Dalam bagian pertama, saya sudah menjelaskan tentang keharusan penyelidikan gramatikal dan penyelidikan historis. Note pertama sekaligus juga sudah memuat ulasan ringkas tentang elemen-elemen dasar dalam penyelidikan gramatikal. Dalam note lanjutan ini, saya akan memberikan ulasan ringkas mengenai hal-hal apa saja yang tercakup dalam penyelidikan historis. Karena banyak sekali elemen-elemen penyelidikan historis yang akan disinggung di bawah ini, maka saya juga tidak akan menyajikan banyak contoh di sini.

Perlu disebutkan di sini bahwa penyelidikan historis dilakukan untuk mengamati dua hal utama, yaitu: sejarah di dalam teks dan sejarah dari teks. Yang pertama berbicara tentang kandungan-kandungan historis yang muncul dalam sebuah teks. Yang kedua berbicara tentang sejarah ada di sekitar teks serta yang ikut memberi sumbangsih terhadap pembentukkan sebuah kitab.

Elemen-elemen penting yang tercakup dalam penyelidikan historis, antara lain:

  • Latar belakang kitab, yaitu: penulis, pembaca pertama, situasi mereka, tujuan penulisan, dsb.
  • Unsur-unsur sejarah yang terkandung di dalam teks. Misalnya: tokoh-tokoh, peristiwa, adat-istiadat, situasi politik, dsb.
  • Unsur-unsur geografis dan topografis.

Selain beberapa hal di atas, sangat bermanfaat juga untuk mengadakan studi terhadap sumber-sumber tertulis sejaman dengan para penulis Alkitab. Misalnya, tulisan-tulisan sejahrawan kuno dan tulisan-tulisan orang-orang Yahudi pada masa itu.

Sekadar gambaran, saya akan mengemukakan contoh dari beberapa elemen historis di atas. Studi tentang sejarah pembentukkan Kitab Pentateukh hingga komposisi finalnya, ikut memperjelas mengapa ada catatan tentang kematian Musa dalam Kitab Ulangan. Rupanya, kitab-kitab ini mencapai bentuk finalnya, sama seperti yang ada pada kita saat ini, bukan pada masa hidup Musa, melainkan pada masa yang kemudian (mayoritas sarjana percaya bahwa komposisi finalnya terjadi pada masa pembuangan). Penyelidikan geografis juga sangat penting untuk mencegah kita mengartikan Taman Eden dalam gambaran kita tentang “taman” masa kini. Ternyata, Taman Eden mencakup daerah yang sangat luas sekali. Hal ini terindikasi dari penyebutan empat buah sungai yang mengalir di dalamnya. Pengetahuan tentang budaya “terima kasih” juga sangat menolong kita untuk tidak menanggap sembilan orang kusta yang disembuhkan Yesus, yang tidak kembali untuk berterima kasih secara verbal kepada Yesus, sebagai orang-orang yang tidak tahu berterima kasih (dalam kategori kita saat ini). Mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Karena pada masa itu, orang tidak terbiasa mengucapkan terima kasih secara verbal. Sebuah perbuatan baik yang diterima, akan dibalas dengan perbuatan baik kepada orang yang telah melakukan kebaikan itu atau kepada orang lain. Mereka tidak harus kembali untuk berterima kasih! Tetapi, jika Yesus memuji orang Samaria yang kembali untuk berterima kasih, maka kita dapat melihat penekanan penting bahwa perbuatan Allah tidak dapat dibalas dengan perbuatan baik mana pun. Di sini, unsur anugerah merupakan penekanan penting.

Dengan mengemukakan segelintir contoh di atas, saya berharap Anda yang membaca note ini dapat melihat signifikansinya dalam eksegesis Alkitab. Mengakhiri note ini, saya ingin mengutip sebuah kalimat penting dari Louis Berkhof:

the word of God originated in a historical way, and therefore, can be understood only in the light of history” (Principles of Biblical Hermeneutics [Grand Rapids, Michigan: Baker, 1950], 13).