Bruce Metzger dan Barth D. Ehrman adalah dua pakar Textual Criticism yang ternama. Tapi apa yang membedakan kedua “giants” ini? 
Berikut adalah cuplikan kata-kata mendiang Bruce Metzger ketika diwawancarai oleh Lee Strobel: 

Strobel: “All these decades of scholarship, of study, of writing texbooks, of delving into the minutiae of the New Testamen text – what has all this done to your personal faith?” 

Metzger: “Oh, it has increased the basis of my personal faith to see the firmness with which these materials have come down to us, with a multiplicity of copies, some of which are very, very ancient.” 

Strobel: “So, scholarship has not diluted your faith” 

Metzger: “On the contrary, it has built it. I’ve asked questions all my life, I’ve dug into the text, I’ve studied this throughly, and today I know with confidence that my trust in Jesus has been well placed…very well placed!” 

(The Case for Christ, 63-64) 

Di sisi lain, Ehrman, ketika berupaya membela ketidakbersalahan Alkitab dalam papernya tentang Markus 2:26, mendapat respons yang tidak terduga dari profesornya. Sang profesor berkata kepadanya, tidakkah mungkin Markus melakukan kesalahan? Respons ini, “mencelikkan mata” Ehrman dan seketika Alkitab menjadi buku yang sangat biasa dalam pandangannya. 

—————— 
Reflleksi singkat: Apa yg salah pada Ehrman, sehingga satu pernyataan kecil dari profesornya langsung membuat Ehrman mengalami titik balik yang drastis dari iman Kristianinya dan menjadi seorang agnostik? Mungkinkah, pada tempat pertama di mana ia mengaku telah lahir baru, pada titik itu, sebenarnya tidak pernah ada iman yang sejati? Hmm..satu pernyataan..dan Ehrman menjadi agnostik!