Stanley N. Gundry, Kenneth Berding, and Jonathan Lunde [eds], Three Views on the New Testament Use of the Old Testament. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2008. 256 pp.

imagesKutipan-kutipan PL yang sangat banyak dalam PB, selain mengafirmasi kontinuitas teologis antara PL dan PB, juga memicu diskusi eksegetis yang tidak konklusif hingga saat ini. Buku ini mencoba mengangkat kompleksitas dalam diskusi tersebut dengan menampilkan tiga partisipan yang mewakili pandangan eksegetis yang berbeda mengenai isu ini.

Secara garis besar, buku ini terdiri atas pendahuluan yang ditulis oleh Jonathan Lunde. Dalam pendahuluan ini, Lunde memberikan gambaran umum mengenai lima pertanyaan spesifik yang ditanyakan kepada ketiga partisipan tersebut, yaitu: Walter C. Kaiser, Jr., Darrell L. Bock, dan Peter Enns. Kelima pertanyaan tersebut, yaitu: [1] Apakah sensus plenior merupakan cara yang tepat untuk menjelaskan penggunaan PL dalam PB? [2] Bagaimana memahami tipologi secara tepat? [3] Apakah para penulis PB menggunakan PL dengan mempertimbangkan konteks original dari kutipan-kutipan tersebut? [4] Apakah para penulis PB menggunakan metode-metode eksegetis Yahudi dalam menangani kutipan-kutipan dari PL? Dan [5] apakah kita dapat mereplikasi pendekatan-pendekatan eksegetis tersebut terhadap teks-teks PL?

Walter Kaiser, Jr., mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan di atas di bawah label pendekatan “single meaning, unified referents”. Menurut Kaiser, para penulis PB menggunakan teks-teks PL benar-benar sesuai konteksnya. Tidak ada gap antara makna dan referensi dari kutipan-kutipan PL yang terdapat dalam PB. Singkatnya, totally continuity, demikian istilah saya, merupakan gagasan kunci untuk posisi Kaiser.  Darrell L. Bock, setuju dengan Kaiser bahwa para penulis PB tidak menambahkan makna baru terhadap teks-teks PL yang mereka kutip, hanya saja ia berbeda dengan Kaiser mengenai referensi dan konteksnya. Menurut Bock, para penulis PB menggunakan teks-teks PL dalam konteks dan referensi yang berbeda. Itulah sebabnya, ia melabeli posisinya dengan “Single meaning, multiple contexts and referents”. Peter Enns secara total menolak posisi Kaiser, namun “menghargai” sebagaian pandangan Bock, khususnya ketika Bock memberi perhatian terhadap pendekatan-pendekatan eksegetis Yudaisme Intertestamental. Menurut Enns, dua hal yang menjadi pokok penentu untuk memahami kutipan-kutipan PL dalam PB adalah [1] presuposisi mereka, yaitu mereka mendekati PL dari lensa Kristotelik – lensa post-resurrection faith. Para penulis PB tidak “menemukan” Kristus karena mengeksegesis PL, sebaliknya mereka menemukan Kristus kemudian membaca PL berdasarkan iman mereka kepada Kristus; [2] para penulis PB hidup dalam komunitas interpretif Yudaisme Intertestamental dan mereka memanfaatkan metode-metode eksegetis ini dalam mengomentari teks-teks PL yang mereka kutip.

Selain mempresentasikan posisi mereka, setiap partisipan juga diberi kesempatan untuk memberikan respons terhadap posisi dari setiap lawan debat mereka. Dan perlu ditambahkan pula bahwa setiap partisipan mendiskusikan teks-teks tertentu dalam PB sebagai contoh kasus yang mendukung posisi mereka.

Mengakhiri buku ini, Kenneth Berding memberikan komentar rangkuman yang memuat ikhtisar pandangan dari ketiga partisipan di atas, sekaligus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang merupakan tantangan lanjutan terhadap posisi dari setiap partisipan. Bila pembaca tidak ingin bersusah payah memperhatikan detail pandangan ketiga partisipan tersebut, pembaca dapat langsung membaca ulasan ikhtisar ini.

