Teks Yunani Roma 1:5

δι’ οὗ ἐλάβομεν χάριν καὶ ἀποστολὴν εἰς ὑπακοὴν πίστεως ἐν πᾶσιν τοῖς ἔθνεσιν ὑπὲρ τοῦ ὀνόματος αὐτοῦ

Roma 5:1 (ITB; bnd. BIS; NLT)

Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

Note ini tidak dimaksudkan untuk membahas semua aspek eksegetis dari Roma 1:5. Namun saya perlu mengemukakan bahwa di dalam ayat ini,  Paulus menandaskan bahwa melalui Kristus, ia telah menerima mandat kerasulan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa non Yahudi supaya mereka menjadi percaya dan taat kepada Kristus. Nats ini dapat dilihat sebagai “program kerasulan Paulus”.

Inti gagasan Paulus dalam ayat ini perlu diperjelas. Untuk itu, saya akan mengulas dua aspek eksegetis dalam ayat ini, yaitu: penggunaan bentuk orang pertama jamak dalam kata ἐλάβομεν dan bentuk genetif dari kata πίστεως. Dua aspek eksegetis ini menarik perhatian saya karena, sebagaimana yang akan ditunjukkan berikut ini, ada perbedaan terjemahan terhadap keduanya. Mengapa terjadi perbedaan penerjemahan? Gagasan eksegetis apakah yang berada di balik terjemahan-terjemahan tersebut?

Kata λάβομεν

Sebelum menyimak variasi terjemahan terhadap kata ini, saya pikir akan lebih mudah memahaminya bila terlebih dahulu saya menjelaskan secara singkat tentang sistem kata kerja dalam tata bahasa Yunani. kita perlu tahu bahwa sebuah kata kerja bahasa Yunani selalu mengandung dua unsur utama, yaitu stem (kata dasar) dan akhiran (ada tense tertentu yang menambahkan aughment, yaitu vokal epsilon di awal kata, yaitu: imperfek dan aorist). Dua unsur ini digabungkan menjadi satu kata. Stem-nya akan menentukan arti dasar dari kata yang bersangkutan, sedangkan akhirannya berfungsi untuk menunjukkan beberapa unsur lain, yaitu: tense,[1] pelaku,[2] jumlah,[3] nada/diatesis,[4] dan modus[5] yang dapat diidentifikasi berdasarkan akhirannya. Artinya, dari sebuah kata kerja, kita sudah dapat mengidentifikasi arti, tense, pelaku, dan jumlah pelakunya.

Dan penjelasan di atas dapat dilihat dalam parsing dari kata elabomen. Kata elabomen adalah kata kerja aorist [tense] indikatif [modus] aktif [voice/diatesis], orang pertama [pelaku] jamak [jumlah], dari kata lambano, yang berarti “kami [dulu pernah] menerima”. Selain itu, bila kita memperhatikan struktur kalimat Roma 5:1, sebenarnya tidak ada kata yang berfungsi sebagai subjek dalam kalimat tersebut. Konstruksi seperti ini, biasanya disebut konstruksi intransitif, dimana subjek dari kalimat atau anak kalimat yang bersangkutan di ambil dari kata kerja utamanya [karena setiap kata kerja sebenarnya sudah mengandung unsur pelaku, yang dapat diperlakukan sebagai subjek].

Ketika menerjemahkan kata ini, dalam hubungan dengan keseluruhan ide yang tergagas dalam ayat ini, paling tidak terdapat tiga variasi terjemahan terhadap kata ini.

Pertama, mayoritas terjemahan bahasa Inggris menerjemahkan kata elabon dengan “we received” (NIV; NIB); atau “we have received” (DBY; DRA; ESV; KJV; NAS; NAU; NKJ). Demikian pula ITB yang menerjemahkannya: “kami menerima”. Versi-versi ini mendapatkan kata we (atau kami) sebagai subjek dari akhiran kata elabomen.

Kedua, ada versi terjemahan yang tidak mengindahkan konstruksi intransitif dari Roma 1:5 dan menerjemahkannya secara agak bebas: “[God] has given us” (NLT). Perhatikan bahwa “kami” yang seharusnya berposisi sebagai subjek, ditempatkan sebagai objek, sementara subjeknya digantikan dengan “God” (Allah), padahal kata “Allah”, walaupun diasumsikan oleh konteksnya,[6] namun tidak muncul dalam ayat ini.

