Beberapa hari lalu saya menulis sebuah note tentang masalah kronologi pengisahan narasi “Yesus Menyucikan Bait Suci” dalam Kitab-kitab Injil. Dalam note tersebut saya mengemukakan salah satu indikator kuat yang mendukung pandangan bahwa Yesus bukan hanya melakukan satu kali tindakan penyucian terhadap Bait Suci sebagaimana yang umumnya diasumsikan oleh banyak penafsir. Sebetulnya tindakan penyucian terhadap Bait Suci terjadi sebanyak dua kali. Yang pertama terjadi di awal pelayanan Yesus (Yoh. 2:13-16), sedangkan yang kedua terjadi beberapa saat menjelang akhir pelayanan Yesus (Mat. 21:12-13; Mrk. 11:15-17; Luk. 19:45-46) (baca di sini).

Hari ini saya membaca ulang buku yang ditulis oleh Bart D. Ehrman, berjudul: Jesus, Interrupted: Revealing the Hidden Contradictions in the Bible. Ini adalah sebuah buku yang berisi pengakuan terus terang mengenai asumsi Ehrman bahwa “The Bible is filled with discrepancies, many of them irreconcilable contradictions” (hlm. 5).  Ada banyak contoh yang dikemukakan Erhman guna mendukung klaim ini. Salah satu contoh yang dikemukakan Ehrman adalah masalah kronologi “Yesus Menyucikan Bait Allah”. Ehrman menyatakan:

For example, the Gospel of Mark indicates that it was in the last week of his life that Jesus “cleansed the Temple” by overturning the tables of the money changers and saying, “This is to be a house of prayer . . . but you have made it a den of thieves” (Mark 11), whereas according to John this happened at the very beginning of Jesus’ ministry (John 2) (hlm. 6-7).

Sebelum mencantumkan lanjutan komentar Ehrman, saya ingin mengemukakan sebuah komentar penting. Kalimat di atas memperlihatkan bahwa dari pengisahan Yohanes dan Injil Sinoptik, sebenarnya Ehrman dapat melihat secara jelas mengenai perbedaan waktu terjadinya tindakan penyucian Bait Allah oleh Yesus. Para penulis Kitab Injil memberikan indikasi jelas bahwa terdapat dua kali penyucian Bait Allah. Yohanes mengisahkan penyucian Bait Allah yang terjadi di awal pelayanan Yesus, sementara Injil Sinoptik mengisahkan penyucian Bait Allah yang terjadi di akhir pelayanan Yesus. Tetapi, Ehrman rupanya memilih untuk tidak mempercayai indikasi yang terbaca dari teks. Ia lebih memilih untuk memperjuangkan asumsinya dengan melawan indikasi tersebut. Itulah sebabnya, Ehrman melanjutkan menulis demikian:

Some readers have thought that Jesus must have cleansed the Temple twice, once at the beginning of his ministry and once at the end. But that would mean that neither Mark nor John tells the “true” story, since in both accounts he cleanses the temple only once (hlm. 7).

Setelah kalimat ini, akan saya cantumkan di bawah, Erhman mengemukakan argumen lanjutan. Namun saya sengaja memotongnya untuk memberikan komentar terhadap kalimat di atas. Perhatikan, betapa liciknya Erhman mengalihkan perhatian para pembaca bukunya secara halus. Di atas, ia menyatakan bahwa indikasi mengenai dua kali penyucian Bait Allah terdapat pada tulisan para penulis Kitab Injil. Sekarang, Ehrman terkesan “menyalahkan” para pembaca Kitab Injil karena berpikir bahwa ada dua kejadian penyucian Bait Allah. Ia seakan-akan ingin menyatakan bahwa kesan tersebut terletak pada cara membaca para pembaca Kitab Injil yang keliru. Padahal, memang indikasi itu terdapat pada tulisan para penulis Kitab Injil. Bila para penulis Kitab Injil tidak mengindikasikan demikian, mengapa Erhman menjadikanya sebagai salah satu contoh irreconciliable contradiction in the Bible? Artinya, ini bukan persoalan “some reader thought” tapi memang para penulis Injil mengindikasikan demikian. Lalu apakah Erhman bersedia menerima apa yang tertulis pada teks? Tidak. Ehrman lebih mempercayai asumsinya sehingga ia harus memberikan argumen untuk mendukung asumsi tersebut. Sayangnya, argumen Erhman pun mengandung asumsi lain yang amat mudah ditelanjangi kesalahannya. Perhatikan kalimat yang saya kutip ulang ini: “But that would mean that neither Mark nor John tells the “true” story, since in both accounts he cleanses the temple only once”. Ehrman seakan-akan memperhadapkan pandangan bahwa ada dua kali penyucian Bait Allah dengan implikasi yang tidak mungkin. Kalimat implikatif ini mengandung asumsi bahwa bila ada dua kejadian yang terpisah, seharusnya baik Yohanes mapun para penulis Injil Sinoptik mencantumkan kedua peristiwa tersebut dalam setiap tulisan mereka. Tetapi haruskah demikian? Sama sekali tidak ada keharusan untuk itu. Lalu siapa yang mengharuskannya demikian? Erhman. Lebih tepatnya, asumsi Ehrman. Supaya klaimnya bahwa Alkitab mengandung kontradiksi mendapat dukungan dari peristiwa ini, maka ia harus mengasumsikan satu peristiwa tunggal dari narasi “Yesus Menyucikan Bait Allah” dalam Kitab-kitab Injil. Namun karena asumsi ini terbantahkan oleh indikasi jelas dari tulisan para penulis Kitab Injil, ia harus mengasumsikan sebuah keharusan palsu yang lain sehingga klaimnya kelihatan masuk akal untuk diterima.

Mari kita memperhatikan argumen lanjutan dari Erhman untuk melawan pandangan bahwa terdapat dua kali penyucian Bait Allah.

Moreover, is this reconciliation of the two accounts historically plausible? If Jesus made a disruption in the temple at the beginning of his ministry, why wasn’t he arrested by the authorities then? Once one comes to realize that the Bible might have discrepancies it is possible to see that the Gospels of Mark and John might want to teach something different about the cleansing of the Temple, and so they have located the event to two different times of Jesus’ ministry. Historically speaking, then, the accounts are not reconcilable (hlm. 7).

Pada kalimat kutipan argumen di atas, Ehrman mengajukan sebuah pertanyaan yang harus diakui sulit untuk dijawab. Tindakan penyucian Bait Allah tersebut memang mengandung sebuah “pukulan” keras terhadap pihak otoritas Bait Allah. Dan mereka tentu tidak akan membiarkan siapa pun melakukan hal tersebut di mata mereka sendiri dan mempermalukan mereka di hadapan publik. Bila itu terjadi di awal pelayanan Yesus, mengapa Ia tidak segera ditangkap? Meskipun pertanyaan ini sulit dijawab, namun ini sama sekali tidak menghapuskan kemungkinan bahwa pernah ada satu peristiwa penyucian Bait Suci di awal pelayanan Yesus hanya gara-gara Ia belum ditangkap ketika melakukan hal tersebut. Bila Ehrman terbuka untuk percaya, sebagaimana yang tercatat dalam Kitab-kitab Injil bahwa apa pun yang terjadi pada Yesus seturut dengan waktu Tuhan, maka pertanyaan ini menjadi mudah dijawab. Kita mendapat sebuah contoh jelas mengenai hal ini dalam tulisan Yohanes, Yesus pernah hendak dicelakai karena menyatakan bahwa Ia telah ada sebelum Abraham. Namun sebelum Ia dicelakai, “Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah” (Yoh. 8:59). Memang, dalam narasi penyucian Bait Allah tidak dikemukakan demikian. Tetapi, dari contoh ini, kita mendapati sebuah petunjuk bahwa waktu Tuhan, merupakan penentu segala sesuatu yang terjadi pada Yesus. Dari segi kebanggaan orang-orang Yahudi yang terhantam melalui peristiwa di awal pelayanan Yesus tersebut, memang menjadi pertanyaan besar bila mereka tidak menangkap Dia. Namun, bukankah ini tidak mengeliminasi kemungkinan terjadinya penyucian Bait Allah pada awal pelayanan-Nya, bila seseorang mengasumsikan bahwa waktu untuk itu belum tiba? Persoalannya adalah Erhman telah menutup pintu untuk kemungkinan yang terakhir ini. Ia hanya terbuka untuk asumsi dan segala macam pandangan minimalisnya terhadap Alkitab dan Yesus.

Di sisi lain, memang ada sejumlah penafsir yang mengasumsikan bahwa hanya terdapat satu kali penyucian Bait Allah yang akhirnya mengusulkan solusi bahwa tendensi teologislah yang harus mendapat perhatian. Para penulis Injil tidak mempersoalkan urutan historisnya karena ingin mengajarkan sudut pandang teologis tertentu. Dan bila ini solusinya, maka Ehrman benar ketika menyatakan bahwa “Historically speaking, then, the accounts are not reconcilable.” Tetapi, sekali lagi, bila para penulis Injil menyatakan bahwa terdapat dua kali penyucian Bait Suci, sebagaimana yang diakui Ehrman, bukankah tidak sah untuk mengasumsikan yang berbeda lalu menuding mereka melakukan kesalahan atas dasar asumsi yang berbeda tersebut?

Oh, rupanya orang lebih memilih mempercayai dan memperjuangkan asumsinya ketimbang mempercayai dan taat kepada apa yang dikatakan teks. Bila demikian halnya, memang kita tidak perlu kaget bila seorang profesor ternama sekalipun dapat mempermalukan dirinya sendiri dengan argumen-argumen yang sangat mudah dibantah. Semboyannya adalah yang sudah “jelas” harus dilawan, karena asumsi tak pernah salah. Betapa menyedihkan!