Darrell L. Bock & Danel B. Wallace, Mendongkel Yesus dari TakhtaNya: Upaya Mutakhir untuk Menjungkirbalikkan Iman Gereja mengenai Yesus Kristus, terj. Helda Siahaan (Jakarta: Gramedia, 2009), 285 hlm.

Mendongkel_Yesus_dari_Takhta-Nya._Upaya_Mutakhir_untuk_Menjungkirbalikkan_Iman_Gereja_Mengenai_Yesus_KristusCatatan: Buku ini diterjemahkan dari buku berbahasa Inggrisnya: Dethroning Jesus: Exposing Popular Culture’s Quest to Unseat the Biblical Christ (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, Inc., 2007). Penerjemahan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia dilakukan bersamaan dengan kedatangan Profesor Darrell L. Bock ke Indonesia untuk memberikan seminar bertema: The Historical Jesus: More than a Prophet, and Not a Gnostic.

Buku ini ditulis untuk orang-orang Kristen awam dengan bahasa popular dan format non akademis [tanpa catatan kaki]. Mengawali buku ini, Bock dan Wallace mencantumkan kilasan pandangan dari sejumlah sarjana yang selanjutnya pandangan-pandangan mereka dikategorikan ke dalam dua istilah kunci: “Kristenitas” dan “Yesusanitas”. Fitur pemahaman penting yang membedakan pandangan-pandangan dari kedua kategori ini adalah dalam Kristenitas, Yesus disembah, sedangkan dalam Yesusanitas Kristus dihormati namun tidak disembah.

Dari perspektif Kristenitas, kedua profesor dari Dallas Theological Seminary ini mengkritisi enam klaim dari golongan Yesusanitas, dengan rujukan dan interaksi khusus kepada riset dari perspektif historis yang melandasi pandangan Yesusanitas. Keenam klaim tersebut:

  • Klaim pertama: Perjanjian Baru yang asil telah sangat rusak oleh para penyalin hingga tidak terpulihkan. Sudah bisa dipastikan, klaim ini digembar-gemborkan oleh Bart D. Ehrman, seorang ahli kritik tekstual yang – menurutnya – kehilangan iman ortodoksnya karena penelitian teks.
  • Klaim kedua: Injil-injil rahasia Gnostik, seperti Injil Yudas, membuktikan eksistensi kekristenan alternative purba. Tokoh yang mempopularkan klaim ini, Elaine Pagels, merupakan lawan diskusi Bock dan Wallace di sini.
  • Klaim ketiga: Injil Thomas menjungkirbalikkan pemahaman kita mengenai Yesus yang sejati. Di sini, Elaine Pagels kembali dirujuk sebagai lawan diskusi.
  • Klaim keempat: Ajaran Yesus pada dasarnya bersifat politik dan sosial. Dua sarjana yang mendapat perhatian khusus Bock dan Wallace sebagai representasi penganut klaim ini adalah Marcus Borg dan John Dominic Crossan.
  • Klaim kelima: Paulus mengubah misi semula Yesus dan Yakobus, dari reformasi bangsa Yahudi menjadi gerakan yang meninggikan Yesus dan merangkul bangsa-bangsa bukan Yahudi. Untuk klaim ini, James Tabor merupakan lawan diskusi mereka.
  • Klaim keenam: Makam Yesus telah ditemukan, kebangkitan dan kenaikan-Nya tidak terjadi secara fisik. Di sini sejumlah nama disebutkan, termasuk Tabor yang juga mengemukakan klaim ini.

Saya membaca buku ini setelah membaca buku Witherington [Apa yang telah Mereka Lakukan pada Yesus?] dan Evans [Merekayasa Yesus]. Saya mendapati bahwa keenam klaim di atas telah diulas oleh Witherington dan Evans. Dan jujur saja, saya tidak melihat hal baru yang memperlihatkan perlunya buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, setelah penerjemahan buku Witherington dan Evans. Di samping itu, buku ini bukan merupakan hasil riset terbaru Bock dan Wallace. Saya cukup akrab dengan tulisan-tulisan Bock dan Wallace, dan mayoritas isi buku ini sebenarnya merupakan saduran ulang dari buku-buku sebelumnya yang ditulis oleh kedua penulis ini [Bock, The Missing Gospels; dan Wallace, Reinventing Jesus]. Bila diminta untuk memilih di antara buku Witherington, Evans, dan Bock-Wallace, saya lebih memilih buku-buku dari kedua penulis pertama ketimbang kedua penulis terakhir ini.

