Dasar Alkitabiah
Pada umumnya para ahli Alkitab sadar bahwa tujuan akhir dari mempelajari Alkitab bukan sekadar supaya seseorang menjadi lebih pandai, melainkan supaya dapat memberitakan apa yang telah dipelajarinya bagi orang lain. Tentu, tindakan pemberitaan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Meski begitu, salah satu cara strategis yang umumnya digunakan adalah berkhotbah.

Khotbah adalah sarana penting yang digunakan Tuhan menjangkau umat-Nya sekaligus menjangkau mereka yang terhilang. Paulus menulis dalam Roma 10:14-15,

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Perhatikan bahwa dalam bagian di atas Paulus mengutip dari Yesaya 52:7 yang berbicara mengenai signifikansi dari para pembawa kabar baik. Menurut bagian ini, Allah secara khusus menggunakan khotbah sebagai bagian dari rencana keselamatan dan “mengutus” para pengkhotbah sebagai wakil-wakil resmi-Nya.

Teologi tentang “yang diutus” (Ibr. shaliach) juga dapat dijabarkan sebagai dasar dari urgensi tugas berkhotbah. Pertama, Bapa “mengutus” Anak-Nya, Sang Firman (Yoh. 1:1-18); dalam Injil Yohanes, Yesus disebut sebagai “yang diutus” sebanyak kira-kira 30 kali). Kedua, Bapa dan Anak “mengutus” Roh Kudus untuk “meyakinkan” dunia akan karya Sang Anak (Yoh. 16:8-15). Dan ketiga,  Allah Tritunggal “mengutus” orang-orang percaya untuk menyebarluaskan berita keselamatan kepada segala suku bangsa (Yoh. 17:18; 20:21-23). Jadi ketika kita berkhotbah, Allah Tritunggal sedang berbicara melalui kita untuk merealisasikan karya keselamatan-Nya bagi umat pilihan-Nya dari berbagai suku bangsa (bnd. Kis. 2:14-41; 3:11-26; 10:34-43; 13:16-41; 14:15-17; 17:22-31).

Dua Ekstrim
Sayangnya, mayoritas khotbah biasanya jatuh ke dalam dua ekstrim. Pertama, sebuah khotbah tanpa penyelidikan yang saksama terhadap teks (khotbah tanpa eksegesis[1]). Para pengkhotbah, dengan dalih: “supaya lebih praktis”, cenderung mengabaikan eksegesis dan langsung melompat kepada “kebutuhan jemaat” (Atau yang biasanya disebut eksposisi[2]). Mereka mungkin melakukan penyelidikan, tetapi penyelidikan itu sebatas membaca satu atau beberapa tafsiran, lalu merangkumnya dan mengkhotbahkan ide rangkuman itu. Khotbah atas dasar ini bukanlah sebuah khotbah eksegesis, melainkan khotbah yang berisi rangkuman tafsiran orang lain. Ekstrim ini biasanya terjadi dalam kalangan praktisi pelayanan, misalnya para majelis atau para hamba Tuhan yang malas melakukan penyelidikan atau yang dikejar jadwal pelayanan yang padat. Bisa jadi juga karena memang mereka tidak terlatih untuk membiasakan diri mempersiapkan sebuah khotbah eksegetis.

Untuk mengingatkan mereka yang berada pada ekstrim di atas, D.A. Carson menulis,

Khotbah sebagai suatu tindakan ketaatan dan penyembahan, seharusnya tidak dibungkus oleh akademis yang buruk dalam jubah kesungguhan. Biarlah khotbah Anda menarik namun biarkan ia dalam segala sisinya setia kepada penyataan Allah.

Ekstrim yang kedua, yang biasanya terjadi dalam kalangan akademisi adalah khotbah yang isinya semata-mata hasil studi eksegetis tanpa perenungan yang mendalam akan konteks kekiniannya. Khotbah semacam ini cenderung “tidak mendarat” karena semata-mata memindahkan hasil penyelidikan eksegetis ke dalam bentuk lisan. Khotbah semacam ini biasanya semata-mata berisi ulasan hasil eksegesis tanpa eksposisi sama sekali. Tidak heran, banyak anggota jemaat yang mengeluh bahwa mereka tidak mengerti isi khotbah dari mayoritas akademisi teologi. Mereka yang berada dalam ekstrim ini seharusnya sadar bahwa tugas eksegesis adalah menemukan makna sebuah teks dalam Gereja abad pertama dan melanjutkannya dengan menunjukkan signifikansi atau relevansi atau aplikasinya dalam konteks masa kini. Grant Osborne menandaskan, “Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa Firman Allah berbicara secara jelas hari ini sebagaimana pada masa lampau” [huruf miring ditambahkan].

Inti dari uraian ringkas di atas adalah seruan agar seseorang tidak sekadar melakukan eksposisi atau sekadar melakukan eksegesis. Keduanya, eksegesis dan eksposisi, mesti terlihat dalam sebuah pemberitaan. Ada perhatian yang saksama terhadap teks, tetapi juga perenungan yang mendalam terhadap signifikansi kekiniannya. Dari teks kepada konteks masa kini. Dari eksegesis kepada eksposisi. Inilah yang penulis sebut sebagai khotbah eksegetis: Sebuah khotbah atas dasar penyelidikan eksegetis.

Referensi: Diadaptasi dari bagian apendiks buku saya: Pengantar Praktis Studi Kitab-kitab Injil [Yogyakarta: Andi, 2011], 261-265.


[1] Eksegesis, secara literal berarti “menggali keluar” atau “memimpin keluar”. Istilah ini digunakan untuk serangkaian langkah-langkah penafsiran yang digunakan untuk mencari tahu maksud penulis kepada pembaca mula-mula. Frasa teknis dari penekanan penyelidikan eksegetis adalah “what it meant”.

[2] Eksposisi adalah sebuah istilah teknis dalam bidang penafsiran Alkitab yang fokus utamanya adalah signifikansi teks dalam konteks masa kini. Frasa teknis yang digunakan untuk menjelaskan fokus ini adalah “what it means”.