Artikel refleksif ini saya tulis pada tahun 2010, ketika Gereja HKBP Pondok Timur, Bekasi diserang oleh sekelompok orang “beragama”. 

Pendahuluan
Beberapa hari lalu, saya membaca postingan berita dari seorang kawan di Forum Accademia NTT bahwa telah terjadi penyerangan secara beringas dan biadab oleh sekelompok massa terhadap jemaat HKBP Pondok Timur, Desa Ciketing Bekasi, pada tanggal 8 Agustus 2010. Di katakan bahwa dalam penyerangan tersebut, Pdt. Luspida Simanjuntak dan beberapa anggota jemaat wanita telah dipukul dan diinjak-injak.

Pasca kejadian tersebut, para tokoh lintas agama, seperti: KH Hasyim Muzadi (Mantan Ketua Umum PBNU) dan Prof. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah) mengutuk keras serangan tersebut. Presiden SBY bahkan menginstruksikan  Menko Polhukam untuk menangani kasus  tersebut.

Menurut informasi terbaru, pada Hari Minggu, 15 Agustus 2010 (pukul 13.00 WIB – selesa), akan diadakan Ibadah Bersama di depan Istana Merdeka yang akan dihadiri oleh berbagai denominasi Gereja untuk menunjukkan solidaritas sekaligus meminta perhatian pemerintah terhadap kasus tersebut.

Berhubungan dengan peristiwa yang tidak manusawi di atas (dan yang tentu sederetan peristiwa serupa terhadap Gereja dan institusi-institusi Kristen lainnya), saya mengingat apa yang ditulis oleh Paulus dalam Galatia 1:13 dan akan saya sharing-kan sebagai berikut.

Signifikansi Kata “Ediokon” dan “Eporthoun
Dalam Galatia 1:13, Paulus menulis: “Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.” Hal yang menjadi perhatian khusus saya dalam ayat ini dalam hubungan dengan topik di atas adalah penggunaan dua kata kerja dalam tense imperfek, yaitu: kata ediokon (menganiaya) dan eporthoun (menghancurkan).

Sebelum menjelaskan tentang signifikansi kedua kata di atas, saya ingin menerangkan secara singkat pengertian dasar dari tense imperfek. Tense imperfek, dapat dikatakan “terbatas” sekaligus “serba guna” dalam penggunaannya. Dikatakan “terbatas” karena karena tense ini hanya digunakan dalam modus indikatif. Meskipun begitu, dalam penggunaannya tense ini memiliki beberapa nuansa makna yang menarik. Secara mendasar, tense imperfek mengekspresikan suatu “linear action in past time”. Tindakan yang dirujuk melalui tense ini dapat berupa: “repetitive, prolonged or just beginning.” Kadang-kadang, tense imperfek juga digunakan untuk mengekspresikan suatu usaha yang berulang (repeated attempt).

Signifikansi kata ediokon secara sederhana merujuk kepada “repeated action in the past.” Artinya Paulus menyatakan bahwa dulu dia sering menganiaya orang-orang percaya. Sedangkan kata eporthoun mengekspresikan suatu upaya yang tendesius (attempted action). Artinya Paulus berupaya menghancurkan Gereja dengan sedemikian tendensiusnya. Nuansa makna inilah yang ingin dimunculkan oleh NIV dengan menambahkan kata “tried” (LAI menambahkan kata “berusaha”) yang sebenarnya tidak ada di dalam bahasa Yunani teks ini.

Dulu, Paulus berulang kali menganiaya bahkan berupaya dengan sekuat tenaga untuk menghancurkan Gereja, namun pada akhirnya “his action were only attempts, and feeble ones at that.” Janji Tuhan Yesus bahwa “…alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18), tetap kokoh terbukti dan akan terus terbukti demikian. Bahkan Paulus si penganiaya itu telah menorehkan namanya dalam sejarah Gereja sebagai seorang rasul, pastor, teolog, dan misionaris yang outstanding.

Penutup
Saya tidak menganut teolog pasifisme yang percaya bahwa karena berada dalam lindungan Tuhan maka kita wajib selalu nrimo apa pun yang dilakukan secara biadab terhadap Gereja. Tidak! Gereja mesti berupaya dengan sedemikian maksimalnya (tentunya sesuai dengan koridor Firman Tuhan) untuk menunjukkan kepada lingkungan sekitarnya bahwa Gereja tidak boleh diperlakukan semena-mena. Gereja, sebagai unsur sah dalam Negara Republik Indonesia ini mesti mendapat perlindungan dan kebebasan dari Negara untuk menjalankan fungsi dan eksistensinya tanpa intimidasi dari pihak mana pun. Dan untuk itu saya menyatakan solidaritas serta dukungan yang sedalam-dalamnya bagi upaya yang dilakukan oleh Jemaat HKBP tersebut di atas dalam meminta perhatian pemerintah atas apa yang sudah mereka alami.

Pada saat yang sama, saya juga percaya bahwa tak akan ada satu usaha, bahkan yang paling keras dan hebat pun, yang mampu menghancurkan apalagi melenyapkan Gereja dari muka bumi ini. Dan sejarah dengan jelas memberikan kesaksian mengenai kebenaran ini. “Semakin dibabat, semakin merambat,” inilah kalimat yang rasanya sangat cocok menggambarkan realitas ini. Mengapat? Karena Tuhan Yesus menjaga Gereja-Nya!