Terlepas dari penilaian subjektif saya di atas, saya juga menemukan hal penting dalam argumentas Wallace [saya menduga, Wallace berperan besar dalam ulasan Klaim Pertama karena bidang kritik tekstual merupakan bidang keahlian Wallace] ketika mendebat klaim dan argumentasi Ehrman dalam Klaim Pertama yang menurut saya cukup “memalukan”. Wallace mengkarikaturkan posisi Ehrman seakan-akan Ehrman percaya bahwa transmisi manuskrip “seperti permainan telepon”. Wallace mengakui bahwa posisi Ehrman yang ia gambarkan ini merupakan kesan yang ia dapatkan dari tulisan Ehrman dan Ehrman sendiri tidak menjelaskan posisinya secara demikian. Bagi saya, penggambaran posisi Ehrman secara demikian kemudian menyerang Ehrman berdasarkan kesan ini, merupakan serangan Straw man. Saya sudah membaca Misquoting Jesus dan sambil mempertimbangkan kepakaran Ehrman dalam bidang kritik tekstual, sulit untuk percaya bahwa Ehrman percaya bahwa transmisi naskah menyerupai permainan telepon. Saya cukup familiar akan analogi ini dalam konteks perdebatan mengenai transmisi tradisi lisan [oral tradition] oleh para penganut Kritik Bentuk [form criticism]. Dan dalam konteks ini, analogi permainan telepon lebih mengena. Namun, bahkan orang yang tidak sependapat dengan Ehrman pun [saya sama sekali tidak sependapat dengan Ehrman!] akan sulit untuk menerima kesimpulan berdasarkan kesan Wallace bahwa Ehrman patut diserang berdasarkan kesan tersebut. Selain itu, Wallace memang mendiskusikan sejumlah teks yang dijadikan contoh kasus oleh Ehrman. Dan saya melihat Wallace sangat kompeten untuk mendebat Ehrman di sini. Meski begitu, membaca evaluasi Wallace dalam klaim pertama, dengan tidak satu dua kali menyinggung soal motivasi Ehrman, mis. mencari sensasi, dll., menurut hemat saya sebaiknya tidak dimunculkan di sana. Karena motivasi yang salah pun tidak serta merta membuat klaim dan argumentasi Ehrman pasti salah.

Lalu, apakah buku ini sama sekali tidak bernilai? Saya menolak untuk menyimpulkan demikian. Di atas saya menyatakan bahwa tidak ada hal baru setelah penerjemahan buku Witherington dan Evans, secara implisit berarti hal-hal yang sudah dibahas dalam buku Witherington dan Evans yang bermanfaat untuk diketahui juga terdapat dalam buku ini. Di samping itu, Evans dan Witherington tidak membahas keenam klaim tersebut secara bersamaan dalam buku-buku yang sudah saya sebutkan di atas. Mis. Evans memang mengkritik presuposisi bibliologi Ehrman, namun ia tidak membahas posis Ehrman murni dari perspektif kritik teks, bidang yang bukan merupakan bidang keahlian Evans. Witherington juga menyinggung mengenai Ehrman, namun lebih memusatkan perhatian pada rekonstruksi historis mengenai tokoh-tokoh kunci dalam kehidupan dan pelayanan Yesus. Artinya, dengan memiliki buku ini, kita memiliki semacam “rangkuman” popular yang di dalamnya terdapat evaluasi-evaluasi penting dari perspektif Injili.

Akhirnya, buku bermuatan akademis namun berformat popular ini tentu akan menjadi bahan bacaan pengantar yang cukup baik bagi orang-orang Kristen awam di Indonesia, mungkin dalam rangka antisipatif. Antisapatif karena keenam isu yang dievaluasi Bock dan Wallace sebenarnya tidak dominan di Indonesia, kecuali klaim pertama mengenai Ehrman [karena buku Misquoting Jesus nya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia] dan juga klaim keenam mengenai makam dan kebangkitan Yesus [karena beberapa tahun lalu, Ioanes Rakhmat pernah mencoba mempopularkannya di Indonesia].

Info: Buku ini dalam bahasa Inggris dapat dibaca secara online di sini.