Saya sudah menulis dua note mengenai masalah kronologi narasi “Yesus Menyucikan Bait Allah”. Dalam dua note tersebut saya mempertahankan klaim bahwa Yesus menyucikan Bait Allah sebanyak dua kali (baca di sini dan di sini).

Setelah note saya yang kedua dipublikasikan, saya berdiskusi dengan salah seorang member CLDC yang mempertahankan klaim bahwa hanya terjadi satu kali penyucian Bait Allah. Alasan utamanya adalah Yohanes tidak bertendensi kronologis, melainkan “kairologis” (mementingkan signifikansi peristiwa tersebut dalam kerangka tulisannya). Alasan ini mengasumsikan bahwa pertimbangan historis (yang menjadi basis tuduhan Ehrman yang saya bahas dalam note yang kedua) bukanlah pertimbangan yang utama, melainkan pertimbangan teologisnya [ada pula yang menambahkan alasan keindahan komposisional sebagai alasannya, singkatnya: alasan sastrawi]. Dengan kata lain, Yohanes tidak bertendensi historis, melainkan teologis dan atau sastrawi. Ini adalah upaya untuk menghindar dari jebakan kesalahan historis yang dituduhkan Ehrman.

Akan tetapi, asumsi di atas perlu diuji dengan data dari tulisan Yohanes sendiri. Apakah Yohanes memberikan indikasi bahwa tulisannya tidak bertendensi historis sama sekali, sehingga kita tidak boleh “menghakiminya” berdasarkan standar ketepatan historis-kronologis?

Tendensi Historis Pengisahan Yohanes

Dalam pengamatan saya, data yang tersaji dalam tulisan Yohanes, membuktikan sebaliknya dari asumsi di atas. Berikut ini saya akan menyajikan sejumlah petunjuk dari tulisan Yohanes bahwa tulisannya berbasis tendensi historis.

Hal penting yang patut diingat sekali lagi adalah bahwa narasi-narasi dalam Yohanes 2 adalah narasi-narasi yang terjadi di awal pelayanan Yesus, ketika Yohanes Pembaptis masih bebas bergerak! Apakah Yohanes hanya sekadar memindahkan peristiwa di akhir pelayanan Yesus itu (bila ini adalah peristiwa tunggal) ke awal pengisahannya tanpa bermaksud agar para pembacanya memahami narasi tersebut dari segi penetapan waktu terjadinya peristiwa tersebut? Dari pengisahan Yohanes kita mendapati bahwa peristiwa di Bait Suci itu terjadi sesudah pesta perkawinan di Kana dan persinggahan singkat di Kapernaum, tetapi sebelum persinggahan yang agak lama di Galilea (2:1, 12-13, 23; 4:45). Dalam beberapa pasal pertama tulisannya, Yohanes bahkan menunjuk secara eksplisit mengenai pengetahuannya akan hari bahkan jam berlangsungnya peristiwa-peristiwa pada masa permulaan itu (1:29, 35; 2:1; 4:6, 52-53). Bila narasi-narasi di permulaan pelayanan Yesus ini dikisahkan dengan rujukan-rujukan waktu yang eksplisit, tentu sangat aneh bila hanya narasi penyucian Bait Sucilah yang mesti dipahami secara teologis dan sastrawi tanpa tendensi historis! Satu hal lagi yang perlu ditambahkan di sini adalah bahwa narasi-narasi yang terdapat dalam Yohanes 1:19 – 5:47 adalah narasi-narasi khas Yohanes (tidak terdapat dalam Injil Sinoptik). Apakah ini juga menjadi petunjuk bahwa narasi penyucian Bait Allah yang dikisahkannya pun termasuk di dalamnya? Tidak harus demikian. Tetapi juga tidak mustahil demikian!

Pertanyaan selanjutnya, apakah sedemikian persisnya kemiripan pengisahan Yohanes dan Injil Sinoptik mengenai narasi ini sehingga keduanya tidak mungkin adalah peristiwa yang berbeda? Ternyata tidak juga demikian!

