Kitab Kidung Agung, di dalam sejarah hermeneutik, telah menerima banyak usulan genre:

  • Alegori – a) alegori kasih Allah bagi Israel [para rabbi abad pertengahan, Rashi, Ibn Ezra]; b) alegori tentang kasih Yesus bagi Gereja [Hippolytus dari Roma]; c) alegori kasih Allah bagi Perawan Maria [Ambrosius]; d) alegori tentang penyatuan mistik dari jiwa dengan Allah [Origenes; gregorius dari Nissa];
  • Himpunan syair yang dinyanyikan pada perkawinan para petani [Bossuet; Renan; Wtzstein; Budde];
  • Liturgi dalam perayaan pemujaan perkawinan dewi ISytar dengan Dewa Tammuz (Meek; Margolis; Snaith];
  • Suatu bunga rampai kidung-kidung putus cinta [Gordis; Rowley; Eissfeld];
  • Sebuah perjamuan kasih yang berkaitan dengan penguburan [Pope];
  • Suatu drama [Jacobi].

Tidak cukup ruang dan waktu untuk mengevaluasi beragam usulan genre di atas. Saya langsung saja menyatakan posisi saya bahwa kitab ini lebih tepat terkategori sebagai puisi cinta atau ekspresi cinta antara Salomo dan Sulamit, gadis petani yang menjadi istrinya. “Kidung Agung,” tandas Young, “memuji keagungan dan kesucian cinta manusia” [An Introduction to the Old Testament, 327].

Keagungan dan kesucian cinta yang bagaimana yang terekspresi di dalam kitab ini? Saya akan menggumuli pertanyaan ini dengan memulainya dari hubungan kitab ini dengan literatur-literatur hikmat dan teologi penciptaan.

Untuk memahami hubungan kitab ini dalam kumpulan kitab-kitab hikmat, kita perlu memahami penekanan penting dalam sastra hikmat bahwa orang yang berhikmat berhasil atau cakap dalam hubungan-hubungannya, termasuk dalam hubungan perkawinannya. Dengan mengarahkan kehidupannya sesuai rencana Allah, orang berhikmat memiliki komitmen pada kehidupan yang penuh kebajikan dan setia dalam perkawinan. Kitab Amsal sering menasihati pembacanya untuk menjaga standar yang tertinggi dalam hubungan dengan lawan jenis. Secara negativ, hal ini termasuk upaya menghindari perempuan maksiat, pelacur, dan istri yang suka melawan (Ams. 2:16-19; 5:3-14, 20; 6:24, 29, 32-35; 7:4-27; 22:14; 23:27-28; 30:20), dengan jerat seksualnya berbahaya. Secara positif, hal ini termasuk upaya menikmati perkawinan dan setia dengan istrinya sendiri, yang diibaratkan dengan minum air dari kulah, sumur, atau mata airnya sendiri (5:15-19). Bukan sekadar kebetulan, bahwa pada malam perkawinan mereka, Salomo menggambarkan mempelai perempuannya bagaikan mata air yang mengalir (Kid. 4:12, 15).

Jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis” (Ams. 30:19), yaitu masa pacaran dengan perempuan yang dicintainya, adalah misterius dan menyangkut misteri tentang apa yang kelihatannya sulit, sebagaimana “jalan-jalan” lain dalam ayat yang sama: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, dan jalan kapal di tengah laut. Tidakkah Kidung Agung menggambarkan jalan seorang laki-laki (Salomo) dengan gadisnya (Sulamit)? Bahkan di dalamnya termuat keyakinan dan kekaguman suami terhadap istrinya yang cakap (Ams. 31:10-12, 20-30) yang tercium dari bau harum hubungan kasih antara Salomo dengan pengantin perempuannya. Kitab Pengkhotbah yang menekankan tentang kesenangan akan kenikmatan hidup juga turut mempersiapkan pembaca Alkitab untuk gambaran kesengan kasih perkawinan dalam Kidung Agung. Pengkhotbah 9:9 (juga Ams. 5:18) mendorong pembacanya merasakan kenikmatan fisik dalam perkawinan, yang kemudian digambarkan dengan rinci dalam Kidung Agung.

