Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang hal ini. Karena terlampau sering saya mendengar orang suka bersembunyi di balik frasa “roh kritik” untuk menangkis kritikan-kritikan yang terlontar. Dengan menggunakan frasa ini, orang berusaha meminimalisasi atau bahkan mengeliminasi tudingan-tudingan yang ditujukan kepadanya. Dan yang menyedihkan adalah orang tidak lagi melihat kepada alasan-alasan yang di atasnya kritikan-kritikan tersebut di bangun. Orang langsung memberi cap “roh kritik” dan merasa bahwa ia telah membereskan kritikan tersebut.

Pertanyaannya: Ke arah mana frasa “roh kritik” di lontarkan? Tidak diragukan lagi, frasa ini ditujukan kepada si pengritik. Si pengritik dicap mengidap “roh kritik”. Lha, si pengritik melontarkan kritikan tetapi yang beri cap adalah si pengritiknya dan bukan kritikannya. Bukankah seharusnya yang ditanggapi adalah kritikan dan alasan kritikan tersebut? Mengapa justru orangnya yang diberi cap mengidap “roh kritik”? Ini absurd!

Baiklah, demi argumen, kita andaikan saja bahwa si pengritik mengidap “roh kritik”. Tetapi, apakah dengan mengidap “roh kritik” maka kritikannya otomatis salah dan harus ditolak? Kalau seorang pencuri menegor anaknya yang kedapatan mencuri supaya jangan mencuri, apakah tegoran tersebut otomatis salah karena yang menyampaikannya adalah seorang pencuri? Tidak!

Lagi pula, sebenarnya “roh kritik” itu apa maksudnya? Orang yang menjadikan kritikan sebagai kesenangan? Doyan mengritik? “Doyan”; “suka” sama dengan “roh”? hehehe. Apa maksudnya “roh kritik”? Ada semacam roh yang namanya “roh kritik”? Apa dasarnya? Di mana ada teks dan konteksnya yang menggunakan “roh kritik” sebagai acuan untuk frasa ini? Kalau ada “roh kritik”, ada pula “roh ngantuk”; “roh makan”; “roh jalan”; dan sederetan “roh-roh” lainnya? Kalau ada “roh kritik” ada pula “roh anti kritik”? Apa maksudnya? Tidak jelas alias ambigu! Lho, jadi orang suka bersembunyi di balik frasa yang ambigu untuk “membenarkan” dirinya?

Sebenarnya, definisi “kritik” itu apa sih? Karena note ini tidak mungkin ditulis panjang lebar, maka saya cantumkan salah satu sumber online mengenai definisi “kritik”. Menurut Wikipedia:

Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan. Kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah (http://id.wikipedia.org/wiki/Kritik).

Menurut sumber di atas, kritik itu berhubungan dengan suatu analisis yang cermat dengan tujuan yang konstruktif. Analisis yang cermat tersebut melibatkan alasan-alasan atau dasar yang di atasnya sebuah pernyataan dilontarkan sebagai kritikan. Bahkan dalam konteks tertentu, kritik berhubungan dengan profesi dalam berbagai bidang.

Memang, tidak jarang orang menduga bahwa sebuah kritikan dilontarkan dengan motif dan tujuan yang tidak menyenangkan atau mungkin tidak benar. Tetapi, sejak kapan anda berprofesi sebagai dukun untuk meramal motif dan tujuan seorang yang mengritik anda? Bukankah yang harusnya dilakukan adalah menunjukkan ketidakvalidan dan ketidakbenaran kritikan tersebut?

Sayangnya adalah frasa ini justru menjadi frasa favorit yang saya dengar langsung dari beberapa rohaniwan Kristen. Dan karena frasa ini doyan didengungkan para rohaniwan tersebut, maka di kalangan jemaat pun frasa ini laris manis. Lihatlah, karena rohaniwan yang ngomong maka frasa ini pun diaminkan secara berjamaah! Hufttt!

Akibatnya, kekristenan yang dipahami adalah kekristenan yang seharusnya tanpa kritik. Kekristenan yang manis; kekristenan yang tanpa perlawanan dalam bentuk apa pun [ya, nanti kalau sudah di sorga..hehehe]. Bila anda melakukan yang sebaliknya, anda langsung dicap mengidap “roh kritik”! Saran terbaik untuk orang-orang Kristen seperti ini yang dapat saya kemukakan adalah, “Pulang ke rumah, ambil Alkitab anda, dan sobeklah bagian-bagian yang merupakan teguran, kecaman, kutukan, dan sejenisnya. Dan lihatlah, berapa banyak halaman Alkitab yang masih tersisa di tangan Anda!” Mungkin ada yang berkata, “Ya, di dalam Alkitab Yesus memang mengritik. Yesus adalah Allah dan anda bukan Allah!” Benar sebagian, yaitu bahwa saya bukan Allah! Amin! Saya dalah ciptaan seperti anda yang harus membaca Alkitab untuk mengetahui siapakah Allah dan mengetahui siapakah diri saya; intinya mengetahui dan mengenal kebenaran! Persoalannya, adalah di mana ada aturan bahwa hanya Allah yang boleh mengritik? Waktu Paulus menyebut para pengajar sesat di Filipi sebagai “penyunat-penyunat palsu dan anjing-anjing…”, apakah itu menunjukkan bahwa Paulus adalah Allah? Ohhh…itu kan Paulus, dia seorang rasul! What? Tadi anda mempersoalkan “Yesus adalah Allah” makanya Dia berhak mengritik. Saya menunjukkan bahwa yang bukan Allah pun mengemukakan kritikan bahkan mengecam! Lalu sekarang, anda mempersoalkan “Paulus adalah rasul” maka dia berhak mengritik? Memang orang suka berperan sebagai kutu loncat, ketimbang sebagai manusia yang menggunakan nalarnya secara baik!

Begini… Saya tidak sedang mengajak anda suka mengritik. Yang saya ingin kemukakan adalah berikanlah kritikan yang berdasar! Dan dalam menanggapi kritikan pun, fokuslah pada kritikannya, bukan pada orang yang mengritik! Sebab dengan mengemukakan balasan komentar yang berlawanan dengan kritikan atau bahkan dengan si pengritik, sebenarnya anda pun sedang duduk di bangku yang sama. Hanya bedanya anda di ujung sana dan lawan anda berada di ujung sini. Dengan kata lain, bila anda ingin memperjuangkan supaya “roh kritik” itu layak disematkan kepada orang yang tidak anda setujui, maka anda pun patut dicap dengan cap yang sama! Dan, ini pun sebenarnya merupakan satu bentuk kemunafikan. Kemunafikan karena anda pun melakukan hal yang sama, tetapi melimpahkan cap negatif itu kepada lawan anda semata-mata!

Bertobatlah!