14“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 15Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!  16Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,  18maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.  19Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!  20Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.  21Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why. 3:14-22).

Teks di atas berisi teguran (rebuke) terhadap jemaat di Laodikia. Untuk memahami “ketajaman” teguran ini, kita perlu mengenal setting historis teks ini. Berikut ini adalah kutipan dari: Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, terj. Peter Suwadi Wong & Baju Widjotomo (Surabaya: Momentum, 2011), 178-179, mengenai setting historis teks ini. Pada kutipan ini, saya hanya menambahkan sedikit informasi yang tidak disertakan Kistemaker dalam buku tafsirannya.

Kota Laodikia terletak kira-kira empat puluh tiga mil sebelah tenggara kota Filadelfia, sebelas mil sebelah barat kota Kolose, dan enam mil sebelah selatan kota Hierapolis (bnd. Kol. 4:13) di Lembah Lisius. Kota ini adalah pintu gerbang ke Efesus, batas timur kira-kira 100 mil merupakan pintu gerbang ke Siria. Sampai pertengahan abad ke-3 SM, kota ini dikenal dengan nama Diospolis (Kota Zeus) dan Rhoas. Tetapi kira-kira pada tahun 250 SM, Antiokus II, penguasa Siria, memperluas pengaruhnya ke barat, menaklukkan kota ini dan mengganti namanya menjadi Laodikia. Penggantian nama kota ini dilakukan Antiokus II untuk menghormati istrinya yang bernama Laodice.

Kerajaan Romawi memasuki wilayah Laodikia pada tahun 133 SM, dan menjadikannya pusat pengadilan dan administrasi (Aune, Revelation 1-5, 232). Mereka membangun jalan raya dari timur ke barat, dari utara ke selatan. Laodikia, setelah diperluas wilayahnya, berada di persimpangan jalan itu dan menjadi pusat perdagangan yang makmur dan berpengaruh. Industri wolnya berkembang pesat dengan produksi dan ekspor wol hitam, manufaktur pakaian sehari-hari dan pakaian mahal, serta penemuan salep mata yang efektif. Kota ini memiliki sekolah kedokteran yang maju dengan spesialisasi dalam bidang pengobatan mata dan telinga, dan telah mengembangkan salep untuk penyembuhan radang mata. Salep mata ini membuat sekolah kedokteran di Laodikia menjadi terkenal pada waktu itu.

Gempa bumi dahsyat menghancurkan kota ini pada tahun 17 M dan seperti kota-kota lain di Asia, Laodikia menerima bantuan finansial dari pemerintah Romawi. Pada tahun 60 M, gempa bumi yang kedua kembali menghancurkan kota ini. Namun pada saat pemerintah Romawi menawarkan bantuan finansial untuk pembangunan kembali kota ini, para penatua kota ini menolak bantuan tersebut. Mereka menyatakan kepada pemerintah Romawi bahwa mereka telah memiliki sumber dana yang cukup. Mereka tidak perlu dibantu. Mereka bahkan menyumbang bagi pembangunan kembali kota-kota di sekitar Laodikia yang ikut hancur karena musibah tersebut (Tacitus, Annals, 14:27).

Antiokus Agung (yang biasa disebut juga Anitokus III) membawa sekitar dua ribu keluarga Yahudi dari Babel ke Lidia dan Frigia di pertengahan abad ke-3 SM. Laodikia yang adalah batas kedua wilayah itu, menjadi tuan rumah bagi banyak keluarga ini dan menjadi makmur (Josephus, Antiquities, 12.3.4.149).

Pada tahun 62 M, orang-orang Yahudi ingin membayar persembahan tahunannya untuk pemeliharaan Bait Suci di Yerusalem. Dan pengiriman emas mereka disita oleh wali negeri Flaccus. Sebagian pengiriman itu berasal dari Laodikia dan beratnya lebih dari sepuluh kilogram. Mengenai hal ini, Hemer menulis, “Telah dihitung bahwa jumlah emas dari Laodikia secara tidak langsung menunjukkan bahwa ada 7500 orang dewasa yang bebas di wilayah itu” (Letters to the Seven Churches, 182). Surat kepada jemaat di Laodikia tidak menyinggung kehadiran orang Yahudi, sehingga bisa jadi seperti jemaat di Sardis, Injil yang jemaat Laodikia beritakan juga sama sekali tidak mengancam mereka. Jemaat di sana juga tidak menghadapi ancaman dari orang-orang non Yahudi maupun para nabi palsu semisal pengikut Nikolaus, Bileam, ataupun Izebel. Kuil penyembahan Kaisar mendapat tempat utama di Laodikia. Jemaat Laodikia menyesuaikan diri dengan agama-agama lain, berfoya-foya dengan kekayaan materi, memuaskan hidup dengan kesenangan, dan gagal memenuhi tuntutan Kristus. Akibatnya Tuhan Yesus tidak memberikan kata-kata pujian ataupun penghargaan bagi jemaat ini.

Ada hal lain yang juga penting untuk diketahui bahwa di Laodikia, suplai air bagi penduduknya berasal dari Hierapolis yang berjarak enam mil dan disalurkan melalui pipa besar (Ramsay, The Cities and Bishoprics of Phrygia, Vol.1, bagian 1&2, 48-49). Sumber airnya berupa mata air panas yang mengandung kalsium karbonat; ketika sampai di Laodikia, air itu menjadi suam-suam kuku. Sumber air panas yang menyehatkan itu, ketika tiba di Laodikia telah menjadi dingin dan kalsium karbonat di dalam air itu membuat mual mereka yang meminumnya. Meski sumber mata air panas ini mengandung obat dan berguna bagi kesehatan sehingga menarik banyak orang, tetapi Tuhan membandingkan hal ini dengan kehidupan rohani jemaat Laodikia yang suam-suam kuku (bnd. ay. 16-17).