Surat 1 [& 2] Tesalonika biasanya kurang digemari. Mungkin alasan utamanya adalah isi surat ini tidak terlalu banyak mengandung topik-topik teologis, dibandingkan dengan mayoritas surat Paulus yang lain. Surat ini dianggap lebih banyak mengandung paraenesis (nasihat-nasihat moral-praktis).  Anggapan ini mungkin tidak berlebihan karena istilah-istilah teologis yang biasanya digunakan Paulus, sama sekali tidak terdapat dalam surat ini, misalnya:

  • sarks (daging)
  • hamartia (dosa)
  • thanatos (kematian)
  • soma (tubuh)
  • eleutheria (kebebasan)
  • zoe (hidup)
  • dikaios (kebenaran)
  • stauros (salib)
  • nomos (hukum)

Meski begitu, ada satu tema teologis yang biasanya dianggap cukup menonjol dalam surat ini, yaitu tema tentang eskatologi, khususnya parousia. Tidak heran, M. Holmes menyebut Surat 1 & 2 Tesalonika sebagai “eschatological letters” (NIVAC; 1 & 2 Thessalonians). Mengenai tema ini, Udo Schnelle menulis,

 “Paul remains faithful to his original idea that all Christians will be caught up meet the Lord at his return” (Schnelle, The History and Theology of the New Testament Writings, 51).

Bukan hanya itu, Schnelle pun menandaskan bahwa pengharapan futuristik inilah yang menjadi dasar paraenesis Paulus dalam Surat 1 Tesalonika:

“In any case, the ethic of 1 Thessalonians is oriented completely to the Lord’s Parousia” (Schnelle, The History and Theology of the New Testament Writings, 52).

Inilah sumbangsih khusus nan unik dari Surat 1 Tesalonika, bila dibandingkan dengan surat-surat Paulus lainnya. Dalam surat-surat Paulus yang lain, misalnya Surat Roma, nasihat-nasihat etis-praktis dihubungkan dengan karya masa lampau Kristus – karya penebusan-Nya (melahirbarukan, menyatukan, mengadopsi sebagai anak, dll). Dalam Surat 1 Tesalonika, motif etisnya bersifat melihat ke depan. Orang-orang percaya di Tesalonika dinasihati untuk hidup mengimitasi Kristus karena pengharapan mereka akan hari parousia.