Note ini tidak dimaksudkan untuk membahas segala sesuatu tentang bagaimana menafsirkan Amsal. Diperlukan ruang yang cukup luas untuk itu. Note ini, sebagaimana judulnya, hanya akan mengulas salah satu prinsip menafsirkan amsal-amsal dalam Alkitab.

Istilah amsal diterjemahkan dari kata Ibrani: masyal yang mencakup beragam sub-genre. Kata masyal kemungkinan berasal dari akar kata yang berarti “menyerupai” atau “dibandingkan dengan”. Fitur utamanya adalah perbandingan, walaupun tidak selalu demikian (bnd. mis. Ams. 16:24; 1Sam. 24:14) Umumnya, amsal-amsal terdiri atas ucapan-ucapan pendek. Singkatnya, amsal-amsal itu tidak boros dalam penggunaan kata-kata. Amsal-amsal juga disusun dalam bentuk puitis; bahasa yang dipadatkan. Ia sanggup mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang mendalam hanya dengan menggunakan kata-kata yang sedikit. Pesan kebenarannya terkandung dalam kalimat yang sesingkat mungkin. Ini menjadi petunjuk bagi pembaca amsal-amsal untuk memelankan laju membaca mereka dan menggunakan banyak waktu untuk merenungkan maknanya.

Berkenaan dengan pembacaan yang tepat akan amsal-amsal, kita harus memahami bahwa amsal-amsal tidak pernah dimaksudkan sebagai janji yang mutlak, melainkan sebagai sebuah prinsip umum. Prinsip yang terkandung di dalamnya terkonstruksi berdasarkan: observasi dan pengalaman (mis. Ams. 6:6-11; 7:6-8, 22-23), pelajaran dari kesalahan (mis. Ams. 3:34; 12:1; 15:3; 16:18);, tradisi (mis. Ams. 4:3-4; 19:2; 22:17-21), termasuk juga wahyu (mis. Ams. 2:8-8; 16:1; 19:21). Berhubungan dengan dasar-dasar ini, amsal-amsal tidak dimaksudkan untuk diterapkan atau diaplikasikan dalam setiap keadaan dan situasi.  Penerapan yang absolut merupakan sebuah misidentifikasi fitur genre serta melampaui tujuan perumusan amsal itu sendiri.

Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya” (Ams. 15:23).

Perhatikan juga dua amsal berikut:

Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia” (Ams. 26:4);

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (Ams. 26:5).

Dua amsal yang disebutkan di atas mengharuskan seseorang untuk mampu mengidentifikasi “orang bebal” macam apa yang sedang dihadapinya. Karena dengan demikian, ia dapat memutuskan secara tepat respons yang bagaimana terhadap orang tersebut.

Prinsip di atas berhubungan erat dengan hikmat. Hikmat, mengutip Tremper Longman, adalah “pengenalan akan waktu yang tepat dan kondisi yang tepat juga untuk mengaplikasikan prinsip yang tepat kepada orang yang tepat” (Hikmat & Hidup Sukses [judul aslinya: How to Read Proverbs?], 65). “Dengan cara yang tepat”, mungkin merupakan salah satu aspek yang belum dimasukkan Longman dalam definisi ini. Artinya, hikmat memungkinkan seseorang untuk dapat menggunakan atau menerapkan amsal secara tepat. Dan untuk memperoleh hikmat ini, orang tersebut haruslah orang yang “takut akan Tuhan” (Ams. 1:7; 2:6-8; 16:1).

Mungkin kita perlu tahu juga bahwa di dalam sejarah, pernah terjadi kontroversi di antara para rabi berkenaan dengan apakah Kitab Amsal boleh dimasukkan ke dalam kanon atau tidak. Natur dari kontroversi ini adalah cara memahami amsal-amsal sebagai sebuah peraturan hukum yang harus berlaku dalam setiap situasi. Karena mereka mendapati adanya “kontradiksi”, sebagaimana yang tereksplisit dalam dua amsal yang disebutkan di atas, mereka berpikir bahwa seyogyanya kitab ini tidak termasuk dalam kanon. Beberapa rabi berargumentasi bahwa kitab ini mengandung isi yang bertentangan satu sama lain, dan, mengingat Allah tidak mungkin bertentangan dengan dirinya sendiri ataupun berbuat kesalahan, kedua amsal tersebut merupakan indikasi bahwa keseluruhan kitab ini tidak layak dimasukkan ke dalam kanon. Seperti yang sudah diulas di atas, kedua amsal tersebut sama-sama benar! Kesahihannya bergantung pada waktu dan kondisi yang tepat.

Singkatnya, amsal-amsal tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagai prinsip-prinsip yang mutlak berlaku dalam setiap kondisi. Pengenalan yang tepat akan kondisi-kondisi yang bersesuaian dengan sebuah amsal-lah yang menjadi penekanan utamanya. Dan untuk bisa mengenal kondisi-kondisi yang tepat itu, kita memerlukan hikmat dari Tuhan!