I. Sumber atau Dasar Kasih Kristiani (ay. 7-10)[1]

a. Kasih adalah karakter Allah

  • “Kasih berasal dari Allah” (ay. 7b; bnd. 5:4); “Allah adalah kasih” (ay. 8; bnd. ay. 16). Kasih bukan sekadar aktivitas Allah. Tetapi, lebih dari itu, Yohanes menekankan bahwa kasih adalah karakter Allah sendiri. Allah pada Diri-Nya sendiri adalah kasih. Kasih juga haruslah merupakan karakter kita karena kasih adalah karakter Allah![2]

b. Allah sebagai Inisiator kasih

  • Kita “lahir dari Allah dan mengenal Allah” (ay. 7). Di sini sang penulis menggunakan dua kata kerja dalam bentuk waktu dan nada (voice) yang berbeda untuk berbicara mengenai status dan keberadaan kita sebagai orang Kristen. a) kata dilahirkan (Yun. gegennetai) berbentuk perfect – tindakan masa lampau yang sudah komplit namun terus berdampak. Kata ini juga bernada pasif – bukan upaya kita, melainkan karya Allah semata. b) kata mengenal (Yun. ginoskei) berbentuk present dan bernada aktif – menggambarkan tentang suatu tindakan yang terus-menerus. Pengenalan akan Allah haruslah terus-menerus diupayakan dari pihak kita, namun pengenalan itu lahir pertama kali bukan dari diri kita sendiri atau upaya kita atau keinginan kita sendiri, melainkan merupakan buah dari tindakan Allah yang sudah melahirbarukan kita. Dalam konteks ini, pengenalan akan Allah dikaitkan dengan tindakan mengasihi. Kita memperlihatkan pengenalan kita akan Allah melalui tindakan mengasihi karena hal itu merupakan buah dari status ke-anak-an kita!
  • Kita didamaikan dengan Allah karena karya Yesus Kristus bagi kita (ay. 9-10). Mengenai hal ini, penulis menyatakan: “Inilah kasih itu” – ini bicara tentang ekspresi dan tindakan kasih Allah yang sejati. Kita tidak mungkin bisa mengasihi bila tidak terlebih dahulu didamaikan dengan Allah (“bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita”).

Allah menginisiasi kasih Kristiani dengan mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus untuk mendamaikan kita dengan DIA dan Allah juga melahirbarukan kita sehingga kita dapat mengenal Allah – dalam konteks ini mengenal Allah berarti mengasihi Allah dan mengasihi sesama!

II. Dinamika kasih Kristiani (ay. 11-16)

  • “saling mengasihi” (ay. 16) – semua orang Kristen semestinya memiliki karakter kasih yang terekspresi di dalam tindakan mengasihi terhadap satu sama lain. Kita tidak dianjurkan untuk menuntut kasih dari orang lain. Kita dinasihati untuk saling mengasihi – artinya tidak satu pun di antara kita yang boleh ketinggalan dalam hal memiliki karakter kasih dan tindakan mengasihi. Setiap orang Kristen harus saling mengasihi!
  • Jika kita mengasihi maka kita “tetap di dalam Dia, dan kasih-Nya digenapi atau dibawa mencapai tujuan [terjemahan literal dari kata Yun. teteleiomene” (ay. 12, 15). Seperti ayat 7, penulis menggunakan dua kata kerja dalam bentuk waktu dan nada yang berbeda. a) kata tetap tinggal atau tetap berdiam (Yun. menei) berbentuk present dan bernada aktif – signifikansinya paralel dengan kata mengenal dalam ayat 7. b) kata digenapi atau dibawa mencapai tujuan (Yun. teteleiomene) berbentuk perfek dan bernada pasif – signfikansinya paralel dengan kata dilahirkan dalam ayat 7. Kita harus terus-menerus tinggal di dalam Dia – dalam konteks ini terus-menerus memiliki karakter dan tindakan mengasihi karena melaluinya kita memperlihatkan bahwa kita telah menerima kasih yang sempurna, kasih atau kasih yang genap!
  • Realitas kasih Allah akan menjadi nyata bagi orang lain melalui kesaksian dan pemberitaan kita mengenai Kristus Yesus (ay. 14-16). Dinamika kasih Allah di dalam dan melalui kita  seiring dengan dinamika pemberitaan dan kesaksian Kita mengenai Kristus. Pemberitaan dan kesaksian kita haruslah menghadirkan realitas kasih Allah (karakter dan tindakan kasih-Nya) bagi dunia.

III. Dampak Kasih Kristiani (ay. 17-19)

  • Memiliki keberanian untuk mengasihi bukan karena didorong oleh ketakuan akan penghakiman, melainkan karena percaya bahwa Allah telah mengasihi kita!

Beberapa pertanyaan refleksif:

  1. Apa yang mendorong kita untuk mengasihi?
    1. Kasihan?
    2. Ingin mendapat pujian, mis. supaya dipandang baik dan budiman?
    3. Takut dinilai “tidak baik”?
    4. Karena takut mendapat hukuman dari Tuhan?
    5. Supaya masuk surga?
    6. Dll
    7. Apa yang seharusnya mendorong kita untuk mengasihi?
      • Karakter Allah
      • Tindakan kasih Allah

Kita mengasihi karena Allah adalah kasih dan Ia telah menyatakan kasih-Nya bagi kita melalui pengorbanan Yesus Kristus dan bahkan melahirbarukan kita dan melaluinya kita dapat mengenal Dia sebagai Allah dan Bapa kita!


[1] Secara struktural, 1 Yohanes 4:20 – 5:4 membentuk topik tersendiri, yaitu “the command to love” [“perintah untuk mengasihi”], itulah sebabnya teks untuk khotah ini hanya diakhiri pada ayat 19. Lih. Garry M. Burge, The Letters of John (NIVAC); bnd. Stephen S. Smaley, 1, 2, 3 John (WBC, Vol. 51; catatan: Smaley membahas tema “the command to love” mulai dari 4:2 – 5:4).

[2] “Allah adalah kasih” – benar!; tapi “kasih adalah Allah” – sesat! Sama seperti, “God is logic” – benar!; tapi, “logic is God” – sesat!