Narasi tentang Yesus menyucikan Bait Suci muncul di dalam Injil Yohanes (2:13dst) dan Injil-injil Sinoptik (Mat. 21:12-13; Mrk. 11:15-19; Luk. 19:45-48). Pengamatan sekilas akan hal ini, langsung memperhadapkan kita dengan pertanyaan mengenai kronologinya. Yohanes menempatkan kisah ini di awal pelayanan Yesus, sementara para penulis Injil Sinoptik menempatkannya beberapa saat menjelang akhir pelayanan Yesus. Hal ini dipicu oleh kemiripan-kemiripan pengisahan Yohanes dan Injil Sinoptik, yang sepertinya mengisahkan satu peristiwa yang sama. Bila itu adalah peristiwa yang sama, maka salah satunya pasti salah [secara urutan historis]. Lain halnya, bila Yesus dua kali melakukan penyucian terhadap Bait Suci, dimana Yohanes mengisahkan penyucian Bait Suci yang terjadi di awal pelayanan Yesus, sementara para penulis Injil Sinoptik mengisahkan peristiwa yang terjadi menjelang akhir pelayanan Yesus.

Karena tidak mungkin mengkonstruksi argumen lengkap dalam note singkat ini, saya hanya akan mengemukakan pengamatan saya terhadap salah satu indikator yang menurut saya cukup signifikan sebagai basis untuk percaya bahwa Yesus memang melakukan dua kali tindakan penyucian terhadap Bait Suci. Meski begitu, sebagai titik berangkat, ada baiknya saya menyajikan secara ringkas terlebih dahulu klaim dan argumen bahwa Yesus hanya sekali saja melakukan tindakan penyucian Bait Suci.

Satu Kali Penyucian Bait Suci

Anggapan bahwa Yesus hanya satu kali melakukan penyucian terhadap Bait Suci, dikaitkan dengan perbedaan pengisahan di atas, langsung menyuguhkan masalah kehandalan historis Alkitab di hadapan kita. Untuk anggapan ini, kita menemukan dua cabang pandangan. Pertama, pandangan bahwa perbedaan ini merupakan bukti bahwa Alkitab tidak handal secara historis. Dalam bukunya yang berjudul: Escaping from Fundamentalism, James Barr mendukung klaimnya bahwa Alkitab kurang kanonis [tidak handal secara historis] dengan menggunakan narasi ini sebagai buktinya (Barr; 1984:67). Tidak usah berpanjang lebar untuk mengomentari pandangan ini, karena sebenarnya pada langkah pertamanya, nilai ilahi Alkitab telah dikesampingkan. Kedua, pandangan bahwa perbedaan tersebut tidak harus ditafsirkan sebagai bukti ketidakhandalan Kitab-kitab Injil. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dari aspek maksud teologis sang penulisnya. Yohanes memiliki maksud tertentu ketika menempatkan kisah tersebut di awal pengisahannya. Demikian pula para penulis Injil Sinoptik. Umumnya, mereka yang menganut pandangan ini percaya bahwa pengisahan Injil Sinoptiklah yang sesuai dengan sitz im leben Jesu. Karena, tindakan penyucian tersebut langsung menghantam otoritas Bait Suci dan menjadi salah satu alasan langsung mengapa Yesus harus segera ditangkap dan dieksekusi. Dengan kata lain, pengisahan Yohanes tidak historis, terlepas dari maksud [teologis] apa pun yang hendak dikemukan Yohanes dengan memilih urutan penempatan ini.

Sejumlah sarjana berupaya mendukung pandangan kedua di atas dengan menunjukkan sejumlah data tambahan, misalnya perbedaan urutan pencobaan terhadap Yesus dalam Injil Matius dan Injil Lukas (Mat. 4:1-11; Luk. 4:1-13). Peristiwa ini sudah dapat dipastikan merupakan peristiwa tunggal. Dan jika dua pengisah Injil ini merasa “bebas” untuk tidak menyertakan urutan pencobaan yang sama, maka mengadili mereka berdasarkan keharusan kesamaan kronologis pengisahan, merupakan sesuatu yang tidak adil. Sebuah standar asing (lebih tepatnya: anakronis) sedang diterapkan bagi mereka. Demikian pula, menyalahkan Yohanes secara historis karena memindahkan peristiwa penyucian Bait Suci ke awal pelayanan Yesus, merupakan suatu penghakiman yang anakronis!

