Saya sudah menulis tentang gelar “anak Allah” dalam konteks PL dan beberapa literatur pada periode Intertestamental (baca di sini). Hari ini terpikir untuk melanjutkan note ini. Namun karena keterbatasan waktu, sementara ulasan mengenai Injil Matius dan Markus juga Injil Yohanes cukup panjang, maka saya memilih untuk mengulas lanjutan note ini tentang gelar “Anak Allah” bagi Yesus dalam Injil Lukas. Mengenai penggunaan gelar ini dalam Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Yohanes, akan dibahas kemudian.

Gelar “Anak Allah” dalam Injil Lukas
Mengikuti Matius dan Markus (akan dibahas kemudian), Lukas memberikan penekanan pada keunikan relasi antara Yesus dan Bapa. Lukas mencatat, pada peristiwa pembaptisan-Nya, Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah yang Kekasih (3:22), juga pada saat transfigurasi-Nya (9:35). Sebagaimana dalam Injil Matius, baik Iblis (4:3,9) maupun roh-roh jahat (4:41; 8:28), mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah. Keunikan dan keeksklusivan relasi Yesus dan Bapa terkekspresi dalam Injil ini (10:22; bnd. Mat. 11:27). Pertanyaan dari Kayafas tentang apakah Yesus adalah Anak Allah juga diikutsertakan Lukas dalam Injilnya (22:70).

Yesus disebut sebagai “yang kudus, Anak Allah” (1:35). Berdasarkan Lukas 1:35, kita dapat berkata bahwa Yesus lebih superior dari Yohanes Pembaptis karena walaupun kelahiran Yohanes Pembaptis remarkable, tetapi ia dilahirkan sebagai keturunan seorang laki-laki. Raymond Brown menolak pendapat dari sejumlah ahli bahwa Yesus baru diangkat sebagai “Anak Allah” pada peristiwa pembaptisannya. Yesus sudah disebut sebagai “Anak Allah” bahkan sebelum kelahirannya. Terhadap status fungsional ini, Brown berargumentasi bahwa pe-naung-an Roh Kudus atas Maria dapat dianalogikan seperti Roh Allah yang “menaungi” permukaan air dalam Kejadian 1. Sebagaimana bumi belum berbentuk dan kosong pada waktu itu, demikianlah rahim Maria. Gagasan kelahiran dari anak dara ini, Lukas menekankan bahwa “Jesus was always the Son of God”.[1]

Teks ini (1:35) juga menekankan bahwa ke-Anak-an Yesus (Jesus Sonship) adalah unik. Keunikan ini, sebagaimana yang dikemukakan Darrell L. Bock, berhubungan juga dengan “his rule as Davidic king.”[2]

Singkatnya, bila kita menyimak lontaran-lontaran Lukas mengenai Yesus sebagai Anak Allah, akan membuat kita memahami secara jelas bahwa ke-Anak-an Yesus berhubungan juga dengan status keilahian-Nya. Dan hal ini sebenarnya merupakan sebuah penekanan kembali sebagaimana yang telah dikemukakan dalam Injil Matius dan Injil Markus (akan diulas kemudian). Bersambung :) 


[1] Raymond Brow, The Birth of the Messiah: A Commentary on the Infancy Narratives in Matthew and Luke (Garden City, NY.: Doubleday, 1977), 300-316.

[2] Darrell L. Bock, Proclamation from Prophecy and Pattern: Lucan Old Testament Christology. JSNTSUp 12. (Sheffield: JSOT Press, 1987), 63-67.