Dalam hemat saya, buku ini sangat bermanfaat memberikan gambaran pengantar tentang kompleksitas pemahaman akan penggunaan PL dalam PB. Dan akan sangat bermanfaat, bila ada penerbit di Indonesia yang bersedia menjalin kerja sama dengan Zondervan untuk proyek penerjemahan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia. Saya percaya, orang-orang Kristen di Indonesia akan mendapatkan manfaat besar dari buku ini.

Di sisi lain, ada beberapa komentar kritis yang saya pikirkan ketika membaca dan menganalisis isi buku ini. Secara umum, [1] judul buku ini dapat memberikan kesan yang keliru kepada pembaca awam seakan-akan diskusi mengenai penggunaan PL dalam PB hanya “diramaikan” oleh tiga pandangan ini saja. Padahal tidak demikian. Dalam buku terbaru yang saya tulis, yang di dalamnya terdapat diskusi mengenai penggunaan PL dalam PB, hingga tahun 2011 telah terdapat tidak kurang dari delapan pendekatan yang berbeda mengenai penafsiran terhadap penggunaan PL dalam PB. Sayang sekali, saya percaya para editor buku ini sadar akan hal ini, namun tidak memberikan komentar mengenai hal ini dalam pengantar maupun komentar ikhtisar-konklusif dari buku ini; [2] memang setiap partisipan mengajukan teks-teks tertentu sebagai contoh kasus yang mendukung posisi mereka masing-masing, namun bagi saya, untuk melihat similaritas dan perbedaan posisi mereka masing-masing secara lebih jelas, ada baiknya para editor menetapkan teks-teks kasus tersebut yang harus dianalisis berdasarkan pendekatan yang mereka anut. Secara khusus untuk setiap partisipan, saya melihat tendensi “all-or-nothing” dalam diskusi ini. Setiap partisipan seakan-akan menggunakan prinsip eliminasi terhadap posisi lawannya karena menurutnya pendekatannya lebih komprehensif. Bagi saya, tendensi ini tidak mengakomodasi diversitas kutipan-kutipan PL dalam PB. Ada bagian-bagian tertentu yang tidak bisa tidak harus dipandang sebagai prediksi langsung, mis. mengenai tempat kelahiran Mesias, yaitu di Betlehem. Dan ada bagian-bagian lain yang tidak dapat di anggap mewakili single meaning, unified referent atau pun sekadar mewakili single meaning, multiple contexts and referents, mis. penggunaan Hosea 11:1 dalam Matius 2:15 [teks ini adalah teks riset tesis Master of Theology saya]. Lebih bijaksana, bila setiap partisipan terbuka untuk melihat kegunaan dari pendekatan lawannya bergantung teks mana yang hendak ditafsirkan.

Meski demikian, bila harus memilih di antara ketiga pandangan dalam buku ini, saya lebih condong kepada pandangan Enns, walau tentu saja bukan tanpa pertimbangan kritis terhadapnya [sebagian kecil sudah saya singgung di atas].

Bagi para mahasiswa teologi, para hamba Tuhan, dan dosen teologi, membaca buku ini akan memberikan wawasan eksegetis yang baik sebagai basis pelayanan pastoral, mis. persiapan khotbah-khotbah yang di dalamnya mengandung kutipan dari PL. Tidak menutup kemungkinan juga, orang-orang Kristen secara umum akan mendapatkan manfaat besar, yaitu melaluinya mereka memupuk kesadaran untuk tidak sekadar menerima dan menelan, melainkan belajar untuk menganalisis dan mengevaluasi. Saya kira, poin terakhir ini belum menjadi kebiasaan menonjol dalam tubuh kekirstenan di Indonesia. Sayang sekali!