Teks Kunci: Matius 5:38-48
Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

Pendahuluan
Teks di atas anggap sebagai teks kunci (key text) dalam membahas salah satu isu etis yang cukup krusial: Bolehkah mempraktikkan kekerasan untuk mempertahankan/memperjuangkan keadilan? Berdasarkan teks ini, tampaknya kita mesti memberikan jawaban negatif terhadap isu ini. Meskipun begitu, pengalaman keseharian menyodorkan kepada kita situasi-situasi yang mengisyaratkan bahwa tindakan kekerasan diperlukan untuk melawan kejahatan. Contoh terkenal yang sering dikutip adalah keputusan Dietrich Bonhoeffer untuk berpartisipasi dalam sebuah komplotan untuk membunuh Hitler. Hal yang sama dapat ditemukan dalam beberapa variasi dari Teologi Pembebasan (Liberation Theology) yang mendukung kekerasan revolusioner melawan para penindas. Pemikiran Agustinus dalam The City of God, yang biasanya dijadikan salah satu basis yang mendukung orang-orang Kristen untuk menjadi polisi atau angkatan bersenjata lainnya, dianggap memberikan clue mengenai penggunaan kekerasan dalam membela keadilan.

Kita tentu memiliki banyak contoh yang dapat ditambahkan pada paragraf di atas, namun ini mengharuskan kita untuk bertanya: Norma seperti apakah yang digariskan oleh PB berhubungan dengan isu di atas? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan membuat survai singkat mengenai bagaimana para ahli memahami Matius 5:38-48. Karena teks inilah yang akan menjadi dasar analisis saya untuk menjawab isu di atas.

Sejarah Eksegesis Matius 5:38-48
Sepanjang sejarah, Gereja telah “dibingungkan” oleh teks ini. Pesannya jelas sekaligus memuat tuntutan yang sangat sulit bagi setiap orang yang ingin memegang teguh pengajaran Yesus. Para penafsir telah berupaya untuk menemukan cara yang “aman” dalam menjelaskan arti dan aplikasi teks ini bagi kita.

Di bawah ini saya akan mencantumkan ringkasan dari enam pandangan mengenai teks ini.

  1. Teks di atas menawarkan sebuah visi mengenai hidup pada masa eskatologis; jadi, teks ini tidak dapat dimengerti secara literal untuk diaplikasikan dalam kondisi-kondisi ke-dunia-an kita. Sebutan Reinhold Niebuhr: “impossible ideal” merupakan representasi dari gagasan ini.
  2. Teks ini dipahami sebagai “interim ethic” bagi para pengikut Kristus yang pada saat itu berasumsi bahwa akhir dari sejarah akan segera terjadi. Dan itulah sebabnya mereka berusaha hidup dalam prinsip-prinsip etis yang perfek ini. Tafsiran ini merupakan kebalikan dari pandangan di atas, yang memahami bahwa pengajaran dari teks tersebut bukanlah sebuah “ulitemate ideal” melainkan sebuah cara hidup temporer yang lahir dari antusiasme yang berlebihan mengenai eskatologi.
  3. Teks ini secara literal melarang pembelaan diri (self-defense), tetapi tidak menghalangi kita untuk berjuang (fighting) semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan. Ini adalah pandangan Agustinus mengenai teks ini.
  4. Teks ini merupakan “nasihat mengenai kesempurnaan” (counsel of perfection; lih. ay. 48). Karena itu hanya dapat diaplikasikan oleh golongan tertentu dalam kekristenan, misalnya: para klerus, bukan dimaksudkan bagi orang Kristen secara keseluruhan.
  5. Teks ini menunjukkan bahwa kita tidak mungkin memenuhi secara sempurna (bnd. Mat. 5:20). Jadi, teks ini sebenarnya bertujuan meyakinkan kita akan ketidakmampuan kita dan kebutuhan kita akan anugerah. Ini adalah pembacaan yang bersifat introspektif terhadap teks ini.
  6. Teks ini mesti dipahami berdasarkan setting sosialnya. Dengan demikian, scope aplikasinya dilimitasi. Misalnya “jangan melawan orang jahat” (ay. 39) mesti dilimitasi dalam pengertian “Jangan membawa orang jahat ke pengadilan”. Atau “musuh” merujuk hanya kepada orang-orang jahat yang hidup di wilayah Palestina, bukan di luar wilayah Palestina atau musuh-musuh politis.

Pada lanjutan note ini, saya akan mengemukakan pandangan saya mengenai teks ini dalam hubungan dengan isu yang terlontar pada judul di atas. Bersambung :)