“Ia harus melintasi daerah Samaria” (Yoh. 4:4; LAI-ITB; penekanan ditambahkan)

Dalam note singkat ini, saya akan memusatkan perhatian pada signfikansi kata “harus” (Yun. edei, imperfek indikatif aktif dari kata dei) dalam Yohanes 4:4.

Setting

Yohanes 4:4 berada dalam konteks percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria yang terjadi ketika Ia sedang dalam perjalanan menuju Galilea dari Yudea (Yoh. 4:1-42). Tampaknya, perjalanan Yesus menuju Galilea adalah sebuah perjalanan “menghindar” dari konflik yang terlalu dini dengan orang-orang Farisi. Keberhasilan pelayanan-Nya di daerah Yudea dapat menimbulkan konfrontasi terhadap-Nya dari pihak orang-orang Farisi. Itulah sebabnya, Yesus memilih untuk kembali ke Galilea. Inilah kesan yang sangat kuat terdapat dalam Yohanes 4:1-3.

Tetapi, rupanya kesan di atas, belum menampilkan kepada kita seluruh alasan, mengapa Yesus memilih kembali ke Galilea. Kita baru akan mendapati alasan lengkapnya, setelah kita membaca Yohanes 4:4dst. Meski begitu, sebelum mengemukakan tentang keseluruhan alasan Yesus memilih untuk kembali ke Galilea, saya akan terlebih dahulu memberikan gambaran geografis tentang rute Yudea-Galilea untuk menentukan signifikansi kata “harus” dalam Yohanes 4:4.

Rute Yudea – Galilea

Singkat saja, secara geografis, daerah Samaria memang berada di antara Yudea dan Galilea. Dan dari segi efisiensinya, rute perjalanan Yudea – Galilea melewati daerah Samaria lebih mudah ditempuh dan memakan waktu tempuh yang relatif lebih cepat.

Persoalannya adalah bagi seorang Yahudi, rute melewati daerah orang Samaria merupakan sesuatu yang “terlarang”. Garry M. Burge menulis,

This route was not the usual way for a Jew to travel between Judea and Galilee. It was faster, but not preferred by most religious Jews.[1]

Bagi orang-orang Yahudi konservatif, orang-orang Samaria tergolong orang-orang kafir yang mesti dihindari. Dendam masa lampau membuat orang-orang Yahudi pada umumnya menghindari mereka (bnd. Yoh. 4:9). Sebagai salah seorang rabbi Yahudi, Yesus tentu mengenal baik “larangan-larangan etnis” ini.

Pertanyaannya, mengapa Yesus harus melewati daerah orang Samaria? Apakah keharusan itu berhubungan dengan efisiensi jarak tempuh Yudea – Galilea? Tetapi, bila ini alasannya, bukankah tindakan ini melanggar “larangan-larangan etnis” yang Ia ketahui dengan baik? Kelihatannya, keharusan itu bukanlah keharusan geografis – jarak tempuh yang lebih cepat dan mudah. Mengapa?

Sebuah Keharusan Teologis

Rupanya, bagian-bagian akhir narasi ini menyajikan kepada kita alasan keharusan Yesus melewati daerah orang Samaria. Dalam 4:34, Yesus menandaskan, “…Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kita dapat menghubungkan tekad utama Yesus dalam hidup-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, dengan keharusan Yesus melewati daerah orang Samaria. Dan cetusan tekad Yesus ini memang terbukti dalam narasi tersebut. Tercatat bahwa Ia berjumpa dengan seorang perempuan Samaria dan memberitakan Injil kepadanya. Perempuan Samaria tersebut menjadi percaya bahkan menjadi saksi yang efektif. Dalam Yohanes 4:28-42, perempuan yang telah menjadi percaya itu dengan antusias memperkenalkan Yesus kepada orang-orang sekampungnya dan banyak orang pun menjadi percaya.

Yesus harus melewati daerah orang Samaria, karena di sana kehendak Bapa-Nya terlaksana. Yesus harus melewati daerah orang Samaria, karena di sana Ia akan melakukan pekerjaan Bapa-Nya. Yesus harus melewati daerah orang Samaria, karena hati Bapa-Nya akan “dibukakan” kepada seorang perempuan Samaria, yang nantinya melalui dia banyak orang lain akan menjadi percaya.

Ternyata, keharusan melewati daerah orang Samaria bukan karena alasan geografis. Itu bukan keharusan geografis, melainkan sebuah keharusan teologis!

Sebuah Keharusan yang Ironis

Di awal note ini, saya sudah menyatakan bahwa alasan kepergian Yesus dari Yudea bukan semata-mata untuk menghindari konflik dengan orang-orang Farisi. Alasan kepergian-Nya berhubungan dengan kehendak dan pekerjaan Bapa-Nya yang akan dinyatakan di daerah orang Samaria.

Meski begitu, perhatian yang saksama akan teks ini dan juga tendensi sastra Yohanes, akan mengantar kita kepada ide berikutnya. Ide tersebut adalah ironi.

Yohanes 1 – 4 ditulis dengan gaya “pertentangan”atau “dualisme”. Fitur sastra ini dapat terlihat misalnya, Nikodemus datang menemui Yesus pada malam hari, sedangkan Yesus menemui perempuan Samaria itu pada siang hari. Nikodemus, seorang lelaki, terpelajar, terpandang, tetapi tidak dikatakan bahwa ia percaya kepada pemberitaan Yesus. Bahkan ia datang dengan diam-diam kepada Yesus, mungkin untuk menjaga reputasinya. Tetapi, kepada seorang perempuan yang imoral, seorang Samaria, tidak terpandang, justru dicatat mengenai respons positif dan efek dramatis dari respons tersebut bagi orang-orang sekampungnya.

Dan fitur di atas juga sebenarnya terlihat dalam narasi Percakapan Yesus dengan Perempuan Samaria ini. Dalam Yohanes 4:1-3, Yesus menghindari orang-orang Farisi, yakni sekte yang menempatkan diri sangat religius dan ketaatannya terhadap Taurat tidak perlu diragukan lagi. Yesus tidak memperdengarkan pemberitaan-Nya kepada mereka. Sebaliknya, kepada seorang perempuan yang juga adalah orang Samaria, Yesus dengan sabar dan gamblang menyingkapkan Diri-Nya. Rupanya, Yohanes ingin memberi efek ironis dalam narasi ini. Yesus menghindari orang-orang Farisi yang mewakili kelompok religius tersaleh pada masa itu, tetapi justru Yesus mendatangi seorang perempuan yang dianggap kafir dan terbuang dalam masyarakat. Dan bahkan kedatangan Yesus itu ditulis Yohanes sebagai suatu keharusan. Sesuatu yang mendapat prioritas dan perhatian. Yohanes ingin memperlihatkan bahwa keharusan itu bukan semata-mata sebuah keharusan teologis, melainkan juga sebuah keharusan yang ironis!


[1] Garry M. Burge, John (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2000), 140. Josephus memang mencatat bahwa orang-orang Galilea melewati daerah Samaria untuk pergi ke Yerusalem dalam rangka menghadiri hari-hari raya mereka (Ant. 20.118). Tetapi, Josephus tidak memberikan bukti bahwa religiously concervative Jews menggunakan rute ini.