Dalam note lanjutan ini, saya akan mengulas tentang gelar “Anak Allah” bagi Yesus dalam Injil Matius dan Injil Markus.

Sebelum memulai ulasan ini, perlu dicatat bahwa ada sejumlah sarjana yang menafsirkan “huios tou theou” (Anak Allah) dalam terang konsep “divine men of Greco-Roman world”. Menurut mereka, gagasan bahwa Yesus adalah Anak Allah berparalel dengan gagasan theios aner ala dunia Helenisme.[1] Intinya mereka ingin menyatakan bahwa Yesus bukan ilahi secara ontologism. Yesus “dipertuhan” sebagaimana fenomena yang lumrah terdapat dalam dunia Yunani-Romawi. Beberapa sarjana, misalnya: Holladay,[2] Brady,[3] dan Blackburn[4] telah menyajikan hasil riset yang sangat baik guna menolak parallelomania itu.

Tidak bisa tidak, pemahaman yang bertanggung jawab terhadap tulisan Matius dan Markus mesti dihubungkan latar belakangnya dengan PL dan Yudaisme, sebagaimana yang telah diulas pada note bagian pertama (baca di sini).

“Anak Allah” dalam Injil Matius dan Injil Markus
Bila kita membaca Injil-injil Sinoptik dengan mengingat latar belakang PLnya, kita akan mendapati tema mengenai Yesus sebagai Anak Allah yang sejati juga adalah Israel yang sejati (true Israel). Gagasan ini terlihat, misalnya, dalam Matius 2:7 di mana peristiwa Yesus di bawa pulang dari Mesir dilihat sebagai penggenapan dari Hosea 11:1. Dalam konteks Hosea 11, “anak-Ku” yang dimaksud adalah Israel yang bawah keluar dari Mesir. Matius menganggap bahwa Yesus adalah Israel yang sejati. Pada saat pembaptisan dan transfigurasi-Nya, Yesus diidentifikasi sebagai “Anak yang kekasih” (huios agapetos; Mat. 3:17; 17:5). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam PL, Israael disebut sebagai anak Allah yang kekasih Ishak juga disebut sebagai the beloved son of Abraham (Kej. 22:2, 12, 16). Ishak adalah anak perjanjian. Demikianlah sebutan “Anak Allah” bagi Yesus dalam latar belakang ini berarti bahwa Yesus adalah Israel yang sejati.   

Gelar “Anak Allah” bukan hanya mengandung gagasan bahwa Yesus adalah Israel yang sejati (true Israel). Gagasan di balik gelar ini juga secara signifikan menyatakan bahwa Yesus menggenapi janji-janji yang telah diberikan kepada Daud. Yesus adalah raja Israel yang diurapi oleh Allah untuk memerintah atas umat-Nya. Ketika Yesus meredakan angin ribut, murid-murid-Nya mengaku bahwa Ia adalah Anak Allah (Mat. 14:33). Ini adalah sebuah aklamasi bahwa Yesus adalah Mesias yang sejati yang melalui-Nya janji-janji kovenan dengan Daud tergenapi. Hal ini dipertegas juga dalam pengakuan Petrus dalam Matius 16:16 bahwa Yesus adalah “Mesias Anak Allah yang hidup”. Pengakuan Petrus ini mungkin tidak mengindikasikan gagasan keilahian Yesus. Namun jelas, Petrus menghubungkan “Anak Allah” dengan “Mesias”, sehingga mayoritas penafsir beranggapan bahwa dua istilah ini digunakan secara sinonim di sini. Penghubungan kedua gelar ini secara tegas menambatkan kontinuitasnya dengan latar belakang PL yang sudah diulas sebelumnya.

Selanjutnya, para penulis Injil memberikan gagasan yang “more-than” yang sudah diungkapkan sebelumnya. Mereka menangkap deeper meaning di balik gelar “Anak Allah” bagi Yesus. Menurut mereka, Yesus juga berbagian dalam relasi yang unik dan khusus dengan Allah. Yesus bahkan ditampilkan sebagai Pribadi yang memiliki sejumlah hak prerogatif yang hanya khusus dimiliki Allah. Markus, misalnya, mengawali Injilnya dengan proklamasi bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah (Mrk. 1:1). Injil Markus kemudian diakhiri dengan pengakuan yang serupa dari mulut seorang perwira (Mrk. 15:39). Sang perwira mengenali Yesus sebagai Pribadi yang berkenan kepada Allah melalui kematian-Nya. Yesus mati sebagai Anak yang taat! Pengakuan ini diungkapkan secara tegas sesudah Yesus menggenapi karya-Nya, mati di atas salib. Ini menunjukkan bahwa gelar Yesus sebagai Anak Allah dapat sepenuhnya dipahami dalam terang salib. Roh-roh jahat juga mengenali Yesus sebagai God’s unique Son (Mrk. 3:11; 5:7). Demikian pula Markus mencatat tentang suara dari surga yang menyatakan Yesus sebagai Anak Allah (1:11), juga pada peristiwa transfigurasi-Nya (5:7). Menariknya, meskipun Markus mencatat hal-hal yang paralel ini dengan Matius dan Lukas, Markus tidak memberikan clue mengenai gagasan bahwa Yesus adalah Israel yang sejati atau pewaris takhta Daud. Yang ditekankan Markus melaui gelar ini adalah bahwa Yesus memiliki relasi yang spesial dengan Allah.[5] Ketika Yesus berjalan di atas air, Ia mendeklarasikan, “Ini Aku” (ego eimi; 6:50). Kisah ini secara tersirat menyatakan bahwa Yesus shares the identity of God.[6] Mengenai penyingkapan diri ini, Hurtado menyatakan, “Mark suggests Jesus’ divinity, even though not stating it outright”.[7]  