Ketiga, versi BIS bahkan melangkah lebih jauh dengan mengabaikan arti literar elabomen yang seharusnya: “kami telah menerima”. BIS menerjemahkannya menjadi: “Allah memberikan kepada saya”. Perhatikan bahwa tampaknya para penerjemah BIS memanfaatkan ide dari para penerjemah pada kelompok kedua di atas, yaitu memberi penekanan pada Allah sebagai pemberi karunia kerasulan. Lalu, dari mana para penerjemah BIS mendapatkan kata ganti saya (sebagai objek), padahal sangat jelas bahwa kata elabomen seharusnya diterjemahkan dengan “kami telah menerima”? Rupanya, bila kita meneliti konteks Roma 1:1-5, di awal surat ini Paulus menyebut dirinya sendiri sebagai penulis surat ini. Di samping itu, tidak diragukan lagi bahwa pemberitaan Injil kepada gentiles memang adalah tugas spesifik dari kerasulan Paulus. Artinya, menurut para penerjemah BIS, Paulus tidak sedang bicara tentang dirinya dan rasul-rasul lain dalam konteks ini, melainkan bicara tentang karunia kerasulannya sendiri. Mereka menganggap bahwa walaupun kata elabomen secara literal (literal meaning) berarti “kami menerima”, namun yang dimaksudkan Paulus (intended meaning) adalah “saya menerima”. Dan karena ingin menekankan mengenai Allah sebagai pemberi karunia kerasulan Paulus, maka mereka mengubah konstruksi kalimatnya untuk memperlihatkan penekanan dan intended meaning dari kata elabomen, sehingga muncullah terjemahan: “Allah memberikan kepada saya”!

Dengan memperhatikan tiga variasi terjemahan di atas, pemahaman kita akan kata elabomen dalam konteksnya menjadi lebih kaya. Variasi pertama menekankan tentang arti literalnya; variasi kedua menambahkan penekanan konteksnya mengenai Allah sebagai sumber pemberi karunia kerasulan, walaupun Paulus tidak menyatakannya di sana (unstated idea); sedangkan variasi ketiga memperjelas maksud sesungguhnya dari Paulus ketika menggunakan kata elabomen. Setiap variasi terjemahan, memberi kontribusi dari aspek yang berbeda untuk memahami maksud Paulus di sini.

Jenis Genetif kata πίστεως

Bila dirangkaikan dengan kata sebelumnya, yaitu kata ὑπακοὴν, maka secara literal, frasa ὑπακοὴν πίστεως harus diterjemahkan “ketaatan [dari] iman” (“obedience of faith”). Sebagaimana kata elabomen di atas, frasa ini pun diterjemahkan secara variatif karena perbedaan identifikasi terhadap bentuk genetif dari kata pisteos di sini.

Pertama, mayoritas versi bahasa Inggris menerjemahkan frasa hupakoen pisteos dengan: “obedience of faith” (ESV; DBY; NAU; NAB; NJB; dsb). Versi-versi ini sekalipun menerjemahkan frasa ini persis seperti arti literalnya, namun tidak jelas memperlihatkan jenis genetif dari kata pisteos.

Kedua, karena ketidakjelasan dari versi-versi di atas, ada beberapa versi terjemahan yang menerjemahkan frasa di atas dengan: “…the obedience that comes from faith” (NIV; NIB). Terjemahan ini sangat jelas mengidentifikasikan jenis genetif dari kata pisteos sebagai genetif sumber (genitive of source). Artinya, iman dilihat sebagai sumber yang melahirkan ketaatan. Iman dahulu baru ada ketaatan. Ketaatan lahir dari iman.

Ketiga, ada penerjemah yang tidak sependapat dengan genitive of source sebagai jenis genetif yang mewakili maksud Paulus. Mereka lebih memilih untuk menerjemahkannya dengan: “…obedience to the faith” (KJV; DRA). Penerjemah ini mengidentifikasi jenis genetif dari kata pisteos sebagai genetif objektif (objective genitive). Artinya, iman dianggap sebagai objek dari ketaatan.

