Dalam artikel, saya akan mengulas secara singkat salah satu aspek eksegetis yang dikenal dengan sebutan tipologi. Istilah tipologi berasal dari kata Yunani: typos, yang di dalam PB digunakan dalam banyak bagian dengan banyak arti, sesuai dengan konteksnya.

Spektrum Arti Leksikal

Berikut ini saya akan menunjukkan sejumlah bagian dalam PB yang di dalamnya kata ini (dan juga kata-kata yang seasal dengannya; cognate) muncul.

Penggunaan Kata Typos dan Kata-kata Seasalnya dalam PB

Typos

Keluaran 25:40 contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung”
Amos 5:26 patung-patung (arca-arca)mu yang telah kamu buat”
Yohanes 20:25 bekas paku”
Kisah 7:43 patung-patung yang kamu buat itu untuk disembah”
Kisah 7:44 contoh yang telah dilihatnya”
Kisah 23:25 “surat, yang isinya sebagai berikut
Roma 5:14 “Adam, yang adalah gambaran
Roma 6:17 “menaati pengajaran”[1]
1 Korintus 10:6 “ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita”
Filipi 3:17 “kami yang menjadi teladanmu”
1 Tesalonika 1:7 “kamu telah menjadi teladan (contoh)”
2 Tesalonika 3:9 teladan bagi kamu”
1 Timotius 4:12 teladan bagi orang-orang percaya”
Titus 2:7 “suatu teladan dalam berbuat baik”
Ibrani 8:5 “menurut contoh (pola) yang telah ditunjukkan kepadamu”
1 Petrus 5:3 “hendaklah kamu menjadi teladan

Typikos

1 Korintus 10:11 “ini telah menimpa mereka sebagai contoh

Antitypos

Ibrani 9:24 gambaran (lambing)…dari yang sebenarnya”
1 Petrus 3:21 kiasannya, yaitu baptisan”

Hupotyposis

1 Timotius 1:16 “aku menjadi contoh bagi mereka”
2 Timotius 1:13 “Peganglah…contoh ajaran yang sehat”

Dalam tabel di atas, jelas bahwa kata typos dalam Alkitab Yunani biasanya berarti “contoh”, “teladan”, “gambaran”, atau “pola”. Beberapa kali kata itu diterjemahkan sebagai “patung”, “bekas”, dan “kiasan”, yang semuanya merupakan jenis gambaran.

Kata typos sama sekali tidak digunakan sebagai istilah teknis. Kadang-kadang, kata typos dianggap mempunyai arti teknis, misalnya dalam Roma 5:14 dan 1 Korintus 10:6 (bnd. ay. 11).[2] Namun, umumnya para penerjemah sependapat bahwa kata ini mestinya diterjemahkan “gambaran” (Rm. 5:14) dan “contoh” (1Kor. 10:6,11). Dalam kedua ayat ini, arti yang biasa menurut Alkitab benar-benar sesuai dan tidak perlu diusulkan adanya suatu pemakaian teknis. Mungkin justru untuk mencegah adanya implikasi istilah teknis, maka terjemahan-terjemahan modern mengelakkan terjemahan “tipe” untuk typos.  Ada istilah lain dalam bahasa Yunani yang hampir sama artinya dengan typos, yaitu deigma (Yud. 7), deigmatizo (Mat. 1:19; Kol. 2:15), paradeigma (Kel. 25:9; 1Taw. 28:11-12, 18-19), paradeigmatizo (Ibr. 6:6), dan hupodeigma (Yoh. 13:15; Ibr. 4:11; 8:5; 9:23; Yak. 5:10; 2Pet. 2:6). Rumpun kata-kata ini biasanya diterjemahakan “contoh” (Kel. 25:9; Ibr. 4:11), “teladan” (Yoh. 13:15; Yak. 5:10), atau “gambaran” (Ibr. 8:5). Ada juga beberapa terjemahan yang tidak jauh berbeda dengan arti biasa tersebut, yakni “rencana” (bangunan; 1Taw. 28:11-12, 19), “lambang” (Ibr. 9:23), “peringatan” (2Ptr. 2:6; Yud. 7) dan “tontonan” (Kol. 2:15). Hanya dalam dua ayat yang ditemukan arti yang agak berbeda, yakni “mencemarkan nama [menghina] di muka umum” (Mat. 1:19; Ibr. 6:6).