Kembali ke Injil Matius. Sebagaimana telah dicatat di atas bahwa Matius menggunakan “Anak” atau “Anak Allah” dalam rujukan bahwa Yesus adalah Israel sejati atau Yesus adalah Mesias. Hal penting yang perlu ditekankan lebih lanjut adalah bahwa Matius juga secara tipikal menyatakan mengenai keunikan dan kekhususan relasi Yesus dengan Allah. Ke-Anak-an Yesus (Jesus’ Sonship) tidak terbatas hanya berhubungan dengan gagasan Israel sejati dan Mesias. Matius juga menunjukkan bahwa Yesus disembah (worshiped) sebagai Anak Allah. Hal ini terlihat dalam Matius 1:23, dimana Yesus, Sang Anak, disebut juga sebagai Immanuel – “Allah beserta kita”. Penyebutan ini tidak semata-mata bersifat simbolik, karena Injil Matius sendiri diakhiri dengan janji yang keluar dari mulut Yesus bahwa Ia beserta umat-Nya hingga akhir zaman (28:20). Sebagai Anak Allah, Yesus adala Allah sendiri yang beserta umat-Nya. Ketika iblis (Mat. 4:3,6) dan roh-roh jahat (8:29) mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka bukan sekadar menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka mengakui bahwa Yesus memiliki kekhususan dan keunikan relasi dengan Allah. Keunikan relasi ini juga terlihat dalam Matius 11:27,

Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Bapa dan Anak secara eksklusif, mutualistik, dan intimasi, saling mengenal satu sama lain. Hanya Bapa yang mengenal Anak dengan sepenuhnya. Demikian pula sebaliknya, hanya Anak yang dapat mengenal Bapa sepenuhnya. Jadi jelas bahwa ke-Anak-an Yesus bukan sekadar mengandung gagasan bahwa Ia adalah Mesias. Ke-Anak-an Yesus juga berhubungan erat dengan relasi-Nya yang khusus dengan Bapa. Mengenai hal ini, Crump menunjuk kepada paralel bagian ini bahwa peran Yesus dalam intercession and prayer here reveals a high Christology.[8]

Keunikan Yesus sebagai Anak Allah juga tertera dalam formula baptisan yang terdapat dalam Matius 28:19. Baptisan dilakukan dalam nama (perhatikan bentuk tunggal dari kata ini): Bapa, Anak, dan Roh Kudus! Satu nama dengan tiga entitas yang berbeda. Ini selain mengungkapkan keunikan Yesus, juga sekaligus menyatakan secara jelas mengenai Trinitarian formula. Hal yang jelas di sini adalah bahwa gelar “Anak” merepresentasikan status keilahian Yesus. Yesus equal dengan Bapa.

Gagasan keilahian ini terlihat jelas juga saat Yesus diadili. Ketika Yesus ditanya oleh Imam Besar, apakah Dia adalah Anak Allah? Yesus menjawab pertanyaan ini dengan menghubungkannya kepada “Anak Manusia” (Mat. 26:63-64). Perhatikan reaksi mereka ketika mendengar jawaban Yesus. Mereka menganggap Yesus adalah seorang penghujat, karena dengan demikian Ia menyatakan Diri-Nya sebagai Allah!  Jelas bahwa dalam bagian ini, penggunaan “Anak Allah” bukan sekadar berarti Mesias. Tidak ada orang yang akan mendapat reaksi semacam itu bila ia mengaku diri sebagai Mesias!

Jadi, pengamatan terhadap penggunaan gelar “Anak Allah” dalam Matius dan Markus, secara jelas menampilkan gagasan mengenai keilahian Yesus. Yesus bukan sekadar Anak dalam pengertian Israel yang sejati dan Mesias. Ke-Anak-an Yesus yang dibicarakan kedua penulis Injil ini berhubungan juga dengan status ilahi Yesus. Yesus adalah Anak dalam arti Dia memiliki status yang setara dengan Bapa. Yesus adalah Allah.


[1] Sarjana yang terkenal menganut pandangan ini, Rudolf K. Bultmann, Theology of the New Testament. Vol. 1. Trans. K. Grobel (New York: Scribner, 1955).

[2] Carl R. Holladay, Theios Aner in Hellenistic-Judaism: A Critique of the Use of This Category in New Testament Christology. SBLDS 40 (Missoula, MT.: Scholars Press, 1977).

[3] James R. Brady, Jesus Christ: Divine Man or Son of God? (Lanham, MD: University Press of America, 1992).

[4] Barry Blackburn, Theios Aner and the Markan Miracle Traditions: A Critique of the Theios Aner Concept as an Interpretative Background of the Miracle Traditions Used by Mark. WUNT 2/40 (Tubingen: Mohr Siebeck, 1991).

[5] Lih. Oscar Cullman, The Christology  of the New Testament. Trans. s.C. Guthrie and c.A.M. Hall. Revised edition (Philadelphia: Westminster, 1963), 282-283.

[6] Joel Marcus, Mark 1-8 (AB 27A; New York: Doubleday, 2000), 432.

[7] Larry Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003), 286.

[8] David Michael Crump,  Jesus the Intercessor: Prayer and Christology in Luke-Acts. WUNT 2/49 (Tubingen: Mohr Siebeck, 1992), 49-75.