Keempat, ada penerjemah yang bahkan mengidentikkan “ketaatan” dan “iman”, sehingga menerjemahkannya: “the obedience that is faith”. Para penerjemah/penafsir yang menganut pandangan ini menganggap bahwa bentuk genetif dari kata pisteos di sini adalah epexegetic genitive, sebuah bentuk genetif yang berfungsi menunjukkan keidentikan dua objek.

Sebelum melanjutkan dengan variasi yang keenam, saya akan mengemukakan pertimbangan ringkas mengenai variasi-variasi di atas.

  • Variasi pertama bersifat literal dan tidak perlu dikomentari.
  • Variasi kedua solid dalam menekankan bahwa tidak ada ketaatan tanpa iman terlebih dahulu ada sebagai sumbernya. Meski begitu, mengandung masalah serius, yaitu mengasumsikan bahwa terdapat dua tahap dalam kehidupan Kristen, yaitu mana dahulu lalu diikuti oleh ketaatan. Ini tidak benar. Seluruh kehidupan Kristen, adalah kehidupan iman.
  • Variasi ketiga memberi penekanan yang terlampau “berat” pada ketaatan. Seakan-akan orang-orang gentiles telah memiliki iman hanya mereka belum memliki ketaatan sehingga Paulus perlu memberitakan Injil kepada mereka supaya mereka taat kepada imannya. Tentu bukan ini yang dimaksudkan Paulus.
  • Variasi keempat terlampau mengidentikkan “iman” dan “ketaatan”.

Dalam hemat saya, yang lebih representatif untuk menjelaskan maksud frasa di atas adalah dengan mengingat bahwa bagi Paulus, “iman” dan “ketaatan” adalah seperti dua sisi dari satu koin. Berbeda tetapi tidak terpisahkan.

Itulah sebabnya, versi keenam, yang menerjemahkan “taat dan percaya” (ITB; BIS; NLT mengubah urutannya: “…believe and obey..”), lebih representatif menunjukkan maksud Paulus di sini. Memang, dari segi penerjemahannya, kedua versi ini terlihat sangat bebas. Ada penambahan kata “dan” yang sebenarnya menghilangkan nuansa genetif dari konstruksi frasa Yunaninya. Juga, kata taat terkesan sebagai kata kerja dan bukan kata benda sebagaimana kata bahasa Yunaninya. Tetapi, versi-versi ini menafsirkan secara representatif gagasan yang dimaksudkan Paulus ketika menggunakan frasa hupakuen pisteos. Paulus memaksudkan bahwa orang-orang gentiles pun memiliki dua sisi dari satu koin itu, yaitu “ketaatan” dan “iman”. Dan ini hanya terjadi melalui pemberitaan Injil kepada mereka. Itulah sebabnya, Paulus diutus sebagai rasul bagi bangsa-bangsa non Yahudi!


[1] Ada enam tenses di dalam tata bahasa Yunani, yaitu: present, imperfek, future, aorist, perfek, dan pluperfek.

[2] Kata-kata ganti pelaku:

–          Orang Pertama Tunggal: Saya/Aku

–          Orang Kedua Tunggal: Engkau

–          Orang Ketiga Tunggal: Dia

–          Orang Pertama Jamak: Kami/kita (bahasa Yunani tidak membedakan “kami” dan “kita”. Pembedaannya dalam terjemahan atau tafsiran ditentukan berdasarkan konteks)

–          Orang Kedua Jamak: Kalian

–          Orang Ketiga Jamak: Mereka

[3] “Jumlah” dalam tata bahasa Yunani: Tunggal & Jamak

[4] Nada (Voice) atau diatesis dalam tata bahasa Yunani: Aktif, Pasif, dan Medium

[5] Ada enam modus dalam sistem kata kerja bahasa Yunani: Indikatif, Imperatif, Subjunktif, Partisip, Infinitif, dan Optatif.

[6] Yang ditekankan dalam bagian pendahuluan ini adalah bahwa Allah mengaruniakan karunia kerasulan melalui perantaraan Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus.