Ben Witherington III, Apa yang Telah Mereka Lakukan pada Yesus? Bantahan terhadap Teori-teori Aneh dan Sejarah “Ngawur” tentang Yesus, terj. James Pantou (Jakarta: Gramedia, 2007), 453 hlm.

ApaYgTelahMrkLakukanPadaYesusCatatan: Buku ini diterjemahkan dari buku aslinya yang berbahasa Inggris: What have They Done with Jesus? Beyond Strange Theories and Bad History – Why We Can Trust the Bible (New York: HarperCollins Publishers, 2006). Penerjemahan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia dilakukan berbarengan dengan kedatangan Ben Witherington ke Indonesia pada tahun 2007 untuk memberikan seminar mengenai Injil-injil Gnostik.

Perhatian para sarjana skeptis terhadap Injil-injil Gnostik sebagai sumber rekontstruksi historis mengenai Yesus cukup dominan tahun-tahun terakhir ini. Pesan utama para sejarahwan revisionis ini adalah bahwa sejarah mengenai Yesus sebagaimana yang terbaca dalam Kitab-kitab Injil kanonik merupakan sejarah versi para “pemenang”. Injil-injil kanonik lebih mencerminkan iman ketimbang sejarah yang sesungguhnya mengenai Yesus. Kekristenan yang sesungguhnya telah hilang, dan kita terbantu untuk merekonstruksi kembali “the lost Christinity” itu dengan berpaling kepada sumber-sumber non kanonik, khususnya dari lingkungan Gnostik abad kedua hinggga abad keempat Masehi. Beberapa di antara karya para sejarahwan revisionis tersebut, mis. klaim mengenai Injil Rahasia Markus oleh profesor Morton Smith; The Jesus Dynasty [James Tabor] dan The Jesus Paper [Michael Baigent]. Dari perspektif Kritik Tekstual, kita mendapati buku Bart D. Ehrman – Misquoting Jesus dan sebuah novel terlaris karya Dan Brown – The Da Vinci Code.

Bertolak dari kesimpulan James D.G. Dunn – Jesus Remembered[1] bahwa studi sejarah mengenai Yesus harus berbasis atas Kitab-kitab Injil kanonik yang memuat ingatan-ingatan para murid mengenai Yesus [hlm. 12], Witherinton mengarahkan perhatiannya terhadap tokoh-tokoh inti dalam PB yang dekat dengan kehidupan Yesus. Riset berbasis personalitas ini mencakup rekonstruksi historis mengenai: Yohana dan Maria Magdalena [Bagian Satu]; Petrus [Bagian II]; Maria ibu Yesus [Bagian III]; Murid yang dikasihi [Bagian Empat]; Yakobus [Bagian Lima]; dan Paulus [Bagian Enam]. Selain itu, buku ini diakhiri dengan sebuah apendiks [lampiran] yang berisi ulasan kritis mengenai The Dynasty Jesus karya James Tabor. Witherington menyimpulkan,

Memang benar kita tidak memiliki ‘dokumen Yesus’ alias peninggalan tertulis yang ditulis dan diwariskan oleh Yesus sendiri. Tapi, kita memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat, yaitu warisan yang hidup berupa berbagai kilasan tentang diri Yesus yang sebenarnya dalam kehidupan masing-masing anggota kelompok inti pengikut-Nya. Bagi saya pribadi, sebagai seorang sejarahwan dan pakar PB, dan juga sebagai seorang Kristen yang beriman … Sosok Yesus yang diingat oleh orang-orang ini adalah Yesus yang sebenarnya, dan tidak ada sosok sejarah lainnya yang bisa ditemukan di dasar sumur yang bernama sejarah itu, atapun di dasar sebuah tel [kali] di Nag Hamadi [hlm. 394].

Dalam hubungan dengan Jesus Remembered karya Dunn, kelihatan jelas bahwa Witherington menerima argumentasi Dunn bahwa “flight from dogma” dan “flight from history” merupakan dua sikap ekstrim terhadap Kitab-kitab Injil yang sebenarnya merupakan kesalahan metodologis dan presuposisi. Meski demikian, Witherington memanfaatkan argumentasi Dunn dengan mengarahkan perhatiannya terhadap aspek yang tidak disentuh oleh Dunn dalam Jesus Remember, yaitu kelompok inti Yesus [Jesus inner Circle] sebagai para saksi mata kehidupan dan pelayanan Yesus yang kenangan-kenangan mereka mengenai Yesus terbaca dalam Kitab-kitab Injil kanonik. Sebuah pendekatan yang mendapatkan apresiasi dari banyak pakar PB.