Kidung Agung bukan hanya berhubungan erat dengan sesama literatur hikmat lainnya. Ia juga berhubungan erat dengan teologi penciptaan. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk menikmati kasih dalam perkawinan (Kej. 2:24). Penyatuan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan adalah bagian dari rencana Allah bagi dunia. Lalu apakah aneh jika Dia memberikan kepada kita sebuah kitab yang menggambarkan betapa suci, antusias, dan indahnya hubungan manusia yang paling intim ini? Bagi mereka yang berpikiran kotor, ya! Tetapi tidak demikian bagi mereka yang memahami bahwa perkawinan bukanlah buah dari kejatuhan. Sebelum manusia mengenal dosa, Tuhan telah mengordinansikan perkawinan. Perkawinan itu suci dan berkenan kepada-Nya. Tidak berlebihan, bila Walter C. Kaiser menyatakan bahwa Kidung Agung merupakan tafsiran dari Kejadian 2:24 bahkan merupakan buku pegangan tentang kebahagiaan dan ganjaran dari kasih yang intim dari perkawinan [Toward an Old Testament Theology, 180]. Jika perkawinan itu suci dan dirancang untuk dinikmati dalam hormat dan takut akan Tuhan, maka puji-pujian dan anutisasme yang paling mendalam sekalipun dengan ungkapan-ungkapan yang paling bergairah antara seorang suami terhadap istrinya, merupakan buah bakhti seorang yang menghormati ordinansi Allah itu.

Dan lihatlah, betapa indahnya esensi putis yang tergurat dalam kitab ini. Guratan-guratan keindahan, antusiasme, gejolak kekaguman dan sebagainya terpampang eksplisit. Sebuah eksplisitas kenikmatan relasi terintim yang tak dapat terungkap dengan satu pengungkapan saja. Memang, esensi puisi adalah pemakaian kiasan untuk mengekspresikan berbagai nuansa yang tak mampu termuat dalam satu definisi tunggal. Dan ini benar saat ditautkan dengan puisi cinta. Salomo membandingkan Sulamit dengan bunga bakung (Kid. 2:2), dan perempuan ini membandingkan Salomo dengan pohon apel (ay. 3). Percintaan mereka seperti orang yang menikmati buah (ay. 3-4), anggur (1:2; 5:1), madu dan susu (5:1), dan rasa senang berada di kebun atau taman (4:12, 16; 5:1; 6:2) dan kebun anggur (8:12). Perempuan ini menggambarkan Salomo seperti seekor kijang (2:9, 17; 8:14) yang tampak gesit, tangkas, tampan, dan kuat. Pria ini sungguh menawan dan dirindukan seperti bunga pacar yang mekar (1:14). Pria itu lalu menyebut kekasihnya ibarat merpati (2:14; 5:2) dan menyamakan matanya dengan mata merpati (1:15; 4:1). Rambutnya yang hitam dan bergelombang difigurasikan seperti kawanan kambing (4:1; 6:5); giginya yang putih mengkilap termisal dengan kawanan domba (4:2; 6:6); pelipisnya yang merah merona dikagumi seperti buah delima (4:3; 6:7); buah dadanya yang ranum teranalogi seperti dua anak rusa (4:5; bnd. Ams. 5;19); lalu bibirnya yang menantang itu dimaknai seperti manaisnya madu (4:11). Dengan “mengendarai” simbolisme, Sulamit membandingkan rambut Salomo dengan burung gagak (5:11), matanya seperti merpati (ay. 12), bibirnya seperti bunga bakung (ay. 13), tangannya, tubuhnya dan kakinya dengan logam mulia (ay. 14-15). Pada gilirannya, Salomo menggambarkan kaki perempuan itu bagaikan perhiasan (7:1), pusarnya bagaikan cawan yang bulat (ay. 2), perutnya seperti timbunan gandum yang berpagar bunga-bunga bakung (ay. 2), buah dadanya bagaikan anak rusa dan gugusan buah korma (ay. 3-7), matanya bagaikan telaga (ay. 4), dan kepalanya bagaikan Gunung Karmel (ay. 5).

Kitab Kidung Agung, melalui kisah asmara Salomo dan Gadis Sulamait itu, mengungkapkan dengan jelas mengenai betapa indah dan sucinya rancangan Tuhan bagi sebuah relasi yang bernama cinta kasih dalam perkawinan. Begitu indanya, sehingga hanya puisilah yang mampu membawa keindahannya terpampang mempesona. Demikian pula begitu sucinya, sehingga bahkan asmara biru kedua sejoli itu terkanon sebagai kitab suci. Rabi Akiba (50?-132 M) berseru, “Seluruh dunia tidak sama layaknya seperti pada hari itu ketika Kitab Kidung Agung diberikan kepada Israel, sebab semua tulisan itu suci, tetapi Kidung Agung adalah yang paling suci” [Misnah, Tractate Yadim, 3, 5].  

Rupanya, Kitab ini sedang mengajarkan teologi cinta dengan puisi. Puisi Cinta, itulah “kendaraannya”. Teologi cinta berkereta puisi. Dan penunggannya adalah Salomo dan Sulamait!