30 Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi.  31 Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.  32 Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.  33 “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,”  34 maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Dalam Vulgata, Kitab Amsal disebut: Liber Proverbiorum.

Teks di atas, oleh para ahli, disebut sebagai example story. Example Story adalah sebuah kisah/cerita yang dikisahkan sebagai contoh untuk mengajarkan tentang suatu prinsip hidup. Prinsip hidup yang dimaksudkan di sini terkait dengan pengertian istilah hikmat yang menonjol dalam kitab ini. Hikmat, menurut kitab ini adalah “skill of living”. Dengan kata lain, kisah ini dipakai sebagai pijakan untuk meletakan suatu prinsip hidup yang berhikmat. Prinsip apakah yang sedang di ajarkan melalui example story ini?

Sang storyteller mengisahkan pengalamannya ketika melewati ladang dan kebun anggur yang “ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.” Pendek kata, ladang dan kebun anggur tersebut tidak terawat sama sekali. Maka sang storyteller mengambil kesimpulan bahwa ladang ini pasti milik seorang pemalas; bukan hanya pemalas tetapi juga adalah orang yang tidak berakal budi (dalam istilah Ibraninya berarti “orang yang lamban untuk belajar tentang suatu kebaikan”). Artinya istilah tidak berakal budi di sini menunjuk kepada attitude-nya bukan kepada “kepala yang hampa akan pengetahuan”.

Melihat kekurangan yang mencolok di depan matanya, apakah yang dilakukan sang storyteller? Dikatakan “Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.” Dan pelajaran yang ditarik oleh sang storyteller adalah:

“Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,”  maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata (ay. 33-34).

Menurut Ploger, seorang ahli PL bahwa penekanan akan “aku menarik pelajaran” mengindikasikan bahwa amsal yang dikutip sang storyteller sebagai sebuah pelajaran dari pengalaman yang ironis tersebut, sebenarnya ditujukan kepada diri sang storyteller itu sendiri. Kalau saya memparafrasekan pendapat Ploger, maka saya boleh katakan bahwa ide yang muncul dalam benak sang storyteller bukan semata-mata alasan dan penyebab dari kekurangan atau ironi yang ia temui, melainkan juga “pelajaran apa yang dapat ia pelajari dari kekurangan tersebut”.

Di dalam dunia yang tidak sempurna ini juga hidup orang-orang yang tidak sempurna. Akan tetapi, apa yang mesti kita sikapi terhadap kekurangan dan ketidaksempurnaan yang mencolok di sekeliling kita? Mengumpatkah? Mengeluhkah? Menjadikannya sebagai bahan gossip? Menjadikan mereka bahan hinaan dan cercaankah? Inilah yang sering kali kita lakukan. Dan lebih ironis lagi bahwa kita menikmati sikap yang demikian. Seolah-olah kita puas kalau sudah menemukan masalah dan kekurangan orang-orang di sekeliling kita. Sikap yang demikian, pada saat yang sama memperlihatkan bahwa kita adalah orang-orang yang bermasalah. Dengan menonjolkan kekurangan orang lain ke depan, sebenarnya kita ingin menekan kekurangan kita ke belakang. Biar kekurangan orang lain yang terlihat. Sementara kita menampilkan diri kita sebagai “yang lebih baik”.

Dr. Sukowaluyo menyatakan, “Para pengamat politik sering kali bicara tentang politik dengan idealisme yang hebat; tetapi ketika menjabat suatu jabatan tertentu mereka tidak ada bedanya dengan para pendahulu mereka”. Mengapa kesalahan demi kesalahan terus terulang? Paling tidak teks ini mengingatkan bahwa kesalahan-kesalahan tersebut terus berulang karena mereka hanya mampu melihat masalah tetapi tidak mampu menarik pelajaran dari masalah itu. Sebuah masalah diijinkan Tuhan terjadi bukan hanya supaya kita tahu apakah masalah itu, melainkan juga supaya kita dapat menarik pelajaran bagi diri kita dari masalah tersebut.

Selama tiga hari berturut-turut kita belajar dari berbagai macam tokoh dan peristiwa seputar kepemimpinan. Para nara sumber menunjukkan keteladanan-keteladanan yang dapat dipertahankan dari para tokoh dan peristiwa yang terjadi seputar tema ini. Namun di akhir dari seminar ini saya ingin menandaskan sesuatu yang sering kali tidak kita ingat sama sekali. Para tokoh dan peristiwa yang darinya kita belajar sesuatu seharusnya tidak hanya kita pandang “yang baiknya lalu buang yang buruknya”. Oleh sebab, orang bijak dalam kitab Amsal justru menunjukkan bahwa kita bisa belajar sesuatu bahkan ketika sesuatu itu buruk, salah, dan ironis sekalipun.

Saya mengutip Alonso Schokel yang menyatakan bahwa pesan dari example story di atas dapat diringkas sebagai berikut: pelajari kehidupan ini, perhatikan signifikansinya, tariklah sebuah pelajaran bagimu, dan bagikan itu kepada orang lain”. Jika Mott (yang pendapatnya dikutip oleh Sander dan juga dikutip dalam makalah Dr. Silaen) menjelaskan bahwa seorang pemimpin adalah “orang yang mengenal jalan, yang dapat terus maju, dan yang dapat menarik orang lain mengikuti dia”; maka berdasarkan teks ini saya ingin mengingatkan kalau seandainya ide ini tidak muncul dalam benak Mott bahwa pemimpin yang demikian haruslah “seorang yang mampu mempengaruhi orang lain dengan sikapnya terhadap kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ada di sekitarnya”.

Pertanyaan untuk kita refleksikan: apa yang kita bagikan hari ini? kesalahan dan kekurangan orang lain atau pelajaran dari kekurangan dan kesalahan tersebut?

Amin!  

[Khotbah ini disampaikan dalam acara penutupan “Seminar Pemimpin yang Membentuk Zaman”, yang diadakan pada tanggal 8-10 Mei 2008, di STT Jakarta]