Selain itu, dari segi penuturannya, gaya bahasa popular dan mudah dipahami dalam buku ini memberikan “kenikmatan” tersendiri saat membaca buku ini. Kepakaran Witherington, bagi saya, bukan hanya terlihat dalam ketatnya argumentasi-argumentasi historis dalam buku ini, melainkan juga terlihat dalam kemampuannya membahasakan sebuah pokok studi yang sebenarnya rumit menjadi mudah dikonsumsi oleh publik non akademis teologi. Bagi para pembaca awam, sejumlah wawasan historis mengenai tokoh-tokoh tersebut mungkin terkesan “mengejutkan” dan “baru” dan bisa jadi mereka amat mudah untuk diyakinkan oleh Witherington dengan ketatnya penjelasan argumentatif-historisnya dalam buku ini.

Salah satu contoh, bisa dikatakan bahwa secara umum, orang-orang Kristen percaya bahwa “murid yang dikasihi” dalam Injil Yohanes adalah Yohanes anak Zebedeus yang juga merupakan penulis Injil Yohanes, Surat-surat Yohanes, dan Kitab Wahyu. Bagi Witherington, tidak demikian. “Murid yang dikasihi”, demikian Witherington, adalah Lazarus dan ia merupakan tokoh kunci yang berada di balik penulisan Injil Yohanes [walau bentuk finalnya dirampungkan oleh seorang editor] dan juga Surat-surat Yohanes. Klaim dan argumentasi ini sebenarnya sudah dimunculkan oleh Martin Hengel dan bisa dikatakan, klaim ini merupakan klaim alternatif, selain klaim mengenai Yohanes anak Zebedeus, yang mayoritas dianut di kalangan para penafsir PB [selain kandidat lainnya yang kurang diterima secara luas: Maria Magdalena, Thomas, seorang sosok ideal yang tidak riil, dsb].

Dengan mengemukakan contoh di atas, poin saya dalam tinjauan ini adalah bahwa sebagai orang-orang yang percaya akan reliabilitas PB dan mengimani Yesus – Allah yang telah menjadi Manusia sebagai presuposisi berbasis sejarah sebagaimana yang dianut Witherington, kita mesti berhati-hati untuk tidak “menelan” segala sesuatu di dalam buku ini semata-mata karena kita menganut presuposisi yang sama dengan Witherington. Sebagai sebuah karya apologetis teologis dari perspektif sejarah, teologi buku ini memang sangat menguatkan iman. Namun, dari segi detail rekonstruksi sejarahnya, tidak semua proposal Witherington cukup meyakinkan. Misalnya, saya kembali kepada contoh di atas, “murid yang dikasihi” yang ia identifikasikan sebagai Lazarus, sebenarnya dapat diperhadapkan juga dengan rekonstruksi alternatif yang juga “masuk akal” untuk menerima bahwa Yohanes anak Zebedeus adalah “murid yang dikasihi” itu [dan saya percaya bahwa bila argumentasi Witherington disandingkan dengan argumentasi yang membela klaim mengenai Yohanes anak Zebedeus, argumentasi dan klaim yang terakhir ini lebih bisa diterima ketimbang yang diusulkan Witherington].[2]

Terlepas dari [salah satu] problem yang saya angkat di atas, secara umum, buku ini patut dibaca oleh setiap orang Kristen yang mencintai Yesus dan menjunjung tinggi Alkitab sebagai basis terutama untuk iman dan kerohaniannya. Witherington, melalui buku ini, merupakan companion of faith yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya untuk dijadikan sebagai kawan dialog yang bukan hanya sangat informatif namun juga sangat menguatkan kita yang terus dibombardir dengan berbagai tendensi ngawur dan semangat rekonstruksi sejarah bohongan mengenai Yesus yang sebenarnya.

Info: Bagi Anda yang berminat membaca buku ini dalam bahasa Inggris secara online, dapat mengklik link ini.


[1] Lih. James D.G. Dunn, Jesus Remember (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003).

[2] Lih. argumentasi-argumentasi mengenai hal ini, yang dikemukakan oleh: Donald Guthrie, Pengantar PB Volume 1, terj. Hendry Onkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2010), 222-226; bnd. D.A. Carson, Douglas J. Moo, and Leon Morris, An Introduction to the New Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1992), 138-151.