Arti sebuah kata itu tidak statis, melainkan dinamis. Pada satu masa, sebuah kata dapat berarti “ini”, namun pada masa berikutnya arti kata yang sama dapat berarti “itu”. Salah satu contoh. Kata martys pada masa ketika PB di tulis berarti “seorang saksi”. Kata ini, pada abad kedua mengalami perkembangan arti menjadi cenderung agak teknis, yakni digunakan bagi seseorang yang mati karena memilih tetap mempertahankan imannya kepada Kristus ketimbang menyangkalinya. Arti yang terakhir inilah yang umumnya langsung muncul dalam benak kita saat ini tatkala mendengar seseorang menggunakan kata martir. Saya pernah mendengar seorang pengkhotbah yang berkhotbah dari Kisah 1:8 di mana kata martys digunakan di sana. Pengkhotbah tersebut menguraikan dengan panjang lebar tentang orang-orang Kristen yang mati karena iman mereka pada abad kedua dan ketiga. Mengakhiri khotbahnya, ia menantang pendengarnya dengan berkata: “Banyak orang menyebut diri mereka saksi Kristus, tetapi lihatlah berapa banyak orang yang mau mati demi mempertahankan imannya?” Sebuah tantangan yang menarik dan menggugah hati. Tetapi, sang pengkhotbah sedang mengacaukan antara arti yang muncul kemudian dengan arti yang sesungguhnya dimaksudkan oleh kata martys yang digunakan dalam Kisah 1:8. Tentu saja, kita dapat berargumentasi bahwa Stefanus mati sebagai martir (Kis. 7). Tetapi, penekanan utama Kisah 1:8 adalah penyebarluasan berita tentang Kristus sampai ke ujung bumi. Penekanan utamanya, dari segi konteksnya, adalah bahwa kata tersebut berarti orang yang terlibat dalam penyebarluasan berita Injil!

Bila seorang pembaca atau penafsir Alkitab tidak hati-hati terhadap fenomena ini, ia dapat tergelincir dalam memaknai makna sebuah kata dalam Alkitab, sebagaimana contoh di atas. Singkatnya, kesalahan eksegetis ini terjadi ketika seseorang mengartikan sebuah kata dalam Alkitab berdasarkan artinya yang baru muncul pada waktu yang kemudian, padahal pada masa Alkitab ditulis, arti tersebut belum umum atau bahkan belum dikenal sama sekali! Di samping itu, yang sangat penting untuk diingat juga adalah bahwa penentu arti sebuah kata dalam teks harus ditentukan oleh konteks penggunaannya dalam teks tersebut.

Beberapa contoh dapat disertakan berikut ini untuk lebih memperjelas pemahaman kita mengenai kesalahan eksegetis ini.

Kata “ikan” (Yun. ikhtus) dalam PB semata-mata digunakan secara literal. Namun, ketika penganiayaan hebat terjadi pada abad kedua, dst terhadap orang-orang Kristen, rupanya orang-orang Kristen pada masa itu menggunakan “ikan” sebagai simbol pengakuan iman. Bahkan kata tersebut dalam bahasa Yunaninya: ikhtus menjadi sebuah akronim: Iesous kristos Theos Huios Soteros (Yesus Kristus Allah Putra Penyelamat)! Kita mungkin berpikir bahwa tidak ada penafsir yang “waras” yang akan menafsirkan kata “ikan” dalam PB dalam arti yang terakhir ini. Tetapi, saya pernah mendengar sendiri seorang pengkhotbah bahkan menghitung penggunaan kata “ikan” dalam PB dan mengemukakan jumlahnya dalam sebuah khotbah. Sambil memiringkan kepala dan menaikkan alis matanya (untuk menarik perhatian seolah-olah ia sedang menyampaikan sesuatu yang penting), pengkhotbah tersebut berkata dengan nada suara yang lebih tinggi: “Lihat, nama gereja kita betul-betul alkitabiah. Nama gereja kita dapat ditemukan dalam Kitab-kitab Injil”. Rupanya, ini adalah kebaktian peresmian pemberian nama baru untuk gereja tersebut. Gereja tersebut dinamai “Ikhtus”!

Contoh terakhir yaitu kata “perjamuan”. Dalam PB, kata ini digunakan untuk sekelompok orang Kristen berkumpul lalu beribadah kemudian makan bersama [mereka berkumpul di rumah dari salah seorang jemaat]. Makan bersama di sini benar-benar berarti makan [bahkan hingga kekenyangan; bnd. 1Kor. 11:23dst]. Tetapi, pada abad-abad sesudahnya, ketika organisasi dan pentingnya liturgi mulai ditekankan dalam Gereja, kata ini digunakan dalam arti kegiatan liturgis-sakramental yang benar-benar khidmat. Dalam perjamuan ini, memang ada makanan, tetapi makanannya adalah sepotong roti dan seteguk anggur.  Suatu suasana yang sangat berbeda dengan yang tergambar dalam PB. Nah, fenomena ini berpotensi menimbulkan kesalahan, yakni tatkala seseorang membaca tentang “perjamuan” dalam PB dalam bayangan seperti praktik perjamuan masa kini. Mungkin bermanfaat juga kalau saya mengakhir note singkat ini dengan satu contoh terakhir, yaitu kata “jemaat” dalam PB. Kata ini digunakan untuk kumpulan orang Kristen yang beribadah di rumah-rumah [jemaat rumah]. Tentu gambaran tentang “jemaat” pada masa kini sangat berbeda, dimana kita telah terkondisi untuk berjemaat di sebuah gedung tertentu yang kita namakan “gedung gereja”. Bila orang tidak memahami hal ini, ia akan secara bias mengartikan “jemaat” dalam PB dalam gambaran sekelompok orang yang bertemu secara rutin di sebuah gedung yang tetap, tidak berpindah-pindah. Padahal tidak demikian situasinya pada masa jemaat mula-mula, sebagaimana yang tercatat dalam PB!