Seorang penafsir yang teliti, akan menemukan bahwa ironi sebagai salah satu fitur narasi, sangat menonjol dalam Alkitab. Ironi adalah gaya bahasa yang mengungkapkan hal-hal yang bertentangan untuk memberi efek sastra. Hal ini biasanya berhubungan dengan kejutan-kejutan atau hal-hal yang tidak terduga dalam sebuah narasi. Penggunaan ironi di dalam Alkitab sangat banyak. Dan berikut ini, saya akan menunjukkan sejumlah contoh mengenai penggunaan ironi di dalam PL dan juga di dalam PB.

Perlu diketahui bahwa penggunaan ironi di dalam PL telah diulas secara luas oleh Edwin Good dalam bukunya yang berjudul: Irony in the Old Testament (Sheffield: Almond, 1981). Mulai dari Kitab Kejadian, kita sudah dapat menangkap nuansa ironis dalam hal pengisahan-pengisahan yang kelihatannya menguntungkan anak-anak laki-laki yang lebih muda ketimbang kakak-kakak mereka. Misalnya, kisah Yakub dan Esau, Efraim dan Manasye, Yehuda dan Yusuf. Masa transisi dari kepemimpinan Musa ke Yosua juga mengandung unsur ironi. Seluruh Kitab Pentateukh direpresentasikan dengan nama Musa: Kitab-kitab Musa. Dari segi kedudukkan, Yosua adalah abdi Musa dan bahkan tetap berkedudukan lebih rendah dari Musa. Tetapi, Yosua-lah yang dipilih untuk menuai kemenangan besar dengan menaklukkan Kanaan dan membawa Israel mendudukinya. Orang yang membaca Kitab Keluaran sejak awal, tentu berharap bahwa Musa-lah yang akan membawa Israel memasuki Kanaan. Namun, mengejutkan bahwa Musa hanya dianugerahi pemandangan akan Kanaan dari atas gunung, tanpa pernah menapaki kaki memasukinya. Raja Salomo, yang sangat terkenal dengan hikmatnya, ternyata mengakhiri hidupnya justru sebagai orang yang tidak berhikmat: menyembah berhala! Ia terkenal dengan nasihat-nasihat bijaknya agar menjaga kesetiaan dalam rumah tangga, justru terkenal sebagai orang yang paling banyak mengambil gundik dan istri. Dalam Kitab Ester, pertentangan ironis seperti ini juga sangat menonjol. Haman digantung di atas tiang yang ia sediakan sendiri bagi Mordekhai. Sebelumnya, ia terpaksa harus menghormati Mordekhai tepat seperti yang ia harapkan agar Mordekhai menghormati dirinya. Kitab Ester menyorot Haman seperti seorang pecundang yang berkali-kali terjebak oleh siasat busuknya sendiri.

Selanjutnya, buku mengenai ironi dalam PB ditulis oleh Jakob Jonsson berjudul: Humour and Irony in the New Testament (Leiden, The Netherlands: E.J. Brills, 1985).Halaman-halaman pertama Injil Matius mengandung pesan ironis. Orang-orang Yahudi di Palestina yang tinggal di Betlehem dan sekitarnya tidak menyadari bahwa Mesias telah lahir di tengah-tengah mereka. Orang-orang Majus dari negeri yang jauhlah yang mengetahuinya. Orang-orang Yahudi sibuk menganalisis nubuat-nubuat PL untuk menentukan tempat kelahiran Mesias. Tepat pada saat itu, Mesias telah menerima persembahan dari orang-orang Majus. Herodes yang menyiasati orang-orang Majus agar mengetahui tempat Yesus dilahirkan dan dengan demikian ia dapat mencelakainya, justru orang-orang Majus-lah yang akhirnya menyiasati Herodes dengan kembali melewati jalan lain. Dalam Yohanes 4:1-3, Yesus menghindari orang-orang Farisi – orang-orang Yahudi yang sangat religius pada waktu itu, tetapi Ia justru mendatangi seorang Samaria yang dibenci, perempuan amarol, dan tidak terpandang dalam masyarakat.

Sejumlah kecil contoh di atas sudah tentu menegaskan mengenai pentingnya seorang penafsir kejelian untuk menangkap maksud ironis dari sebuah teks. Lebih dari itu, kita juga perlu mengetahui makna penggunaannya dalam Alkitab. Penggunaan ironi dalam Alkitab menegaskan bahwa ada banyak hal yang tersembunyi dan ada lebih banyak kemungkinan tersedia daripada yang dapat dimengerti atau yang diduga oleh seseorang. Pengaturan dan intervensi Allah tidak dapat dikurang dalam sebuah rumus pasti, seolah-olah tindakan Allah dapat ditebak dengan jitu berdasarkan pola-pola atau rumus-rumus tertentu. Kita tidak memiliki seluruh informasi mengenai Allah dan apa yang akan dilakukan-Nya. Itulah sebabnya, sangat bijak bila seseorang mendengarkan peringatan Yakobus:

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,  sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (Yak. 4:13-15).

Dan, itu berarti kita harus selalu bersiap-siap untuk menghadapi hal-hal yang tak terduga dan tak terbayangkan sebelumnya dalam hidup ini. Jangan sampai, kepercayaan diri membuat kita kehilangan kepercayaan diri itu sendiri karena yang terjadi justru terbalik dari yang kita harapkan. Berilah “ruang” kepada kejutan-kejutan dalam hidup ini, sambil percaya bahwa hikmat Tuhan mengarahkan semua yang terjadi demi kebaikan kita dan kemuliaan-Nya!