Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengans seorang penganut Arianisme yang percaya bahwa Yesus bukan Allah. Yesus adalah Anak Allah. Sebagai Anak Allah, Yesus tidak setara dengan Bapa. Yesus hanyalah utusan Allah. Singkatnya, Yesus bukan Allah.

Setelah berdiskusi, saya berpikir ada baiknya menulis tentang gagasan teologis di balik gelar Anak Allah bagi Yesus. Untuk itu, dalam artikel bagian pertama ini, saya akan memulai ulasan saya tentang gelar Anak Allah dari latar belakang penggunaannya di dalam PL, maupun di dalam sejumlah literatur pada periode Intertestamental (atau Second Temple Period). Selanjutnya, saya akan mengulas mengenai penggunaan gelar ini dalam PB, khususnya Kitab-kitab Injil.

“Anak Allah” dalam PL
Bila kita memulainya dengan merujuk kepada penggunaan bentuk jamak: “anak-anak Allah” dalam PL, maka kita akan mendapati penerapannya secara khusus kepada para malaikat (Kej. 6:2, 4; Ul. 32:8; Ayb. 1:6; 2:1; 38:7; Mzm. 29:1; 82:6; 89:6). Memang, beberapa penafsir menyanggah kesimpulan ini, khususnya penggunaannya dalam Kejadian 6:1-4. Dan ruang yang terbatas di sini tidak mengijinkan saya untuk mendiskusikannya secara luas. Meski begitu, secara leksikal, frasa “anak-anak Allah” di sini seharusnya dipahami merujuk kepada para malaikat. Rujukan ini didukung, misalnya, dalam LXX yang menerjemahkan “bene elohim di sini dengan angeloi (malaikat-malaikat; bnd juga Ul. 32:8; Ayb. 1:6; 2:1; 38:7). Selain itu, frasa “anak-anak Allah” dapat juga merujuk kepada para penghuni surga.

Bentuk tunggal “anak Allah” merujuk kepada Israel, dimana istilah ini menandai hubungan kovenantan dan spesial antara Allah dan Israel. Dalam Keluaran 4:22, Israel di sebut sebagai “putra sulung” Allah (LXX: huios prototokos). Sebutan ini mengindikasikan bahwa Israel menikmati suatu posisi istimewa sebagai “anak Allah” (bnd. Yer. 31:9). Kerajaan Utara yang juga disebut “Efraim”, digelari “anak yang kekasih” (LXX: huios agapetos; Yer. 31:20). Peristiwa keluarnya Israel dari Mesir ditenggarai sebagai peristiwa pembebasan “anak-Ku” (Hos. 11:1). Walaupun tidak terlalu sering, namun kita juga menemukan beberapa rujukan bahwa Tuhan menampilkan dan menyebut diri-Nya sebagai Bapa bagi Israel (Ul. 32:6; Yer. 3:4) atau juga dalam bentuk maternal imagery – seperti ibu yang melahirkan umat-Nya (Ul. 32:18). Di beberapa tempat, bentuk jamak “anak-anak” merujuk kepada hubungan ke-Bapa-an Allah dengan Israel (Ul. 14:1; Yes. 43:6), walau kadang-kadang, disertai penekanan bahwa dalam relasi istimewa itu pun Israel tetap berkhianat (Ul. 32:5; Yes. 45:11; Hos 1:10). Singkatnya, dalam penggunaan-penggunaan ini, relasi kovenan antara Yahweh dan Israel sedang mendapat penekanan.

Selanjutnya, keturuan Daud yang akan menduduki takhta Daud pun disebut sebagai anak Allah. Allah berelasi dengannya sebagai seorang Bapa terhadap seorang anak, dan tidak akan menarik kembali perjanjian kasih karunia-Nya darinya (2Sam. 7:14-15; 1Taw. 17:13-14; 22:10; 28:6-7). Ide ini kemudian terungkap juga dalam Mazmur 89, dimana pemazmur merayakan ketidakterputusan kovenan Allah dengan keturunan Daud, serta menggunakannya sebagai basis untuk memohon agar Allah berkenan memenuhi janji-Nya. Keturunan Daud itu akan menyebut Allah sebagai Bapa dan batu karangnya. Sebaliknya, Allah akan menganggapnya sebagai “yang sulung” (LXX: prototokos), raja di atas segala raja di muka bumi (Mzm. 89:26-27). Dia yang akan duduk di atas takhta Daud dan yang akan memerintah dalam damai dan keadilan, adalah “anak” Allah (Yes. 9:6). Bagian ini sekaligus menyiratkan tentang relasinya yang unik dengan Allah. Menurut Mazmur 2, bangsa-bangsa berikhtiar mencelakai raja yang diurapi Allah tersebut. Tetapi, Allah yang telah mengangkatnya sebagai “anak” akan menobatkannya sebagai raja atas seluruh bumi. Segala bangsa akan tunduk dan bersujud kepada sang “anak”, sedangkan yang tidak tunduk kepadanya akan dibinasakan (Mzm. 2:12).

Jadi, PL menggunakan istilah “anak Allah” dalam rujukan kepada Israel dan juga keturunan Daud yang akan memerintah sebagai raja. Keturunan Daud ini menerima janji kovenan yang setara dengan Israel. Bahkan ia adalah representasi dari seluruh Israel. Ia berfungsi sebagai “Israel’s covenantal head”, yang melaluinya seluruh janji kovenan akan digenapi bagi Israel.

“Anak Allah” dalam Literatur-literatur Periode Intertestamental
Pada periode Intertestamental, gelar “anak Allah” tampaknya telah luas digunakan sebagai gelar mesianik.[1] Beberapa teks dari Qumran menyebutkan bahwa Mesias adalah Anak Allah (bnd. 4QFlor 1 I, 10-12 yang mengutip 2Sam 7:12-14; 1QSa II, 11-12 yang berbiara tentang memperanakkan Mesias; 4Q369; 4Q246). Dalam 4 Ezra, Mesias juga disebut sebagai Anak Allah (7:28-29; 13:32, 37, 52; 14:9). Dalam bagian-bagian ini, Mesias yang dinantikan itu akan membawa damai dan menegakkan kembali pemerintahan Israel. Mesias ini adalah Anak Allah.[2]

Penutup
Dalam telusuran di atas, penggunaan gelar “anak Allah” memang tidak menunjukkan status keilahian para penggunanya. Gelar ini lebih merujuk kepada status kovenantal Israel, relasi yang unik antara raja yang diurapi dari keturunan Daud dengan Allah, dan Mesias yang akan membawa damai dan menegakkan kembali kerajaan Isarel.

Meski begitu, dalam uraian lanjutan mengenai penggunaan gelar “Anak Allah” bagi Yesus dalam Kitab-kitab Injil, kita akan melihat sebuah kesinambungan, sekaligus sebuah unsur “more-than” daripada yang telah diulas di atas. Bersambung :) 


[1] Dalam studi PB, sejumlah sarjana bersikeras bahwa gelar “anak Allah” berasal dari latar belakang Helenisme. Tetapi, Craig A. Evans telah menunjukkan ketidakmemadaian pandangan ini. Lihat: Craig A. Evans, “Are the ‘Son’ Texts at Qumran Messianic? Reflections on 4Q369 an Related Scrolls,” in Qumran-Messianism: Studies on the Messianic Expectations in the Dead Sea Scrolls, eds. J.H. Charlesworth, H. Lichtenberger, & g.S. Oegema (Tubingen: Mohr Siebeck, 1998), 135-153; bnd. juga: William Horbury, Jewish Messianism and the Cult of Christ (London: SCM Press, 1998), 113.

[2] Lih. J.J. Collins, The Scepter and the Star: The Messiahs of the Dead Sea Scrolls and Other Ancient Literature (ABRL; New York: Doubleday, 19950,  165-167.