Perbedaan dan Kemiripan Pengisahan

Peristiwa yang digambarkan Yohanes ini sungguh sangat berbeda dengan penyucian Bait Allah yang dikisahkan dalam Injil Sinoptik. Dalam Injil Sinoptik (Mrk. 11:16), Yesus sedikit banyak menghentikan seluruh kegiatan Bait Suci pada waktu itu. Yesus bertindak selaku Tuhan atas Bait tersebut. Itulah sebabnya, orang bertanya dengan kuasa manakah Dia melakukan hal-hal itu, dan siapakah yang memberi kuasa itu (Mrk. 11:9-10, 18). Tempat para penyamun yang merencanakan pembunuhan terhadap Mesias itu (Mrk. 11:17) terancam akan ditutup sendiri, sama seperti pohon ara yang mandul yang tidak lama sesudah itu kering sampai ke akar-akarnya.[1] Dari peristiwa di akhir pelayanan Yesus ini pun kita tidak menemukan firman mengenai perombakan Bait Allah dan Yesus akan membangunnya kembali dalam tiga hari sebagaimana yang terdapat dalam pengisahan Yohanes. Padahal, kata-kata ini adalah sebuah bukti penting yang diajukan sebagai tuduhan ketika Yesus diadili (Mrk. 14:55-59; saya sudah mengulas mengenai indikasi ini dalam note yang pertama). Bila kata-kata ini (yang jelas merujuk kepada catatan Yohanes) adalah sebuah bukti penting yang dituduhkan bagi Yesus dalam pengadilan tersebut, mengapa Injil Sinoptik justru tidak menyertakannya? Dan Markus 14:55-59 sendiri mengindikasikan bahwa kata-kata tersebut sudah tidak terlalu diingat lagi ketika para saksi diperhadapkan ke pengadilan. Ketidakonsistenan kesaksian mereka tidak mungkin terjadi bila kata-kata tersebut baru dilontarkan beberapa hari yang lalu! Dan lagi, bila Yesus mengungkapkan kata-kata itu dihadapan orang banyak di akhir pelayanan Yesus, situasi di mana gerak-gerik Yesus telah menjadi incaran yang intens, tentu Sanherdin mengetahuinya dengan jelas! Ketidakkonsistenan para saksi tersebut mengindikasikan, selain lamanya waktu pengucapannya, bahwa pada waktu kata-kata tersebut dilontarkan, gerak-gerik Yesus belum menjadi incaran yang intens!

Dalam pengisahan Yohanes (2:13dst), Yesus tidak mengusir para pedagang sebagaimana yang tercatat dalam Matius 22:13; Markus 11:15; Luk. 19:45. Yesus membuat cambuk dari tali (2:15) bukan untuk mengusir para pedagang. Cambuk semacam itu pada waktu itu bukan ditujukan untuk manusia, melainkan binatang! Yang diusir Yesus adalah hewan-hewan korban yang dijajakan oleh para pedagang (Yoh. 2:14-16). Bahkan Yesus tidak secara paksa melepaskan burung-burung merpati yang diperjualbelikan itu. Yesus menyuruh mereka untuk menyingkirkannya (2:16). Dalam pengisahan Yohanes, Yesus tidak mengecam para pedagang karena Bait Allah telah mereka jadikan sarang penyamun, tetapi karena mereka menjadikannya tempat berdagang!

Bila demikian, apakah kemiripan narasi Yohanes dan Injil Sinoptik. Kemiripannya hanya sebatas garis besar peristiwa: terjadi menjelang hari raya paskah; ada “keributan” di Bait Allah karena tindakan Yesus[2]; dan Yesus menghadapi protes! Hanya sebatas itu. Padahal detailnya sangat berbeda sekali. Jadi dengan kemiripan seperti ini, lalu pengisahan Yohanes dan Injil Sinoptik harus merujuk kepada peristiwa yang sama?!

Jadi, jelas bahwa asumsi mengenai hanya satu kali penyucian Bait Allah sebenarnya lebih banyak dilawan oleh data dari dalam Kitab-kitab Injil sendiri. Orang lalu lupa bahwa ia harus mendengarkan kata teks ketimbang asumsinya sendiri mengenai teks! Lagi pula, atas dasar apakah orang menentukan ini yang pertama dan itu yang terakhir? Bukankah penentuan ini berdasarkan apa yang tercatat dalam teks? Lalu bila dua teks mengisahkan peristiwa dengan rujukan waktu yang jelas, mengapa kita mesti memaksakan salah satunya untuk menyerahkan tendensi historisnya atas nama tendensi teologis dan sastrawi?

Kelihatannya, yang terjadi di sini adalah terlalu banyak ragi dicampurkan ke dalam adonan, hanya karena selera tertentu, lalu orang melupakan bahwa perpaduan ragi dan adonan semestinya proporsional. Siapa yang harus diikuti? Selera orangkah? Atau aturan-aturan mengenai bagaimana seharusnya membuat adonan? Sayangnya banyak orang memilih yang pertama ketimbang yang terakhir! Oh, betapa nikmatnya belaian asumsi; lebih nikmat dari mendengarkan alunan merdu yang terdengar dari teks!


[1] Lih. Injil Markus, yang dalam 11:12-14, 20-21 menyajikan kisah ini sebagai kisah bingkai peristiwa penyucian Bait Allah.

[2] Walaupun sebenarnya, gambaran pengisahan Yohanes tidak begitu mencekam ketimbang yang dikisahkan dalam Injil Sinoptik.