Pagi ini, sebelum berangkat ke Batu-Malang untuk mengikuti program Applied Approach, beta sempat baca esai menarik dari John Stott berjudul: “A Defense of Theological Definition”.[1] Karena keterbatasan waktu luang, beta sonde sempat bikin refleksi panjang lebar atas dasar gagasan Stott dalam esai ini. Tapi beta akan cantumkan terjemahan bebasnya di bawah ini. Kemudian beta akan kasih sedikit komentar tentang kecenderungan banyak orang Kristen yang sepertinya antipati terhadap doktrin dan kontroversi sama sekali.

Dalam esai tersebut, Stott menyatakan bahwa pengajaran atau doktrin alkitabiah bertujuan untuk:

menunjukkan bahwa kekristenan yang ‘Injili’ adalah kekristenan yang otentik, sejati, orisinal, dan murni, dan untuk mendemonstrasikannya dari ajaran Yesus Kristus sendiri….

Ijinkan saya … berusaha mengantisipasi dan mungkin sekaligus menetralisir beberapa kritik dari para pembaca saya.

Norma zaman kita ini sangat tidak bersahabat terhadap orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip (dogmatis). Orang-orang yang mempunyai pendapat yang diformulasikan dengan tegas dan dipertahankan dengan teguh, tidak disukai. Seseorang yang mempunyai keyakinan, betapa pun cerdasnya, tulusnya, dan rendah hatinya, ia akan beruntung bila tidak dicap sebagai seorang fanatik. Dewasa ini, yang dianggap pikiran yang besar adalah pikiran yang luas dan terbuka – cukup luas untuk menerima setiap gagasan yang baru yang didengarnya, dan cukup terbuka untuk terus melakukannya selamanya.

Apa yang dapat kita katakan tentang ini? Kita harus menjawab bahwa kekristenan yang historis pada dasarnya dogmatis, sebab ia bersikukuh sebagai suatu pengungkapan iman….

Bukti lain dari perseteruan norma zaman ini terhadap [tujuan saya] … menyangkut kebencian modern terhadap kontroversi….

Mungkin cara terbaik untuk menegaskan bahwa kontroversi terkadang diperlukan, walaupun menyakitkan, adalah dengan mengingat bahwa Tuhan Yesus Kristus sendiri adalah seorang yang kontroversial. Ia tidak “berpikiran luas” dalam arti popular bahwa Ia bersedia menerima kemungkinan dari setiap pandangan perihal subjek apa saja. Sebaliknya, seperti kita lihat … Ia senantiasa terlibat dalam perdebatan dengan para pemuka agama pada zaman-Nya, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang Herodian dan Saduki. Ia berkata bahwa Ia adalah kebenaran, bahwa Ia datang untuk menyaksikan kebenaran itu, dan bahwa kebenaran akan memerdekakan pengikut-pengikut-Nya. Sebagai akibat dari kesetiaan-Nya kepada kebenaran, Ia tidak takut untuk secara terbuka mengungkapkan perbedaan pendapat-Nya dari doktrin-doktrin yang berlaku pada masa itu (bila Ia menganggap bahwa doktrin-doktrin itu salah), untuk membeberkan kesalahan, dan untuk memperingatkan murid-murid-Nya terhadap guru-guru palsu. Ia juga amat terang-terangan dalam bahasa-Nya, menyebut mereka “pemimpin-pemimpin buta”; “serigala berpakaian bulu domba”; “kuburan yang berlabur putih” dan bahkan “keturunan ular beludak”.

Para rasul juga orang-orang yang controversial, sebagaimana jelas dari Surat-surat Perjanjian Baru, dan mereka mengimbau para pembacanya “untuk berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” Seperti Tuhan dan Guru mereka, mereka menganggap penting untuk memperingatkan Gereja-gereja terhadap guru-guru palsu dan menasihati mereka untuk berdiri teguh dalam kebenaran….

Kebenaran yang diungkapkan dapat diumpamakan sebuah bangunan, dan panggilan Gereja adalah untuk menjadi “landasan/fondasinya” (memegangnya dengan teguh sehingga tidak tergoyahkan) dan “menaranya” (menjulang tinggi sehingga semua orang dapat melihatnya). Betapa pun norma zaman ini memusuhi pengakuan yang terus terang tentang kebenaran, Gereja tidak boleh menolak tugas yang diberikan Allah itu.

Ada dua hal penting yang beta catat dari kutipan di atas. Pertama, sangat penting untuk memahami dan berpegang teguh pada doktrin-doktrin alkitabiah. Poin ini beta yakin sangat penting karena hari ini makin banyak orang yang mempopularkan semboyan ini: “Injil adalah [mengenai] satu Pribadi [Yesus], bukan doktrin.” Ini adalah pembedaan (pemilahan) yang salah! Menyerukan semboyan ini, sama dengan menyatakan bahwa Alkitab tidak penting (ingat, doktrin berasal dari [dalam] Alkitab bukan?). Bahkan sebenarnya, semboyan ini tidak konsisten, karena bersifat “menghancurkan-diri” (self-defeating) – ia merendahkan doktrin dengan cara mengindoktrinasi orang lain untuk melakukannya!

Hal kedua yang beta catat adalah bahwa kontroversi, dalam taraf tertentu, perlu dan harus, khususnya bila berhubungan dengan doktrin-doktrin yang menyesatkan – tidak alkitabiah! Hal ini penting karena beta banyak sekali ketemu orang-orang Kristen yang naïf, yang mengaminkan kekristenan di “danau tanpa ombak”. Mereka membayangkan kekristenan seperti dua sejoli yang bersampan di danau nan tenang tanpa ombak dan badai. Tidak perlu “berjuang” karena memang tidak ada gelora tantangan. Semua aman. Kalaupun ada badai, berdoa saja; terima saja; dan sebagainya. Singkatnya, berdebat itu barang haram! Antipati, satu kata yang tepat untuk menggambarkan sikap mereka terhadap kontroversi atau perdebatan melawan ketidakbenaran. Itulah sebabnya, setiap kali mereka membaca atau menemukan anda terlibat dalam perdebatan atau mengritik [mengoreksi] sesuatu yang salah, mereka langsung bersikap antipati. Untuk hal ini, beta lihat, Dr. Stott benar-benar menyakinkan dalam memberikan contoh-contoh yang tak terbantahkan bahwa kontroversi dan kancah perdebatan pun merupakan salah satu cara yang ditempuh Yesus dan para rasul, termasuk bapak-bapak Gereja, bila berhadapan dengan ketidakbenaran.

Perdebatan dan atau kontroversi memang tidak selalu benar, tetapi juga tidak selalu salah. Jangan ekstrim!


[1] Esai ini diterbitkan dalam: Christ the Controversialist (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1972).