Argumen di atas sangat menarik dan kelihatannya cukup meyakinkan. Tetapi, persoalannya tidak selesai sampai di situ. Persoalannya bukan bagaimana melepaskan diri dari jerat tuduhan mengenai adanya kesalahan historis. Ini adalah persoalan tuntutan pengisahan sejarah dari perspektif masa kini yang sangat mengedapankan ketepatan kronologis sebuah peristiwa. Bila ini persoalannya, maka argumen di atas sudah cukup solid untuk menyelesaikannya. Artinya, kekuatan argumen di atas mayoritas terletak pada kemampuannya membendung serangan terhadap historisitas Kitab-kitab Injil. Tetapi, kekuatan argumen ini tetap tidak menutup kemungkinan bahwa bukan hanya satu kali Yesus melakukan tindakan penyucian Bait Suci melainkan dua kali.

Jadi persoalan yang sebenarnya adalah apakah memang Yesus melakukan hanya satu kali penyucian Bait Suci atau sebenarnya Dia melakukannya sebanyak dua kali. Ini adalah pertanyaan inti yang tidak ditekan oleh keharusan untuk membela kehandalan historisitas Kitab-kitab Injil. Ini adalah pertanyaan yang sangat jujur untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Maka pertanyaan lanjutannya adalah adakah rujukan yang dapat dijadikan alasan untuk percaya bahwa Yesus memang melakukan dua kali penyucian terhadap Bait Suci? Saya percaya ada. Dan berikut ini saya akan mengemukakan salah satunya!

Dua Kali Penyucian Bait Suci

Selain sejumlah perbedaan detail dalam pengisahan Yohanes dan Injil Sinoptik, salah satu perbedaan yang signifikan dan akan menjadi basis pengamatan saya adalah kata-kata Yesus yang terdapat dalam pengisahan Yohanes. Kata-kata tersebut adalah: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali!” (2:19). Bila kita memperhatikan narasi penyucian Bait Suci dalam Injil Sinoptik, kata-kata ini tidak terdapat di sana.

Bila demikian, hal penting apa yang hendak ditunjukkan di sini dengan mengemukakan hal di atas? Perkataan Yesus mengenai pembongkaran Bait Allah dan pembangunannya kembali dalam tiga hari, ternyata merupakan bukti penting yang dijadikan alasan bagi eksekusi terhadap Yesus.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian terhadap Yesus supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya. Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain. Lalu beberapa orang naik saksi melawan Dia dengan tuduhan palsu ini:  “Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia.” Dalam hal inipun kesaksian mereka tidak sesuai yang satu dengan yang lain (Mrk. 14:55-59).

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah kesaksian mereka kurang meyakinkan karena “kesaksian mereka tidak sesuai satu dengan yang lain”. Bila, ini adalah peristiwa tunggal dan ada cukup alasan untuk mengasumsikan bahwa peristiwa tersebut terjadi di akhir pelayanan Yesus yang kemudian menjadi alasan penahanan dan eksekusi mati terhadap-Nya, maka tentu peristiwa ini masih segar dalam ingatan mereka bukan? Adalah sah untuk mengasumsikan demikian karena kata-kata tersebut begitu menusuk! Di samping itu, kejadiannya belum lama berselang. Pertanyaannya adalah mengapa kata-kata yang begitu menusuk ini ditambah waktu kejadiannya yang baru berlangsung dua minggu, tetapi disaksikan secara tidak konsisten satu sama lain oleh sejumlah saksi yang diajukan di pengadilan itu? Bukankah semestinya kesaksian mereka tegas dan konsisten? Lalu mengapa kesaksian mereka tidak berpadanan satu sama lainnya mengenai hal tersebut?

Pertanyaan di atas mengarahkan saya untuk percaya bahwa karena kata-kata itu telah dilontarkan pada satu peristiwa yang telah lama berselang (kira-kira 3 tahun yang lalu), sehingga mereka perlu mencari-cari saksi yang mendengar langsung kata-kata tersebut. Tetapi ternyata para saksi itu pun sudah tidak terlalu jelas lagi mengingat bagaimana persisnya kata-kata tersebut dilontarkan oleh Yesus. Itulah sebabnya, kesaksian mereka pun tidak bertepatan satu sama lainnya.

Akan tetapi, bila ini adalah dua peristiwa yang terpisah, mengapa begitu mirip? Jawabannya sederhana, bila mirip mengapa harus sama?!

Demikianlah salah satu indikator penting yang saya amati mengenai narasi penyucian terhadap Bait Suci. Yohanes mengisahkan peristiwa penyucian Bait Suci yang terjadi di awal pelayanan Yesus. Para penulis Injl Sinoptik mengisahkan peristiwa penyucian Bait Suci yang terjadi di akhir pelayanan Yesus. Dua peristiwa yang berbeda, bukan sama!