Dasar Pemikiran dan Pengertian

Berdasarkan spektrum arti penggunaan kata typos dan kata-kata seasalnya, maupun rumpun kata-kata lain yang artinya sepadan dengannya, kita dapat menemukan tiga ide dasarnya tercermin darinya, yaitu:

  • Contoh dan teladan;
  • Analogi dan persesuaian;
  • Ilustrasi

Dalam eksegesis, tiga ide dasar di atas menjadi basis perumusan definisi tipologi. Umumnya, istilah ini dipahami sebagai suatu metode eksegesis yang menetapkan kaitan sejarah antara berbagai peristiwa, tokoh, atau benda dan gagasan di dalam PL dengan berbagai peristiwa, tokoh, benda, dan gagasan yang serupa di dalam PB.[3] Dari pengertian ini, kita mendapati bahwa asumsi dasar dari metode ini adalah adanya korespondensi sejarah antara karya Allah di masa lampau dengan karya-Nya di dalam tahap sejarah selanjutnya.

Pengertian di atas penting untuk ditekankan, karena ada ahli tertentu yang secara semberono merendahkan metode ini sebagai sebuah metode yang dirumuskan atas dasar khayalan atau alegori yang tidak berdasar. Padahal tidak demikian. Tipologi mendapat dasarnya dari pemahaman teologis bahwa ada hubungan (korespondensi) dalam seluruh rangkaian tindakan atau karya Allah di dalam sejarah. Dan contoh mengenai hal ini sangat berlimpah dalam Alkitab. Beberapa di antaranya akan saya tunjukkan di bawah ini.

Beberapa Contoh

Penulis Surat Ibrani menafsirkan keimaman Melkisedek dalam PL (Kej. 14:17-24; Mzm. 110:4) sebagai prototype dari keimaman yang lebih mulia, yaitu keimaman Yesus Kristus (Ibr. 7:1-22). Begitu pula, kemah suci (dan kemudian Bait Suci) adalah simbol atau lambang dari PB, yakni pengorbanan Kristus sekali untuk selamanya (Ibr. 9:6-14).

Ketika mengemukakan persiapan-persiapan untuk Bait Suci dan pembangunannya, penulis Tawarikh menggambarkan Daud sebagai Musa “yang kedua” dan Salomo sebagai Yosua “yang kedua”. Dengan tegas Daud tidak diizinkan untuk mendirikan Bait Suci, sebagaimana halnya Musa tidak diizinkan untuk memimpin umat Israel memasuki Negeri Perjanjian (bnd. Bil. 20:2-11; 1Taw. 22:8). Demikian pula Salomo menunjukkan Yosua dalam hal keduanya dipilih secara diam-diam untuk menjadi pengganti dan mendapat pengakuan di depan umum. Keduanya menerima dukungan penuh tanpa perlawanan politik ataupun militer, keduanya ditinggikan oleh Allah, dan keduanya membawa umat Israel ke masa “perhentian” dan “berkat”. Pada akhirnya, baik Yosua maupun Salomo diberi tugas yang sama ketika menerima peranan kepemimpinan mereka, diberi dorongan untuk menguatkan dan meneguhkan hati (Ul. 31:6; bnd. 1Taw. 22:13), karena “TUHAN berjalan di depanmu” (Ul. 31:6,8,23; Yos. 1:5,9; bnd. 1Taw. 22:11,16), dan “Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ul. 31:6,8; Yos. 1:5,9; bnd. 1Taw. 28:20).

Contoh-contoh di atas hanyalah segelintir kecil dari pemakaian tipologi dalam PL dan PB. Itulah sebabnya, penting sekali untuk memahami tipologi dalam eksegesis Alkitab.


[1] Dalam ayat ini, kata typos tidak diterjemahkan.

[2] L. Goppelt, “typos,” dalam TDNT 8: 251-253.

[3] Tipologi menjadi salah satu kerangka dasar dalam menentukan kesatuan PL dan PB. Walau harus tekankan juga bahwa para penulis PL sendiri pun menghubungkan peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, benda-benda, dsbnya dengan peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, benda-benda, yang pernah dikemukakan oleh para penulis [PL] terdahulu.