh tuannya, bahkan membunuh dia sekalipun itu bukan merupakan pelanggaran. Para budak, boleh dikatakan hampir-hampir tidak berharga!

[19] Beberapa penafsir mengingatkan kita bahwa penggunaan istilah “budak” (doulos) oleh Paulus bagi dirinya, merujuk kepada sikap takluk dan tanggung jawab mutlak yang dituntut dari dirinya sebagai seorang pemberita Injil. Kristus adalah Tuan dan Paulus adalah pelayan-Nya.

[20] Saya tidak mengatakan bahwa seorang pemberita Injil itu adalah orang yang istimewa dan harus dinomorsatukan. Tidak! Yang saya tekankan di sini adalah kita terlampau memiliki “kerendahhatian” yang tidak dianjurkan Alkitab. Sikap semacam itu adalah perendahan bahkan penyangkalan terhadap kemuliaan gambar Allah yang telah dipulihkan di dalam Kristus. Jangan juga mengajukan keberatan bahwa para rasul sering tidak menggunakan hak mereka bahkan boleh dikatakan tidak memiliki apa-apa (secara material) dalam hidup mereka. Saya setuju itu. Akan tetapi sikap itu lahir dari diri mereka sendiri yang melihat urgensi yang lebih besar daripada sekadar menumpuk kekayaan atau menggunakan hak-hak mereka sebagai rasul. Itu adalah kerelaan dan bukan sistem yang diatur secara eksternal.