Pada tahun 1999, S.M. Baugh (Profesor PB di Westminster Theological Seminary) mempublikasikan hasil risetnya yang berjudul: “Cult Prostitution in New Testament Ephesus: A Reappraisal”.[1] Baugh, di dalam artikel ini, membuktikan bahwa sebenarnya tidak terdapat indikasi apa pun dari sumber-sumber kuno yang ditelitinya bahwa terdapat praktik prostitusi kultis di Efesus, sebagaimana yang diyakini selama ini. Baugh mengawali artikelnya dengan mengutip sejumlah referensi standar dalam Biblika PB yang percaya bahwa terdapat praktik prostitusi kultis di Efesus. Dan Baugh membantah klaim ini dengan meneliti kembali teks-teks kuno yang menjadi basis kesimpulannya.

Tentus saja, hasil riset Baugh berhubungan erat dengan penafsiran terhadap beberapa bagian dalam PB. Salah satu teks yang disebutkan Baugh adalah 1 Timotius 2:9-15. Dalam hubungan dengan dampak hermeneutis dari hasil risetnya, Baugh melontarkan seruan konklusif:

Hopefully Ephesian cult prostitutes will soon disappear from our literature and from our pulpits, for these chimera exist only in the minds of people today, not in the past. This is particularly desirable, since the issue has moved beyond the realm of purely historical accuracy into that of ecclesiastical controversies over women’s ordination; indeed, the false notion of Ephesian cult prostitutes is a central prop for a radical reinterpretation of 1 Tim 2:9–15 which must now be given serious reexamination.

Komentar Saya

Tidak cukup waktu untuk memberikan komentar panjang lebar terhadap hasil riset dan kesimpulan Baugh dalam artikel ini. Meski begitu, ada dua catatan yang bisa saya sajikan dalam note singkat ini: Pertama, data sejarah yang diteliti Baugh cukup meyakinkan dan mendukung kesimpulannya. Meski begitu, Baugh kelihatannya terlalu percaya diri bahwa tidak ada lagi data sejarah bakal menjadi basis guna memodifikasi kesimpulannya. Dalam penelitian data sejarah kuno, keyakinan Baugh agak berlebihan. Kedua, bila hasil riset Baugh benar, tentu itu akan berdampak dalam menafsirkan teks-teks semacam 1 Timotius 2:9-15. Tetapi, tidak harus demikian. Sebab, bila seseorang mengasumsikan bahwa lontaran-lontaran Paulus dalam 1 Timotius 2:9-15 merupakan mandat yang timeless, tentu riset dan kesimpulan Baugh tidak akan berdampak apa-apa. Kecuali, kalau si penafsir mengasumsikan bahwa lontaran-lontaran Paulus dalam teks ini bersifat time-bounded.


[1] Journal of Evangelical Theological Society 42.3 (1999): 443-460.